Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTIRAHAT SETELAH BADAI MENERJANG
Di dalam rumah, suasana yang tegang selama beberapa hari terakhir perlahan mulai mencair.
Uap hangat dari gelas-gelas minuman memenuhi ruang tamu.
Rahma meletakkan beberapa cangkir di atas meja sebelum melirik ke arah Budi.
Tatapannya penuh rasa tidak percaya.
"Jadi... Nadia benar-benar kakakmu?"
Budi yang sedang meminum air hangat langsung tersedak.
"Khuk! Khuk!"
Air hampir menyembur keluar dari mulutnya.
"Bukannya aku tidak percaya..."
lanjut Rahma.
"Tapi kalian berdua benar-benar tidak terlihat seperti saudara."
Budi memegangi dadanya yang masih terasa sesak.
"Lalu bagaimana aku harus terlihat supaya dianggap mirip?"
Nadia yang duduk di sampingnya hanya tertawa kecil.
"Awalnya aku juga tidak percaya."
"Tapi saat dia memanggil namaku, aku langsung tahu."
"Dia memang adikku."
Budi langsung menundukkan kepala.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyentuh daripada yang ia bayangkan.
"Sudah, sudah."
Ridho menepuk meja pelan.
"Kalian berdua sebaiknya mandi dan ganti pakaian dulu."
Ia menunjuk Rian dan Budi.
"Kalian terlihat seperti baru keluar dari medan perang."
Rian tertawa kecil.
"Kalau dipikir-pikir memang benar."
Tak lama kemudian, Rian dan Budi naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.
Ruang tamu pun menjadi lebih tenang.
Yang tersisa hanya Rahma, Nadia, Indah, dan Ridho.
Indah duduk dengan rapi di ujung sofa.
Namun wajahnya masih sedikit merah.
Sejak tadi Rahma terus menggoda dirinya.
"Indah."
Rahma mendekat sambil tersenyum.
"Sejujurnya, aku penasaran."
Indah langsung duduk lebih tegak.
"Penasaran?"
Rahma mengangguk.
"Iya."
"Karena ini pertama kalinya Rian membawa seorang perempuan pulang ke rumah."
Mata Indah membesar.
"Eh?"
"Benarkah?"
Rahma tertawa.
"Sejak kecil dia selalu menyendiri."
"Jangankan membawa teman perempuan."
"Membawa teman laki-laki saja jarang."
Wajah Indah semakin memerah.
Tanpa sadar ia menundukkan kepalanya.
Rahma yang melihat reaksinya langsung tersenyum jahil.
"Jadi..."
"Menurutmu Rian orang seperti apa?"
Indah terdiam.
Awalnya ia ingin menjawab biasa saja.
Namun saat mengingat semua yang terjadi...
Sosok Rian perlahan muncul dalam pikirannya.
Saat pertama kali memperingatkan seluruh kelas.
Saat berdiri paling depan menghadapi bahaya.
Saat melindungi mereka dari zombie.
Saat masuk sendirian ke mulut ular legenda.
Dan saat kembali dengan senyum tenang seolah semuanya baik-baik saja.
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.
"Dia..."
"Orang yang bisa diandalkan."
Rahma langsung menangkap perubahan ekspresinya.
"Oh?"
Indah tidak menyadarinya.
Ia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Dan..."
"Dia selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu."
"Meski dirinya sendiri terluka."
"Kadang juga terlalu nekat."
"Seolah tidak peduli dengan keselamatannya sendiri."
Suara Indah semakin pelan.
Namun justru terdengar lebih tulus.
Rahma dan Nadia saling melirik.
Mereka sudah mengerti.
Sangat mengerti.
Indah mungkin belum menyadari perasaannya sepenuhnya.
Namun benih itu sudah tumbuh.
Bahkan lebih cepat daripada yang disangka.
Rahma tersenyum tipis.
"Kelihatannya kamu cukup memperhatikannya."
Indah langsung tersadar.
Wajahnya kembali merah.
"A-aku hanya kebetulan melihatnya!"
Rahma tertawa kecil.
"Tentu saja."
"Tidak ada yang salah dengan itu."
Indah menggenggam cangkir hangatnya.
Matanya perlahan menunduk.
Dalam hati ia mengingat kembali sosok Rian yang berdiri sendirian menghadapi bahaya.
Entah sejak kapan.
Matanya selalu tanpa sadar mencari keberadaan Rian.
Dan ketika Rian tidak terlihat...
Ia akan merasa gelisah.
Perasaan itu bahkan mulai membuat dirinya sendiri bingung.
...
Tak lama kemudian.
Langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Rian dan Budi kembali dengan pakaian yang lebih rapi.
Rahma langsung bersiul pelan.
"Nah, sekarang baru terlihat seperti manusia."
"Terima kasih atas pujiannya."
jawab Budi datar.
Semua orang tertawa.
Rian duduk di sofa kosong.
Tanpa sengaja tepat di sebelah Indah.
Indah yang sebelumnya tenang mendadak menegang.
Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
Bahkan aroma sabun yang baru dipakai Rian membuat pikirannya semakin kacau.
Untungnya tidak ada yang menyadarinya.
Atau setidaknya ia berharap begitu.
"Ngomong-ngomong."
Ridho memecah suasana.
"Aku mendapatkan sesuatu saat berada di dungeon."
Semua orang langsung menoleh.
"Sesuatu?"
tanya Rian.
Ridho mengangguk.
"Sepertinya itu kemampuan khusus."
"Saat terpojok oleh monster, tiba-tiba aku memperoleh sebuah skill."
"Namanya Master Pisau."
Rian langsung memperhatikan dengan serius.
"Master Pisau?"
Ridho mengangkat tangan kanannya.
Sebuah pisau dapur yang berada di meja perlahan melayang.
Pisau itu berputar di udara sebelum kembali turun dengan mulus.
Indah dan Nadia terlihat terkejut.
"Itu luar biasa."
gumam Nadia.
Ridho tersenyum.
"Aku juga terkejut saat pertama kali mencobanya."
Rian menganggukkan kepala.
Di kehidupan sebelumnya, orang-orang seperti Ridho disebut Evolver.
Manusia yang berhasil membangkitkan kekuatan khusus.
Sebagian membutuhkan bantuan item atau keberuntungan.
Namun ada juga yang bangkit secara alami.
Dan kelompok seperti itu biasanya memiliki bakat yang jauh lebih tinggi.
"Kakak sudah terbangkitkan."
ucap Rian.
Ridho memiringkan kepala.
"Terbangkitkan?"
"Itu istilah yang digunakan banyak orang di dungeon."
jelas Rian.
"Orang yang berhasil memperoleh kemampuan khusus disebut Evolver."
"Evolver dapat menyerap energi langit dan bumi."
"Dan seiring waktu mereka akan menjadi jauh lebih kuat daripada manusia biasa."
Semua orang mendengarkan dengan serius.
"Kalau begitu..."
tanya Nadia.
"Apakah semua orang bisa menjadi Evolver?"
Rian menggeleng pelan.
"Bisa."
"Tapi tidak mudah."
"Sebagian besar membutuhkan kesempatan, keberuntungan, atau bakat tertentu."
Ruangan kembali hening.
Semua orang memahami arti dari kata-kata itu.
Dunia telah berubah.
Dan kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.
Namun di tengah ketidakpastian itu...
Mereka setidaknya masih memiliki tempat untuk pulang.
Serta orang-orang yang bisa mereka lindungi.
Sementara itu, Indah diam-diam melirik ke arah Rian.
Lalu segera mengalihkan pandangannya saat hampir ketahuan.
Meski begitu, beberapa detik kemudian matanya kembali mencari sosok yang sama.
Dan tanpa ia sadari...
Perhatian itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar rasa kagum.
Yang diatas adalah gambar visual dari Rian Saputra, anak terakhir dari keluarga Saputra .
Yang diatas adalah gambar visual dari budi Santoso.
Adik dari Nadia Ervina.
Yang diatas adalah visual dari gambar ridho Saputra.
Kakak laki-lakinya Rian , sekaligus anak pertama keluar ga Santoso.