Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Setelah motor Sagara berlalu menjauh, sebuah sedan merah berhenti tepat di depan apartemen.
Pintu mobil terbuka cepat, lalu Tiwi turun dengan wajah penuh kekhawatiran. "Nona!" panggilnya sambil berjalan mendekat. "Apa Nona baik-baik saja?"
Alis Nara sedikit terangkat. "Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
Tiwi langsung menghela napas lega. "Nona naik motor malam-malam begini. Saya takut Nona masuk angin," jawabnya gemas.
Nara memutar mata malas mendengar kekhawatiran berlebihan asistennya itu. "Sudah. mana kuncinya?" putusnya singkat.
Dengan ragu, Tiwi menyerahkan kunci mobil yang sejak tadi ia pegang. "Apa tidak sebaiknya Nona diantar sopir mansion saja?" usulnya hati-hati. "Biar mobilnya ditinggal di sini dulu."
Nara langsung menatapnya tak suka. "Aku lebih suka menyetir sendiri. Kau tahu itu, kan?"
Tiwi langsung menelan ludah gugup. "Saya hanya khawatir, Nona. Ini sudah malam."
"Mansion Kakek hanya sepuluh menit dari sini," balas Nara datar. "Dan ini juga belum terlalu malam."
Setelah mengatakan itu, Nara berjalan menuju mobil tanpa berniat mendengar kecerewetan asistennya lagi.
Sementara, Tiwi hanya bisa menghela napas pasrah sambil berdiri di depan lobby apartemennya. "Nona hati-hati di jalan," ucapnya sebelum Nara masuk ke dalam mobil.
Nara hanya mengangguk kecil.
Pintu mobil tertutup. Mesin mobil menyala halus, lalu perlahan meninggalkan area apartemen Tiwi.
Dari balik kaca lobby, Tiwi memperhatikan mobil itu menjauh hingga menghilang di tikungan jalan.
Sementara di dalam mobil, Nara menyetir sendirian menembus jalanan malan kota. Lampu-lampu gedung memantul samar di wajah dinginnya. Namun, pikirannya justru kembali pada seseorang. Pada pemuda bengkel yang juga menjadi pengemudi ojek online.
Tanpa sadar, jemarinya menyetuh saku celana panjang yang dikenakannya. Saat itulah ia baru sadar, masih mengantongi uang receh kembalian tadi. Keningnya sedikit berkerut. Ia bahkan tidak sadar kenapa benda kecil itu malah ia kantongi di sana. Padahal biasanya, ia paling tidak suka membawa uang receh.
Sepuluh menit berkendara, Nara akhirnya sampai di Mansion mewah milik Kakek Dhanubrata. Gerbang depan terbuka perlahan menyambut mobil yang dikendarainya masuk ke halaman luas Mansion yang dipenuhi lampu taman berwarna keemasan.
Begitu mobil berhenti di depan pintu utama, seorang pegawai Mansion segera berlari mendekat.
"Nona Nara," sapanya hormat sambil membungkuk sedikit.
Nara turun dari mobil dengan tenang, lalu menyerahkan kunci mobil itu kepadanya. "Tolong parkirkan."
"Baik, Nona."
Tanpa berkata lagi, Nara langsung melangkah masuk ke dalam Mansion.
Pintu utama terbuka lebar. Suasana di dalam terlihat tenang dan sunyi. Lampu kristal besar di langit-langit masih menyala terang, memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan megah itu.
Sepi. Ia yakin Kakeknya pasti sudah beristirahat di kamar mengingat waktu sudah cukup malam.
Langkah heelsnya bergema pelan di lantai marmer saat berjalan menuju lift di sudut ruangan. Tubuhnya mulai terasa lelah. Ia ingin segera beristirahat agar tidak terlambat bangun besok pagi.
Sarapan hari Rabu di Mansion Dhanubrata sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun yang tidak pernah berubah.
Jemari Nara baru saja hendak menekan tombol lift, saat sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Kau pulang larut malam."
Langkah Nara langsung terhenti. Ia menolah perlahan.
Di ruang tamu yang remang, seorang pria duduk santai di sofa sambil menyilangkan kaki. Jas yang dikenakannya masih rapi, seolah baru pulang dari suatu tempat.
Tatapan pria itu lurus mengarah padanya. Dingin, tajam, dan entah sejak kapan sudah berada di sana memperhatikannya.
"Oppa," sapa Nara singkat.
Seokjin bangkit dari duduknya. Ia mengancingkan jas yang melekat rapi di tubuhnya sebelum melangkah mendekati Nara. "Bukankah pertemuan dengan Tuan Wijaya sudah selesai sejak satu jam yang lalu?" tanyanya pelan.
Nara menghela napas. Ia lalu mendongak menatap pria jangkung di hadapannya. "Pertemuannya memang sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Tapi aku mampir ke apartemen Tiwi dulu sebelum ke sini," jawabnya tenang.
Bibir Seokjin tertarik tipis. Ia jelas tahu Nara tidak benar-benar mengatakan semuanya. Dengan matanya sendiri, ia melihat Nara pergi menaiki motor bersama seorang pria. "Kau yakin hanya itu?" tanyanya lagi.
Nara langsung memasang wajah malas. Selain kakeknya, Sepupu nya itu terbilang terlalu protektif kepadanya, bahkan sedari ia masih kecil. "Ayolah, oppa. Ini sudah malam. Dan aku sangat lelah."
Seokjin menatap Nara beberapa saat sebelum akhirnya mengalah. "Baiklah. Tapi kau masih berhutang penjelasan padaku."
"Aku mengerti," jawab Nara singkat. Ia benar-benar tidak ingin berdebat malam ini. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian menghadapi pekerjaan, rapat, dan berbagai hal yang memenuhi kepalanya.
Nara segera menekan tombol lift. Pintu lift terbuka perlahan dengan bunyi pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah masuk ke dalam. Seokjin hanya diam memperhatikan sampai pintu lift kembali tertutup.
Lift bergerak naik menuju lantai dua Mansion. Begitu pintu lift terbuka, lorong panjang dengan lampu temaram langsung menyambutnya. Karpet mahal berwarna krem membentang rapi di sepanjang lukisan klasik koleksi Kakek Dhanubrata.
Langkah heels Nara terdengar pelan memecah keheningan malam. Ia berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna gading. Sidik jarinya di tempelkan pada sensor di samping pintu dan detik kemudian pintu kamar terbuka otomatis.
Ruangan luas bernuansa elegan itu langsung terlihat. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan. Kamar mandi mewah dan walk in closet menjadi pelengkap sempurna.
Nara meletakkan tasnya sembarangan di atas sofa. Ia berjalan pelan menuju balkon kamar, lalu membuka pintu kacanya. Angin malam langsung menerpa wajahnya lembut.
Untuk beberapa saat, Nara hanya diam memandang taman indah di bawah sana. Namun lagi-lagi pikirannya kembali teringat pada sosok pemuda tampan itu. Pemuda yang sudah dua kali menolak uang lebih darinya.
Nara mengerutkan kening pelan. "Aneh sekali," gumamnya lirih.
****
Di sisi lain.
Sagara memutuskan kembali ke rumah kontrakan sederhana yang ia sewa perbulan setelah mengantar dua orang penumpang dengan tujuan berdekatan.
Motor Sagara berhenti di depan rumah kecil bercat putih kusam di gang sempit yang cukup sepi.
Setelah memarkirkan motornya di teras sempit. Sagara membuka pintu rumahnya. Begitu masuk, ia langsung meletakkan kantong kresek berisi makanan ke atas meja kecil dekat dapur. Lalu melepas jaket dan sepatu yang sedari tadi dikenakannya.
Ruang kontrakan itu sederhana, bahkan cenderung sempit. Hanya ada satu sofa kecil, kipas angin tua, televisi mungil, dan dapur mini di sudut ruangan. Namun, semuanya tampak bersih dan tertata rapi.
Sagara meraih ponselnya lalu memasangnya pada charger sebelum berjalan menuju lemari kecil di dekat kamar mandi. Ia mengambil kaos hitam dan celana santai untuk berganti.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Sagara keluar dengan rambut masih sedikit basah. Kaos hitam longgar dan celana training abu-abu membuat penampilanya jauh lebih santai dibandingkan saat bekerja di bengkel tadi.
Ia berjalan menuju dapur kecilnya. Dengan santai, pemuda itu mengambil piring dan sendok dari rak, lalu menuangkan makanan yang dibelinya ke atas piring. Setelah itu, ia mengisi gelas dengan air hangat dari dispenser.
Sagara duduk di kursi kayu dekat meja makan kecilnya. Baru beberapa suap makanan masuk ke mulutnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nama "Andi Bengkel" muncul di layar.
Sagara mengangkat telepon itu sambil tetap makan. "Halo?"
"Ga, Lu beneran kenal sama Nona cantik kemaren?" Suara Andi langsung terdengar berisik dari sebrang telepon.
Sagara menghela napas pendek. "Nggak kenal."
"Bohong, Lu. Masa nggak kenal bisa boncengan naik motor?" balas Andi cepat.
Sagara berhenti mengunyah sesaat. Entah kenapa, wajah dingin Nara kembali terlintas. Terutama ekspresi bingung wanita itu saat pertama kali tahu soal tarif ojek online. Tanpa sadar, sudut bibirnya tanpa sadar tertarik tipis.
"Sagara!" Suara Andi kembali terdengar membuyarkan lamunannya.
"Dia cuma pelanggan," jawab Sagara singkat.
"Pelanggan apaan? Itu cewek jelas orang kaya raya, Ga. Auranya aja beda banget."
Sagara bersandar pada kursinya. "Terus?"
"Ya nggak mungkin Si Non jadi pelanggan ojol, lah. Mobilnya aja banyak."
"Tapi tadi dia memang naik ojek gue." jawab Sagara santai.
Andi langsung mendecih pelan. "Nah itu yang aneh."
Sagara terkekeh kecil sambil melanjutkan makannya. "Lagian, lu tau dari mana sih?"
"Gue lihat sendiri pas jalan pulang tadi. Lu boncengan sama Si Non," jawab Andi cepat.
Sagara tidak langsung menjawab.
"Siapa tahu itu jadi jalan buat rubah kehidupan Lu," lanjut Andi lagi.
Alis Sagara sedikit terangkat. "Maksudnya?"
Andi berdehem gemas. "Pepet aja ngga sih? Hidup lu bisa berubah kalau ...."
"Hidup gue baik-baik aja," potong Sagara santai.
Andi langsung mendecih tidak percaya. "Lu ini kadang terlalu santai."
Belum sempat Andi melanjutkan ocehannya, Sagara buru-buru memotong. "Udah dulu. Gue mau makan."
Telepon langsung dimatikan sepihak.
Ruangan kembali hening. Namun, beberapa detik kemudian, Sagara justru melamun sambil menatap gelas air hangat di depannya.
Ucapan Andi tadi kembali terlintas di kepalanya. Sagara menggeleng cepat, berusaha mengusir pikiran aneh itu.
Bagaimana pun juga, dunia mereka terlalu berbeda. Nara adalah kalangan atas dengan kehidupan mewah dan penuh aturan. Sedangkan dirinya? Hanya montir bengkel yang juga bekerja sambilan lain demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dunia mereka berbeda, meskipun jika Sagara mau, dia bisa saja ....
**** bersambung.