NovelToon NovelToon
Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Eternal Memory [ Ingatan Abadi ]

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )

Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )

Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )

Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.

Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Awal Sebuah Dendam

Namun Long Chen hanya berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat seolah kehilangan kendali, sementara matanya terus menatap kehancuran di hadapannya dengan penuh ketidakpercayaan. Nafasnya menjadi tidak teratur, dadanya terasa sesak, dan suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar. “Ini… tidak mungkin…”

Namun dalam sekejap, sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Tanpa peringatan, ia langsung berlari sekuat tenaga ke dalam desa, langkahnya tidak lagi teratur, hanya didorong oleh kepanikan dan rasa takut yang meluap. Suaranya pecah saat ia berteriak, penuh keputusasaan yang tidak bisa ia tahan lagi.

“Ibu! Ayah!!”

Ia berlari melewati reruntuhan desa yang hancur, langkahnya terhuyung namun tidak pernah berhenti, seolah ada sesuatu yang memaksanya terus maju meski hatinya sudah mulai runtuh. Di sekelilingnya, tubuh-tubuh yang tak lagi bergerak tergeletak di antara puing dan abu, pemandangan yang terlalu kejam untuk diterima oleh anak seusianya, namun tidak bisa ia hindari.

Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seakan kakinya ditarik oleh ketakutan yang perlahan berubah menjadi kenyataan. Dadanya semakin sesak, napasnya memburu, dan pikirannya dipenuhi oleh satu hal yang tidak berani ia akui sepenuhnya.

Rasa sakit itu datang perlahan, lalu semakin dalam.

Bukan hanya di tubuhnya, tetapi di dalam hatinya, menghantam lebih keras dari luka mana pun yang pernah ia rasakan.

Sampai akhirnya, Long Chen tiba di depan rumahnya, langkahnya perlahan melambat seolah tubuhnya sendiri mulai menolak untuk melangkah lebih jauh. Namun ketika pandangannya jatuh ke tanah di depan rumah itu, ia langsung membeku di tempat, seluruh dunia seakan berhenti dalam satu detik yang terasa begitu panjang.

“Ayah…” suaranya keluar pelan, hampir tidak terdengar.

Tubuh ayahnya tergeletak di depan rumah, tidak bergerak, tidak bernapas, dan tidak lagi memiliki kehangatan yang dulu selalu ia rasakan. Pemandangan itu terlalu nyata, terlalu kejam untuk diterima oleh hatinya.

Long Chen perlahan berlutut di sampingnya.

Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menyentuh tubuh itu, seolah masih berharap semuanya hanyalah kesalahpahaman. “…Ayah… bangun…” bisiknya lirih, suaranya pecah oleh rasa takut yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menyakitkan.

Matanya mulai bergetar, napasnya tidak teratur, dan kenyataan yang selama ini ia tolak perlahan menghancurkan pertahanannya. “Tidak… tidak…” gumamnya, semakin lemah, seolah ia mencoba menyangkal sesuatu yang tidak bisa diubah.

Ia berlari masuk ke dalam rumah tanpa berpikir, langkahnya tergesa dan hampir tersandung, hanya didorong oleh satu harapan yang tersisa. “Ibu!” teriaknya, suaranya menggema di dalam rumah yang kini terasa asing dan sunyi.

Ia langsung menuju dapur.

Namun begitu pandangannya jatuh ke dalam ruangan itu, tubuhnya seketika berhenti.

Sosok ibunya terbaring di lantai.

Tubuhnya dipenuhi luka, diam tanpa gerakan, tanpa napas, tanpa kehidupan yang biasanya selalu menyambutnya dengan hangat.

“…Ibu…” suara Long Chen keluar lirih, hampir tak terdengar, seolah ia sendiri tidak berani mengucapkannya.

Kakinya tiba-tiba kehilangan kekuatan.

Ia jatuh terduduk di tempat, pandangannya kosong, pikirannya berhenti memproses apa yang ada di hadapannya.

Dunia yang ia kenal… runtuh dalam sekejap.

Air mata mengalir tanpa henti di pipinya, jatuh satu per satu ke lantai yang dingin, namun perlahan tangannya mulai mengepal dengan kuat, hingga jemarinya memutih. Di dalam dirinya, sesuatu yang gelap mulai bergerak, bangkit dari kedalaman yang tidak ia pahami.

Aura hitam perlahan muncul dari tubuhnya, tipis pada awalnya, lalu semakin tebal dan semakin liar, berputar di sekelilingnya seperti kabut yang hidup dan penuh amarah. Udara di dalam rumah berubah menjadi berat, seolah ikut tertekan oleh emosi yang meledak dari dalam dirinya.

“Aku akan… membunuhnya…” ucapnya dengan suara bergetar, namun setiap katanya dipenuhi kebencian yang mulai menguasai hatinya.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi dipenuhi kesedihan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih berbahaya.

“Di mana pun dia berada… walaupun di ujung dunia…” lanjutnya, napasnya memburu, aura di sekitarnya semakin mengamuk seiring dengan emosinya yang tak terkendali.

“Aku akan membunuhnya!!” teriaknya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.

Suara itu menggema di dalam rumah yang hancur, menembus kesunyian desa yang telah mati.

Xiao Yan yang berada di luar rumah Long Chen sempat membeku ketika melihat tubuh ayah sahabatnya itu tergeletak tak bernyawa di depan pintu. Rahangnya mengeras, namun ia tidak berhenti, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat.

Begitu memasuki dapur, langkahnya terhenti.

Tubuh ibunda Long Chen terbaring di lantai, penuh luka dan tanpa kehidupan, pemandangan itu membuat Xiao Yan membeku sejenak, dadanya terasa sesak oleh kenyataan yang terlalu berat. Namun lebih dari itu, ia merasakan sesuatu yang membuatnya semakin tegang.

Aura gelap.

Aura itu berputar di sekitar tubuh Long Chen yang terduduk di lantai, semakin tebal dan semakin liar, seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam diri seorang anak.

“Chen…?” panggil Xiao Yan pelan, suaranya hati-hati.

Ia melangkah mendekat, mencoba menenangkan situasi. “Tenang, ini aku,” lanjutnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil meski hatinya mulai tidak tenang.

Namun sebelum ia sempat mendekat sepenuhnya, Long Chen tiba-tiba mendorongnya dengan kasar.

Dorongan itu tidak biasa.

Aura hitam di tubuh Long Chen meledak keluar dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya, menyapu udara di sekitarnya dan membuat Xiao Yan terdorong mundur beberapa langkah.

“Apa… ini…?” gumam Xiao Yan terkejut, matanya melebar melihat perubahan yang tidak masuk akal itu.

Namun belum sempat ia bereaksi lebih jauh, tubuh Long Chen tiba-tiba goyah.

Aura hitam yang mengamuk tadi seketika melemah.

Dan dalam sekejap berikutnya, Long Chen kehilangan kesadaran.

Tubuhnya jatuh ke depan.

“Chen!” seru Xiao Yan.

Tanpa ragu, ia langsung melangkah maju dan menangkap tubuh Long Chen sebelum terjatuh ke lantai, menahannya dengan hati-hati meski pikirannya masih dipenuhi keterkejutan dan kebingungan atas apa yang baru saja terjadi.

Di atas langit desa yang telah hancur, dua sosok melayang dalam diam, tubuh mereka berdiri tegak di atas pedang terbang yang berkilau redup. Pakaian putih mereka berkibar tertiup angin, menciptakan kontras yang mencolok dengan kehancuran di bawah yang masih menyisakan asap dan api yang belum sepenuhnya padam.

Tatapan mereka menyapu seluruh desa, mengamati setiap sudut dengan ekspresi serius.

“…Kita terlambat,” ujar salah satu dari mereka dengan suara dingin, tanpa emosi, seolah sudah terbiasa menyaksikan pemandangan seperti ini.

Sosok di sampingnya menyipitkan mata, auranya sedikit berubah saat ia merasakan sisa energi yang masih tertinggal di udara. “Ini bukan kehancuran biasa… energi ini jelas berasal dari aliran kegelapan,” katanya pelan, nadanya penuh kepastian.

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih berat, “…Sekte Darah Merah.”

Nama itu jatuh seperti beban di udara.

Sosok pertama menarik napas dalam, lalu menatap kembali ke bawah, fokusnya kini berubah dari penyelidikan menjadi tindakan. “Kita tidak punya waktu untuk memastikan lebih jauh. Kita harus mencari yang selamat,” ujarnya tegas.

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih serius, “Dan membawa mereka ke Sekte Pedang Langit. Hanya di sana mereka bisa dilindungi… dan dilatih.”

Sosok kedua mengangguk tanpa ragu. “Setuju.”

Tanpa menunggu lebih lama, keduanya langsung bergerak, pedang di bawah kaki mereka melesat ke arah yang berbeda, membelah udara dengan kecepatan tinggi.

Mereka berpencar, menyisir sisa-sisa desa yang telah hancur.

Mencari kehidupan… di tengah kematian.

Langkahnya cepat menyusuri reruntuhan desa, sementara matanya yang tajam terus mengamati setiap sudut, mencari tanda-tanda kehidupan di tengah kehancuran yang menyisakan keheningan menyakitkan. Tiba-tiba, sebuah suara lemah terdengar di antara puing-puing.

“Tolong…!”

Ia langsung berhenti.

Pendengarannya tidak mungkin salah.

“Masih ada yang hidup… aku harus menyelamatkan mereka,” gumamnya pelan, lalu tanpa ragu ia segera berlari menuju sumber suara dengan kecepatan tinggi.

Tak lama kemudian, ia tiba di depan sebuah rumah yang hampir runtuh, dindingnya retak dan atapnya nyaris ambruk. Tanpa berpikir panjang, ia langsung masuk ke dalam.

Di sana, ia melihat dua anak.

Satu terbaring tak sadarkan diri di lantai, sementara yang lain berusaha membangunkannya dengan panik, suaranya dipenuhi kecemasan.

“Bangun, Chen! Bangun!” seru Xiao Yan, tangannya mengguncang tubuh Long Chen dengan hati-hati namun penuh putus asa.

Sosok berpakaian putih itu melangkah mendekat, auranya tenang namun memberi rasa aman yang berbeda dari apa pun yang mereka rasakan sebelumnya. “Kalian… baik-baik saja?” tanyanya dengan suara yang stabil.

Xiao Yan langsung menoleh, matanya masih penuh kewaspadaan, belum sepenuhnya percaya pada orang asing di tengah situasi seperti ini. “Temanku… pingsan,” jawabnya singkat.

Pria itu mengangguk pelan, lalu berlutut sedikit untuk memastikan kondisi Long Chen sebelum berkata, “Tenang. Dia tidak mengalami luka serius cuma kecapean.”

Ia kemudian menatap Xiao Yan dengan lebih serius. “Kalian akan kubawa ke tempat yang aman. Tidak ada lagi yang bisa kalian lakukan di sini,” lanjutnya tegas, tanpa memberi ruang untuk perdebatan.

Xiao Yan terdiam.

Tatapannya perlahan beralih ke Long Chen yang tak sadarkan diri di tangannya, lalu ke arah luar rumah, di mana desa yang dulu mereka kenal kini hanya menyisakan kehancuran.

Ia memahami kenyataan itu.

Desa mereka sudah tidak ada.

Dan mereka tidak punya tempat untuk kembali.

Perlahan, ia mengangguk. “…Baik,” ucapnya pelan, menerima keputusan itu, karena dalam hatinya ia tahu bahwa satu-satunya pilihan sekarang adalah pergi dan mencari tempat baru untuk bertahan, dan tempat itu… adalah Sekte Pedang Langit.

Di luar, abu beterbangan di udara, terbawa angin yang dingin, menutupi sisa-sisa kehidupan yang pernah ada.

End Chapter 8

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!