NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^27

Tetapi, berpura-pura tidak tahu, dengan raga yang terus mengikuti permainan mereka. Mungkin akan memudahkan diri, jika kebenaran yang menyakitkan itu tidak mudah menghancurkan hidupnya.

Ketukan pintu yang terdengar sangat sopan di telinga. Membuat sang pemilik kamar secara perlahan menoleh kearah di mana pintu putih yang kini telah terbuka. Mendapati sosok familiar yang menampilkan senyum simpulnya. Dan saat itu juga sang ibu juga hadir dengan sudut bibir yang sedikit tersungging. Ampuh menghadirkan kerutan samar di kening sang gadis. Yuna.

"Kau baru pulang dari sekolah mu?" Tanya sang nenek yang memang ingin berbasa-basi terlebih dahulu pada cucunya itu.

Tidak langsung memberi balasan, Yuna lebih dulu melepas tas punggungnya. "Apa nenek butuh bantuan? Hingga menemuiku seperti ini." Mungkin terdengar tidak sopan, tapi itu sudah menjadi hal biasa di indera pendengaran mereka.

"Ada hal yang ingin nenek tanyakan padamu. Tapi sepertinya kau terlihat lelah sekali." Mulai merasa tidak enak, wanita tua itu saat melihat raut wajah Yuna yang benar-benar terlihat ingin cepat-cepat pergi ke alam mimpinya.

"Katakan apa yang ingin nenek tanyakan. Karena aku tidak lelah sama sekali." Itulah Yuna, yang tidak akan meninggalkan satu hal kecil pun. Karena menyimpan rasa penasaran itu akan mengganggu waktu tidurnya. Dan Yuna tidak menyukai hal itu.

"Benarkah?" Sangat antusias, tapi wanita tua itu tidak begitu menunjukkannya.

"Tapi sepertinya Yuna memang butuh istirahat bu." Cepat Diandra yang tidak ingin hal tak terduga terjadi pada kehidupannya.

Dan wanita itu mengangguk mengerti. "Baiklah. Nenek akan memberitahu mu esok hari Yuna. Jadi istirahatlah malam ini." Tersenyum tulus, sebentar melihat Yuna sebelum memutar tumit untuk melangkah keluar dari kamar cucunya itu. Ampuh membuat Diandra membuang napas lega, walau sesaat.

"Tapi," pelan Yuna yang membuat langkah sang nenek terheni. " Bukankah lebih baik mengatakannya lebih awal? Ketimbang membuat ku semakin penasaran dan tidak bisa tidur malam ini."

"Yuna__" Rendah Diandra.

"Aku akan istirahat." Akhirnya yang kini memilih berjalan ke arah di mana kamar mandinya berada. Dan kembali membuat Diandra bernapas lega.

Dan, tanpa Diandra sadari. Hal itu menimbulkan rasa curiga di benak sang nenek yang mengerutkan keningnya melihat Diandra dengan sorot mata penuh tanya.

"Ada apa dengan mu? Kenapa kau terlihat takut sekali?" Bertanya dengan nada yang semakin membuat Diandra sulit untuk memberi jawaban.

"Sebenarnya apa yang ingin ibu tanyakan pada Yuna?" Sangat hati-hati, Diandra mulai mengalihkan topik pembicaraan.

"Jika aku mengatakannya padamu, kau akan menghalanginya." Ketus sang nenek, yang bukan berarti memiliki dendam pribadi terhadap Diandra.

"Tapi sepertinya itu belum tentu bu. Mungkin saja, aku bisa membantu apa yang ibu perlukan. Tanpa melibatkan Yuna. Karena Yuna harus fokus pada sekolahnya. Aku tidak ingin nilai Yuna hancur karena terlalu banyak pikiran." Jelas Diandra yang berusaha menawarkan dirinya sendiri.

Kepala wanita itu mengangguk. "Jika itu yang terbaik. Kita akan berdiskusi di bawah tanpa harus melibatkan Yuna." Akhir sang nenek yang saat ini benar-benar berjalan keluar meninggalkan Diandra sendiri.

"Sebenarnya apa yang ingin dia tanyakan pada Yuna?" Gumam Diandra, sebelum mengikuti kemana perginya wanita itu. Tanpa lupa menutup kembali pintu kamar Yuna dengan rapat. Agar tidak ada siapapun yang menganggu putrinya.

Sedangkan Yuna sendiri yang bersadar di balik pintu kamar mandi, hanya bisa diam mendengar obrolan nenek dan ibunya yang terdengar seperti sedang menyembunyikan hal darinya.

"Jika masalah itu tidak begitu penting, tidak seharusnya nenek melemparnya pada ibu." Bukannya tidak percaya, tapi benak Yuna mulai menaruh curiga pada ibunya sendiri tanpa alasan.

Kenapa Diandra terus memberi benteng untuk siapapun yang ingin bertanya pada Yuna? Dan kenapa juga Diandra selalu membatasi Yuna agar tidak berteman dengan banyak orang? Bukankah, itu sangat mencurigakan?

Padahal, Yuna ingin sekali berteman dengan siapapun. Yuna ingin membalas perkataan mereka tanpa harus melukai perasaan mereka. Tapi, hanya karena sebuah peringatan sederhana. Mampu membuat kepribadian Yuna menjadi orang lain. Bukan dirinya seutuhnya.

Terus melangkah dengan hati-hati di belakang wanita paruh baya yang telah mengijinkannya menjadi pendamping putra wanita itu, dan tidak selalu memberi aturan berat dalam hidupnya.

Hingga langkah itu tiba di kamar sang wanita yang lebih dulu masuk. Dan tanpa basa-basi, wanita itu mengijinkan Diandra. Kini menutup pintunya, sebelum berjalan mendekat. Duduk di sofa yang berada di ruangan itu.

"Sepertinya kau jauh lebih tahu dari pada Yuna. Kemungkinan keputusan ku benar-benar sangat tepat, karena tidak bertanya pada Yuna." Cetus sang nenek yang menatap Diandra.

"Apa, itu ada hubungannya dengan Yuna?" Ragu Diandra.

"Tidak sama sekali. Tapi, jika Yuna mulai menaruh curiga--" diam sejenak, sang nenek menelan ludahnya lebih dulu. "Gadis itu akan melibatkan dirinya sendiri. Karena ingin menyelamatkan seseorang."

"Sebenarnya, apa yang ingin ibu tanyakan." Entah kenapa, Diandra terus menjaga sikap lucunya saat berhadapan langsung dengan ibu mertua. Padahal, wanita di hadapan Diandra saat ini sangatlah tahu, seperti apa watak dan tingkah Diandra yang sesungguhnya.

"Anna, kau mengenalnya?" Sang nenek melontarkannya begitu saja.

"Anna? Anna siapa yang ibu maksud?" Benar-benar tidak mengerti, Diandra mengatakannya.

"Anak dari wanita gila itu."

Diam sejenak, kini Diandra tahu. Siapa yang di maksud oleh ibu mertuanya. "Ibu tahu?"

"Bagaimana bisa aku tidak tahu. Jika kepala sekolah di tempat Yuna sekolah memberikan semua dokumen para murid di sana. Kau tahu bukan, siapa diriku."

Kepala Diandra mengangguk kecil. "Iya bu, saya tahu."

Wanita yang sangat dihormati karena selalu menjadi orang pertama yang menyalurkan diri menjadi donatur di setiap yayasan. Terutama, di mana tempat Yuna menuntut ilmu.

"Wanita itu juga ada di sana, bersama putranya." Kepala sang nenek mengangguk pelan, merasa tidak percaya dengan semua yang baru saja wanita itu ketahui. "Bagaimana bisa dia datang tanpa rasa dosa? Apa dia tidak tahu, jika putrinya ada di tempat itu juga?"

Seketika Diandra merapatkan bibirnya saat melihat senyum masam dari ibu mertuanya.

"Apa, ayah Yuna tahu?" Lagi, Diandra merasa sangat takut. Karena, satu persatu fakta akan terungkap dengan sendirinya.

"Jika dia tidak tahu, dia tidak akan pergi menemuinya malam ini." Sangat enteng, nenek itu mengatakannya.

"Apa?" Spontan Diandra dengan raut wajah tidak suka.

"Kenapa ibu membiarkannya pergi menemuinya? Apa ibu tidak takut jika Reza kembali dengan wanita itu?" Sambung Diandra dengan kening mengerut samar.

"Aku memberinya ijin karena dia ingin menebus dosanya."

"Ibu__" cepat Diandra.

"Kau tidak perlu khawatir, dia tidak akan meninggalkan mu dengan Yuna."

"Bagaimana jika Reza tahu jika gadis itu_" bukannya Rani tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Hanya saja, lidahnya sangat keluh saat bersuara kembali.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!