Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sesuatu yang Mengikuti
Suara mesin motor tua itu meraung, membelah keheningan malam di jalanan setapak yang hanya diapit oleh rimbunnya pohon bambu.
Bima tidak lagi berani melihat ke spion.
Kata-kata Kinasih—“Dia nggak punya kaki!”—terus bergema di kepalanya seperti kaset rusak, memicu adrenalin yang membuat tangannya gemetar hebat di atas stang motor.
Di belakangnya, Kinasih merapat, wajahnya disembunyikan di punggung Bima.
Tangannya tidak hanya memegang koin kuno itu, tapi meremasnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Koin itu terasa dingin, namun di saat yang sama, seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan.
"Nasih... dia masih ada?" bisik Bima, suaranya parau tertiup angin malam.
Kinasih tidak menjawab.
Ia tidak perlu melihat ke belakang untuk tahu.
Bau melati yang awalnya harum manis kini telah berubah menjadi aroma busuk bangkai yang menyengat, seolah sesuatu yang mati baru saja dibedah di dekat hidung mereka.
Tiba-tiba, lampu depan motor meredup. Cahayanya mulai berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total. Kegelapan pekat langsung menyergap.
Bima menginjak rem mendadak, membuat motor mereka hampir tergelincir di atas tanah basah.
"Sial! Kenapa mati sekarang?!" umpat Bima panik.
Ia mencoba menghidupkan kembali motornya, namun mesin itu hanya mengeluarkan suara ngik-ngik yang lemah.
"Bim, jangan berhenti... tolong, jangan di sini," suara Kinasih bergetar hebat.
Dalam kegelapan total itu, keheningan terasa begitu menindas.
Namun, itu tidak benar-benar hening.
Dari arah belakang, terdengar suara seretan kain di atas tanah yang lembap.
Sret...
sret...
sret...
Suaranya lambat, namun ritmis. Semakin dekat.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara tawa kecil yang melengking tinggi, suara yang seharusnya milik seorang wanita cantik, namun kini terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca.
"Bima... koinnya... koinnya panas!" teriak Kinasih tiba-tiba.
Koin di genggaman Kinasih mulai mengeluarkan cahaya merah redup.
Di bawah cahaya samar itu, Bima melihat sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di depan mereka, di antara batang-batang bambu yang saling bergesekan, muncul sosok wanita bergaun putih itu lagi.
Ia tidak berjalan.
Tubuhnya melayang beberapa senti di atas tanah, namun bagian bawah gaunnya terkoyak-koyak, menampakkan kegelapan yang kosong di tempat seharusnya kaki berada.
Wajahnya yang tadi terlihat "cantik seperti artis" kini mulai meluruh.
Kulitnya mengelupas seperti kertas terbakar, menampakkan daging merah yang berulat.
"Cantik...?" bisik sosok itu.
Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan tumpukan suara yang saling bertindihan.
"Bima... bukankah aku... cantik?"
Bima nekat menendang tuas motor dengan tenaga terakhirnya.
Mesin menyala tepat saat tangan pucat dengan kuku-kuku hitam panjang sosok itu hampir menyentuh pundaknya.
Ia langsung memacu motornya gila-gilaan, menerjang semak-semak, tidak peduli lagi pada jalan setapak.
Namun, anehnya, seberapa jauh pun mereka melaju, mereka seolah melewati pohon bambu yang sama berulang kali.
Sebuah pohon dengan bekas sayatan berbentuk salib terbalik muncul lagi dan lagi.
"Kita berputar-putar, Nasih! Kita dijebak!" teriak Bima frustrasi.
Kinasih mulai menangis sesenggukan.
"Ini gara-gara koin ini, Bim. Mereka mau koinnya. Mereka nggak akan biarkan kita pergi."
Tiba-tiba, motor mereka berhenti dengan sendirinya.
Bukan karena mesin mati, tapi karena ban depan mereka tertanam di sesuatu yang lunak.
Saat Bima menunduk, ia melihat jalanan di bawah mereka bukan lagi tanah, melainkan tumpukan rambut hitam yang panjang dan lebat yang menutupi seluruh permukaan jalan.
Rambut-rambut itu mulai melilit ban motor, naik ke arah kaki Bima.
"Lari, Nasih! Turun!"
Bima menarik tangan Kinasih.
Mereka berlari masuk ke dalam hutan bambu, mengabaikan duri yang menyayat kulit mereka.
Di belakang, suara tawa itu semakin keras, seolah ada puluhan wanita yang sedang menertawakan usaha sia-sia mereka.
Mereka sampai di sebuah gubuk tua yang hampir roboh.
Tanpa pikir panjang, Bima mendobrak pintunya dan masuk ke dalam, menguncinya dengan kayu rapuh.
Di dalam, bau kemenyan sangat menyengat.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu dengan sesajen yang masih segar: kepala kambing yang matanya masih melotot dan dikerumuni lalat hijau.
"Nasih, lihat koin itu," Bima menunjuk tangan Kinasih.
Koin kuno itu kini tidak lagi merah, melainkan hitam pekat.
Permukaannya mengeluarkan cairan kental seperti darah yang berbau karat.
Di permukaan koin, muncul ukiran wajah yang sangat mirip dengan... Bima.
"Apa maksudnya ini?" suara Bima melemah.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu gubuk.
Tok...
tok...
tok...
"Bima... buka pintunya... aku membawa kakiku yang hilang..."
Celah di bawah pintu mulai dimasuki oleh cairan merah kental yang sama dengan yang ada di koin. Perlahan, gubuk itu mulai bergetar.
Atap rumbianya mulai berjatuhan, dan dari sela-selanya, puluhan pasang mata merah menatap mereka dengan lapar.
Kinasih menatap Bima dengan pandangan kosong.
Matanya mulai menghitam seluruhnya.
"Dia bilang... satu koin untuk satu nyawa, Bim. Hidup baru kita butuh tumbal."
Bima mundur teratur, punggungnya menabrak dinding kayu yang dingin.
Ia melihat Kinasih mengangkat koin itu tinggi-tinggi.
Di belakang Kinasih, sosok wanita tanpa kaki itu sudah berdiri, tangannya yang busuk merangkul leher Kinasih dengan mesra, sementara wajah hancurnya berada tepat di samping telinga Kinasih.
"Pilih, Bima," bisik Kinasih dengan suara yang sudah bukan miliknya lagi.
"Pilih siapa yang akan tinggal di sini selamanya."
Malam itu, di tengah hutan bambu yang tak berujung, jeritan Bima pecah, namun tak ada satu pun manusia yang mendengar.
Hanya pepohonan bambu yang bergoyang, seolah menari merayakan datangnya penghuni baru di desa yang telah lama terkutuk itu.