"Tidak akan, aku menyukai kamu sejak pandangan pertama." yakin Johan.
'Karena aku mirip ibu? Tuan, apakah kamu tidak tau bahwa aku ini adalah putrimu.'
Akhirnya aku bertemu orang yang sering disebut-sebut namanya di setiap pertengkaran ayah dan ibu, hah!
Karunia , 19 tahun.
*
Dewi pelangi, 28 tahun.
Selesai makan mereka duduk santai di ruang tengah menonton televisi. Dewi bersandar di dada Johan, dagu Johan di pucuk kepala istrinya.
"Mas, bagaimana kalau kita cari seorang perempuan yang mau dihamili." suara Dewi tiba-tiba mendongak pada Johan.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Johan merasa aneh dengan perkataan istrinya, Dewi.
*
Kedua perempuan diatas adalah isteri Johan Alamsyah 37 tahun, Pria matang itu berniat poligami agar terhindar dari masksiat.
Apakah niatnya akan tercapai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sadar T'mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Karunia berjalan ke pintu utama hunian indah itu, di depan pintu Mbok Senah sudah menunggu nya.
"Bibi." sapa Karunia menyalim dan mencium punggung tangan Mbok Senah.
Mbok Senah menatap pilu mengusap kepala keponakannya, sebatang kara yatim piatu pula. Orang tua Karunia sebenarnya hanya kenalan mbok Senah saat di yayasan penyalur tenaga kerja, namun sudah seperti saudara.
Kedua orang tuanya meninggal belum lama, saat menjemput Karunia yang baru lulus sekolah menengah pertama. Motor yang mereka kendarai mengalami kecelakaan. Orang tua Karunia meninggal seketika di tempat kejadian sementara Karunia selamat.
Karunia mengalami luka ringan ditubuh dan benturan keras di kepalanya yang menyebabkan Karunia mengalami amnesia. Dua minggu Karunia koma, ia bahkan lupa dengan kejadian tabrakan yang mengakibatkan ayah dan ibunya meninggal Dunia.
Karunia yang tidak bisa melanjutkan sekolah, akhirnya ia ikut ke Malaysia di bawa oleh saudara Mbok Senah yang telah terlebih dahulu bekerja di sana.
"Masuklah Niah duduk dulu, bibi panggilkan Nyonya Dewi."
Karunia duduk di ruang tengah, ia sudah biasa masuk ke rumah orang kaya jadi sudah tidak canggung bahkan rumah mantan suaminya lebih besar dari ini.
Tidak berapa lama, Mbok Senah mendatangi nya bersama seorang wanita cantik masih kelihatan muda, walaupun usianya lebih tua dari Karunia.
"Jadi ini Karunia." sapa wanita cantik itu lembut dan ramah.
"Saya Dewi." ucap nya memperkenalkan dirinya.
Karunia menerima uluran tangan Dewi. "Niah." jawab nya.
Hm, cantik juga gadis ini kenapa jadi pembantu, batin Dewi.
Si mbok datang membawa minuman kaleng dan air mineral gelas, lalu ikut nimbrung duduk di sebelah Karunia.
"Silahkan diminum Niah, bukankah perjalanan kamu melelahkan?" ujar Dewi.
"Iya, Nyonya terima kasih." Karunia hanya tersenyum meraih satu kaleng cola lalu menenggak nya.
"Saya harap kamu betah, si mbok aja betah bahkan sejak suami saya masih muda remaja." jelas Dewi.
Karunia kembali tersenyum. "Niah, saya dengar dari si mbok kamu seorang janda?" tanya Dewi.
"Benar Nyonya." jawab Karunia.
"Kenapa bercerai?" tanya Dewi lagi.
"Suami saya sudah tidak membutuhkan saya lagi." jawab Karunia enteng.
Santai sekali tidak ada raut kesedihan di wajahnya, batin Dewi.
"Sudah berapa lama kamu berpisah dari suami, Niah?"
"Tiga bulan, Nyonya." jawab Karunia memang itu kenyataan nya, habis kontrak kerja selesai juga kontrak nikah.
"Apakah kamu memiliki anak?" tanya Dewi.
"Tidak Nyonya." jawab Karunia.
"Berapa lama usia pernikahan, apa kamu pernah hamil?" tanya Dewi lagi.
Hm, bagaimana saya bisa hamil suami tidak pernah menyentuh ku.
"Cuma bertahan satu tahun dan saya belum pernah hamil, Nyonya." jawab Niah, sudah mulai jengah.
Hm, belum pernah hamil. Kalau pernah boleh juga jadi istri kontrak Johan.
"Kenapa Niah, Apa mantan suami kamu tidak menginginkan anak?" tanya Dewi.
"Ingin Nyonya, cuma belum di kasi aja." jawab Niah berbohong, mulai kesal.
"Oh." Dewi tersenyum tawar.
Setelah berkenalan, Dewi meminta mbok Senah memberitahu Karunia, apa saja yang menjadi tugasnya.
"Niah, kalau ada tugas yang tidak bisa kamu kerjakan diantara tugas yang diberikan, katakan saja jangan segan-segan." ujar Dewi.
"Baik, Nyonya." jawab Karunia.
"Saya tinggal dulu ya."
Karunia mengangguk, Dewi naik ke lantai dua. Setelah Dewi kembali ke kamarnya. "Ayo Niah, bibi tunjukkan kamar kamu. Kamu istirahat saja dulu hari ini, besok saja mulainya." ujar Mbok Senah.
"Baik Bibi, terima kasih." ucap Karunia.
Mbok Senah membuka satu kamar di lantai bawah, ia sudah membersihkan nya kemarin untuk ditempati Karunia.
***
Di kamar nya Dewi berpikir keras harus kemana mencari ibu pengganti, bayangan Shopie sekelebat hadir di benaknya.
Astaga, amit amit jangan sampai Shopie ya Tuhan. Apa aku minta Karunia saja, sepertinya dia anak polos. Memang sih Janda, tapi belum pernah melahirkan, hm.
"Coba deh, aku tanya saja. Siapa tau dia mau dengan imbalan uang yang banyak. Aku harus gerak cepat, agar Johan segera memiliki keturunan." gumam Dewi keluar dari kamar menuju lantai satu.
~
Karunia menghempaskan tubuhnya di kasur dari tadi pagi naik bus, pinggangnya serasa mau patah.
Ah, lumayan juga kamarnya. Apakah kamar bibi juga seperti ini luasnya.
Tok tok tok. Pintu kamar di ketuk.
"Iya." jawab Karunia.
"Ini saya Niah, boleh kita bicara sebentar." panggil Dewi.
Oh si Nyonya, ada apa lagi dia.
Karunia bangun membuka pintu. "Silahkan, Nyonya mau bicara apa?"
Dewi masuk duduk di sisi tempat tidur, Karunia mengikuti nya. Mereka duduk hadap hadapan.
"Niah." panggil Dewi ragu ragu.
Karunia memandang Dewi intens. "Ada yang bisa saya bantu Nyonya?"
"Benar Niah, saya memang butuh bantuan kamu."
"Apa Nyonya, katakan saja sebisa saya akan membantu."
"Saya, ada masalah. Kandungan saya lemah sudah tiga kali keguguran jadi saya butuh rahim pengganti untuk mengandung anak saya dan Suami. Apa kamu pernah mendengar nya? Rahim pengganti."
Tentu saja, temanku melakukan nya dan mendapatkan bayaran yang mahal sampai satu milyar.
Dalam hati Karunia lalu dia mengangguk.
"Calon yang saya seleksi beberapa hari yang lalu mengundurkan diri, seorang teman yang tidak saya sukai menawarkan diri." Dewi diam sejenak.
"Maukah kamu menolong aku Niah, meminjamkan rahim kamu untuk mengandung anak saya dan suami." mohon Dewi, daripada Shopie lebih baik Karunia walaupun mereka sama sama belum pernah melahirkan.
"Suami saya tidak akan menyentuh kamu, jadi kamu gak perlu khawatir." lanjut Dewi saat melihat kerutan di dahi Karunia.
"Boleh saya minta waktu untuk berpikir."
"Tentu saja, tapi jangan lama lama ya, Niah. Kamu minta berapa, jangan segan segan kasih angka tapi jangan terlalu mahal juga standard nya satu milyar rupiah saya masih sanggup." jelas Dewi nada memohon.
Hm. "Baik, Nyonya." jawab Karunia.
"Terima kasih Niah, saya harap segera mendengar kabar baik dari kamu."
Dewi keluar dari kamarnya, Karunia bengong sendirian. "Ibu pengganti, satu milyar rupiah." Karunia tersenyum sinis.
Apa aku kelihatan seperti gembel, akan melakukan apa saja demi uang.
Karunia memejamkan matanya, gak lama ia tertidur sampai seseorang mengetuk pintunya.
"Niah, bangun makan malam." panggil suara bibinya, Mbok Senah.
Karunia membuka matanya, beranjak ke pintu lalu membuka nya. "Di tunggu makan malam, ayo buruan."
"Tapi Aku belum mandi Bi, Bibi duluan aja ya." ujar Niah.
"Bukan Bibi Niah, tapi Tuan dan Nyonya." jawab wanita paruh baya itu.
Hm, "Baiklah, tapi lama gak papa."
"Ya, gerak cepatlah Niah." Mbok Senah mendelik.
Hehe, "Iya, ya ya."
Niah balik badan tanpa menutup pintu kamarnya, menyambar handuknya masuk ke kamar mandi.
Bukankah aku pembantu, ngapain ngajak makan bersama. Mau nyogok biar aku mau gitu.
Karunia selesai mandi memakai gaunnya yang tidak murah, beli nya saja di luar negri pakai uang mantan suaminya.
Biarpun pembantu, gak mesti harus kelihatan lusuh kan.
Batin Karunia keluar setelah berdandan seadanya, make up flawless yang di pelajari nya selama jadi istri kontrak mantan suaminya.
Kalau terlalu menor entar dikira mau merayu majikan pulak.
Karunia melirik ruang tengah depan kelihatan seorang pria paruh baya, lagi menonton TV sendirian.
Apa ini suami si Nyonya, tampan banget kalah mantan suamiku gak ada apa apa nya. Memang sih, setampan tampan nya orang Malaysia masih tampan lagi orang indonesia.
Batin Karunia, langsung saja berjalan ke dapur di mana si Nyonya Dewi dan Bibi Senah berada, lagi sibuk apa batin Karunia.
Gleg, Karunia menelan ludah menyadari sesuatu.
Aku serasa kayak Nyonya, enak enakan tidur sementara Nyonya asli sibuk di dapur menyiapkan makan malam.
"Nyonya." sapa Karunia menunduk hormat.
Seketika Dewi terpana memandang Karunia.
Dengan kecantikan seperti ini, bisa saja Johan berpaling muka dariku tapi inilah ujian yang harus aku hadapi dalam lima tahun usia pernikahan.
Batin Dewi tersenyum pada Karunia.
****
Jangan lupa tinggalkan jempol ya guys. 🙏
kemana sofinya Thor