Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan : 08
Entah apa sebab, Candra Kanti sukar percaya apa yang dilihat dan didengar. Namun, dia kesulitan menerka, meraba-raba arah saja tak sanggup, semua tampak abu-abu.
“Bu, kalau boleh, dan ibu berkenan – seperti apa rupa makhluk astral yang tadi diceritakan?” tanyanya hati-hati, sesopan mungkin.
Tanggapan bu Sasmi diluar dugaan, kelihatan tidak senang, enggan membeberkan, tiba-tiba badannya menggigil pelan, seperti orang ketakutan. “Lebih baik tidak tahu, dan jangan sekali-kali mencoba mencari tahu kalau gak mau kena tulah. Nama mereka saja seperti mantra jahat, siapapun yang menyebutkan, tidak lama kemudian mengalami kejang-kejang berakhir kematian.”
Mayang mengusap lengannya, merasakan merinding.
Ahwaya bergidik ngeri, bergegas dia minum air putih.
Candra Kanti menampilkan raut bersalah karena sudah lancang bertanya hal sensitif. “Maaf, Bu. Saya cuma penasaran, karena baru pertama kali mendengar dan mengalami hal aneh seperti ini.”
Bu Sasmi mengangguk memaklumi, ekspresinya kembali sumringah, anggun.
“Jika kalian bosan, pergilah jalan-jalan menyusuri desa. Jangan takut kesasar, jalanan Latu abang cuma punya satu jalur saja,” bu Sasmi menawarkan, seolah mengerti kebuntuan pikiran para tamunya.
“Apa Rusa nya yang hidup masih ada, Bu? Kalau iya, boleh tidak kami lihat. Aku penasaran banget,” pinta Abeer, netranya penuh harap.
Tejo menjawab dengan intonasi sedang. “Masih dua ekor lagi di kandang belakang. Ayo kalau mau lihat.”
Bergegas mereka keluar, setelah mengucapkan terima kasih atas sarapan pagi ini.
Kanti berdiri di tengah-tengah halaman samping terhubung dengan kamarnya. Sekarang dia bisa memperhatikan saksama, semua terlihat lebih jelas karena cahaya langit pagi hari yang normal.
‘Biasa saja. Normal. Terus bagian mana terasa janggal itu? Mengapa hatiku enggan meyakini?’ Netra bulatnya bergerak cepat, membiarkan otak mematri semua yang terlihat. Baru setelahnya Kanti terburu-buru menyusul Abeer.
Benar kalau ada dua hewan Rusa berukuran sebesar anak Kambing remaja di kandang tidak bersekat, dibiarkan bergerak kesana-kemari meskipun tak bebas.
“Jadi ini jenis Rusa yang kami makan tadi?” Abeer menjilat bibir, kedua telapak tangan mengusap-usap.
“Iya. Tinggal dua ekor, sebelum ada lima,”jelas Tejo.
“Untung saja aku gak ikutan makan, melihat betapa kecilnya anak Rusa itu, rasanya sangat tidak tega,” bisik Aji yang berdiri di samping Kanti.
“Kasihan, ya?”
“Iya. Sebaiknya kita pamitan, biar bisa menyusuri desa ini. Siapa tahu ada petunjuk lain, jalan keluar lebih cepat daripada harus menunggu 28 hari lagi,” usul Aji.
“Pak Tejo, kami mau pamit pergi jalan-jalan,” Aji meminta izin, meskipun tadi sudah diperbolehkan.
“Silahkan. Apa perlu saya temani?” Tejo mengibas-ngibaskan tangan yang kotor karena debu.
“Tidak perlu, Pak. Kami sungkan merepotkan terus menerus,” timpal Kanti.
“Aku di kamar aja, kakiku gak mungkin bisa diajak jalan jauh,” Mayang memilih istirahat di kamarnya.
Ahwaya pun enggan ikut, dia menemani sang sahabat, malas jalan kaki lama-lama.
Sambara dan Abeer ikut, mereka penasaran dengan lingkungan desa ini.
.
.
“Rumah di sini jaraknya jauh-jauh banget ya?” celetuk Aji.
Kanti memperhatikan sebuah rumah sangat sederhana – atap daun rumbia, dinding papan, lantai masih semen, lalu dia menoleh ke belakang, yang mana tidak terlihat bangunan hunian.
“Kamu bener. Rumah ini sama yang tadi kita lewati, jauh sekali jaraknya, sampai-sampai gak kelihatan.
“Kalau ada apa-apa, apa ya kedengaran semisal berteriak minta tolong?” kata Abeer.
“Karena gak pernah terjadi hal tak diinginkan, makanya warga sini berani buat rumah saling berjauhan,” Sambara memberikan analisanya.
“Masuk akal si,” kali ini Aji sependapat dengan Sambara.
“Dari tadi kita jalan, kenapa gak sekalipun berpapasan dengan warga? Anak-anak juga entah dimana. Biasanya mereka paling suka main di tempat terbuka ‘kan? Terlebih disini gak ada listrik, sinyal,” kembali Kanti merasakan kejanggalan.
“Ikut orang tuanya ke kebun mungkin,” ucap Abeer.
“Abeer, kamu gak merasa aneh apa sewaktu mencicipi daging Rusa?” Kanti mundur agar langkah bersisian dengan lawan bicaranya.
“Aneh gimana?”
“Ekspresi sama antusiasme mu kelihatan berlebihan, seperti orang gak pernah makan enak,” ia tidak peduli kalimatnya menyindir tajam.
“Lu mau bilang gua rakus, iya?!” emosi pemuda lebih tinggi dari Kanti, tersulut.
“Bukan gitu juga, cuma berlebihan aja, apa ya memang selezat itu daging yang kamu makan tadi?” Kanti meneruskan pertanyaannya.
“Jujur, baru kali ini gua makan daging seenak itu. Teksturnya kenyal tapi lembut, daging Sapi saja kalah,” Abeer mulai tenang, tidak lagi menghardik.
Kanti pun tidak lanjut bertanya, dia berjalan cepat agar sejajar dengan Aji.
“Kamu kalau sama Abeer hati-hati milih kalimat, dia mudah emosi orangnya,” petuah Aji.
“Iya.”
Sudah lama Kanti menyusuri desa yang terdapat bangunan rumah sederhana. Namun, tidak satupun didapati adanya manusia selain mereka. Pintu dan jendela rumah semuanya tertutup rapat.
“Gimana kalau kita ke jurang semalam? Pas kebetulan ini rute yang sama.” Kanti berdiri di persimpangan jalan.
“Gila lu! Udah lupa peringatan bu Sasmi? Atau mau sok jadi pahlawan, terobsesi menyelamatkan kita, padahal kami baik-baik saja, malah disambut hangat,” Abeer tidak satu keinginan dengan Kanti.
“Mungkin aja ada petunjuk, kan disana tempat kita berhenti sebelum di bawa kemari. Apa kamu mau berhari-hari di tempat asing?”
“Kenapa nggak. Makan tinggal makan, capek istirahat, ngantuk langsung tidur. Bukannya sempurna kehidupan seperti ini? Daripada harus susah payah nyari jalan keluar yang belum tentu berhasil dan aman,” ucapnya tajam.
“Udah deh, gak usah berlagak sok jagoan! Semalam lu paling kenceng lari, ketahuan kalau penakut akut,” sindir Sambara.
“Ayo kita pulang! Gua udah laper lagi!” Abeer berbalik badan, berjalan sedikit cepat.
“Lebih baik kita pulang dulu, aku gak yakin disini aman. Mana suasananya suram, gak ada matahari, dan sepi banget,” ajak Aji.
Mereka kembali melewati jalan yang sama, setiap melewati rumah kosong – tanpa disadari, ada banyak mata berwarna merah menyala mengintip dari balik lubang dinding papan.
***
“Mayang sebenernya kemana sih? Dari tadi kok gak balik-balik?”
.
.
Bersambung.
emang bener² laki durjana, dah lah sono di makan anjjing aja🤭
tinggal di dalam kandang pemangsa membuat was was setiap detiknya