DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekertaris Baru
“Nona, hari ini tidak ada jadwal kegiatan khusus di kantor. Oleh karena itu, Tuan meminta Nona datang ke kediaman utama untuk menyampaikan laporan akhir tahun,” ucap Bani sembari membukakan pintu mobil untuk Zevana.
“Benarkah?” tanya Zevana dengan kepala sedikit miring dan kedua alisnya terangkat menyatu.
“Tuan Garda menyampaikan bahwa Nona diminta datang ke kediaman utama untuk memberikan laporan tahunan,” ulang Bani dengan senyum yang terjaga kesopanannya.
“Apakah saya terlihat tidak mendengar? Apa maksudnya? Laporan tahunan sudah disampaikan awal bulan lalu, sedangkan sekarang baru memasuki bulan Mei,” jawab Zevana dengan nada tegas.
“Tuan Garda ... merasa rindu kepada Nona,” ucap Bani dengan nada ragu, membuat Zevana seketika membelalakkan matanya.
Zevana tersenyum miring, ia sangat mengenal sifat Garda dengan baik.
"Rindu? Omong kosong. Pria itu hanya akan mendekat jika ada keperluan tertentu. Sampai sekarang aku bahkan gak ngerti, sebenarnya kenapa dia menolongku dari genggaman Hardi dan Susi," batin Zevana.
“Baiklah, terserah saja,” jawab Zevana akhirnya.
Ia pun melangkah masuk ke dalam mobil, merebahkan tubuhnya dengan santai, lalu melepas kacamata dan jas luar yang dikenakannya.
Klap!
“Mohon maaf, Nona. Sebaiknya Nona tetap menjaga sikap dan penampilan,” ucap Bani mengingatkan.
“Bukankah ini berarti hari ini saya bebas dari tugas kantor? Jadi saya bebas kan?” tanya Zevana sembari menyandarkan tubuhnya di kursi belakang.
Berusaha mengabaikan tingkah Zevana, Bani pun segera menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya. Meskipun tempat tinggal mereka terpisah, namun karena masih berada di kota yang sama, perjalanan tidak memakan waktu lama. Tanpa menunggu Bani membukakan pintu, Zevana langsung melangkah masuk ke area garasi tua yang terlihat berkarat—tempat yang menjadi jalan masuk menuju kediaman Garda, yang tampak sangat berbeda dengan bagian dalam rumah yang megah.
Namun saat ia hendak menaiki tangga, tiba-tiba tercium aroma masakan yang sangat menggugah selera dari arah ruang makan. Zevana pun berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah sumber bau tersebut.
“Tuan Garda?” panggil Zevana dengan nada sedikit kaku.
Ia mengira Garda memanggilnya hanya untuk menemaninya melakukan hobi seperti biasanya, namun ternyata Garda sudah duduk tenang di meja makan yang dihiasi berbagai hidangan lezat dan mewah.
“Sudah datang? Ayo masuk, duduk,” perintah Garda sambil menunjuk kursi yang berada cukup jauh di seberang tempat duduknya.
Zevana melangkah dengan langkah gontai. Diliputi rasa penasaran dan kebingungan, Zevana berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang ditunjukkan.
“Kenapa masih berdiri di situ? Ayo duduk! Makanannya keburu dingin nanti!” titah Garda kepada Bani yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya, Bani pun terlihat merasa canggung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ragu mendengar ajakan itu, ia bertanya-tanya dalam hati apakah ia benar-benar diizinkan ikut duduk dan makan bersama. Namun saat Garda kembali menatapnya dengan tatapan tegas, Bani segera melangkah mendekat dan duduk dengan hati-hati di kursi yang cukup jauh dari tempat duduk Garda dan Zevana.
“Oke! Sudah kumpul semua." Garda membenarkan duduknya lalu menatap Zevana dan Bani secara bergantian.
"Aku gak bisa menyebut pertemuan ini sebagai acara makan bersama keluarga yang hangat dan akrab. Anggap aja ini momen yang semacam itu,” ucap Garda sembari menusukkan garpu ke atas potongan daging panggang yang masih mengepulkan uap panas.
Mendengar ucapan itu, Zevana mengerutkan dahi karena merasa bingung. Sebaliknya, Bani justru menundukkan kepala sambil menahan rasa haru, karena ia memang sangat mengagumi dan menghormati Garda sedemikian rupa.
“Tapi ... Rasanya ini terasa konyol jika mengingat lagi kenyataan yang kita jalani. Dunia tempat kita hidup ini gak memungkinkan untuk bersikap santai atau berpura-pura hidup dalam suasana yang harmonis seperti itu.”
Garda mengunyah perlahan potongan daging itu hingga halus, lalu menelannya sebelum melanjutkan ucapannya. Sorot matanya berubah menjadi jauh lebih tajam dan serius. Suasana hangat yang tercipta sesaat tadi seolah lenyap seketika, berganti dengan hawa dingin yang terasa menekan dada siapa saja yang berada di ruangan itu.
“Anggap aja ini sebagai perayaan. Usaha yang kita jalani berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Kekuasaan yang kita miliki juga semakin meluas, dan aku gak sanggup mengawasi semuanya sendirian. Ada banyak cabang usaha yang membutuhkan pemimpin yang tegas, orang yang benar-benar kupercayai.”
Garda meletakkan peralatan makannya secara perlahan. Suara dentingan besi yang menyentuh piring porselen itu terdengar sangat jelas dan berat di tengah keheningan ruangan. Ia menatap bergantian ke arah Zevana dan Bani, sebelum akhirnya memusatkan pandangannya tepat ke mata asisten setianya itu.
“Oleh karena itu ... aku telah mengambil keputusan penting.” Garda berhenti sejenak, sementara sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang sulit ditebak maknanya. “Aku memutuskan untuk menyerahkan kepemimpinan salah satu cabang usaha utama yang cukup besar di kota sebelah kepadamu, Bani. Mulai besok, kau akan memimpin sendiri, mengelola seluruh aset yang ada, mengambil keputusan penting, dan bertanggung jawab penuh atas jalannya usaha di sana. Gak cuman jadi bayangan, melainkan menjadi pemegang kendali sepenuhnya.”
Suasana menjadi sunyi seketika.
Keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Zevana bahkan sempat lupa mengedipkan matanya. Ia menatap Garda dengan pandangan tak percaya, lalu segera memalingkan wajah ke arah Bani yang kini terlihat pucat pasi.
“Bani? Memimpin sebuah cabang besar ... sendirian?” suara Zevana keluar dengan nada berbisik, penuh ketidakpercayaan dan rasa ingin tahu yang besar. “Sejak kapan Tuan berani melepaskan orang yang selama ini sangat dipercaya untuk pergi di luar jangkauannya? Apakah Tuan yakin ia sudah cukup mampu dan menguasai segala hal untuk mengurusnya tanpa arahan langsung?” Isi kepala Zevana berceloteh beradu argumen sendirian, antara percaya tak percaya, lantaran itu merupakan hal yang pertama kali Garda lakukan selama ia mengenalnya. Ia tak pernah jauh dari Bani, karena memang itulah tugasnya–sebagai orang kepercayaan Garda.
Sementara itu, Bani yang sejak tadi menundukkan kepala kini mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang bercampur dengan rasa gugup yang luar biasa. Tangannya yang memegang serbet makan terlihat bergetar halus.
“Tu-Tuan Garda ... saya hanyalah seorang asisten. Selama ini tugas saya hanya terbatas pada hal-hal seperti mengantar, mengatur jadwal, dan selalu mendampingi Nona Zevana. Saya tidak pernah mendapatkan pelajaran untuk memimpin, dan merasa belum pantas menduduki jabatan setinggi itu....”
“Maka saat inilah waktunya untuk mulai belajar,” potong Garda dengan nada dingin dan tegas, tanpa memberi ruang untuk bantahan. “Atau kau ingin selamanya hanya menjadi orang yang menyajikan minuman dan membukakan pintu bagi gadis ini? Ingatlah, Bani. Di dunia tempat kita berpijak ini, kesetiaan saja tidaklah cukup. Kau harus memiliki kemampuan, kekuatan, dan kekuasaan, dan saat ini saya memberikannya kesempatan itu kepadamu. Ini adalah perintah, bukan sekadar permintaan.”
Garda bersandar santai di sandaran kursinya yang besar, namun aura yang terpancar dari dirinya justru terasa semakin kuat dan menekan.