Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Peringatan
Malam belum sepenuhnya runtuh di rumah tua Jakarta Timur, seakan waktu berputar dua kali lipat lebih lama. Kegelapan di dalam kamar belakang pun terasa jauh lebih pekat daripada malam di luar dinding.
Bau anyir bunga kantil yang semula menguap samar, kini berubah menjadi aroma karat besi yang basah dan memuakkan. Udara pengap itu seolah mengental, menyumbat setiap pori-pori kulit siapa pun yang berani melangkah masuk.
Danu masih berdiri di dekat meja tegel, memasukkan beberapa gawai forensik spiritualnya ke dalam tas kulit buayanya.
Di balik pintu kamar yang setengah terbuka, Aryo sedang duduk bersimpuh di atas ubin lantai. Ia memangku kepala Maya yang terpejam kaku. Setiap embusan napas wanita muda itu terdengar seperti gesekan dua bilah kayu kering yang rapuh.
"Mas ... perih ... kulitku perih sekali ...."
Sebuah rintihan tipis lolos dari bibir Maya yang mengelupas hitam. Matanya tidak membuka, namun kelopak matanya bergetar hebat, menyembunyikan bola mata yang terus bergerak liar di balik lapisan kulit yang kuyu.
Aryo mendekatkan wajahnya, mencoba mengusap kening Maya yang dibanjiri keringat dingin berwarna keruh.
"Sabar, Sayang. Mas di sini. Besok pagi Mas Danu akan membawa kita menyelesaikan semua ini. Bertahanlah demi anak kita ...."
"Nggak ada anak, Mas ... nggak ada ...." Maya meracau, suaranya mendadak meninggi, serak dan kaku. "Di dalam sini bukan bayi ... tidak ada janin yang rasanya tajam begini ... semuanya tajam, Mas. Sakiiit!"
Tepat setelah kalimat itu terucap, tubuh Maya mendadak menegang sempurna. Punggungnya melengkung kaku ke atas, lepas dari pangkuan Aryo, seolah ada sebilah pasak tak kasat mata yang ditancapkan dari bawah lantai menembus tulang ekornya.
Kedua tangannya mencengkeram sprei kasur tua di dekatnya hingga kain katun itu robek dengan bunyi derit yang nyaring.
"Maya! Maya! Kamu kenapa?!" Aryo panik, mencoba menahan bahu istri mudanya itu agar tidak menghantam dinding ubin.
Namun, begitu telapak tangan Aryo menyentuh lengan atas Maya, ia langsung menarik tangannya kembali dengan sentakan instan.
Aryo menjerit pendek. Di telapak tangannya, mengalir darah segar yang keluar dari lima lubang kecil yang baru saja menusuk kulitnya.
Aryo menatap tangannya, lalu mengarahkan senter ponselnya dengan gemetar ke arah lengan baju Maya yang telah robek.
Dari balik kulit lengan Maya yang putih pucat keabu-abuan, sesuatu sedang mendesak keluar dari dalam daging. Permukaan kulit itu melepuh, membentuk benjolan-benjolan kecil sewarna darah mati.
Detik berikutnya, sebuah ujung logam hitam yang runcing menembus epidermis kulit dari arah dalam, mencuat keluar sepanjang dua sentimeter.
Itu adalah jarum jahit kuno. Jarum yang sudah berkarat hitam, sejenis dengan jarum yang biasa digunakan oleh para pengrajin batik tradisional di desa-desa pedalaman.
"Mas Danu! Tolong! Kulit Maya ... kulit Maya mengelyarkan besi!" teriak Aryo, suaranya pecah oleh histeria yang tak tertahankan.
Danu melangkah cepat memasuki kamar tanpa melepas mantel cokelatnya. Wajahnya tetap datar, namun sepasang matanya yang tajam langsung mengunci pergerakan aneh pada tubuh Maya.
Ia mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks hitam baru dari sakunya, memakainya dengan gerakan taktis, lalu berlutut di sisi lain ranjang.
"Jangan disentuh dengan tangan kosong, Pak Aryo. Itu susuk getih yang membalik," ucap Danu, suaranya berat dan menenangkan di tengah kekacauan itu.
"Kutukan Pring Sedapur tidak lagi hanya menanam akar di saraf; energinya sekarang sedang memuntahkan material sumpah yang dulu pernah diikat oleh keluarga Sekar ke dalam tubuh orang yang mencoba merebut posisinya."
Teror malam itu baru saja dimulai.
Benjolan-benjolan di kulit Maya merayap cepat seperti koloni semut yang kelaparan di bawah kulit. Tidak hanya di lengan, benjolan itu kini muncul di sepanjang tulang selangka, leher, dan yang paling mengerikan: di seluruh permukaan perutnya yang semula kencang.
Suara robeknya jaringan daging terdengar halus namun nyata di dalam keheningan kamar. Dari leher Maya, mencuat keluar sebatang paku bumi berkarat sepanjang sepuluh senti, keluar secara perlahan dengan posisi kepala paku berada di dalam dan bagian ujungnya yang tajam menusuk keluar membelah kulit.
Darah hitam pekat yang kental dan berbau busuk karat langsung meleleh, membasahi leher dan dada Maya.
"AAAAHHH!!! SAKITTT!!! MAS ARYO, CABUTTT!!!"
Maya menjerit sejadi-jadinya. Suaranya melengking tinggi, memecahkan sisa kaca lampu minyak yang menempel di dinding kamar rumah tua tersebut.
Prang!
Ruangan itu seketika jatuh ke dalam keremangan yang mencekam, hanya menyisakan berkas cahaya senter ponsel Aryo yang bergoyang liar.
Maya merontak hebat di atas lantai. Setiap kali tubuhnya bergeser, jarum-jarum dan paku-paku yang setengah mencuat dari kulitnya bergesekan dengan ubin, mengeluarkan bunyi denting logam yang beradu.
Klang ... klang ... dring ....
Seolah tubuh wanita muda itu telah berubah menjadi sebuah kantung besi tua yang penuh dengan rongsokan tajam.
Aryo menangis histeris, ia hendak memegang tubuh Maya untuk menghentikan kejangnya, namun Danu mencengkeram pundak Aryo dengan kuat, menahannya di tempat.
"Jika Anda mententuhnya sekarang, paku-paku itu akan berpindah ke jantungmu, Pak! Diam di situ!" bentak Danu, menggunakan nada tegas seorang investigator yang sedang mengendalikan situasi TKP yang berbahaya.
Danu meraih tas kulit buayanya, mengambil sebuah botol keramik kecil berisi bubuk belerang murni yang telah dicampur dengan gerusan daun kelor jantan yang dikeringkan di bawah naungan tempat wingit.
Dengan gerakan cepat dan presisi, Danu menaburkan bubuk kuning kehijauan itu di atas luka-luka robekan kulit Maya yang mengeluarkan paku.
Cesssss!
Uap putih yang sangat menyengat langsung mengepul dari permukaan kulit Maya. Bau daging yang terbakar bercampur belerang dan karat besi mendadak memenuhi ruangan, membuat Aryo mual hingga muntah di sudut kamar.
Maya melotot, seluruh otot matanya menegang hingga bola matanya nyaris keluar dari kelopaknya, sebelum akhirnya tubuhnya lemas secara instan dan jatuh pingsan kembali ke atas lantai ubin yang bersimbah darah hitam.
Proses keluarnya paku dan jarum itu terhenti setengah jalan. Beberapa batang paku masih tertancap kaku di kulit leher dan paha Maya, berdiri tegak bagai pasak-pasak gaib yang sengaja dipasang untuk mengunci raga wanita itu agar tidak bisa melarikan diri dari takdir kematiannya.
Danu berdiri, mengatur napasnya yang sedikit memburu. Ia menatap ke arah jemari tangannya yang bersarung tangan hitam; sarung tangan itu tampak meleleh di bagian ujungnya akibat hawa panas gaib yang memancar dari darah hitam Maya.
"Siksaan fisiknya sudah berpindah dari organ dalam ke permukaan, Pak Aryo," Danu melepas sarung tangannya yang rusak, membuangnya ke lantai.
"Ini artinya, ... 'jangkar' yang ada di brankas kantor Anda di Sudirman sudah mendeteksi bahwa kita telah mengetahui keberadaannya. Sekar sedang mempercepat proses eksekusinya dari Banyuwangi. Dia tahu kita akan mencoba memutus jangkarnya besok pagi. Ini adalah peringatan."
Aryo mengangkat kepalanya dari sudut kamar, wajahnya kotor oleh air mata dan keringat.
"Mas Danu ... apa Maya bisa selamat sampai besok pagi? Lihat dia ... dia sudah hancur ... dia ...." Aryo menangis pilu.
Danu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah empat pagi. Sisa-sisa suara gamelan gaib dari paviliun klinik kemarin tampaknya tidak terdengar di rumah tua ini, namun keheningan di luar jendela justru terasa jauh lebih mengancam.
Dari arah pekarangan samping rumah tua, suara derit halus rumpun bambu kembali terdengar bertingkat-tingkat, seolah ada sepasang mata tak kasat mata yang sedang berdiri di balik kegelapan malam, menonton setiap penderitaan yang dialami oleh sang pengkhianat dan simpanannya.
"Dia akan bertahan sampai besok pagi, tapi tidak lebih dari itu," jawab Danu dingin sambil mengancingkan kembali mantel cokelatnya.
"Belerang dan daun kelor tadi hanya menahan energinya selama beberapa jam. Bagaimanapun caranya, begitu matahari terbit, kita harus tetap bergerak. Entah mengambil kotak jati itu di kantor Anda, atau langsung naik ke lereng Gunung Salak. Jika kita terlambat, dikhawatirkan paku-paku yang tersisa di dalam tubuh Maya akan menghunjam masuk ke dalam, menghancurkan rahim dan jantungnya secara serentak."
Danu melangkah keluar dari kamar belakang, meninggalkan Aryo yang merangkak kembali mendekati tubuh Maya, menangis tersedu-sedu di sela-sela denting jarum-jarum karat yang berserakan di atas lantai ubin rumah tua yang dingin.
Apa yang dialami Maya malam ini merupakan peringatan, seolah jika Aryo dan Danu bergerak sedikit saja ke Sudirman untuk mengambil peti jati itu, maka Maya akan menderita dua kali lipat lebih menyakitkan.
Penyiksaan fisik telah mencapai puncaknya, dan fajar yang akan terbit beberapa jam lagi bukan membawa kehangatan, melainkan awal dari perjalanan berdarah yang sesungguhnya untuk merebut kembali jiwa yang telah digadaikan pada kutukan Pring Sedapur.
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
Apakah cerita penghianatan Aryo telah beredar luas di desa Sekar?