Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan Singkat
Kelas yang seharusnya nyaman kini semua orang mulai merasakan kejenuhan dan rasa takut nyata yang begitu tiba-tiba datang tanpa di undang, Guru agama jam pertama ia menangkap perasaan yang tidak begitu nyaman.
"Sebelum melanjutkan pelajaran, kita berdoa untuk salah satu teman yang sudah pergi meninggalkan dunia kemarin."
Kini pelajaran awal yang di pahami Pak Imam menatap ke arah Bejo penuh akan pertanyaan, mereka semua membaca doa untuk almarhumah Sinta anak dari jurusan farmasi.
Setelah selesai, suasana kelas menjadi lebih rileks hingga jam berganti dan istirahat pertama berbunyi.
"Jo, lu ke kekantin gak?," tanya Jarot.
"Gua disini aja dah, males mau ke kantin."
"Ya udah kalau begitu. Apa mau titip jajan aja?"
"Boleh deh. Nih 50, bagi dua buat kalian."
"Wahh.. Jo, kan kemarin udah di kasih rokok kenapa sekarang uang lagi!!,"
"Udah ambil aja, 10ribu belikan air mineral sama jajan bawa sini,"
"Oke siap Bos."
Jarot dan Dirga pergi meninggalkan Bejo, kini Bejo duduk di depan kelas menunggu teman-temannya. Tidak berselang lama Doni datang bersama dua temannya.
"Tumben tanah basah gak kekantin, apa kenyang makan tanah kuburan!!,"
Andika dan Indra tertawa mendengar perkataan Doni, mereka memandang Bejo penuh ejekan.
Bejo tetap diam tidak memperdulikan apa yang di ucapkan oleh Doni.
Doni yang melihat ketenangan Bejo semakin membuatnya sangat kesal.
"Apaan sih lo Don,"
Doni menarik kerah baju Bejo.
"Lo jangan deket-deket sama Dinda,"
"Bukan gua yang deketin tapi dia sendiri yang deketin gua,"
"Bullshit lo Jo."
Bejo tetap tenang walaupun tidak suka dengan tindakan tiba-tiba Doni, bukannya takut tapi dia memang benar tidak mendekati Dinda.
"Don, lepasin Bejo gak."
Dinda menarik tangan Doni yang masih mencengkram kuat pada kerah baju Bejo, bersamaan kedatangan dua teman Bejo juga.
"Bajingan.. Lo apain Bejo, 'Don?," seru Jarot.
Dinda membantu membenarkan kerah baju Bejo yang berantakan, lalu ia memandang wajah Doni dengan sangat kesal sekaligus marah.
PLAKKK......
"Sekali lagi lu lakuin itu ke Bejo, gua aduin lo ke pak Heru,"
Tamparan keras Dinda mendarat sekuat-kuatnya, membuat Doni dan semua orang terdiam tanpa kata. Bejo sendiri sangat terkejut melihat tindakan berani Dinda menampar Doni di depan banyak orang.
Doni sama terkejutnya, pertama kali dia di tampar seorang perempuan di depan banyak orang.
"Lo pergi dari sini sekarang. Denger gak lo Don?!," ucap Dinda.
"Gua minta maaf Din, gua gak lagi-lu pergi sekarang?!,"
Dinda bersuara keras membuat Doni terdiam, ia pergi dengan tatapan tajam ke arah Bejo. Bejo menghela napasnya, untuk pertama kali Bejo akan mendapatkan masalah di akhir sekolah.
"Kamu gak papa kan Jo?," Dinda bertanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu kenapa kok mau nangis?," balas bertanya Bejo.
Dinda tidak menjawab pertanyaan Bejo, ia langsung memeluk Bejo dengan tangis tersedu-sedu tanpa suara. Membuat Bejo dan teman-temannya kebingungan, apalagi Salsa dan Clara melihat Dinda tiba-tiba menangis.
"Sudah.. aku gak papa kok," ucap Bejo.
"Semua ini gara-gara aku Jo,"
"Kenapa?,"
"Doni tuh sudah ngejar Dinda setahun terakhir ini Jo, sedangkan Dinda sudah menolaknya berkali-kali tetap aja dia berusaha mendekati Dinda," penjelasan dari Salsa.
Bejo mengangguk kepalanya, dia paham apa yang di jelaskan oleh Salsa. Kemudian mereka duduk bersama dengan Dinda duduk di samping Bejo, namun pandangan Dinda kosong mengingat apa yang di lakukan pada Doni sebelumnya.
Bejo menotice diamnya Dinda.
"Malam minggu mau kemana nih Jo?," tanya Jarot.
"Terserahlah, gua ikut aja."
"Gimana kalau kita ke stadion utama, sudah lama kita gak main kesana,"
"Bener tuh Jo, kita kesana yok malam ini,"
"Okelah kalau tujuan kesana,"
Bejo berbincang dengan teman-temannya, di ikuti Salsa dan Clara yang ada di kelompok mereka. Beberapa murid lainnya, memandang mereka penuh kebingungan. Karena mereka bertiga di kenal gadis tercantik di angkatannya, apalagi Dinda di kenal sangat cerdas.
Akhirnya jam sekolah berakhir, Bejo berjalan menuju parkiran bersama teman-temannya.
"Jo?," panggil Dinda.
"Hmm.." jawab Bejo.
"Cuek amat sih Jo!!," seru Dinda, dengan wajah sedikit kesal.
"Apa Dinda yang paling terkenal di sekolah, yang paling di sukai banyak orang," ucap Bejo.
Membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bejo.
Dinda tersipu malu mendengarnya, dia memalingkan wajahnya karena Bejo berkata seperti itu.
"Lah.. malah diam sekarang," lanjut Bejo.
"Ishh.. apasih Jo,"
"Kamu mau ngomong apa?," tanya Bejo.
"Hmm.. gimana ya!!," Dinda kebingungan untuk mengatakan isi dalam kepalanya, membuat Salsa dan Clara sudah menangkap keinginan Dinda.
Bejo sendiri masih diam menunggu jawaban pasti dari Dinda.
"Aku sama Salsa dan Clara mau ikut boleh gak Jo?,"
"Ikut kemana?,"
"Ya malam mingguan Jo,"
"Aku mau sendiri dulu Din,"
Dinda seketika terdiam, wajahnya tampak murung ketika mendengar ucapan Bejo. Membuat Salsa dan Clara memahami sepenuhnya apa yang di rasakan oleh Dinda.
"Tapi bohong. Boleh aja," seru Bejo, lalu berlari.
Dinda yang sudah terlanjur sedih semakin kesal mendengar perkataan Bejo.
"Ishh.. dasar kamu ya Jo," seru Dinda mengejar Bejo berlari.
Jarot, Dirga, Salsa dan Clara tertawa bersama melihat Dinda yang sangat kesal mengejar Bejo yang berusaha menghindari lemparan sepatu dari Dinda.
Bejo terus mengejek Dinda membuatnya semakin kesal, namun Bejo berhenti memandang tajam kearah belakang jauh di pohon rindang ujung sekolah.
Dinda yang melihat Bejo terdiam, dia sangat bingung lalu mendekatinya.
"Kenapa gak lari lagi kamu?,"
"Tuh apaan di samping pohon sana?,"
Bejo menunjuk lurus kearah pohon beringin besar di luar sekolah yang terlihat jelas. Dinda di ikuti teman-temannya memandang kearah dimana Bejo menunjuk.
Pohon beringin tua yang sudah ada sejak awal sebelum sekolah berdiri sekarang tidak pernah di usik, entah kenapa tapi banyak beberapa murid dari pertama hingga sekarang tau apa sebenarnya.
Bagaimana pohon beringin tua itu tidak di berikan tembok sejak renovasi sebelumnya karena ada perjanjian dalam ketidak pemahaman semu orang. Banyak siswa siswi mengira pohon untuk memang tetap ada karena di nilai sangat sejuk.
Memang itu benar, tapi ada kemistisan dan misteri nyata dalam gelapnya pohon beringin tua itu. Pihak sekolah tidak pernah melakukan apa-apa kecuali membersihkan daun kering yang berjatuhan.
Namun beberapa satpam sekolah pernah mendapat penampakan sosok berpakaian merah maron menari di bawah pohon beringin tua dengan musik gamelan terdengar sayup-sayup. Tidak berhenti di situ juga, kelas yang berdiri tidak jauh kini kosong tidak di pakai lagi.
Setelah kejadian nyata dan kecerobohan siswa itu sendiri yang membuang barang yang seharusnya di bersihkan terlebih dahulu, membuat kesurupan massal di tahun sebelumnya.
Bejo dan teman-temannya terdiam nyata melihat sosok hitam bermata merah menyala di sore hari, sosok itu berdiri tepat di depan pohon beringin tua. Walaupun samar-samar masih terlihat jelas siluet nyata sosok Genderuwo di ujung.