Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasianya terbongkar?
"Kamu menerima taruhan Aditama? Buat apa?" Azka sampai menggelengkan kepalanya. Sekarang mereka sedang berada di ruang pantry, menyeduh kopi.
"Ngga buat apa apa. Hanya memastikan dia tidak akan mengganggu Wanda lagi."
Zio tertawa pelan. Terdengar mengejek.
"Kamu percaya?" celanya dengan tatapan meremehkan.
Kian, Kian. Dia ngga akan menepati janji, batinnya.
"Ngga, sih," kekeh Kian.
Zio mengeluarkan decakan sebal. Tangannya bahkan sampai memukul keras lengan Kian saking gemasnya.
"Apa gunanya kamu terima ajakannya," omelnya lagi.
Sepupunya ini, otaknya sekarang ada dimana, umpatnya membatin.
Gio mengamati Kian yang masih tertawa. Gara gara Kian, dia dan kembarannya Zio dipaksa daddynya untuk magang juga di perusahaan orang tua mereka. Ngga disangka ada Azka.
"Tempat biasa?" tanya Gio.
"Mungkin. Katanya nanti akan dia hubungi lagi."
"Jangan mendadak. Kita perlu cek lokasi." Azka memperingatkan.
Kian mengangguk. Aditama hanya sekali menang darinya, itu pun dengan cara curang.
"Perlu ngga disampaikan ke Om Dewa? Pasti Om Dewa bakalan marah kalo kamu sampai kalah," nyinyir Zio.
Kian menggelengkan kepalanya.
"Ngga perlu. Aku pasti menang," ucapnya yakin.
"Memang harusnya begitu kalo kamu ngga mau kehilangan Wanda," sarkas Zio.
"Bantu do'a, bro," senyum Kian melebar membuat ketiga remaja tanggung yang ada di situ mendengus kesal.
*
*
*
"Kamu yakin menang?" tanya Mahesa sambil menatap Aditama. Temannya tiba tiba datang ke rumahnya tanpa kabar siang ini. Untungnya dia ngga pergi kemana mana.
Aditama menyandarkan punggungnya sambil menarik nafas panjang.
"Harus menang."
Mahesa menghela nafas panjang. Aditama hanya pernah sekali saja menang dari Kian. Itu juga karena Bayu mengakali motor Kian hingga dia mengalami kecelakaan. Tidak parah, tapi cukup membuat mereka ketar ketir, takut dipoli-sikan.
"Perlu dicurangi?" tanya Mahesa. ragu.
Aditama menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu. Kasih tau Bayu jangan lakukan apa apa."
Tatap Mahesa tampak aneh.
"Kenapa? Aneh aku ngomong kayak gini?" kekeh getir Aditama.
Mahesa menghembuskan nafas pelan.
"Tapi kali ini aku ingin mendapatkan Wanda dengan cara yang benar," lanjut Aditama kemudian tersenyum getir.
Mahesa terdiam. Aditama juga tidak berkata apa apa lagi.
"Kamu menyukai Wanda? Maksudku kamu baru sadar sekarang sudah menyukai Wanda?"
Aditama menghirup nafas sangat dalam dan menghembuskannya dengan lama.
"Entahlah. Hanya saja melihat Wanda nyaman dengan Kian, aku merasa sangat marah. Apa itu artinya aku suka sama dia?" Hanya dengan Mahesa, Aditama bisa berterus terang dan membicarakan masalah yang sensitif.
Mahesa mengedikkan bahunya lagi.
"Mungkin." Dia sendiri bingung dengan yang dirasakan temannya.
"Aku melihat Wanda tersenyum dan tertawa. Darahku mendidih. Kenapa saat bersamaku dia selalu merengut. Kalo dia bisa tersenyum padaku, aku mungkin akan memperlakukannya dengan baik. Bahkan lebih dari yang Kian lakukan," dengusnya panjang lebar. Nada suaranya benar benar mengisyaratkan kemarahan juga keputusasaan yang meledak ledak.
Aditama mengatur nafasnya yang tersengal sengal. Sementara Mahesa masih diam, karena cukup shock mendengar yang dikatakan Aditama.
"Aku seperti orang ngga waras, ya? Tapi aku memang harus menceritakan pada seseorang. Karena aku sudah hampir gila menahan semuanya sendiri," ungkap Aditama dengan kedua tangan memijat kasar keningnya. Wajahnya tampak gusar dan frustasi.
"Tapi ngga level banget aku suka sama pembantu," keluh Aditama lagi. Kalo teman tenannya yang lain sampai tau, pasti dia akan sulit menegakkan kepalanya.
Di bagian ni Mahesa hampir saja tertawa. Tapi dalam hati dia membatin.
Kamu dapat karma.
Seorang pembantu rumah tangga Mahesa keluar dari dalam rumah dan menghidangkan secangkir kopi susu. Sudah tau kesukaan teman Mahesa yang sering datang ke rumah.
Aditama menyesapnya perlahan. Harum kopi sedikit melegakan pikirannya yang ruwet.
Mahesa juga mengangkat cangkirnya, menyesapnya pelan karena masih sangat panas.
Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Keduanya kini konsen dengan cangkir kopi dan pikiran masing masing.
"Aku pulang, ya," pamitnya setelah menghabiskan kopi susunya.
Mahesa ikut berdiri dan mengiringi langkah Aditama yang mendekati motornya.
"Hati hati," ucapnya ketika Aditama sudah menghidupkan mesin motornya.
Aditama hanya mengangguk sebelum memacu motornya meninggalkan halaman rumah Mahesa.
*
*
*
Di rumah Aditama saat ini sedang terjadi perdebatan serius.
Orang tuanya Panji Hasta dan Merelin datang setelah Mereelin mengadu tentang semua yang sudah terjadi.
"Kamu membiarkan Wanda dibawa? Kamu ngga mikir resikonya? Nama baik keluarga kita bisa hancur kalo rahasia ini terbongkar," geram Bramasta-papanya Panji Hasta.
Suami Merelin-Panji hanya bisa menundukkan kepala dalam dalam.
Bramasta menghembuskan nafas kasar.
"Harusnya kamu tetap mempertahankan anak itu." Iryawan-papanya Merelin juga tampak menyesali kecerobohan menantunya.
Dia, istri dan putrinya sudah susah payah memaafkan perselingkuhan menantunya. Tapi sekarang timbul masalah yang lainnya lagi.
"Kalo rahasia ini kebongkar, bagaimana kita menjelaskannya pada Aditama? Dia pasti ngga akan bisa terima kalo papanya pernah selingkuh." Mamanya Merelin- Ester juga menyalahkan menantunya.
"Mbak, tolong jangan diungkit lagi," mohon mamanya Panji-Tina. Dia takut cucunya pulang tiba tiba dan mendengar obrolan ini.
"Jadinya sekarang harus bagaimana? Kamu punya solusinya?" tantang Ester galak.
Hening. Mereka terdiam.
"Aku akan bicara dengan Nathan, agar ngga ikut campur," putus Bramasta. Dia cukup mengenal orang tua Dewa.
"Aku ikut denganmu," lanjut Iryawan.
"Kalian hanya akan mendapat ceramah dari dia dan kembarannya saja," ketus Oma Ester. Dia cukup tau dengan mulut pedas Cleora-kembaran Nathan.
Terdengar helaan nafas panjang. Mereka sama kalutnya sekarang. Tiga tahun menjaga rahasia, tapi karena kecerobohan Panji, sebentar lagi semuanya akan diketahui publik dan Aditama.
Oma Tina berjalan perlan meninggalkan ruang tamu yang terasa pengap. Dia berjalan menuju paviliun tempat para pembantunya berada. Ada yang dia cari. Sunarmi.
Oma Tina akhirnya menemuinya. Nenek Sunarmi yang lebih tua lima tahun dari dirinya. Pembantu kepercayaannya sejak muda sekarang sedang duduk menghadap bunga bunga di depannya.
"Sunarmi," panggilnya membuat wanita tua itu menoleh. Tatapnya terkejut dan dia langsung berdiri, berjalan pelan menghampiri Oma Tina dengan langkah pelan.
"Nyonya," panggilnya dengan raut bersalah yang tidak pernah hilang sejak tiga tahun yang lalu.
"Maafkan, karena cucuku sudah membuat masalah lagi," ucapnya lagi. Dirinya yakin, kehadiran Oma Tina pasti karena sudah tau kalau Wanda tidak berada di sini lagi.
"Cucuku juga," ucap Oma Tina dengan suara bergetar. Cucu yang tidak bisa dia akui semaunya.
Nenek Sunarmi menangis mendengarnya.
Tanpa mereka sadari Aditama yang barusan pulang mendengarnya. Awalnya dia melihat Oma Tina yang berjalan ke paviliun belakang, kemudian perlahan mengikutinya.
Instingnya yang menginginkannya melakukan itu. Dia heran melihat oma dan opanya dari mama dan papanya ada di rumah.
Kenapa dia ngga dikasih tau kalo mereka mau datang?
Biasanya kedua omanya ngga akan lupa memberinya kabar kalo mau berkunjung. Apalagi mereka berada di luar negeri.
Sekarang lutut Aditama terasa goyah menopang tubuhnya. Kata kata yang diucapkan Oma Tina dan sikap Nenek Sunarmi membuat lututnya bergetar.
Apa maksudnya?
Wanda?
Ngga mungkin?
Saat ini dia melihat Oma Tina yang memeluk Nenek Sunarmi. Suara tangis Nenek Sunarmi terdengar menyayat hati.
udah dikenalin sbg calon istri berarti ezra serius