Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.
Sebelum sempat Zeya menjelaskan, terdengar suara Pak RT memanggil Daniel.
"Nak Daniel, ayo, kita sholat dulu di mushola!" ajaknya seraya beranjak dari duduknya diikuti yang lain. "Setelah itu baru lanjut kerja lagi."
"Baik, Pak," sahut Daniel sambil menoleh.
"Ya sudah, kita sambung di rumah aja. Aku pulang dulu," ucap Zeya. "Kamu hati-hati kerjanya, ya," pesannya sembari tersenyum tulus.
"Baiklah, kamu juga hati-hati, ya." Daniel mengusap lembut pucuk kepala istrinya.
Zeya mengangguk lantas tangannya terulur meraih tangan Daniel dan menciumnya.
"Eleeeuh... Eleeeuuuhh... Pengantin baru mah, emang beda," goda seorang bapak.
"He'eh...romantis pisan, euyyy..." sambung yang lain.
Daniel dan Zeya hanya bisa tersipu malu. Lalu dengan cepat Zeya berbalik, dan melangkah pergi dari sana. Sementara Daniel berjalan mengikuti langkah Pak RT dan warga lainnya menuju mushola yang dibangun khusus untuk mereka yang bekerja di sawah.
...
Sesampai di rumah panggung, Zeya langsung membuka pintu, dan segera masuk ke dalam. Lalu menutupnya serta mengunci rapat-rapat. Bukan karena takut, tetapi ia ingin menghindari kesalahpahaman yang mungkin terjadi, mengingat rumah yang ditempatinya itu sedikit jauh dari pemukiman warga.
Wanita muda berusia delapan belas tahun itu pun, segera mengeluarkan ponsel dan laptop dari tas ranselnya. Ia menyambungkan pengisi daya untuk ponselnya maupun milik Daniel. Begitu layar menyala, tampak banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk menumpuk.
"Astaga... Kenapa sampai sebanyak ini?" gumamnya sambil menatap layar.
Matanya tertuju pada nama di daftar panggilan. "Jenna...?" Zeya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. "Pasti dia khawatir karena berita yang sedang viral itu."
"Nanti saja deh, aku telepon balik dia. Sekarang ada hal yang jauh lebih penting untuk diselesaikan."
Zeya lantas membuka laptopnya, jari-jari tangannya mulai bergerak lincah di atas papan ketik. Tampilan layar berubah menjadi serangkaian kode dan sistem yang hanya dipahami olehnya. Dengan tenang serta cekatan, ia segera melacak jejak digital akun yang pertama kali mengunggah foto dirinya dan Daniel. Rupanya pemilik akun itu sudah mengantisipasi-- menyembunyikan identitas dengan perlindungan berlapis, tetapi bagi Zeya hal itu bukanlah halangan.
Dengan keahlian yang dimilikinya, perlahan tapi pasti, satu per satu benteng pertahanan itu ditembusnya. Ia menelusuri alamat asal, perangkat yang dipakai, hingga titik lokasi tempat unggahan itu dikirimkan. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya saat data yang dicari akhirnya muncul di layar.
Zeya sontak terhenyak beberapa saat, matanya membelalak menatap nama yang tertera di sana—sosok yang tak pernah ia sangka akan melakukan hal sekeji ini.
"Nggak mungkin...! Ini pasti salah, kan?" bisiknya lirih dengan napas tertahan.
Untuk lebih memastikan bahwa penemuannya bukan salah sistem, Zeya kembali memasukkan serangkaian perintah untuk menembus lebih dalam. Ia pun meretas masuk ke dalam galeri ponsel milik orang tersebut. Dan hasilnya... Zeya kembali dibuat terkejut. Di sana tersimpan foto-foto asli yang belum diedit.
Dilanda rasa penasaran yang makin memuncak, Zeya pun mengubek-ubek semua folder yang ada di dalam perangkat itu, menelitinya satu per satu memastikan tak ada satu pun yang terlewatkan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah folder tersembunyi yang dilindungi sandi tambahan. Tanpa butuh waktu lama, perlindungan itu pun berhasil ditembusnya.
Di dalamnya terdapat berkas rekaman video. Zeya segera membukanya. Terlihat jelas di layar, orang itu sedang berdiri di tengah jalan setapak sambil menatap kamera ponselnya sendiri.
"Sepertinya seru kali ya, kalau aku ngerjain mereka berdua, hihi..." ucap orang itu dengan tenang tetapi penuh niat jahat. Di sana terekam dengan sangat jelas saat dia membalikkan arah tanda panah.
Zeya menahan napas, matanya menatap lekat-lekat layar. "Ini kan... pas aku lagi berhenti sebentar untuk minum," gumamnya lirih menyadari waktu kejadian itu.
Ia melanjutkan memutar rekaman itu hingga selesai. Terlihat di sana sosok itu tersenyum tipis, bersembunyi di balik pohon, sambil menatap ke arah jalan yang baru saja dilaluinya bersama Daniel.
"Selamat menikmati petualangan kalian," ucapnya pelan lalu membalik lagi tanda panah ke arah yang sebenarnya, sebelum rekaman berakhir.
"Ya, Tuhan... kenapa bisa ada orang sejahat itu?" Zeya memegang kepalanya dengan kedua tangan, lalu menggeleng cepat tak percaya melihat kelicikan orang tersebut.
Belum sempat ia menenangkan diri, terdengar ketukan pada pintu rumah panggung itu, disertai suara panggilan yang sangat dikenalnya.
Tok
Tok
Tok
"Zeya... Ze... Aku pulang. Buka pintunya, kamu di dalam, kan?"
Zeya tersentak kaget, segera menyimpan salinan rekaman itu serta mengamankannya di tempat terenkripsi sebagai bukti mutlak. Baru setelah itu menutup tampilan layar. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat, lalu berjalan perlahan membuka kunci pintu.
Pintu terbuka, Daniel berdiri di sana dengan wajah yang sedikit lelah. Namun, matanya langsung menelisik raut wajah Zeya dengan cemas.
"Kamu... kenapa wajahmu pucat begitu, Ze?" tanyanya lembut sambil melangkah masuk dan menutup pintu kembali rapat-rapat. Ia langsung menyentuh bahu Zeya. "Ada apa? Apa yang kamu temukan?"
Zeya menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia mengajak Daniel duduk bersama di depan laptop, lalu memutar ulang rekaman video itu dari awal.
Suasana ruangan hening total saat suara orang itu terdengar jelas dari pengeras suara. Wajah Daniel perlahan berubah mengeras, tangannya mengepal kuat di atas lutut kala mendengar setiap kata yang terucap dalam rekaman itu. Begitu video berakhir, dia menoleh ke arah istrinya dengan tatapan tak percaya sekaligus amarah yang tertahan.
"Jadi... kita tersesat bukan sekedar kebetulan?" Suara Daniel terdengar berat dan rendah. "Tapi memang ada yang sengaja menjebak kita sejak awal."
Zeya mengangguk pelan, matanya kembali menatap layar. "Bukan hanya itu, ternyata dia juga yang mengunggah foto-foto kita di media sosial. Menyertakan caption yang memprovokasi dengan tujuan menjatuhkan reputasi kita."
Zeya menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku nggak habis pikir, kalau ternyata selama ini dia hanya pura-pura baik padaku. Padahal... aku sudah selalu mengalah padanya."
Daniel mengembuskan napas panjang, menunduk sejenak sebelum kembali menatap Zeya dengan tekad yang bulat.
"Kalau begitu, kita nggak boleh diam saja. Kita harus melakukan sesuatu dengan bukti nyata yang miliki ini."
Dia lantas mengambil ponselnya ingin menghubungi seseorang.
"Kamu mau telepon siapa, Nyel?" tanya Zeya seraya memegang lengan suaminya.
"Mami atau Papi. Aku ingin mereka tahu, supaya kita bisa mengambil langkah selanjutnya," jawab Daniel.
Zeya mengangguk setuju. "Baiklah, aku juga mau menghubungi Ayah. Karena aku yakin, Ayah pasti sudah mengerahkan orang-orangnya untuk menyelidiki kasus ini."
Sementara Daniel menelpon orangtuanya, Zeya pun segera menekan nomor ayahnya. Panggilan langsung tersambung.
"Halo, assalamualaikum, Yah," sapa Zeya, sambil menahan rasa sesak di dadanya.
"Waalaikumsalam, Sayang," sambut Ayah Bastian dengan antusias. "Kamu baik-baik saja kan, Nak?"
"Ze, baik, Yah." Zeya menarik napas sejenak, lalu melanjutkan kembali ucapannya. "Ze mau menyampaikan sesuatu sama Ayah, kalau Ze, sudah menemukan orang itu. Dia...."
.emaknya datang😁