Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.
Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.
Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]
Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.
Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Jangka Panjang
Malam sebelum genderang tahun ajaran baru Akademi Konoha ditabuh, kegelapan pekat menyelimuti rongga tebing pangkalan rahasia Ren. Di dalam keheningan yang hanya diinterupsi oleh tetesan air tanah, Ren duduk bersila dengan mata terpejam. Di depan kesadarannya, antarmuka sistem sains evolusi berpendar biru redup, memproyeksikan diagram sirkulasi energinya yang rumit dalam proyeksi tiga dimensi.
"Sistem, lakukan kalibrasi menyeluruh. Mulai Protokol Kamuflase Jangka Panjang," perintah Ren di dalam batinnya, sedingin es.
[Memproses Perintah... Mengaktifkan Modul 'Protokol Supresi Fenotipe Seluler']
[Mendeteksi Kapasitas Kerapatan Chakra Asli Inang: 3.0]
*Catatan Konteks:* Standar anak sipil seusia adalah 0.5, sedangkan standar ambang kelulusan Genin adalah 5.0. Kapasitas Inang sebanding dengan anak klan elit dan dikategorikan abnormal untuk usia 6 tahun.
[Memulai 'Modulasi Frekuensi Bio-Energi'... Mengunci Representasi Chakra Luar pada Angka: 0.2]
Ren merasakan sensasi dingin yang merayap di sepanjang jalur tenketsu-nya. Sistem tidak menekan kekuatannya, melainkan membangun sebuah lapisan filter tak kasatmata di jaringan sel terluarnya. Di mata ninja sensor tingkat tinggi sekalipun, riak energi yang dipancarkan tubuh Ren kini akan terlihat sangat tipis, tidak stabil, dan payah—menyerupai kondisi anak yang mengalami atrofi jalur chakra kronis akibat malnutrisi.
Namun, otak veteran Ren tidak berhenti di situ. Dia tahu betul bahwa Konoha dipimpin oleh para politikus tua yang paranoia. Ada Hiruzen Sarutobi dengan bola kristal pengintai jarak jauhnya, dan Danzo Shimura dengan jaringan agen ROOT yang merayap di dalam bayangan desa.
"Sistem, hitung margin kesalahan jika tubuh ini terpapar oleh teknik sensor tingkat Kage atau segel pembatas ANBU," tuntut Ren.
[Kalkulasi Selesai. Jika terdeteksi fluktuasi eksternal tingkat tinggi, Sistem akan otomatis memicu 'Bio-Signature Mesh'. Menampilkan data palsu berupa kerusakan jalur chakra bawaan lahir (cacat sirkulasi) untuk menghilangkan potensi ketertarikan militer dari pihak ketiga.]
Ren menyunggingkan senyum puas di dalam kegelapan. Cacat sirkulasi adalah alasan terbaik untuk dibuang dari daftar pantauan Danzo. Bagi para petinggi desa, anak sipil tak berbakat yang mengalami anomali chakra negatif adalah seonggok sampah yang membuang-buang anggaran kunai. Dan bagi Ren, dicap sebagai sampah adalah kebebasan mutlak untuk berevolusi.
Keesokan paginya, riuh rendah suara anak-anak memenuhi Ruang Kelas 1-A Akademi Konoha. Ruangan berundak tersebut dipenuhi oleh puluhan murid baru yang saling pamer pengaruh klan atau sekadar mengobrol dengan cemas.
Ren melangkah masuk menembus pintu kayu geser tanpa menimbulkan suara langkah yang berarti. Matanya yang tajam langsung memetakan seluruh ruangan dalam waktu setengah detik, membagi ruang kelas menjadi empat kuadran taktis berdasarkan sudut pandang dan potensi bahaya.
Banyak anak-anak yang mengincar bangku paling belakang di dekat jendela karena dianggap santai, atau bangku paling depan untuk mencari muka di hadapan instruktur. Namun, Ren justru berjalan dengan langkah lesu menuju bangku baris ketiga, dua baris dari dinding sebelah kiri.
Posisi duduk ini dipilih bukan tanpa alasan yang matang. Secara psikologi visual, baris ketiga adalah kuadran mati di mana fokus mata seorang pengajar yang berdiri di podium cenderung akan melewatinya begitu saja—mata guru biasanya akan langsung tertuju pada baris depan yang berisik atau baris paling belakang yang pemalas. Selain itu, dari posisi ini, Ren mendapatkan sudut pandang ergonomis sebesar 120° yang sempurna untuk mengawasi punggung Sasuke Uchiha di kuadran depan, serta Naruto Uzumaki yang duduk beberapa bangku di sebelah kanannya tanpa perlu memutar leher secara mencolok.
Ren duduk, meletakkan tas kain usangnya di atas meja, lalu menumpu dagunya dengan satu tangan. Ekspresi wajahnya dibuat sekusam mungkin, memancarkan aura anak rumahan yang bosan dan mengantuk.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka lebar. Iruka Umino, seorang Chūnin dengan bekas luka horizontal di hidungnya, melangkah masuk dengan setumpuk dokumen pendaftaran. Suasana kelas mendadak hening saat Iruka mulai mengetukkan kapur tulisnya ke papan.
"Selamat pagi semuanya! Mulai hari ini, saya adalah wali kelas kalian..." Iruka tersenyum hangat, memancarkan aura 'Kehendak Api' yang ramah sebelum memulai absensi. "Baiklah, saat nama kalian dipanggil, angkat tangan dan jawab dengan lantang!"
Proses absensi berjalan layaknya sebuah panggung sandiwara bagi Ren.
"Naruto Uzumaki!"
"Hadir, tahu! Aku akan menjadi Hokage berikutnya, catat itu!" teriak Naruto sambil berdiri di atas kursinya, memicu tawa ejekan dari anak-anak klan dan desahan kesal dari Iruka.
"Sasuke Uchiha!"
"Hadir," jawab Sasuke pendek tanpa menoleh, memicu pekikan kagum dari barisan anak perempuan di sekitarnya.
Ketika giliran namanya tiba, Ren mengatur pita suaranya dengan kalkulasi yang pas. Tidak boleh terlalu pelan hingga terdengar mencurigakan, dan tidak boleh terlalu tegas.
"Ren."
"Hadir," sahut Ren datar, mengangkat tangan kanannya hanya sebatas bahu sebelum menurunkannya kembali dalam waktu satu detik.
Suaranya yang monoton tenggelam begitu saja di tengah dengung bisikan kelas. Iruka bahkan tidak menatap wajahnya saat mencentang kertas absensi. Kamuflase yang sempurna.
Dari hasil absensi tersebut, otak Ren langsung memproses data sekunder: total ada 30 murid di kelas 1-A. Berdasarkan perhitungan matematika taktis, posisi tengah kelas atau median mutlak berada secara presisi pada peringkat 15 atau 16. Dia harus mengontrol metrik nilainya secara dinamis agar selalu berada di bawah dominasi kelompok elit seperti Sasuke, namun tetap terjaga di atas batas bawah yang dihuni oleh murid-murid bermasalah seperti Naruto.
Tepat saat Iruka meletakkan kertas absensi dan mulai menuliskan materi teori dasar chakra di papan tulis, sebuah getaran frekuensi tinggi mendadak berdenyut di dalam saraf optik Ren. Layar sistem membeku, mengganti seluruh tampilan visual dengan teks berwarna merah darah yang berkedip intens.
[PERINGATAN! Skenario Kehidupan Akademi Telah Dipicu.]
[Mematangkan Protokol Integrasi Lingkungan... Sistem Menerbitkan Misi Jangka Panjang Mutlak!]
[Misi Jangka Panjang: Protokol Median Mutlak (The Absolute Median)]
*Deskripsi Misi:* Selama menempuh pendidikan di Akademi Ninja Konoha, Inang diwajibkan untuk mempertahankan posisi akademik dan praktis tepat pada persentil ke-50 (Nilai rata-rata absolut dari seluruh jumlah murid di kelas).
*Parameter Evaluasi:*
Ujian Teori Sejarah & Strategi: Harus berada di posisi tengah kelas (Peringkat 15-16 dari 30 murid).
Ujian Praktis Shurikenjutsu & Taijutsu: Harus memalsukan akurasi dan output daya motorik agar sesuai dengan median kelas.
Ujian Kontrol Chakra (Bunshin/Henge): Harus lolos dengan margin kelulusan paling standar.
*Hukuman Kegagalan:* Jika Inang menyentuh peringkat 3 Besar (Menarik perhatian klan/ANBU/ROOT) ATAU berada di peringkat 3 Terbawah (Risiko Drop Out/Penyelidikan latar belakang), Protokol Evolusi akan terkunci selama 12 bulan.
*Hadiah Penyelesaian Akhir:* Evaluasi S-Rank & Pembukaan Kunci Silsilah Evolusi Tubuh Tahap Dua.
Sepasang mata Ren menyipit tajam di balik poni rambutnya yang acak-acakan. Menjadi yang nomor satu adalah hal yang mudah bagi seorang reinkarnator dengan cetak biru militer. Menjadi yang paling bodoh juga sangat gampang untuk dipalsukan. Tetapi, menjadi rata-rata secara presisi di setiap ujian? Itu membutuhkan kontrol motorik tubuh yang luar biasa rumit dan pengamatan konstan terhadap fluktuasi performa seluruh isi kelas.
Ren melirik ke arah papan tulis, lalu beralih menatap punggung Sasuke dan murid lainnya dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi tatapan seorang predator yang sedang menghitung algoritma.
Menarik sekali, batin Ren, sementara jemari tangannya mengetuk meja kayu mengikuti ritme detak jantungnya yang terkendali. Memulai permainan sebagai 'si nomor rata-rata' di depan seluruh monster kanon ini... Mari kita lihat seberapa jeniusnya sistem pendidikan Konoha saat menghadapi manipulasi sains yang mutlak.