Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di Balik Lembaran Gelap
Ghea menatap tubuh jangkung Rayyan yang tergeletak lemas di atas karpet dengan napas berat yang teratur. Efek alkohol dosis tinggi yang masuk secara mendadak ke tubuh yang sudah lama bersih itu benar-benar bekerja instan. Kepuasan yang egois seketika membuncah di dalam dada Ghea. Senyum kemenangan terukir lebar di wajahnya saat menyadari bahwa rencana nekatnya sejauh ini berjalan tanpa cela.
"Aku sudah bilang, Kak. Kamu gak akan bisa lari dari aku," bisik Ghea sinis, menatap dingin pria yang kini sama sekali tidak berdaya itu.
Tanpa membuang waktu, Ghea segera bergerak cepat melaksanakan skenario intinya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menarik dan memapah tubuh Rayyan yang terasa sangat berat untuk dinaikkan ke atas ranjang king-size hotel. Napas Ghea terengah-engah, namun ambisi yang meluap memberinya kekuatan ekstra sampai akhirnya tubuh Rayyan berhasil dibaringkan di atas kasur putih tersebut.
Ghea mulai menyusun detail adegan palsu yang matang. Ia melepas jas hitam formal yang dikenakan Rayyan dengan kasar, lalu melemparkannya begitu saja hingga tergeletak di atas karpet bawah ranjang untuk menciptakan kesan ketergesaan yang liar. Setelah itu, jemarinya bergerak lincah membuka dua kancing teratas kemeja biru dongker milik Rayyan, menampakkan tulang selangkangnya. Tidak lupa, ia menyisir rambut Rayyan yang semula rapi menggunakan jari-jarinya, membuatnya berantakan dan acak-acakan di atas bantal.
Setelah memastikan penampilan Rayyan sesuai dengan skenario liciknya, Ghea berjalan menuju kamar mandi. Ia melepas blazer formalnya, menyisakan tanktop satin tipis yang melekat di tubuhnya. Di depan cermin, ia mengacak-acak rambut kecokelatannya sendiri hingga terlihat sangat berantakan, persis seperti orang yang baru saja melewati malam yang panjang.
Dengan senyum penuh muslihat, Ghea kembali ke area kamar. Ia mengambil ponsel pintar milik Rayyan yang tergeletak di meja dekat tempat tidur, lalu meraba saku jasnya untuk mengambil ponselnya sendiri. Ghea merangkak naik ke atas ranjang, memosisikan dirinya tidur menyamping tepat di sebelah Rayyan yang masih setengah sadar dengan kepala yang berdenyut hebat.
Ghea mendekatkan wajahnya, memejamkan mata perlahan sembari mengangkat ponselnya tinggi-tight untuk mengambil sudut gambar terbaik.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Beberapa foto berhasil diambil dari berbagai sudut. Dalam bidikan kamera itu, pemandangan yang tercipta benar-benar bisa menghancurkan hati wanita mana pun: seorang pria berambut acak-acakan dengan kemeja terbuka, tidur berdampingan dengan seorang wanita yang hanya mengenakan tanktop di atas ranjang hotel yang berantakan. Ghea memeriksa hasil fotonya satu per satu dengan mata berbinar puas.
"Ini lebih dari cukup untuk membuat istrimu yang suci itu angkat kaki dari rumah Dinoyo," gumam Ghea dengan tawa lirih yang terdengar mengerikan di dalam kesunyian kamar.
Ghea segera membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya. Dengan gerakan diam-diam dan sangat hati-hati agar tidak meninggalkan jejak digital di ponsel Rayyan, ia mencari nomor kontak Zaza yang sempat ia simpan secara rahasia saat berpura-pura meminta pertolongan di rumah waktu itu.
Jemarinya mengetikkan pesan singkat yang sangat menusuk, tepat di samping foto-foto laknat tersebut:
Maaf ya, Zaza. Sepertinya Mas Rayyan-mu malam ini lebih memilih mencicipi kembali masa lalunya yang indah bersamaku di hotel, daripada pulang ke rumah menemuimu. Tolong jangan cari dia malam ini, karena dia sedang sangat menikmati 'kelelehannya' bersamaku.
Ting.
Pesan terkirim. Ghea langsung menghapus riwayat pengiriman pesan dari nomornya sendiri agar tidak ada bukti jika sewaktu-waktu Zaza melacak, namun ia membiarkan foto-foto itu tetap berada di dalam galerinya sebagai senjata pamungkas. Setelah memastikan semua jebakannya rapi, Ghea turun dari ranjang dengan senyum kemenangan yang berkibar, meyakini bahwa benteng pertahanan rumah tangga Penyulam Aksara yang selama ini digembar-gemborkan akan runtuh sebelum fajar menyingsing di Kota Malang.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe