Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Tuduhan Kelalaian Besar Yang Menyudutkan Hana
Tuduhan kelalaian besar yang menyudutkan Hana meluncur deras dari lisan utusan asosiasi perancang busana muslimah saat ia membanting map draf pembatalan kepesertaan pameran nasional di atas meja kaca. Dokumen itu memuat klausul darurat mengenai sanksi moral akibat penyebaran berita bohong yang dianggap mencemari nama baik kemitraan sandang syariat. Neti memekik kecil di balik lemari pajang, menutupi bibirnya yang bergetar menyaksikan kehancuran reputasi bisnis yang selama ini dibangun dengan cucuran keringat. Sementara itu, Hana tetap berdiri tegak laksana pilar beton butik, meskipun kilatan rasa syok sempat membuat warna kulit wajah ayunya mendadak pucat pasi.
"Kami tidak bisa menoleransi mitratama yang tersandung isu penggelapan dana publik dan fatwa miring dari lembaga adat pesantren," ujar sang kurir asosiasi dengan tatapan mata yang sangat menghakimi.
Azzam melangkah maju menerobos sekat pembatas ruangan, merampas map draf pembatalan tersebut dengan gerakan tangan yang luar biasa sigap. "Surat fatwa yang kalian terima itu adalah rekayasa batil dari kelompok oportunis yang ingin merampas hak asasi istri saya secara paksa."
"Asosiasi hanya bergerak berdasarkan laporan digital yang masuk, Ustaz, dan saat ini opini publik luar sudah terlanjur memboikot produk konveksi ini," sahut pria paruh baya itu sambil merapikan jas hitamnya.
"Fakta hukum keabsahan modal butik ini bersumber dari keringat mandiri, bukan dari kas yayasan surau seperti yang dituduhkan," potong Hana dengan nada suara melengking penuh penekanan.
Sorot mata Hana yang berapi api seketika membungkam argumen sang kurir asosiasi yang semula datang dengan keangkuhan protokoler kota. Sang utusan tampak salah tingkah, memundurkan langkah kakinya menghadapi benteng ketegasan sepasang suami istri yang mendadak kompak bersatu melawan ketidakadilan. Ia segera pamit meninggalkan ruko pertokoan dengan tergesa gesa, menyisakan lembaran draf pembatalan yang kini tergeletak bisu di atas hamparan kain sutra putih. Tekanan eksternal ini menjadi ujian suspense yang sangat masif, memicu adrenalin konflik domestik yang kian meruncing menuju titik didih tertinggi.
Di tempat lain yang dilingkupi aroma obat obatan tajam, suasana kamar rawat inap kelas utama rumah sakit daerah mendadak gempar oleh sebuah kejutan besar. Kelopak mata Umi Kalsum tampak bergerak pelan, seiring bunyi monitor jantung yang beritme cepat menandakan sang penguasa tertinggi surau telah tersadar dari komanya. Ayah Sarah yang sedang duduk membaca berkas finansial di sofa sudut langsung bangkit berdiri dengan raut muka yang berubah tegang penuh kalkulasi politik. Kehadiran sang tokoh senior surau yang mendadak sadar memicu kepanikan domestik baru bagi lingkaran konspirator yang terlanjur menerbitkan maklumat pernikahan paksa kemarin malam.
"Azzam di mana, mengapa bukan anak kandungku yang berdiri menjaga ranjang tuaku ini?" lirih Umi Kalsum dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.
Ayah Sarah mendekati ranjang, mencoba memasang senyuman palsu demi menutupi kecemasan batinnya yang mulai bergejolak hebat. "Putra mahkotamu sedang mengejar wanita kota itu ke wilayah pertokoan, Umi, bahkan ia tega melepas seluruh jabatan kepala pengasuh asrama."
"Apa kamu bilang, Azzam mundur dari yayasan hanya demi membela menantu pembangkang yang tidak tahu adat itu?" tanya Umi Kalsum dengan napas yang mendadak memburu cepat.
"Benar, Umi, dia bahkan nekat membongkar brankas utama surau demi membawa kabur dokumen sertifikat tanah wakaf milik keluarga Hana," tambah Sarah yang tiba tiba masuk membawa segelas air hangat.
Berita provokatif itu laksana siraman bensin di atas bara api, seketika membakar emosi ego manusia yang selama ini bersemayam di dalam dada sang ibu tua. Umi Kalsum mencoba menggerakkan tubuh ringkihnya untuk bangkit, memandangi langit langit kamar rumah sakit dengan gumpalan amarah yang kian memuncak. Sifat angkuh sang pemegang otoritas adat pesantren kembali bangkit, mengabaikan rasa sakit fisik pasca operasi jantung demi menegakkan aturan silsilah suci keluarga. Konspirasi halus keluarga Sarah berhasil memanfaatkan momen kelemahan mental Umi Kalsum untuk menyulut sumbu ledak perselisihan keluarga yang jauh lebih besar.
Sementara itu, di lantai atas ruko konveksi kota besar, Azzam sedang sibuk memeriksa setiap lembar berkas pengiriman barang untuk mencari bukti autentik aliran dana usahanya. Ia tidak mempedulikan luka lecet di telapak tangannya yang kembali mengeluarkan rembesan warna merah darah akibat aktivitas fisik yang berlebihan sejak subuh tadi. Hana menyaksikan ketulusan tindakan suaminya dari ambang pintu kamar kerja, merasakan es kutub di dalam hatinya perlahan lahan mulai terkikis oleh pembelaan nyata. Namun, kesadaran akan adanya tuduhan kelalaian besar yang menyudutkan dirinya membuat wanita muda itu tetap menjaga jarak emosional yang ketat sesuai batasan syariat.
"Mas Azzam, hentikan aktivitasmu sejenak dan biarkan Neti yang merapikan seluruh pembukuan konveksi ini," panggil Hana dengan nada suara yang melembut namun tetap tegas.
Azzam menoleh, menatap sepasang mata istrinya dengan pancaran rasa bersalah yang teramat sangat dalam. "Saya tidak akan membiarkan selembar kertas bohong dari kampung halaman menghancurkan masa depan bisnis mandiri yang kamu rintis dengan air mata, Hana."
"Bisnis ini bisa dibangun kembali, Mas, tetapi ketenangan batin kita yang hancur oleh guningan masyarakat tidak akan mudah pulih," lirih Hana seraya bersandar pada kusen pintu kayu.
"Saya siap membawa pengacara asosiasi pusat ke surau untuk melakukan konfrontasi terbuka di depan seluruh pengurus yayasan besok pagi," janji Azzam dengan keyakinan moral yang kuat.
Tekad bulat sang ustaz muda membuktikan bahwa ia telah bertransformasi dari seorang pria pasif menjadi pelindung rumah tangga yang seutuhnya. Hana terdiam, memandangi jilbab baru yang ia kenakan seolah olah sedang menimbang keputusan besar mengenai kelanjutan status pernikahan mereka. Di luar ruko, suasana jalan raya mulai dipadati oleh kedatangan beberapa kendaraan roda empat milik para simpatisan fanatik pondok pesantren yang sengaja dikirim oleh kelompok ayah Sarah. Mereka datang membawa spanduk tuntutan pengembalian aset wakaf surau, menciptakan barikade massa yang siap mengepung kelangsungan hidup sang menantu kota.
Malam merayap turun membawa hawa dingin yang kian mencekam di sepanjang koridor pertokoan modern wilayah urban tersebut. Azzam memilih untuk berjaga di ruang pamer bawah, duduk di atas kursi kayu dekat manekin busana sambil menggenggam seuntai tasbih kayu hitam. Di atas langit kamar ruko, Hana menghabiskan malamnya dengan bersujud panjang di atas sajadah, memohon petunjuk langit agar diberikan jalan keluar terbaik dari lingkaran fitnah keji ini. Transisi alur cerita kini berada pada fase naik turun yang sangat krusial, di mana kekuatan ekonomi mandiri Hana harus berbenturan langsung dengan kekuasaan ego kelompok feodal kampung.
Keesokan harinya, sebuah kejutan dramatis kembali menggoncang ketenangan ruko saat sebuah mobil ambulans rumah sakit daerah mendadak berhenti tepat di depan gerbang besi butik. Pintu belakang ambulans terbuka, menampilkan sosok Umi Kalsum yang duduk di atas kursi roda dengan selang oksigen yang masih menempel di hidungnya. Kehadiran sang ibu tua yang nekat menempuh perjalanan jauh demi melakukan pelabrakan langsung seketika memicu histeria massal di kalangan para pengguning komplek perumahan. Sarah dan ayahnya tampak berdiri kokoh di sisi kursi roda, laksana pengawal setia yang siap menyaksikan kehancuran total martabat sang wanita kota di hadapan publik.
Hana melangkah keluar dari pintu kaca butik dengan gaun sutra putihnya yang berkibar anggun, menatap langsung sosok mertua yang selama ini selalu menolak kehadirannya.
"Turunkan seluruh papan nama toko konveksi haram ini sekarang juga, Hana, sebelum saya mengutuk silsilah keturunanmu di depan ratusan santri," seru Umi Kalsum dengan nafas yang tersengal sengal akibat amarah yang meledak.
Aura intimidasi mental dari sang ibu tua membuat beberapa karyawan butik berlarian ketakutan menuju ruang penyimpanan barang bagian belakang.