Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.
Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.
Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.
Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekertaris Baru
"Nona, hari ini tidak ada agenda khusus di kantor. Jadi Bos meminta Nona datang ke rumah besar untuk laporan akhir tahun," ucap Bani sembari membukakan pintu mobil untuk Zevana.
"Ya?" tanya Zevana dengan wajah miring dan kedua alis tertaut.
"Tuan Garda bilang Nona diminta datang ke rumah besar untuk laporan tahunan," ulang Bani dengan senyuman formal.
"Apa aku bertanya karena tidak mendengar? Maksudnya apa? Laporan tahunan kan sudah bulan lalu? Ini bahkan baru bulan Mei," ucap Zevana penuh penekanan.
"Tuan Garda ... Merindukan Nona," ucap Bani ragu-ragu, membuat Zevana seketika menerlingkan netra.
Zevana tersenyum miring, ia jelas menenal Garda dengan sangat baik.
"Rindu? Omong kosong, manusia itu hanya menguncangku jika ada sesuatu," batin Zevana.
"Hah ... Terserah," ucap Zevana pada akhirnya.
Ia pun tetap masuk ke dalam mobil, merebahkan tubuhnya malas, lantas membuka pentople dan outernya.
Klap!
"Maaf Nona, sebaiknya Nona menjaga sikap," ucap Bani mengingatkan.
"Bukankah artinya hari ini aku libur?" tanya Zevana sembari meringkuk di kursi belakang mobil.
Mencoba mengabaikan tingkah Zevana, Bani pun melajukan mobil. Meski kediaman mereka terpisah, namun karena masih di Kota yang sama, jadi tak butuh waktu lama mereka pun sampai. Tanpa menunggu Bani membukakan pintu, Zevana langsung masuk ke dalam garasi tua penuh karat–yang menjadi penghubung kediaman Garda yang kontras dengan tampak depannya itu.
Namun saat ia hendak berjalan menuju tangga, tiba-tiba tercium aroma hidangan menggugah selera dari arah ruang makan. Zevana pun menghentikan langkah lalu menoleh ke arah ruang makan.
"Bos?" tanya Zevana kikuk.
Zevana mengira Garda memintanya datang untuk ditemani melakukan hobinya seperti biasa, namun ternyata Garda sudah duduk di ruang makan dengan aneka hidangan mewah di atas meja besar itu.
"Sudah datang? Kemarilah, duduk." Garda menunjuk kursi yang berada jauh di seberangnya.
Tap! Tap! Tap!
Dengan bingung Zevana duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Garda.
"Sedang apa? Ayo duduk! Makanannya keburu dingin!" titah Garda kepada Bani yang kini berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya Bani juga terlihat kikuk. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ia ragu soal ajakan itu, dan berpikir apakah ia benar-benar diundang makan bersama? Namun saat Garda kembali menatapnya, Bani pun segera mendekat dan duduk dengan ragu di kursi yang cukup jauh dari Garda dan Zevana.
"Hm, aku tak bisa mengatakan bahwa ini adalah acara makan keluarga yang hangat dan harmonis. Namun anggap saja ini hal yang mirip dengan itu," ucap Garda sembari menusukkan garpunya di atas steak yang masih mengepulkan asap.
Mendengar hal itu, Zevana menautkan alis kebingungan. Sedangkan Bani, menunduk menahan haru, pria itu memang sangat terobsesi dan menghormati Garda sebanyak itu.
"Yah ... Ini konyol jika mengingat bahwa dunia yang kita tinggali, tidak memungkinkan untuk beramah tamah atau bermain peran semacam itu."
Garda mengunyah potongan steak lalu menelannya perlahan sebelum melanjutkan kembali ucapannya dengan sorot mata yang berubah menjadi jauh lebih tajam dan serius. Suasana hangat sesaat tadi seolah menguap begitu saja, berganti hawa dingin yang menyesakkan dada.
"Anggap saja ini perayaan. Bisnis kita berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan. Kekuasaan makin luas, dan aku tak bisa mengurus semuanya sendirian. Ada banyak cabang yang butuh pemimpin tegas, orang yang aku percaya."
Garda meletakkan peralatan makannya perlahan, suara dentingan besi ke piring porselen itu terdengar sangat jelas dan berat di ruangan hening itu. Ia menatap bergantian ke arah Zevana dan Bani, sebelum akhirnya menatap lurus ke manik mata asisten setianya itu.
"Untuk itu ... aku punya keputusan besar." Garda berhenti sejenak, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. "Aku memutuskan memberikan satu cabang utama besar di kota sebelah kepadamu, Bani. Mulai besok, kamu akan memimpin sendiri, mengelola aset, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab penuh di sana. Tak lagi jadi bayangan, tapi pemegang kendali."
Diam.
Hening seketika menyelimuti ruangan itu. Zevana sampai lupa mengedipkan mata. Ia menatap tak percaya ke arah Garda, lalu beralih menatap Bani yang wajahnya kini pucat pasi.
"Bani? Memimpin cabang besar ... sendirian?" suaranya keluar berbisik, penuh ketidakpercayaan dan tanda tanya besar. "Sejak kapan Bos berani melepas orang kepercayaanmu pergi jauh? Apa Bos yakin dia cukup ... kompeten mengurus semuanya tanpa arahan?"
Bani yang sejak tadi menunduk, kini mendongak dengan mata berkaca-kaca terharu bercampur gugup luar biasa. Tangannya yang memegang serbet makan gemetar halus.
"Tu-Tuan Garda ... saya hanya asisten. Selama ini tugas saya hanya mengantar, mengurus jadwal, dan menjadi bayangan Nona Zevana. Saya tak pernah belajar memimpin, saya tak pantas untuk jabatan setinggi itu..."
"Maka sekarang waktunya belajar," potong Garda dingin dan tegas, tanpa ampun. "Atau kau mau selamanya cuma jadi pengantar kopi dan pembuka pintu mobil gadis ini? Ingat, Bani. Di dunia kita, kesetiaan saja tak cukup. Kau harus punya gigi, punya kekuasaan. Dan aku memberikannya padamu sekarang. Itu perintah, bukan permintaan."
Garda bersandar santai di kursi besarnya, namun aura mengintimidasinya justru makin terasa kuat.