Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Langkah Akhir dan Toga yang Dinanti
Waktu berjalan merayap seperti roda gigi yang tak pernah lelah berputar. Bulan-bulan berlalu sejak badai kedatangan Selin dan ketegangan-ketegangan manis di balik pintu kontrakan kecil itu. Alih-alih tenggelam dalam kecanggungan rasa yang kian tak menentu, Arga dan Kinar secara tidak tertulis sepakat untuk mengalihkan seluruh energi mereka ke satu titik fokus yang sama: menamatkan masa kuliah mereka di fakultas teknik.
Dinding kamar Kinar kini penuh dengan tempelan kertas memo berwarna-warni berisi jadwal bimbingan, revisi bab empat, hingga coretan rumus analisis data yang memusingkan kepala. Begitu pula dengan Arga, yang kamarnya kerap kali menyala hingga pukul tiga pagi, dipenuhi suara ketikan kibor laptop HP miliknya yang bekerja keras menyelesaikan bab akhir skripsinya.
"Ga, lo udah ngecek plagiarism buat bab lima lo belum?" tanya Kinar suatu malam, wajahnya tampak kuyu dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata, menatap tumpukan berkas jilid lakban di atas meja ruang tengah.
Arga yang sedang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil memijat pelipisnya perlahan membuka mata. "Udah. Aman, di bawah lima belas persen. Punya lo gimana? Masih nyangkut di bagian metodologi?"
"Udah beres disemprot dosen pembimbing kemarin, alhamdulillah langsung di-ACC buat daftar sidang," desah Kinar lega, merebahkan punggungnya di karpet lantai dengan posisi terlentang, menatap langit-langit plafon rumah kontrakan yang sudah menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Arga menoleh ke bawah, menatap wajah Kinar yang tampak lelah namun memancarkan binar kebahagiaan yang tulus. Tanpa sadar, tangan Arga terulur, menepuk pelan puncak kepala Kinar seperti yang sering dia lakukan akhir-akhir ini—sebuah gestur kebiasaan baru yang tak lagi memicu perdebatan atau cubitan galak dari Kinar.
"Bagus. Berarti minggu depan kita beneran bakal sidang bareng. Jangan sampai lo pingsan di dalam ruang sidang gara-gara gemeteran liat muka dosen penguji ya, Nar," ledek Arga, berusaha mengembalikan suasana santai mereka.
"Heh, kepala beton! Jiwa reog gue gak bakal ciut cuma gara-gara pertanyaan dosen penguji ya!" balas Kinar tak terima, langsung bangkit duduk dan melotot gemas ke arah Arga, yang hanya dibalas dengan kekehan pelan oleh cowok itu.
Seminggu kemudian, lorong gedung fakultas teknik yang biasanya bising mendadak terasa begitu menegangkan bagi mereka berdua. Mengenakan kemeja putih rapi, celana kain hitam, dan almamater kebanggaan kampus yang melekat pas di tubuh tegapnya, Arga terlihat berkali-kali melirik jam tangannya di depan pintu ruang sidang nomor tiga.
Sementara di ruang sebelah, Kinar sedang berjuang mati-matian mempertahankan argumen skripsinya di hadapan tiga dosen penguji yang terkenal killer.
Ketika pintu ruang sidang Kinar akhirnya terbuka setelah satu setengah jam yang mencekam, Kinar melangkah keluar dengan lutut yang terasa lemas. Namun, rasa lemas itu instan sirna begitu dia melihat Arga sudah berdiri di depan pintu, menunggunya dengan sebuah botol air mineral dingin di tangan kanan dan sekotak susu cokelat kesukaan Kinar di tangan kiri.
"Gimana?" tanya Arga singkat.
Kinar tidak menjawab lewat kata-kata. Dia langsung merebut kotak susu cokelat dari tangan Arga, menusukkan sedotannya dengan semangat, lalu mengangkat kedua jempol tangannya tinggi-tinggi dengan senyuman yang merekah sangat lebar hingga matanya menyipit. "LULUS, GA! GUE RESMI JADI SARJANA TEKNIK!"
Arga mengembuskan napas lega yang sangat panjang, lalu sebuah senyuman bangga yang amat tulus terukir di wajah tampannya. "Gue juga lulus. Nilai kita sama-sama memuaskan."
Momen kelulusan itu menjadi puncak dari babak pertama kehidupan mereka. Rasa bangga, haru, dan lega bercampur menjadi satu. Beberapa minggu setelahnya, hari yang dinantikan pun tiba: Upacara Wisuda Universitas.
Gedung auditorium kampus dipenuhi oleh ribuan wisudawan yang mengenakan toga hitam. Di antara kerumunan orang tua yang datang membawa buket bunga besar, Mama Arga berdiri dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga, merangkul erat anak laki-laki dan menantunya yang kini telah resmi menyandang gelar sarjana.
"Mama bangga banget sama kalian berdua. Akhirnya anak-anak Mama udah pada tamat, udah jadi orang sukses sekarang," ucap Mama Arga berulang kali sembari mencium pipi Kinar dan Arga bergantian dengan penuh kasih sayang.
Kinar tersenyum manis, memeluk mertuanya dengan erat. Namun, di tengah riuhnya suara tepuk tangan dan potret bahagia bersama toga di halaman gedung auditorium, Kinar tidak sengaja menangkap tatapan mata Arga yang mendadak berubah menjadi serius saat menatap ke arah luar gerbang kampus.
Kinar mengikuti arah pandang Arga. Di seberang jalan, terparkir sebuah mobil sedan hitam mewah model keluaran terbaru yang sangat mencolok dengan kaca film super gelap, ditemani oleh seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas formal hitam rapi yang berdiri tegak di samping pintu kemudi sembari menatap lurus ke arah Arga dengan posisi hormat.
Arga yang menyadari Kinar sedang memperhatikannya, langsung mengalihkan pandangan dengan cepat dan berdeham kaku, mencoba menyembunyikan guratan ketegangan yang mendadak muncul di garis rahangnya.
Kinar mengerutkan keningnya, merasakan ada sesuatu yang janggal. Di hari kelulusan mereka yang seharusnya penuh tawa ini, Kinar belum tahu bahwa esok hari, sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga akan segera terbongkar dan mengubah total arah pernikahan kontrak mereka ke tingkat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/