saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8.
Setelah memutuskan mengakhiri hubungan dengan Siti dan membereskan seluruh urusannya di Malaysia, Rendra akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah air tercinta. Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam terasa singkat dibandingkan rasa rindu yang memuncak di dadanya. Begitu turun dari kapal dan menghirup udara yang terasa berbeda, seolah beban berat yang selama ini menempel di pundaknya perlahan terangkat. Ia pulang bukan sebagai orang yang membawa kekayaan melimpah, namun ia membawa hati yang tenang, jiwa yang lebih dewasa, dan tekad yang bulat untuk membangun kehidupannya dari awal kembali di tempat kelahirannya sendiri.
Kedatangannya disambut dengan sukacita oleh ayah dan ibunya. Melihat anak lelaki satu-satunya kembali dalam keadaan sehat dan utuh, air mata bahagia tak terbendung membasahi wajah kedua orang tuanya. Ayahnya yang kondisinya kini sudah jauh lebih membaik, meski masih berjalan dengan bantuan tongkat, tersenyum lebar sambil menepuk pundak Rendra dengan penuh rasa bangga.
“Syukurlah kau pulang, Nak. Kami sudah lama menanti hari ini,” ucap ibunya sambil memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Selama beberapa minggu pertama, Rendra hanya menghabiskan waktunya di rumah, beristirahat, dan menyesuaikan diri kembali dengan suasana desa yang tenang dan damai. Ia menceritakan segala hal yang ia alami selama merantau, keringat yang ia teteskan, lelah yang ia rasakan, serta keputusan berat yang harus ia ambil untuk mengakhiri hubungannya dengan Siti. Kedua orang tuanya mendengarkan dengan hati terbuka, tak sedikit pun menyalahkan keputusan yang diambil anaknya itu. Mereka justru mengakui bahwa Rendra telah memilih jalan yang jujur dan sesuai dengan hati nuraninya.
“Pilihlah pasangan yang bisa menerima hidupmu apa adanya, Nak. Yang mau mengikuti kemana langkahmu melangkah, bukan yang hanya ingin mengubahmu sesuai keinginannya sendiri,” pesan ayahnya dengan suara yang lembut namun sarat makna.
Setelah merasa cukup tenang dan pulih sepenuhnya, Rendra mulai berpikir untuk melanjutkan kehidupannya. Ia tak ingin terus diam saja. Dengan tabungan yang ia bawa pulang, ia mulai merencanakan usaha kecil-kecilan. Berbekal pengalaman bekerja selama bertahun-t menangani bahan bangunan dan pengolahan kayu, ia memutuskan untuk membuka toko bahan bangunan sederhana di pinggir jalan utama desa, tempat yang cukup strategis dan mudah dijangkau oleh warga sekitar.
Membangun usaha dari nol bukanlah hal yang mudah. Di awal-awal pembukaan, pendapatannya belum menentu, dan ia harus bekerja dua kali lipat lebih keras untuk mengenalkan usahanya kepada warga. Namun dengan sifatnya yang jujur, ramah, dan tidak pernah membedakan pelanggan, lambat laun usahanya mulai dikenal dan dipercaya. Orang-orang mulai berdatangan, melihat kualitas barang yang baik dan harga yang wajar, membuat nama Rendra perlahan kembali dihormati di lingkungannya.
Namun, selain membangun usahanya, ada satu hal lain yang mulai dipikirkan oleh ibunya. Ia ingin melihat anaknya segera memiliki pendamping hidup yang setia, agar tak lagi hidup sendirian dan memiliki tempat berbagi di masa tuanya nanti. Dengan izin Rendra, ibunya pun mulai mencarikan pasangan yang dianggap cocok untuknya. Hingga suatu hari, ia memperkenalkan Rendra kepada seorang wanita bernama Putri.
Putri adalah gadis berusia dua puluh empat tahun, tinggal di desa tetangga yang jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari rumah Rendra. Ia memiliki paras yang cantik, kulitnya bersih, penampilannya selalu rapi dan menarik, serta berasal dari keluarga yang cukup mapan dan terhormat di daerah itu. Berbeda dengan Zahra yang dikenal pendiam dan lebih suka menyendiri, Putri adalah tipe wanita yang lincah, pandai berbicara, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Ia memiliki banyak teman dan sering menjadi pusat perhatian di acara-acara warga.
Pertemuan pertama mereka berlangsung di rumah Rendra, dalam suasana yang akrab namun tetap sopan. Saat Rendra melihat Putri untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa wanita itu memang memiliki daya tarik tersendiri. Senyumnya yang manis dan sikapnya yang terbuka membuat suasana canggung di awal segera mencair. Sementara itu, Putri pun merasa tertarik pada Rendra. Ia mendengar banyak kabar tentang perjuangan hidup pria itu, bagaimana ia rela pergi merantau demi keluarganya, serta kejujuran yang selalu dipegangnya. Baginya, pria yang bertanggung jawab seperti Rendra adalah tipe pendamping yang paling ia cari.
Setelah pertemuan itu, keduanya sepakat untuk saling mengenal lebih dalam. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun mulai terjalin lebih dekat. Rendra merasa nyaman berada di sisi Putri. Wanita itu selalu mendukung usahanya, sering membawakan makanan ke tokonya, dan mendengarkan setiap keluh kesahnya dengan sabar. Putri juga kerap memuji kegigihan Rendra, membuat hati pria itu merasa dihargai dan diakui usahanya.
“Rendra, aku bangga melihat semangat kerjamu. Aku yakin usahamu ini akan berkembang pesat seiring berjalannya waktu. Aku siap mendampingimu, apapun keadaannya nanti,” ucap Putri suatu sore saat mereka duduk berdua di teras rumah.
Mendengar ucapan itu, hati Rendra terasa hangat. Setelah mengalami hubungan yang berakhir pahit di Malaysia, kehadiran Putri terasa seperti angin segar yang membawa harapan baru. Ia mulai membayangkan masa depan bersama wanita itu membangun rumah tangga yang harmonis, mengembangkan usaha, dan hidup bahagia berdampingan. Tak lama kemudian, hubungan mereka pun resmi diumumkan ke keluarga dan tetangga. Rendra merasa telah menemukan jalannya kembali, meyakini bahwa inilah pasangan yang akan menemaninya hingga akhir hayat.
Namun, meski terlihat serasi di mata orang banyak, ada sisi lain dari sifat Putri yang perlahan mulai terlihat seiring semakin dekatnya hubungan mereka. Sebagai wanita yang terbiasa hidup cukup berkecukupan dan menyukai penampilan yang baik, Putri memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang cara hidup dan cara berpenampilan. Ia sering kali mengajari dan bahkan menuntut Rendra untuk lebih memperhatikan penampilannya, agar terlihat lebih pantas di depan orang lain dan sesuai dengan status usahanya yang mulai berkembang.
“Rendra, usahamu sudah mulai maju. Sebagai pemilik toko, kau harus tampil lebih rapi dan bersih. Brewokmu itu sebaiknya dipangkas lebih rapi atau dicukur bersih saja agar terlihat lebih muda dan terhormat. Jangan memakai baju yang lusuh atau kotor saat melayani pelanggan, nanti mereka mengira kita tidak teratur,” kata Putri suatu hari dengan nada yang lembut namun tegas.
Rendra mendengarkan saran itu dengan sabar. Ia mengerti maksud kekasihnya, namun di dalam hatinya timbul sedikit rasa ganjil. Brewok yang tumbuh di wajahnya itu bukan sekadar penampilan baginya, itu adalah bagian dari dirinya yang tumbuh seiring dengan perjuangan hidupnya, dari saat ia bekerja berat hingga merantau jauh. Namun demi menjaga keharmonisan, ia hanya mengangguk dan berjanji akan lebih memperhatikan penampilannya.
Selain soal penampilan, Putri juga memiliki keinginan agar Rendra lebih berani mengembangkan usahanya ke arah yang lebih besar dan mengikuti gaya hidup yang istilahnya dianggap lebih layak. Kadang ia mengeluh jika Rendra masih mau melayani pelanggan biasa dengan harga yang sangat murah, atau masih mau bergaul dengan teman-teman lamanya yang bekerja sebagai buruh biasa.
“Kita harus pandai memilih lingkungan, Rendra. Jika kau ingin maju, bergaullah dengan orang-orang yang juga sudah maju. Kalau terus berkumpul dengan mereka yang biasa saja, pikiranmu pun akan terasa terhenti,” ucapnya suatu kali.
Mendengar hal itu, hati Rendra sedikit terkejut. Ia teringat akan masa lalunya, saat ia dikelilingi wanita-wanita cantik yang hanya melihat status dan penampilan, lalu ditinggalkan begitu kondisinya berubah. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa maksud Putri adalah baik, hanya ingin memajukan kehidupannya. Namun, perasaan itu tetap ada, membuatnya kadang merasa seperti harus mengubah sebagian dirinya agar bisa benar-benar diterima sepenuhnya oleh kekasihnya itu.
Sementara kisah baru ini berlangsung, kehidupan Zahra di kota besar terus melaju mengikuti jalannya sendiri. Ia kini sudah berada di pertengahan tahun terakhir perkuliahannya. Penyusunan skripsinya semakin mendekati tahap akhir, meski masih membutuhkan waktu dan ketelitian lebih lanjut. Hingga saat itu, ia masih terus berjuang menyelesaikan setiap bab demi bab tugas akhirnya.
Hubungannya dengan Raka pun tetap berjalan baik, meski ada hal-hal yang kini terasa sedikit berbeda setelah ia mengetahui bahwa kekasihnya itu adalah sahabat lama Rendra. Sejak malam itu, nama Rendra tak lagi menjadi rahasia atau bayangan yang jauh baginya. Kadang-kadang, tanpa sengaja, ia bertanya kepada Raka tentang kabar terbaru pria itu.
“Ka, kau masih ada kabar dari Rendra sekarang? Apa yang sedang ia kerjakan setelah pulang ke Indonesia?” tanya Zahra suatu sore saat mereka sedang berjalan pulang dari perpustakaan.
Raka yang sedang memegang buku-buku Zahra itu menoleh sambil tersenyum, tak menyangka kekasihnya akan menanyakan hal itu lagi. “Ada, baru seminggu yang lalu aku mendapat kabar darinya lewat telepon. Dia sudah pulang, membuka usaha toko bahan bangunan di desanya, dan katanya sekarang sudah menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Putri. Kabarnya hubungan mereka sudah cukup serius dan mungkin akan segera melangkah ke jenjang pernikahan dalam waktu dekat.”
Mendengar jawaban itu, jantung Zahra berdebar sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu mengapa mendengar kabar itu membuat perasaannya terasa campur aduk, antara lega karena Rendra sudah menemukan jalan hidupnya, namun ada juga rasa ingin tahu yang semakin menguat tentang sosok wanita bernama Putri itu.
“Putri? Apakah dia wanita yang baik?” tanyanya lagi, berusaha terdengar biasa saja.
“Menurut kabarnya, ia gadis yang cantik, ramah, dan berasal dari keluarga yang baik. Semoga saja mereka cocok dan bisa membangun rumah tangga yang bahagia,” jawab Raka dengan tenang. Ia sama sekali tidak curiga bahwa rasa ingin tahu Zahra itu memiliki makna lebih dalam, atau bahwa takdir sedang merangkai benang yang akan mempertemukan mereka semua dalam satu lingkaran yang sama nantinya.
Di sisi lain, Raka sendiri juga sudah lama ingin bertemu kembali dengan sahabat baiknya itu. Ia merindukan obrolan panjang dan tawa yang dulu sering mereka bagi bersama. Ia sudah berencana untuk menyempatkan waktu pulang kampung dalam waktu dekat, mengunjungi Rendra, melihat usahanya, dan sekaligus memperkenalkan dirinya kepada keluarga Rendra secara lebih dekat lagi. Ia bahkan berpikir untuk mengajak Zahra serta, namun mengingat beban tugas yang masih dipikul kekasihnya itu, ia memutuskan untuk menunggu sampai waktunya lebih tepat.
“Nanti kalau Zahra sudah semakin dekat dengan hari kelulusannya , aku akan mengajaknya sekalian. Saat itu kita bisa bertemu, bercerita, dan mungkin merencanakan banyak hal bersama,” pikirnya dalam hati.
Namun, rencana itu belum terlaksana dalam waktu dekat. Sementara itu, kehidupan masing-masing tokoh terus berjalan dengan dinamikanya sendiri. Rendra semakin akrab dengan Putri, menjalani hubungan yang terlihat indah namun menyimpan selisih pandangan yang perlahan mulai muncul ke permukaan. Zahra terus berjuang menyelesaikan pendidikannya, sambil menyimpan rasa penasaran yang semakin besar tentang sosok Rendra yang kini terasa tidak lagi jauh dan asing baginya. Dan Raka berada di tengah, sebagai penghubung takdir yang belum ia sadari sepenuhnya.
Suatu hari, saat Rendra sedang sibuk melayani pelanggan di tokonya, Putri datang menjenguknya seperti biasa. Ia berdiri di depan toko dengan pakaian yang rapi dan cantik, menarik perhatian banyak orang yang lewat. Setelah selesai melayani pembeli, Rendra mendekatinya dengan senyum.
“Sudah lama menunggu, Putri? Maaf ya, hari ini cukup ramai,” katanya.
Putri tersenyum namun matanya memandang sekeliling dengan pandangan yang sedikit menilai. “Tidak apa-apa. Tapi lihatlah dirimu, Rendra. Bajumu penuh debu, wajahmu kotor terkena pasir. Kalau terus begini, kapan kau bisa terlihat lebih pantas? Aku minta maaf, bukan bermaksud merendahkan usahamu, tapi sebagai kekasihmu, aku ingin kau terlihat baik di mata semua orang.”
Rendra hanya terdiam mendengar ucapan itu. Ia sadar bahwa pekerjaannya memang membuatnya harus kotor dan lelah, namun itulah wujud usahanya, itulah keringat yang menghidupinya. Ia hanya bisa mengangguk pelan sambil memandang wajah wanita yang kini ia cintai. Di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, apakah Putri mencintainya apa adanya, ataukah ia mencintai potensi dan masa depan yang bisa diraihnya?
Di saat yang hampir bersamaan, Zahra sedang duduk di kamarnya, membaca kembali catatan kuliahnya. Ia memandang bayangannya di cermin, masih dengan gaya yang sama, rambut terikat sederhana, wajah polos tanpa riasan, pakaian yang bersih namun apa adanya. Ia teringat kembali masa sekolah, saat ia merasa sangat jauh dan tidak sebanding dengan wanita-wanita cantik yang dulu mengelilingi Rendra. Kini ia mendengar bahwa Rendra menjalin hubungan dengan Putri, wanita yang digambarkan cantik dan rapi, persis seperti tipe wanita yang dulu sering terlihat di sisi pria itu.
Apakah ia akan merasa kurang dibandingkan lagi, seperti yang ia rasakan bertahun-tahun yang lalu? Zahra menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu. Ia sudah berubah, meski penampilannya belum banyak berbeda. Ia kini memiliki pendidikan, memiliki masa depan yang sedang ia bangun, dan memiliki kekasih yang mencintainya setidaknya itulah yang ia yakini saat ini.
Namun, meski semua terlihat terpisah dan berjalan lancar, benang takdir tetap terus bergerak perlahan. Jarak antara mereka semakin menyempit. Rendra sudah pulang ke tanah air, Raka sudah berencana mengunjunginya, dan Zahra perlahan mendekati akhir masa pendidikannya. Segala perkenalan baru, hubungan yang terjalin, dan rahasia yang tersimpan akan segera bertemu di satu titik waktu yang telah ditentukan.