Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 8
Arya menatap tajam anggota perguruan Topeng Sesat yang jumlahnya tinggal 16 orang. Kedua pedang di tangannya sudah berlumuran darah dari korban-korbannya. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya kepada 5 orang tersisa di belakangnya.
"Kalian beristirahatlah. Biar aku yang melawan mereka!"
"Baik, Pendekar," jawab lelaki yang berpakaian selayaknya pejabat. Dia dan keempat temannya akhirnya bisa bernapas lega setelah kedatangan sang penolong yang ternyata masih begitu muda.
Arya berjalan maju beberapa langkah. Ujung pedang di tangan kanannya terarah lurus kepada anggota perguruan Topeng Sesat yang mulai ketakutan.
"Aku tidak perduli kalian ada permasalahan apa dengan mereka, tapi selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan manusia-manusia tersesat seperti kalian untuk hidup lebih lama!"
16 anggota perguruan Topeng Sesat saling berpandangan satu sama lain. Meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak, tapi mereka tidak punya keyakinan sedikit pun untuk menang melawan pemuda berambut kemerahan tersebut. Terlebih tidak adanya sosok kuat di antara mereka.
"Kami tidak punya masalah apapun denganmu, Pendekar. Masalah kami hanya dengan mereka, jadi tolong jangan ikut campur masalah ini," ucap salah satu dari mereka dengan nada sopan.
Senyum tipis mencibir keluar dari bibir Arya. Pemuda itu lalu membalikkan arah pandangnya dan memanggil salah satu dari 5 orang yang sedang ditolongnya untuk mendekat.
"Jika aku lemah, mungkin kau tidak akan berkata seperti itu, bukan? Bahkan bisa jadi kalian akan langsung membunuhku." Arya mengalihkan pandangannya ketika lelaki yang dipanggilnya sudah berada di sampingnya.
"Apa Paman punya masalah dengan mereka sebelumnya?"
Lelaki berpakaian mewah seperti pejabat tersebut mengernyitkan dahinya sesaat, lalu menggeleng. "Kami tidak pernah punya masalah dengan mereka, Pendekar. Malah mereka yang ingin merampok kami. Pemimpin mereka bernama Nyi Asih atau berjuluk pendekar Lembah Ular."
Senyuman lebar tergambar di wajah pemuda tersebut. "Kembalilah ke sana, Paman!"
Arya kembali menunjuk anggota perguruan Topeng Sesat dengan ujung pedang di tangan kanannya. "Kalian memang sudah tersesat jauh. Jadi alasanku kini semakin bertambah kuat untuk menghabisi kalian!"
"Kau sudah mencari masalah dengan perguruan Topeng Sesat, Bedebah!" hardik seorang dari anggota perguruan aliran hitam tersebut," Serang dia!"
Sudah kepalang basah, hanya itu yang ada di pikiran mereka saat ini. Melarikan diri pun tentu tidak ada gunanya. Jalan satu-satunya yang terhampar di depan hanyalah menyerang semampunya.
16 anggota perguruan Topeng Sesat bergerak mengepung Arya dari segala arah. Mereka tampak sudah tidak peduli dengan nyawa satu-satunya yang melekat di badan. Membunuh atau dibunuh, hanya itu yang ada di pikiran mereka.
Jejakan kuat kaki kanan Arya di tanah menjadi pembuka pertarungan. Pemuda itu bergerak menyabetkan kedua pedangnya tanpa bisa dibendung 4 lawan yang diincarnya.
Teriakan melengking menyayat hati seketika terdengar, sebelum kematian menjemput kehidupan mereka berempat. Dua orang tergeletak di tanah dengan leher yang terkoyak lebar. Sementara dua orang lainnya meregang nyawa, setelah perutnya jebol tertebas pedang hingga isinya berhamburan keluar.
"Cepat sekali!" Hanya itu gumaman yang ada dalam hati setiap anggota perguruan Topeng Sesat. Mereka terhenyak dalam kebekuan pikiran masing-masing. Ditambah lagi dengan rasa takut akan kematian yang semakin membesar.
Belum juga mereka lepas dari keterkejutan, 3 orang lainnya harus jatuh menghempas tanah dan mati dengan cara mengenaskan. Kepala ketiga orang itu terpisah dari badan dan menggelinding di tanah yang sedikit menurun.
Tak terbayang betapa kengerian yang dirasakan oleh 9 orang tersisa. Hanya dalam beberapa gebrakan saja 7 teman mereka tewas dengan cara yang sadis. Bau anyir darah yang menusuk hidung juga semakin mengikis keberanian mereka.
Sementara itu, 5 orang yang diselamatkan Arya tidak henti menggelengkan kepalanya. Mereka dibuat kagum dengan kemampuan yang ditunjukkan pemuda berambut kemerahan tersebut. Terlepas dari usianya yang masih muda, kecepatan yang ditunjukkan Arya seperti seorang pendekar yang telah lama malang melintang di dunia persilatan.
Namun yang membuat heran, mereka tidak pernah mendengar ada seorang pemuda, atau lebih tepatnya pendekar, yang memiliki ciri-ciri seperti Arya. Berambut kemerahan, berkulit kuning langsat dan bermata sipit seperti ciri khas ras Mongoloid.
Teriakan kematian kembali terdengar bersahutan. Satu persatu anggota perguruan Topeng Sesat berjatuhan di tanah dan teronggok seperti tumpukan sampah yang tak berguna.
Kini hanya tinggal 4 anggota perguruan Topeng Sesat yang tersisa. Mereka bergerak mundur selangkah demi selangkah dibayangi rasa ketakutan. Sosok pemuda yang tidak mereka duga-duga, datang dan menjelma menjadi Dewa Kematian yang siap untuk mencabut nyawa satu-satunya yang mereka miliki.
"Kali ini kalian bisa merasakan sendiri ketakutan akan kematian dari para korban yang hendak kalian bunuh. Nikmatilah sisa-sisa nafas yang bisa kalian hirup, sebelum aku memutuskan aliran pernafasan kalian!" Arya berucap pelan, tapi penuh tekanan yang begitu mengintimidasi pikiran lawan.
Namun tiba-tiba saja pemuda itu mengernyitkan dahinya. Matanya bergerak melirik ke berbagai arah, setelah merasakan adanya energi cukup besar yang berada di sekitar tempat itu.
Dalam hitungan detik kelima, sesosok berpakaian hitam dan memakai topeng besi yang juga berwarna hitam, melesat dari kejauhan dan berhenti tepat di depan 4 anggota perguruan Topeng Sesat yang tersisa. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat yang juga berwarna hitam, berukirkan seekor ular melingkar dari atas sampai bawah.
"Ketua!" ucap keempat anggota perguruan Topeng Sesat bersamaan. Raut muka mereka terlihat cukup lega dengan kedatangan pemimpin perguruan yang mereka ikuti.
Sosok baru datang yang juga merupakan ketua Perguruan Topeng Sesat, mendengus geram melihat jasad-jasad anggotanya yang sudah tidak bernyawa bergeletakan di tanah. Genggaman tangannya semakin kuat meremas tongkat hitam kesayangannya, seiring dengan hembusan nafasnya yang memburu keluar.
"Apa pemuda ini pelakunya?"
"Benar, Ketua. Dia yang telah membantai teman-teman kita."
Sosok yang ternyata seorang perempuan itu memandang Arya penuh kebencian. Api kemarahan terlihat jelas menjilat-jilat di matanya yang sepenuhnya hitam.
"Rupanya kau punya nyali besar berani membuat masalah dengan perguruan Topeng Sesat, Anak muda."
Sesuai ucapan lelaki berpakaian pejabat tadi, Arya meyakini jika wanita yang baru datang itu adalah Nyi Asih, ketua Perguruan Topeng Sesat. Senyum simpul pun tercetak di bibirnya yang merah.
"Akhirnya Nyi Asih pendekar Lembah Ular datang juga ke tempat ini. Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu susah-susah untuk mencarimu!"
Nyi Asih mengernyitkan dahinya yang sudah dipenuhi keriput tebal. Jika menilik dari ucapan sosok yang telah membantai anggotanya itu, sepertinya pemuda tersebut sudah mengenalnya. Tapi setelah mengamati cukup lama, dia tidak merasa pernah melihat ataupun mengenal pemuda berambut merah itu.
Ada rasa bangga terselip di hatinya. Secara tidak langsung namanya sudah begitu terkenal di kalangan para pendekar. Itu juga membuktikan bahwa julukan Pendekar Lembah Ular yang disandangnya bukan omong kosong semata.
"Sebenarnya kau siapa, Anak muda? Kenapa aku tidak pernah melihatmu atau mengenal ciri-cirimu di kalangan para pendekar?" tanya Nyi Asih.
Wajar jika ketua perguruan Topeng Sesat itu begitu penasaran. Dengan ciri-ciri khas berambut kemerahan yang dimiliki Arya, seharusnya minimal dia mengetahuinya atau minimal pernah mendengarnya.
"Apalah gunanya kusebutkan namaku, jika pada akhirnya kau akan membawanya mati dalam pikiranmu!"
"Bangsat!" Nyi Asih menghardik keras. Mata hitamnya mendelik lebar terbakar emosi.