NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Elf tua itu namanya tidak pernah disebutkan kepada Slamet.

Tapi dia adalah orang pertama di kamp kecil itu yang tidak langsung menggapai senjata ketika melihat Slamet duduk di tanah sambil memakan roti keras dengan ekspresi orang yang sudah pasrah dengan nasib.

Dia duduk di seberang api unggun, menatap Slamet cukup lama, lalu mengatakan sesuatu ke elf perempuan tadi.

Elf perempuan itu menjawab singkat.

Elf tua mengangguk, lalu berdiri dan mendekati Slamet.

Slamet tidak bergerak. Tangannya masih memegang sisa roti.

Elf tua itu mengulurkan tangannya. Di telapaknya ada sesuatu yang bersinar samar — cahaya kehijauan tipis, seperti kunang-kunang yang diperas jadi satu titik.

Lalu dia menepuk bahu Slamet pelan.

Cahaya itu masuk begitu saja.

Slamet berkedip beberapa kali. Rasanya seperti ada ribuan semut di kepalanya — tiba-tiba semua suara di sekitar kamp punya arti.

Api unggun yang tadi cuma berderak sekarang masih berderak. Tapi obrolan dua elf muda di pojok tenda yang tadi terdengar seperti gumaman, sekarang terdengar jelas: salah satunya sedang mengeluh soal ransum yang kurang.

Slamet menatap dua elf itu sebentar.

"Kamu mengerti aku sekarang?" tanya elf tua itu.

"...Lo ngomong apa tadi?"

"Kamu mengerti aku sekarang?"

"Oh." Slamet menatap sisa rotinya sebentar. "Iya. Ngerti."

"Bagus. Ini hanya bertahan sampai matahari terbenam besok. Setelah itu hilang."

"Oke."

"Setelah itu kita bicara."

Slamet mengangguk.

Lalu melanjutkan makan rotinya.

Bicara ternyata maksudnya interogasi.

Komandan regu itu laki-laki, usianya sulit ditebak karena elf memang sulit ditebak usianya. Rambutnya gelap, potongannya rapi untuk ukuran orang yang tinggal di kamp hutan. Ada bekas luka tipis di rahang kirinya. Matanya cokelat tua dan tidak terlihat seperti tipe yang mudah percaya pada cerita aneh.

Dia duduk di depan Slamet dengan sebuah buku catatan kecil dan pena.

Dua elf berdiri di belakangnya. Tidak memegang senjata, tapi posisinya jelas bukan sekadar dekorasi.

"Namamu?" tanya komandan itu.

"Slamet."

Dia mencatat. "Asalmu?"

"Indonesia."

Pena berhenti. "Negeri mana itu?"

"Negeri gue."

"Di mana letaknya?"

Slamet berpikir sebentar. Bagaimana cara menjelaskan lokasi sebuah negara ke orang yang tidak punya konteks apapun tentang keberadaan negara itu.

"Jauh," jawabnya akhirnya.

Komandan itu menatapnya.

"Seberapa jauh?"

"Sangat jauh."

Ekspresi komandan itu tidak berubah. Dia mencatat sesuatu yang singkat, lalu lanjut.

"Kamu datang sendiri?"

"Iya."

"Bagaimana kamu sampai di hutan ini?"

Slamet membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Bagaimana cara menjelaskan bahwa dia sedang mau ke kamar mandi di lorong kosan lalu tiba-tiba ada di hutan asing dengan dua bulan.

"Perut gue sakit," jawabnya.

Komandan itu menatapnya lebih lama kali ini.

"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku."

"Gue tau. Tapi itu yang terjadi."

Interogasi berlanjut.

Komandan itu ternyata sabar. Atau setidaknya terlatih untuk terlihat sabar.

"Kamu pernah ke Elf Kingdom sebelumnya?"

"Belum. Baru tahu ada Elf Kingdom."

"Kamu tahu tentang elf?"

"Dari cerita."

"Cerita?"

"Iya."

"Seperti apa?"

"Bertelinga lancip. Jago sihir atau panah. Umurnya panjang."

"Tapi kamu tidak terlihat terlalu terkejut melihat kami."

Slamet berpikir sebentar.

"Kaget sih."

"Kau tidak terlihat seperti orang yang terkejut."

"Gue lebih kaget lihat ada dua bulan."

"Itu lebih aneh daripada bertemu elf?"

"Jauh."

Di ketinggian pohon yang sama dengan sebelumnya, Aura dan Mare masih mengamati.

Mereka tidak bisa mendengar percakapan di dalam tenda karena memang sengaja dilakukan di dalam. Tapi mereka bisa melihat gerak tubuh lewat celah kain yang tidak sepenuhnya tertutup.

Slamet kelihatan santai. Terlalu santai untuk seseorang yang sedang diinterogasi.

"Dia tidak gugup sama sekali," kata Aura pelan.

"A-Aku tahu."

"Orang yang tidak bersalah bisa tidak gugup. Tapi orang yang terlalu kuat juga bisa tidak gugup."

Mare menggigit bibir bawahnya pelan.

"Yang mana yang ini?"

Aura tidak menjawab karena dia sendiri tidak tahu.

"Pekerjaanmu?" tanya komandan itu.

Slamet berpikir sebentar.

"Joki rank."

Pena komandan berhenti.

"...Apa itu?"

"Bantu orang naik rank."

"Rank?"

"Peringkat."

"Peringkat apa?"

"Game."

Komandan itu menatapnya beberapa detik.

"Aku tidak mengerti."

"Gue juga bingung jelasinnya."

"Hm."

Komandan itu tetap mencatat.

"Kau dibayar untuk itu?"

"Iya."

"Kau dibayar untuk meningkatkan peringkat orang lain?"

"Iya."

"Hanya itu?"

"Iya."

Komandan itu meletakkan penanya sebentar. Mengangkatnya lagi. Meletakkan lagi.

Di belakangnya, salah satu elf saling pandang dengan rekannya.

Bahkan dengan sihir bahasa, penjelasan itu terdengar aneh.

"Sampai peringkat apa kau bisa membantu mereka?"

Slamet mengangkat bahu.

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Bayaran."

Komandan menulis sesuatu lebih panjang kali ini.

"Pernah bertarung?" tanya komandan itu.

"Pernah."

Komandan mengangkat kepala.

"Melawan siapa?"

"Banyak."

"Berapa banyak?"

"Ratusan. Mungkin ribuan."

Pena komandan berhenti.

"Kau menang?"

"Ya kadang menang, kadang kalah."

"Senjata apa yang kau gunakan?"

"Macam-macam."

"Pedang?"

"Nggak."

"Tombak?"

"Nggak."

"Panah?"

"Nggak."

"Lalu?"

"Biasanya mage."

Komandan mencatat.

"Penyihir."

"Kurang lebih."

"Kau bisa menggunakan sihir?"

"Nggak."

Komandan berhenti menulis.

"Kau baru saja mengatakan menggunakan mage."

"Iya."

"Tapi kau tidak bisa sihir."

"Iya."

Hening.

"Itu bertentangan."

"Makanya gue bilang susah jelasinnya."

Komandan memijat pelipisnya.

"Baik. Kalau begitu seberapa kuat dirimu?"

Slamet berpikir.

"Nggak kuat."

"Kau baru saja mengatakan pernah memenangkan ratusan bahkan ribuan pertarungan."

"Itu beda."

"Beda bagaimana?"

"Gue duduk."

"..."

"Gue duduk di kursi."

"..."

"Lama."

Komandan menutup matanya selama beberapa detik.

Di belakangnya, salah satu elf penjaga menggigit bibir bawahnya — bukan karena takut, tapi karena menahan sesuatu yang tidak boleh dia tunjukkan di depan komandan.

Untuk pertama kalinya sejak interogasi dimulai, dia terlihat lelah.

Slamet mulai curiga hasil catatan itu tidak sesuai dengan yang dia maksud.

Malam itu, setelah interogasi selesai tanpa kesimpulan yang jelas, Slamet duduk di luar tenda yang disediakan untuknya.

Langit di sini berbeda dari langit di kota Maju Mundur. Tidak ada polusi cahaya. Bintang-bintangnya lebih banyak dan lebih terang. Dua bulan menggantung rendah di cakrawala.

Elf perempuan tadi lewat di depannya. Dia berhenti sebentar, menatap Slamet, lalu mengatakan sesuatu singkat.

Sihir terjemahan masih aktif.

"Kamu aneh," kata elf itu.

"Gue tau," jawab Slamet.

Elf itu menatapnya satu detik lebih lama dari yang diperlukan. Telinganya bergerak sedikit ke arah hutan — refleks, otomatis — lalu dia melanjutkan jalannya tanpa kata lagi.

Slamet menatap dua bulan di langit.

Di kepalanya muncul satu pertanyaan penting.

Akun pelanggan yang tadi malam belum sempat dia kerjakan sekarang gimana ya.

Lalu dia ingat.

Dia sedang berada di dunia lain.

"Ah."

Slamet menatap langit.

"Refund otomatis berarti."

Dia berbaring di tanah, menatap langit, dan memutuskan bahwa ini adalah sisi positif pertama dari situasinya.

Keesokan paginya, laporan singkat naik ke Ainz.

Komandan regu itu mengirim salah satu elflnya ke pos yang lebih besar untuk meneruskan informasi. Entah bagaimana, informasi itu akhirnya sampai ke telinga Aura.

Dan Aura meneruskannya ke Ainz.

"Dia bilang berasal dari negeri bernama Indonesia, Ainz-sama. Tidak ada yang tahu lokasinya."

Ainz tidak merespon. Negeri yang tidak dia ingat di kehidupan sebelumnya maupun sekarang bukan hal yang aneh.

"Lanjutkan."

"Dia mengaku tidak punya kemampuan bertarung, sihir, atau senjata, Ainz-sama."

"Hm."

"Tapi dia juga mengaku pernah memenangkan ratusan, mungkin ribuan pertarungan."

Ainz mengangkat kepala.

"...Apa?"

"Menurut laporan elf, dia mengatakan begitu."

"Senjata yang digunakan?"

"Dia mengatakan menggunakan mage."

"Seorang penyihir?"

"Ketika ditanya apakah dia bisa sihir, dia menjawab tidak."

"..."

"Dia juga mengatakan sebagian besar pertarungannya dilakukan sambil duduk di kursi."

Ainz terdiam.

"Itu seluruh laporannya?"

"Iya, Ainz-sama."

Untuk pertama kalinya sejak laporan dimulai, Ainz merasakan sesuatu yang sangat mirip dengan sakit kepala.

Makhluk yang tidak bisa diidentifikasi.

Berasal dari negeri yang tidak tercatat.

Mengaku tidak bisa bertarung.

Mengaku memenangkan ribuan pertarungan.

Menggunakan mage tanpa bisa sihir.

Dan bertarung sambil duduk di kursi.

Tidak ada satu pun bagian dari laporan itu yang masuk akal.

Dia perlu lebih banyak informasi sebelum bisa menarik kesimpulan apapun. Tapi satu hal sudah mulai terbentuk di pikirannya, tipis seperti kabut di pagi hari.

Sesuatu di sini tidak biasa.

Dan bukan dalam artian yang menyenangkan.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!