Rivera Briar Edwina seorang siswa yang mengalami kecelakaan akibat tertabrak mobil dan jiwanya berpindah ke tubuh Aluna Effie Alfred seorang istri yang sangat dibenci oleh suaminya aiden Cristian edgar karena adiknya kecelakaan akibat tertabrak oleh mobil yang ditumpangi aluna. Tidak hanya itu aluna bahkan anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarga kandungnya dan menyalahkan aluna yang menyebabkan kecelakaan dan meninggal ibu aluna semenjak ayahnya menikah lagi dan membawa anak tirinya hubungannya dengan keluarga tidak pernah baik. Akankah vera yang menjadi aluna bisa melewatinya, atau memilih untuk menyerah atau akankah aluna akan mencari kasus kecelakaannya?
episode 8
aluna yang baru saja selesai makan tiba-tiba saja aiden menghampirinya dan menatapnya dengan tajam. tanpa pikir panjang aiden menarik aluna dengan kasar hal itu membuat aluna merintis kesakitan.
"apasih lepas" aluna menghempaskan tangan aiden. aiden mendorong aluna hingga terdorong ke dinding.
"gara gara lo lula mengalami patah pinggang dan patah tulang lengan lo tahu itu" geram aiden.
"gue tidak mau tahu soal itu, gue hanya membela diri gue mau berapa kali gue bilang" bentak aluna, aiden langsung mencengkram pipi aluna.
"gue tidak mau mendengar alasan apapun aluna disini yang salah itu lo, jadi lo harus menanggung akibatnya" seru aiden menarik aluna sampai di gudang yang tidak memiliki lampu sama sekali, aluna di masukan kedalam dengan kasar oleh aiden, aiden mengunci gudang itu.
aluna didalam memberontak memukul mukul pintu gudang itu.
"aiden buka" teriak aluna.
"ini hukuman lo, jangan harap lo bisa keluar dari sini " bentak aiden langsung pergi meninggalkan aluna yang ada didalam.
"aiden dasar lo bajingan lo" teriak aluna didalam. aluna mendobrak pintu namun tetap saja tidak bisa.
dengan nafas yang memburu aluna menggusar rambutnya dengan kasar, aluna meraba raba karena terlalu gelap aluna tidak dapat melihat apapun di dalam gudang. hingga aluna langsung ber sender di tembok.
"kapan ini berakhir" lirih aluna.
jujur saja tiba-tiba saja raganya letih aluna menatap kosong tidak tahu diri hanya bisa melihat kegelapan.
hingga pagi pun tiba aluna yang yang sempat tertidur karena tidak ada pencahayaan apapun di dalam gudang membuatnya tidak bisa membedakan mana yang menutup mata dan tidak menutup mata. tapi kali ini aluna benar tertidur dengan ber sender di tembok.
siti yang tidak melihat aluna pun menjadi heran dirinya mendatangi kamar aluna namun tidak ada, hingga dia melihat aiden keluar dari kamarnya.
"maaf tuan, nyonya tidak ada di kamar tuan" aiden tidak menjawab dia memberikan kunci kepada siti yang membuat siti heran.
"dirinya ada di gudang" jawab aiden membuat siti terkejut.
"tuan apa yang anda lakukan! anda tidak bisa melakukan itu terhadap nyonya tuan" syokk siti. aiden tidak menjawab apa pun.
"jika dimata tuan nyonya karena nyonya melukai nona lula anda salah tuan, nyonya hanya membela dirinya karena nona lula yang lebih dulu mencari perkara" ucap siti.
"jujur tuan, saya tahu saya tidak berhak untuk ikut campur jika pembelaan diri nyonya salah didalam mata tuan saya merasa tindakan anda membuat saya kecewa tuan, bagaimana manapun nyonya aluna itu istri tuan, tuan tidak berhak membela orang lain" ucap siti yang merasa kecewa dengan tindakan aiden siti pergi meninggalkan aiden yang masih terdiam.
siti berlari mendekati gudang lalu dia membuka gudang tersebut dia melihat aluna yang terpejam bersandar di tembok.
"nyonya, nyonya bangun nyonya" panik siti menggoyangkan tubuh aluna.
aluna pun membuka matanya perlahan "bu siti" seru aluna melihat siti tanpa sadar air mata siti menetes begitu saja saat melihat keadaan aluna.
siti langsung memeluk aluna "maaf nyonya jika saja saya lebih awal menyadarinya, anda tidak akan seperti ini" tangis siti. aluna pun menenangkan siti seharusnya yang menangis disini aluna tapi kenapa malah siti, hal itu membuat aluna tidak jadi menangis.
"saya baik baik baik saja bu" ucap aluna memeluk siti.
"saya akan panggilkan dokter " siti yang ingin bangkit langsung ditahan oleh aluna.
"aluna baik baik saja hanya saja aluna tidak bisa berdiri karena aluna merasa sangat kaku badannya, hanya butuh topangan saja" ucap aluna, siti pun membantu aluna untuk berdiri.
"anda yakin nyonya jika anda baik baik saja? " tanya siti yang masih khawatir dengan aluna, aluna tersenyum lalu mengangguk.
siti membawa aluna ke kamarnya saat aluna berjalan ditopang oleh situ aluna melihat ke sekitar ternyata tidak ada aiden aluna pun bernafas lega.
❀•°•═════ஓ๑♡๑ஓ═════•°•❀
semenjak kejadian itu aluna tidak melihat aiden sama sekali dan itu hal yang bagus untuknya karena setiap kali aluna bertemu aiden pasti selalu saja aluna adu cekcok.
hari demi hari berlalu semenjak kejadian itu aluna dan aiden tidak pernah bertemu sama sekali, hingga waktu menunjukkan pukul sore dan aluna yang ada diperusahaan saat ini masih menunggu didepan kantor untuk menjemputnya.
Namun hingga satu jam aluna menunggu tapi tidak ada yang menjemputnya, hal itu membuat aluna jengkel.
" kemana sih ini orang kenapa tidak ada yang menjemput "gerutu aluna melihat mengambil ponselnya dan menelpon Mason.
" halo nyonya? "Seru Mason
" masem kanapa kamu belum jumput saya? "Ucap aluna.
" maaf nyonya, saya sedang mengantarkan nona lula"ucap Mason.
"Apa, jadi saya gimana dong masem, tega banget sih kamu" seru aluna dengan nada melemah
"Maaf nyonya ini disuruh sama tuan besar? " ucap Mason.
"Aa.. Dasar orang sialan, bajingan, aku kutuk kau jadi batu Aiden" teriak aluna langsung mematikan telponnya,
"Awas aja, begini cara lo main, bisa bisa lo antar selingkuhan lo dan meninggalkan istri lo disini," geram aluna
"aa.. Aiden sialan kau" teriak aluna.
Sedangkan Aiden yang masih meeting diluar tiba-tiba dia bersin sendiri.
"Hatciuw.. "Aiden mengucek cuek hidungnya.
" pak aiden, apa anda baik-baik saja"seru sang klien.
"Iya, lanjutkan" ucap Aiden dan dia mulai menyimak pembicaraan sang klien.
Saat ini aluna berjalan di trotoar sambil mengerundel, sebal dengan suaminya.
"Aiden sialan, hati beku, tampang pas pasan, om om pula lagi, benci gue, benci, andai gue orang berkuasa juga seperti dia udah gue injek injek kaya keset" geram aluna.
"Andai aja gue andai, oh aluna lo hanya bisa berandai andai" monolog aluna, saat aluna berjalan dia mendengar tepat didepannya seorang wanita paruh baya berteriak.
"Copet.. Copet... " teriak paruh baya itu aluna langsung menghampirinya.
"Nek, kenapa nek? "
"Nak, nenek dicopet, nak " ucap nenek itu sambil menunjuk orang yang berlari membawa tas,
aluna langsung berlari mengejar orang tersebut, orang itu terus berlari kencang hingga jauh dari aluna melihat ada yang gang langsung berbelok masuk,
Tanpa aluna sadari ternyata ada seorang pria juga yang mengejar pencopet tersebut, disaat seorang pria tersebut hampir menangkapnya dan
Bugh..
Aluna menendang pencopet itu hingga tersungkur, pria yang mengejar pencopet itu sampai buat melongo, lalu pria itu melihat aluna dengan rambut panjangnya yang tertiup angin seperti berkibar, pria itu sampai terkesima dibuatnya.
Aluna menendang pencopet itu, hingga membuat pencopet itu tidak berdaya.
Bugh... Bugh..
Sebagai sentuhan akhir aluna langsung membokem pencopet itu hingga pingsan.
Bugh..
Lalu aluna mengambil tas nenek itu.
"Makanya kerja, biar tahu betapa susah mencari uang, bukan dengan cara mencuri, untung mode kalem, kalau tidak lo udah jadi ayam geprek sama gue" seru aluna membenarkan penampilannya dan berbalik.
Deg..
Jantung pria itu berpacu cepat saat melihat wajah aluna yang sangat cantik dan menawan, apalagi mata indah aluna yang melihat kearahnya, yang membuat jantung pria itu semakin berdetak sangat kencang.
"Ngapin lo liatin gue kayak begitu? " seru aluna yang membuat pria itu tersadar.
"Maaf saya tidak sengaja, dan tidak fokus, " ucap pria itu. Aluna mengangguk di saat aluna ingin pergi lengannya pegang oleh pria itu.
"Kamu mau kemana? " tanya pria itu.
"Gue mau balikin tas, nenek yang dicopet sama dia" ucap aluna mengangkat tas nenek tadi.
"Tunggu sebentar, kamu tidak bisa pergi begitu saja? " aluna mengerutkan keningnya.
"Emang kamu mau membiarkan begitu saja" aluna pun tiba tiba menatap pria itu sambil tersenyum lebar dan mengangguk angguk.