Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Pagi itu, atmosfer di lantai tertinggi gedung perkantoran megah berlantai tiga puluh terasa sedikit berbeda dari biasanya. Suasana ruang kerja divisi pemasaran yang biasanya dipenuhi oleh riak ketegangan jelang rapat mingguan mendadak menjadi riuh oleh sebuah pengumuman mengejutkan.
Pak Kusuma sang Pemilik sekaligus Direktur Utama perusahaan tiba-tiba turun langsung dari lantai atas tanpa pengawalan ketat seperti biasanya. Pria paruh baya yang selalu tampil tegap, dingin dan penuh kharisma itu berdiri di tengah-tengah area open space kantor, menyapu pandangannya ke arah seluruh karyawan yang langsung berdiri tegak memberi hormat.
"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Kusuma dengan suara beratnya yang bergema tenang namun berwibawa.
"Selamat pagi, Pak!" sahut seluruh staf serempak.
Di barisan paling depan, Bagas berdiri dengan posisi paling tegap. Kemeja desainer berwarna biru tua terpasang sangat rapi di tubuhnya, dipadukan dengan dasi sutra dan jam tangan yang berkilau di bawah pendar lampu kantor. Dagu Bagas terangkat sedikit lebih tinggi dari biasanya. Senyum keangkuhan dan rasa percaya diri yang meluap tak bisa ia sembunyikan lagi.
Sebab, peristiwa tadi malam saat ia mentraktir rekan-rekannya dengan bonus besar dan terutama momen manis ketika ia berhasil mengantarkan Bu Maya pulang sampai ke dalam rumah mewahnya masih membakar seluruh eginga. Ia merasa dirinya berada di puncak kejayaan. Pria paling cemerlang, paling tampan, dan paling berkuasa di divisi ini.
"Saya berdiri di sini hanya sebentar untuk memberikan pengumuman singkat," lanjut Pak Kusuma seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan. "Atas pencapaian luar biasa divisi pemasaran pada kuartal ini, saya sudah menyiapkan sebuah kejutan khusus. Pagi ini, ada kejutan besar yang akan saya berikan secara pribadi untuk dua karyawan terbaik kita."
Mendengar kata kejutan untuk dua karyawan, riuh bisik-bisik kagum langsung pecah di antara para staf.
Bagas menyunggingkan senyum miringnya. Di dalam hatinya, ia merasa seratus persen yakin bahwa salah satu dari dua karyawan yang dimaksud Pak Kusuma adalah dirinya sendiri. Apa lagi kalau bukan penyerahan resmi Surat Keputusan (SK) Promosi Jabatan sebagai Manajer Senior Pemasaran, atau mungkin tambahan bonus fantastis?
Bagas melirik ke arah Rendy yang berdiri tidak jauh di sampingnya. Rendy sahabat dekatnya yang semalam melontarkan taruhan gila bernilai mobil sedan sport mewah tampak hanya tersenyum tipis tanpa banyak bicara. Bagas mengedipkan sebelah matanya ke arah Rendy, memberi sinyal kecongkakan.
"Lihat kan, Bro? Kejutan itu pasti buat gue."
"Pak Bagas dan Pak Rendy," panggil Pak Kusuma tiba-tiba, membuat seluruh pasang mata di ruangan itu mendadak tertuju pada mereka berdua. "Bisa ikut saya ke ruang kerja sekarang?"
Bagas agak sedikit terkejut ketika nama Rendy turut dipanggil, namun ia segera menguasai diri. Ia berasumsi Rendy dipanggil mungkin karena posisinya sebagai asisten tim atau bagian dari seremoni serah terima jabatan ini.
"Baik, Pak Kusuma!" sahut Bagas cepat dengan suara lantang dan penuh semangat.
Bagas merapikan jasnya dengan gerakan penuh gaya, lalu melangkah di belakang Pak Kusuma menyusuri koridor marmer menuju elevator khusus direksi. Rendy berjalan sejajar di sampingnya dengan langkah yang sangat tenang.
"Gila, Ren," bisik Bagas pelan di dalam elevator yang sedang meluncur naik ke lantai teratas. "Kejutan dari Pak Kusuma langsung di ruangannya. Ini pasti SK Manajer Senior gue resmi keluar pagi ini. Dan lu... lu bersiap-siap aja kehilangan kunci mobil sport lu dalam waktu dekat."
Rendy menoleh sekilas, menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan sulit diartikan. "Jangan keburu kepedean dulu, Gas. Kejutan dari pimpinan itu bisa macam-macam bentuknya."
"Halah! Lu bilang gitu cuma karena lu takut rugi kehilangan mobil kan?" cibir Bagas terkekeh gegabah, menepuk pundak Rendy dengan angkuh.
Pintu elevator berdenting halus terbuka di lantai tiga puluh. Sekretaris pribadi Pak Kusuma menyambut mereka dengan anggukan sopan, lalu membukakan pintu kayu jati raksasa menuju ruang kerja sang Direktur Utama.
Namun, ketika Bagas melangkah memasuki ruangan beraroma kayu cendana dan berkarpet tebal tersebut, matanya menangkap sosok lain yang sudah duduk di sofa kulit hitam kelas atas di sudut ruangan.
Di sana, duduk seorang wanita paruh baya yang sangat anggun dan cantik. Ia mengenakan gaun formal berwarna marun yang dipadu dengan selendang sutra, serta perhiasan simpel namun memancarkan kemewahan kelas atas.
Dia adalah Bu Maya istri dari Pak Kusuma.
Bu Maya sendiri sebenarnya tampak agak kebingungan. Pagi-pagi sekali, suaminya secara mendadak memintanya untuk bersiap dan ikut pergi ke kantor tanpa memberikan alasan yang jelas. Suaminya hanya bilang ada hal penting yang membutuhkan kehadirannya di ruang kerja pimpinan. Bu Maya sama sekali tidak tahu-menahu apa alasan sebenarnya sang suami menyuruhnya hadir di tempat ini.
Namun, begitu pintu ruangan terbuka dan sosok Bagas melangkah masuk, raut bingung di wajah Bu Maya seketika sirna.
Mata Bu Maya berbinar terang. Wajah wanita paruh baya itu mendadak memerah halus, dan sebuah senyuman yang sangat manis serta hangat langsung merekah di bibirnya begitu pandangannya bertemu dengan mata Bagas. Wajah dan gestur tubuh Bu Maya benar-benar tampak seperti seorang wanita yang sedang dilanda kasmaran dan kebahagiaan tersembunyi teringat akan tutur kata manis, perhatian mendalam dan gosokan halus jemari Bagas di dalam mobil saat mengantarnya pulang tadi malam.
Bagas yang melihat senyuman manis dan tatapan berbinar dari istri atasannya itu merasa egonya melambung makin tinggi sampai ke langit! Ia merasa "gerilya" godaan halus yang ditancapkannya semalam berhasil total seratus persen. Di mata Bagas, Bu Maya kini benar-benar sudah bertekuk lutut dan jatuh ke dalam jerat pesonanya.
Bagas membalas senyuman Bu Maya dengan sebuah anggukan kecil dan tatapan mata yang sangat hangat dan memikat sebuah gestur main mata terselubung yang begitu berani di dalam ruangan tersebut.
Namun, Bagas dan Bu Maya sama sekali tidak menyadari satu hal.
Pak Kusuma yang melangkah menuju meja kerjanya sempat menghentikan langkahnya sejenak. Pria paruh baya yang sarat pengalaman hidup itu menangkap dengan sangat jelas dinamika singkat tersebut! Pak Kusuma melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana istrinya tersenyum malu-malu dan menatap Bagas seperti orang kasmaran, serta bagaimana Bagas membalasnya dengan tatapan penuh percaya diri yang nakal.
Raut wajah Pak Kusuma mengeras sepersekian detik. Matanya memancarkan kilatan tajam yang sangat dingin, namun sebagai seorang pemimpin ulung, ia dengan sangat cepat mengendalikan mimik mukanya. Pak Kusuma berpura-pura tidak melihat apa-apa, tetap bersikap sangat tenang dan datar seraya mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
"Silakan duduk, Bagas, Rendy," ujar Pak Kusuma dengan suara datar namun terasa ada hawa dingin yang mendadak menyusup di dalam ruangan tersebut.
Bagas dan Rendy melangkah mendekat dan duduk di dua kursi kulit di hadapan meja kerja Pak Kusuma. Sementara Bu Maya ikut bergeser duduk di sofa samping, tetap dengan senyuman hangatnya yang sesekali mencuri pandang ke arah Bagas.
"Pasti kalian berdua penasaran, kenapa pagi-pagi sekali saya memanggil kalian berdua ke sini bersama istri saya," buka Pak Kusuma seraya merapikan letak kacamata berbingkai emasnya.
"Sayang..." potong Bu Maya halus seraya menyilangkan tangannya anggun. "Sebenarnya ada apa ya? Kok mendadak sekali minta Maya datang ke kantor pagi ini? Katanya ada hal penting?"
Pak Kusuma menoleh ke arah istrinya, menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Sabar sebentar ya, Maya. Ini memang hal yang sangat penting. Mengenai integritas, kesetiaan, dan kejutan besar yang harus diketahui oleh kita semua di ruangan ini."
Pak Kusuma kemudian membuka laci meja kerjanya yang terkunci. Ia mengeluarkan dua buah map dokumen tebal satu berwarna putih bersih dan satu berwarna merah darah. Bersamaan dengan itu, Pak Kusuma juga meletakkan sebuah amplop cokelat tertutup di atas meja.
Bagas menatap dua map dan amplop itu dengan jantung berdebar kencang. Di dalam pikirannya, ia sudah membayangkan dirinya memegang SK promosi, lalu malam nanti menagih kunci mobil sport dari Rendy, dan menikmati posisi barunya sebagai pria paling berkuasa di kantor ini.
"Bagas... Rendy..." tutur Pak Kusuma pelan, menatap kedua bawahannya secara bergantian dengan tatapan mata yang sangat dalam dan tak tertebak. "Kejutan ini sudah saya siapkan cukup lama. Dan hari ini, di hadapan istri saya sendiri, kejutan ini akan menentukan jalan hidup kalian berdua mulai detik ini."
Pak Kusuma mengulurkan tangannya, memegang amplop cokelat tersebut di tengah meja, lalu menatap Bagas dengan sebuah senyuman misterius yang membuat bulu kuduk mendadak merinding.
apakabar bagassss enak kedinginan diluar sanaaa🤣🤣🤣