NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Malam itu kantor marketing sudah jauh lebih sepi dibanding biasanya. Lampu-lampu di beberapa ruangan mulai dimatikan satu per satu. Hanya tersisa cahaya dari ruang kerja utama yang masih menyala redup. Suara pendingin ruangan bercampur dengan bunyi kendaraan dari jalan raya yang terdengar samar dari luar gedung.

Shinta berdiri di dekat meja Andika dengan wajah yang masih memerah.

Sementara Andika hanya diam menatapnya.

Tatapan pria itu justru membuat dada Shinta semakin tidak nyaman. Beberapa detik yang lalu dirinya baru saja melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah dia bayangkan akan dia lakukan lagi.

Mencium pipi Andika.

Dan sekarang suasana di antara mereka terasa kacau.

Andika tidak bicara.

Shinta juga tidak berani menatapnya.

Hening yang menggantung terasa menyiksa sampai akhirnya Shinta buru-buru meraih tasnya.

“Aku pulang.”

Baru saja dia melangkah, Andika langsung menahan pergelangan tangannya.

Sentuhan itu membuat Shinta refleks berhenti.

“Shinta.”

Nada suara Andika terdengar rendah.

“Kenapa kamu melakukan itu?”

Shinta menelan ludah pelan.

“Aku cuma...”

Dia memalingkan wajahnya, jelas malu dengan tindakannya sendiri.

“Aku cuma mau kamu berhenti ngambek.”

Andika masih menatapnya lekat.

“Hanya karena itu?”

Shinta mencoba menarik tangannya, namun Andika justru menggenggamnya lebih erat.

“Kamu bilang aku pelit terus sekarang tiba-tiba mencium aku?” tanya Andika pelan. “Menurutmu itu normal?”

Wajah Shinta semakin merah.

“Jangan dibahas terus.”

“Jawab dulu.”

Shinta menghela napas kesal.

“Aku cuma mau minta maaf.”

“Dengan cara seperti itu?”

Shinta mulai kehilangan kesabaran.

“Memangnya kenapa? Dulu juga biasa.”

Kalimat itu justru membuat tatapan Andika berubah.

Pria itu perlahan menarik tubuh Shinta agar menghadap langsung padanya.

“Shinta.”

Nada suaranya kini terdengar lebih serius.

“Kamu masih punya perasaan sama aku?”

Pertanyaan itu membuat jantung Shinta berdetak keras.

Dia langsung mengalihkan pandangan.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Andika tersenyum tipis.

“Kamu buruk kalau bohong.”

“Aku serius.”

“Kalau serius kenapa kamu melakukan hal yang dulu sering kamu lakukan waktu kita pacaran?”

Shinta langsung terdiam.

Dia sendiri sebenarnya bingung dengan tindakannya tadi. Saat melihat Andika terus bersikap dingin beberapa hari terakhir, dirinya justru merasa kesal dan tidak nyaman.

Padahal dulu dia selalu berharap pria itu berhenti menggodanya.

Namun ketika Andika benar-benar menjaga jarak, rasanya malah aneh.

Sangat aneh.

“Aku cuma tidak suka diacuhkan,” gumam Shinta pelan.

Andika tertawa kecil tanpa humor.

“Jadi supaya aku tidak cuek, kamu mulai merayu aku lagi?”

“Aku tidak merayu.”

“Kamu mencium aku, Shinta.”

Shinta langsung menatapnya kesal.

“Itu cuma di pipi.”

“Tetap saja cium.”

Nada suara Andika terdengar mulai emosional.

“Aku sudah susah payah menahan diri supaya tidak bersikap seperti dulu sama kamu. Aku berusaha biasa saja. Tapi kamu sendiri yang mulai.”

Shinta langsung tersulut.

“Mulai apa?”

“Kamu terus mendekat.”

“Kamu yang selalu kasih perhatian!”

Andika tersenyum miring.

“Salah sendiri kalau kamu terbawa perasaan.”

Kalimat itu langsung membuat emosi Shinta naik.

“Terbawa perasaan?”

“Iya.” Andika menatapnya datar. “Aku cuma mengulangi beberapa kebiasaan lama. Ternyata kamu langsung berharap macam-macam.”

Shinta menatap pria itu tidak percaya.

“Kebiasaan lama?”

“Iya.”

“Kamu pikir perhatian kamu itu permainan?”

Andika mengangkat bahu santai.

“Aku cuma ingin tahu satu hal.”

“Apa?”

“Apakah kamu benar-benar sudah melupakan aku atau belum.”

Shinta tertawa kecil penuh kekesalan.

“Jadi semua ini tes?”

“Dan hasilnya cukup jelas.”

Shinta langsung menarik tangannya kasar dari genggaman Andika.

“Kamu keterlaluan.”

Andika tetap tenang.

“Kamu sendiri yang tidak bisa membedakan perhatian biasa dan harapan.”

“Perhatian biasa?” ulang Shinta sinis. “Tidak ada mantan yang bersikap seperti kamu kalau memang cuma perhatian biasa.”

Andika melangkah mendekat.

“Lalu kamu mau apa sebenarnya?”

“Aku tidak mau apa-apa.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Kalau memang tidak ada perasaan, kamu tidak mungkin mencium aku.”

Shinta menggigit bibir bawahnya pelan.

Dadanya mulai terasa sesak.

Dia benci karena Andika selalu bisa membuat dirinya kehilangan kendali.

“Aku memang belum sepenuhnya lupa,” ucap Shinta akhirnya dengan suara pelan. “Tapi itu tidak berarti aku ingin balikan.”

Tatapan Andika sedikit berubah saat mendengar pengakuan itu.

Namun hanya sesaat.

Pria itu kembali memasang wajah tenang.

“Aku juga tidak berharap balikan.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk langsung ke dada Shinta.

Andika menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Kamu terlalu suka hidup dalam drama romantis.”

Shinta mengernyit.

“Apa maksud kamu?”

“Kamu selalu berpikir semuanya bisa selesai dengan perasaan.” Andika bersandar di meja. “Padahal kehidupan nyata tidak seperti film.”

Shinta mulai kesal lagi.

“Dan kamu sekarang jadi ahli kehidupan?”

“Aku realistis.”

“Kamu menyebut realistis untuk hubungan yang digantung tiga tahun?”

Andika langsung menatap tajam.

“Kamu mulai mengungkit lagi.”

“Karena memang itu kenyataannya!”

Suasana semakin panas.

Shinta yang sejak tadi menahan emosinya akhirnya bicara tanpa rem.

“Selama tiga tahun aku selalu menunggu kepastian dari kamu. Selalu sabar. Selalu ngerti keadaan kamu. Tapi ujung-ujungnya apa?”

Andika mengepalkan rahangnya pelan.

“Kamu tahu kondisi aku waktu itu.”

“Aku tahu,” balas Shinta cepat. “Makanya aku bertahan. Tapi kamu juga tidak pernah benar-benar memberi kepastian.”

“Karena aku belum mapan.”

“Dan aku tidak pernah menuntut apa-apa!”

“Tapi dunia nyata tetap butuh uang.”

Nada suara Andika mulai meninggi.

“Cinta saja tidak cukup, Shinta.”

Shinta tertawa kecil pahit.

“Nah, akhirnya keluar juga.”

“Itu fakta.”

“Fakta menurut kamu.”

Andika menghela napas panjang lalu berkata pelan, “Kamu masih seperti dulu. Terlalu percaya akhir bahagia seperti drama-drama yang kamu tonton.”

Shinta langsung menatapnya tajam.

“Dan kamu terlalu sibuk menghitung masa depan sampai lupa cara memperlakukan perasaan orang.”

Andika diam.

Shinta melanjutkan dengan suara bergetar.

“Aku lebih memilih hidup di dunia drama daripada hidup menunggu kepastian dari orang seperti kamu.”

Kalimat itu membuat suasana kembali sunyi.

Andika memalingkan wajah beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

Namun senyum itu terasa dingin.

“Kalau begitu harusnya kamu tidak perlu bingung lagi.”

Shinta mengangguk pelan.

“Iya.”

Meski kenyataannya dadanya terasa sakit.

Sangat sakit.

Dia menatap Andika beberapa saat. Pria itu masih sama seperti dulu. Tenang. Sulit ditebak. Dan selalu membuat dirinya merasa kalah saat berdebat.

Namun untuk pertama kalinya Shinta sadar sesuatu.

Andika yang dulu benar-benar sudah tidak ada.

Pria yang dulu selalu mengejarnya dengan penuh perhatian kini justru memainkan semuanya seolah hanya sebuah percobaan perasaan.

Shinta meraih tasnya cepat.

“Aku pulang.”

Kali ini Andika tidak menahan.

Pria itu hanya berdiri diam memperhatikannya.

Shinta berjalan menuju pintu dengan langkah cepat. Namun sebelum keluar, dia sempat berhenti sebentar.

Tanpa menoleh dia berkata pelan,

“Aku menyesal sudah melakukan hal memalukan tadi.”

Andika tidak menjawab.

Shinta tersenyum kecil pahit.

“Dan sekarang aku sadar... kamu memang sudah berubah.”

Setelah mengatakan itu dia langsung keluar dari ruangan.

Suara pintu yang tertutup terdengar cukup keras di tengah kantor yang sepi.

Shinta berjalan cepat menyusuri lorong kantor sambil menahan emosinya sendiri. Dadanya terasa penuh sesak dan pikirannya kacau.

Dia merasa bodoh.

Sangat bodoh.

Hanya karena tidak tahan dicuekin, dia sampai melakukan hal seperti tadi.

Bahkan lebih menyedihkan lagi, Andika justru menganggap semuanya sebagai bukti bahwa dirinya belum bisa move on.

Shinta menekan tombol lift dengan kesal.

Saat pintu lift terbuka, dia langsung masuk tanpa menunggu siapa pun.

Begitu pintu tertutup, Shinta akhirnya mengembuskan napas panjang.

Matanya mulai terasa panas.

“Aku benar-benar memalukan...”

Dia bersandar lemah di dinding lift.

Kenangan tentang hubungan mereka terus berputar di kepalanya. Tiga tahun bersama. Tiga tahun menunggu. Tiga tahun berharap hubungan mereka akan berakhir serius.

Namun yang tersisa sekarang hanya pertengkaran dan rasa sakit.

Shinta memejamkan mata.

Selama ini dia selalu berpikir Andika masih memiliki perasaan yang sama. Semua perhatian kecil pria itu membuatnya terus berharap diam-diam.

Namun malam ini dia sadar.

Andika mungkin memang masih peduli.

Tapi bukan dengan cara yang dia inginkan.

Bagi Andika, perasaan hanyalah sesuatu yang harus dikendalikan dengan logika.

Sementara bagi Shinta, perasaan tidak pernah sesederhana itu.

Lift akhirnya sampai di lantai bawah.

Shinta segera keluar menuju parkiran tanpa menoleh lagi ke arah gedung kantor.

Sementara di lantai atas, Andika masih berdiri sendirian di ruang kerja yang kini terasa jauh lebih sunyi.

Pria itu mengusap wajahnya kasar lalu duduk perlahan di kursinya.

Tatapannya jatuh pada meja tempat Shinta tadi berdiri.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, Andika mulai merasa lelah dengan dirinya sendiri.

Lucu juga. Dua manusia keras kepala saling menyakiti hanya karena sama-sama masih peduli, lalu berpura-pura paling masuk akal. Hubungan manusia memang hobi sekali berubah jadi debat seminar ekonomi bercampur luka batin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!