Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
******
Malam hari.
Tepatnya di kamar milik pelayan itu, hanya lampu tidur redup yang menyala, memantulkan bayangan panjang di dinding berwarna putih. Elina berdiri di dekat jendela, ponsel menempel di telinganya. Wajahnya masam, rahangnya mengeras, dan kerutan tajam menghiasi dahinya.
"Wanita sialan itu sudah mulai berani sekarang," desisnya pelan namun penuh amarah. "Beberapa kali dia berbicara padaku dengan nada ketus dan tajam. Bahkan tadi dia mengabaikan kedatangan Tuan Atharva di mansion dan mengusirnya seperti hewan menjijikkan."
Napasnya memburu. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia terus memaki Calista tanpa menyadari bahwa di luar jendela kamarnya, di balik tirai tipis yang tersibak angin malam, sesosok bayangan hitam berdiri diam. Tak bergerak. Mengawasi.
Kressh…!
Suara benda terinjak terdengar jelas memecah kesunyian.
Elina sontak terdiam. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Kepalanya menoleh cepat ke arah jendela.
"Apa itu…?" Ia melangkah mendekat dan mengintip keluar.
Hanya taman belakang yang gelap, diterangi cahaya bulan pucat. Namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Sialan!" gumamnya panik. "Jangan sampai ucapan ku tadi didengar seseorang. Apalagi pelayan lain di mansion ini."
Suara di seberang telepon masih terdengar, namun Elina tak lagi fokus.
"Aku tutup dulu. Sepertinya ada seseorang yang menguping pembicaraan ku," katanya cepat.
Tut.
Panggilan terputus.
Ia melempar ponselnya sembarangan ke atas kasur, lalu membuka pintu kamar dengan hati-hati. Engselnya berderit pelan, menambah suasana mencekam.
Koridor pelayan sepi. Hanya angin malam yang berhembus membawa aroma lembap dari taman belakang.
Langkah Elina perlahan menyusuri lorong, menuruni tangga kecil menuju halaman belakang. Matanya menyapu setiap sudut dengan waswas dan penuh selidik.
Jika benar ada yang mendengar pembicaraannya tadi…
Wajahnya berubah dingin.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun itu hidup lebih lama dan membocorkan pembicaraan ku tadi," bisiknya lirih.
Di belakang mansion, terdapat sumur tua yang telah lama tak terpakai. Tertutup semak liar dan lumut, tampak terbengkalai dan nyaris terlupakan oleh semua orang.
Tempat yang sempurna.
Ia akan menangkap si penguping itu, membunuhnya dan membuang mayatnya di bawah sumur tua itu.
Lihat saja nanti.
Elina melangkah semakin jauh dari cahaya, masuk ke area taman belakang yang remang. Bayangan pepohonan bergoyang tertiup angin, menciptakan siluet-siluet menyeramkan di tanah.
Kressh…
Ia kembali mendengar suara logam tipis terinjak. Seperti kaleng kosong yang remuk perlahan.
"Keluar!" teriaknya tajam. "Aku tahu kau di sana!"
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan.
Elina menelan ludah, rasa takut tiba-tiba saja menyergap dalam dadanya. Telapak tangannya mulai berkeringat. Ia memutar tubuhnya perlahan, memastikan tak ada siapa pun di sekitar.
Tanpa ia sadari—
Sosok bayangan hitam itu berdiri tepat beberapa langkah di belakangnya.
Hening.
Lalu—
Sebuah tangan besar muncul dari kegelapan dan menutup mulut Elina dari belakang dengan kain saputangan yang sengaja di beri obat bius.
"Mmh—!"
Tubuhnya meronta kaget. Matanya membelalak lebar. Suara teriakannya teredam di balik telapak tangan kasar itu.
Napas hangat seseorang menyentuh telinganya.
"Jangan berisik…" bisik suara berat dan dingin di belakangnya.
Elina membeku.
Jantungnya berdebar tak terkendali, dan untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut benar-benar merayapi dirinya.
Ia terus meronta agar bisa bebas dari rengkuhan seseorang entah siapa. Namun, lama lama kelamaan tubuhnya melemah tak bisa berfungsi seperti semestinya, matanya mulai meredup.
Dan akhirnya...
Brak!
Ia terjatuh tersungkur di bawah tanah rerumputan taman belakang, seseorang dibelakangnya memang dengan sengaja tidak memengangi tubuhnya yang limbung jatuh pingsan karena pengaruh obat bius di kain saputangan tadi.
"Dasar menyusahkan."
******
Kesadaran Elina kembali perlahan.
Kepalanya terasa berat. Pandangannya buram. Bau lembap dan debu memenuhi indra penciumannya. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa nyeri dan kaku.
Saat penglihatannya mulai fokus, ia menyadari dirinya berada di dalam sebuah gedung tua yang tidak terpakai. Dindingnya retak-retak, catnya mengelupas, dan beberapa bagian atapnya berlubang, membiarkan cahaya bulan masuk samar dari atas.
Tangannya terikat di belakang kursi kayu reyot yang mulai lapuk dimakan usia.
"Apa… ini…?" suaranya serak dan lemah.
Ingatan tentang malam tadi menyeruak—bayangan hitam, tangan yang membekap mulutnya, napas dingin di telinganya.
Langkah kaki terdengar menggema di ruangan kosong itu.
Tok… tok… tok…
Elina membeku.
Dari balik bayangan pilar bangunan yang roboh sebagian, sosok itu muncul. Tinggi. Berpakaian gelap. Wajahnya masih tersembunyi dalam temaram.
"Kau…" bisik Elina dengan suara gemetar.
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah di depan Elina, menatapnya dalam diam yang menekan.
"Siapa kau? Apa maumu?!" suara Elina meninggi, meski terselip ketakutan.
Akhirnya pria itu berbicara, suaranya datar dan tanpa emosi.
"Kau terlalu banyak bicara."
Kalimat itu terasa seperti vonis.
Elina meronta, berusaha melepaskan diri dari ikatan, namun percuma. Kursi kayu berderit keras saat tubuhnya bergerak panik.
"Tidak… tidak… aku bisa diam! Aku tidak akan mengatakan apa pun!" air matanya mulai jatuh.
Namun sorot mata pria itu tidak berubah.
Ia melangkah mendekat, perlahan. Setiap langkahnya terdengar berat dan pasti.
"Ada perintah," ucapnya singkat.
Perintah.
Kata itu membuat wajah Elina memucat.
"Dari… siapa?"
Pria itu berhenti tepat di depannya. Dalam cahaya redup, Elina akhirnya bisa melihat sebagian wajahnya—dingin, tanpa belas kasihan.
"Dari Tuan besar, Tuan Hendra Pranawijaya."
Nama itu menghantamnya seperti palu godam.
Ayah Calista.
Tubuh Elina melemas. Otaknya berputar cepat, mencoba memahami. Jadi… semua perbuatannya pada Calista sudah di ketahui oleh Tuan besar? A-apa juga dengan kejadian Calista yang terjatuh di kolam kecil di taman belakang karena ulah Atharva dan Lili- saudarinya?
"Kau… kau salah paham! Aku hanya—"
Ucapan Elina terhenti. Pria itu menggeleng pelan.
"Tuan tidak menyukai pengkhianatan di mansion nya sendiri, apalagi sampai mencelakakan anak satu satunya."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Waktu terasa berjalan lambat.
Elina menangis, memohon, merendahkan diri—namun keputusan sudah dibuat bahkan sebelum ia terbangun.
Bayangan pria itu bergerak lambat namun begitu menyakitkan.
Jeritan Elina menggema sesaat di dalam gedung kosong itu—lalu perlahan meredup.
Malam akhirnya kembali sunyi.
******
Beberapa jam kemudian.
Sebuah kendaraan berhenti di tepi hutan yang jarang dilalui orang. Hutan itu dikenal angker dan dihuni hewan-hewan liar. Tak banyak yang berani mendekat, apalagi saat malam.
Hutan milik Tuan Hendra, dengan beberapa peliharaan hewan buas yang ia tempatkan di sana— untuk menghabisi orang-orang seperti Elina ini.
Pria berpakaian gelap itu turun tanpa ragu.
Ia menyeret sesuatu yang terbungkus kain tebal dari bagasi mobil. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Perintah telah dilaksanakan, Tuan," gumamnya pelan, seolah berbicara pada angin malam.
Tubuh Elina yang tak lagi bernyawa diletakkan jauh ke dalam area hutan, di antara pepohonan lebat dan semak berduri.
Tak lama, suara geraman rendah terdengar dari kejauhan.
Ia tidak menoleh.
Tanpa rasa bersalah, tanpa penyesalan, pria itu kembali ke mobilnya dan pergi, meninggalkan malam yang kelam sebagai saksi.
Di mansion Pranawijaya yang megah, Tuan Hendra berdiri di ruang kerjanya, menatap keluar jendela dengan wajah tenang.
Tidak ada emosi yang tergambar.
Hanya satu kalimat terucap pelan dari bibirnya— "Tak ada yang boleh menyentuh putri kesayangan ku, bahkan seujung kuku pun."
Dan malam itu, satu pengkhianat penghancur hidup anaknya telah musnah seiring dengan taring harimau yang mencabik cabik tubuh dosanya.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭