NovelToon NovelToon
Sistem Mancing Mania Mantap

Sistem Mancing Mania Mantap

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.

Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.

Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Arga melempar ponselnya ke atas kasur dan meregangkan otot lehernya sejenak.

Dia bangkit berdiri dan merapikan kerah kemeja barunya di depan cermin lemari.

Dokumen itu dimasukkan kembali ke dalam koper dan dikunci rapat.

Arga memasukkan koper perak itu ke dalam tas pancingnya lalu berjalan keluar kamar.

Dia turun ke lantai satu dan kembali berpapasan dengan penjaga kos.

"Loh, mau keluar lagi Mas Arga malam-malam begini?" sapa Mas Yanto yang sedang menyapu halaman depan.

"Iya nih, Mas, ada urusan bisnis mendadak yang harus diselesaikan malam ini juga," jawab Arga.

"Wah sibuk bener Mas Arga ini, hati-hati di jalan ya Mas," pesan Mas Yanto.

Arga mengangguk dan berjalan keluar pagar mencari taksi yang sedang lewat.

Udara malam Jakarta terasa sedikit dingin tapi hati Arga terasa sangat panas oleh antisipasi.

Pertemuannya malam ini akan menjadi pintu masuknya ke dunia kelas atas yang sebenarnya.

Sistem benar-benar telah mengubah jalan hidupnya dengan cara yang sangat ekstrem.

Arga tersenyum membayangkan wajah Dimas jika tahu dengan siapa dia akan minum kopi malam ini.

'Tunggu aja Dimas, ini baru permulaan,' batin Arga sambil melambaikan tangan menyetop taksi.

Taksi itu melaju membelah jalanan Jakarta menuju kawasan Senayan yang dipenuhi gemerlap lampu.

Setengah jam kemudian taksi Arga tiba di pelataran lobi Hotel Mulia yang megah.

Arga turun dari taksi dan melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis yang dibukakan oleh petugas hotel.

Suasana lobi sangat mewah dengan lampu gantung kristal raksasa tepat di tengah ruangan.

Arga berjalan menuju area kafe lobi dan memilih meja sudut yang agak tersembunyi.

Seorang pelayan berseragam rapi langsung menghampirinya membawa buku menu berbalut kulit.

"Selamat malam, Bapak mau pesan minuman apa?" tanya pelayan itu dengan sangat sopan.

"Kopi hitam satu sama air mineral dingin ya, Mas," pesan Arga tanpa repot membuka buku menu.

Pelayan itu mengangguk paham dan segera pergi ke bar untuk menyiapkan pesanan Arga.

Arga meletakkan tas pancingnya di atas kursi kosong yang ada di sebelahnya.

Sepuluh menit berlalu dan kopi pesanan Arga akhirnya datang.

Arga baru saja menyesap kopinya saat seorang pria paruh baya berjalan tergesa-gesa masuk ke area kafe.

Pria itu memakai setelan jas mahal namun kerahnya terlihat sedikit berantakan karena terburu-buru.

Wajahnya terlihat tegang dan matanya menyapu seluruh area meja kafe dengan cepat.

Arga mengangkat tangan kanannya ke udara untuk memberi kode kepada pria tersebut.

Pria paruh baya itu melihat kode Arga dan langsung berjalan mendekati mejanya.

"Kamu pemuda yang bernama Arga?" tanya pria itu sambil menarik kursi di depan Arga.

"Duduk dulu Pak Haris, napasnya diatur dulu biar santai," jawab Arga tenang.

Haris Kusuma duduk dan menatap tajam ke arah tas pancing besar di sebelah Arga.

"Mana koper perak saya?" tanya Haris tanpa berniat melakukan basa-basi lagi.

"Ada di dalam tas ini, aman dan isinya belum berkurang atau bertambah satu lembar pun," jawab Arga.

Haris menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi.

"Dari mana kamu bisa menemukan koper itu?" selidik Haris dengan dahi berkerut curiga.

"Itu gak penting Pak Haris, yang penting koper ini udah balik ke tangan Bapak," balas Arga lugas.

"Sopir pribadi saya yang mengkhianati saya dan membawa lari koper itu sore tadi," cerita Haris tiba-tiba.

"Dia pasti panik karena melihat polisi berjaga di jalan depan dan membuangnya ke saluran air."

Arga mengangguk pelan berpura-pura paham dan bersimpati dengan situasi tersebut.

"Sekarang sebutkan berapa angka yang kamu mau sebagai imbalan telah menyelamatkan perusahaan saya," kata Haris serius.

"Saya gak minta uang sepeser pun dari Bapak," jawab Arga sambil menatap lurus ke mata Haris.

Haris terlihat sangat terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut pemuda di depannya ini.

"Lalu apa yang kamu inginkan dari saya kalau bukan uang?" tanya Haris mulai merasa kebingungan.

"Saya cuma mau Pak Haris berhutang budi satu hal sama saya," ucap Arga pelan namun sangat tegas.

"Di dunia bisnis, utang budi dari orang besar kadang jauh lebih berharga dari sekadar uang tunai."

Haris terdiam cukup lama mengamati raut wajah Arga dengan saksama.

Dia bisa melihat sorot mata yang penuh kepercayaan diri dan ambisi dari pemuda ini.

"Kamu anak muda yang sangat cerdas sekaligus berbahaya," puji Haris sambil tersenyum tipis.

"Saya anggap itu sebagai pujian, Pak," balas Arga santai sambil membalas senyuman itu.

Arga mengambil koper perak itu dari dalam tasnya dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.

Haris langsung menarik koper itu mendekat dan memegang pegangannya erat-erat.

"Saya berutang budi sangat besar pada kamu hari ini, Arga," ucap Haris dengan nada yang jauh lebih tulus.

"Ambil kartu nama saya ini, hubungi saya kapan pun kamu butuh bantuan apa pun di Jakarta."

Arga menerima kartu nama baru itu dan menyimpannya di dalam saku kemejanya.

"Terima kasih, Pak Haris, Saya pasti bakal pakai kartu ini suatu saat nanti," kata Arga menutup percakapan.

Suara sistem tiba-tiba berbunyi sangat jernih di dalam kepala Arga.

"Misi Pilihan telah berhasil diselesaikan," umum sistem kepada Host.

"Host mendapatkan hadiah uang tunai sebesar satu miliar rupiah atas keputusan penyelesaian konflik ini."

Arga hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar nominal yang baru saja disebutkan oleh sistem.

Uang satu miliar masuk secara gaib ke rekeningnya hanya karena dia memilih jalan damai dengan Haris.

Sistem ini benar-benar tidak bisa ditebak jalan pikirannya sama sekali.

1
Kasma Wati
💪💪💪💪💪
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
Kasma Wati
👍👍👍👍👍
Marthen
preman pasar kelas kampungan yg nyasar 😄😄😄
cynth
Mancing lele di selokan aja malunya nembus layar, apa lagi ini. Astaga...
Gege
nasahhh... ceritanya enteng..ngalir.. menyajikan hiburan bacaan yang bikin candu...
Momen'to
mimpi basah author 😹
Magane
menunggu sistem kurir mbg
Yofu
kok bisa kepikiran sih/Sweat/
Yofu
mancing mania mantap🗿
Dhewa Shaied
crazy up thorr.. imajinasinya gak ngotak 💪💪💪 😍😍😍😍
Yuliana Tunru
syuuuka bgt hari.ini crezy up thorrr 💪💪 up ..arga waktu x cari wanita special ya jgn sampe dpt tipe rina 😄😄😄
dhani satria
tomatkah?
dhani satria: owhhhhh.....,crazy up...,mantap ceritanya
total 2 replies
dhani satria
taline panjang bgt ya 3000 meter
Gege
berat bener cerita sistem bertema mancing ini..pikir ceritanya ringan, Nemu ikan dikembangkan hasilin duit milyaran, hidup enak wanita banyak.. sampe ratusan episode...🤣🤭
Yui: makasih idenya, habis konflik ini lah bisa diterapin /Smile/
total 1 replies
dhani satria
aquamen....
dhani satria
tongkat zeus
Yui: Poseidon lebih tepatnya/Facepalm/
total 1 replies
dhani satria
CEO WIJAYA ni
Yuliana Tunru
nalasan yg setimpal 😄😄
dhani satria
hahahhahhaha.....,lha gemblung yak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!