NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

" Dia bilang Aira cuma numpang nama doang."

Elvano mendengarkan cerita itu dengan napas yang memburu. Tangannya yang tergantung di samping tubuhnya mengepal sangat erat dan kencang, kuku jarinya seakan ingin menancap ke dalam telapak tangannya sendiri, menahan amarah yang sudah meledak-ledak dan ingin meluap di dalam dadanya.

Betapa beraninya wanita itu datang ke rumahnya dan menyakiti istrinya!

"Terus... terus yang paling bikin Aira sakit dan bikin Aira takut..." Aira perlahan mengangkat wajahnya yang sembab dan penuh air mata, menatap lurus ke mata Elvano dengan tatapan yang penuh kesedihan, ketakutan, dan keraguan yang mendalam.

"Dia bilang..." suara Aira bergetar hebat saat mencoba mengucapkan kembali kalimat mematikan itu.

"Dia bilang ke Aira: 'Mundur ya dari sana! Gue masih cinta banget sama dia! Dia cuma milik gue selamanya! Lo cuma penghalang doang!'"

Deg!

Seketika itu juga suasana di ruang tamu itu menjadi hening total. Hening yang mencekam, hening yang berat, dan hening yang menegangkan.

Elvano terpaku diam mendengar kalimat itu keluar dari mulut istrinya sendiri. Tubuhnya kaku bagaikan patung. Dadanya terasa sesak, panas, dan marah bukan main mendengar mantan pacarnya itu berani-beraninya datang ke rumahnya dan mengucapkan hal semacam itu secara langsung kepada istrinya yang sah dan ia cintai.

"Dia... dia bilang gitu sama kamu?" tanya Elvano pelan, namun suaranya terdengar sangat rendah, sangat dingin, dan sangat menyeramkan. Ada getaran amarah yang luar biasa terkandung di dalam suara itu.

"Iya mas..." Aira mengangguk lemah, air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. "Aira jadi takut mas, takut kalau beneran dia masih sayang sama kamu, takut kalau kamu ternyata masih sayang sama dia, dan Aira cuma jadi orang ketiga yang ngalangin jalan bahagia kalian."

Mendengar Aira bicara seperti itu, mendengar betapa hancur dan rapuhnya hati istrinya saat ini, rasa marah Elvano perlahan berubah drastis menjadi rasa bersalah yang sangat dalam dan juga rasa sayang yang meluap-luap.

Ia merasa tidak becus menjaga istrinya. Ia merasa bersalah karena masa lalunya datang mengganggu ketenangan istrinya.

Dengan langkah yang pelan namun pasti, Elvano pun duduk di sofa tepat di sebelah Aira. Jarak mereka sekarang sangat dekat, bahu mereka hampir bersentuhan, namun mereka masih tetap menjaga batasan sopan santun dan rasa malu yang masih ada.

"Ra..." panggil Elvano lembut, suaranya sudah tidak dingin lagi, melainkan sangat lembut dan menenangkan. "Dengerin aku baik-baik ya. Dengerin apa yang mau aku omongin ini."

Elvano menatap lurus tepat ke mata istrinya, menatapnya dengan sangat serius, sangat dalam, dan penuh dengan ketegasan.

"Apa yang dibilang Natasha itu semua salah. Seratus persen salah. Gak ada satu kata pun yang bener. Dia cuma ngomong begitu karena dia gak bisa nerima kenyataan, karena dia egois, dan karena dia cemburu buta sama kamu."

"Tapi mas... dia mantan kamu. Kalian dulu saling sayang."

"Iya, dia mantan aku. Itu fakta. Tapi itu semua masa lalu Ra. Sudah berakhir. Sudah tamat ceritanya bertahun-tahun yang lalu." Elvano menegaskan dengan sangat tegas dan penuh penekanan, suaranya berat dan mantap. "Aku nikahin kamu karena aku mau, karena aku yang minta, karena aku melihat kebaikan di diri kamu, dan karena kamu yang jadi pendamping hidup aku sekarang. Bukan karena terpaksa, bukan karena kasihan, dan bukan karena paksaan siapapun. Ngerti kamu?"

Aira menatap wajah suaminya itu dengan mata yang masih berkaca-kaca, penuh dengan rasa harap dan rasa ingin percaya. "Be... beneran mas? Beneran mas Elvano nikahin Aira karena mau, bukan karena terpaksa?" tanyanya pelan sekali, suaranya bergetar penuh keraguan yang masih tersisa.

"Beneran sayang... eh maksudnya, beneran Ra." Elvano hampir saja terpeleset memanggil dengan panggilan sayang yang sangat manis karena terbawa perasaan, tapi ia segera menahannya dan kembali formal sedikit karena rasa malu yang masih melekat kuat. Pipinya bahkan terlihat sedikit memerah karena kejadian itu.

"Dan soal dia bilang dia masih cinta sama aku..." lanjut Elvano cepat mencoba menutupi rasa malunya tadi, suaranya kembali serius. "Itu urusan dia. Itu perasaan dia. Itu masalah dia yang gak bisa move on. Tapi itu gak ada hubungannya sama aku dan gak ada hubungannya sama rumah tangga kita."

Elvano menarik napas panjang sekali, mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu menatap lurus ke mata Aira dengan tatapan yang sangat dalam, sangat tulus, dan sangat memancarkan rasa sayang yang besar.

"Hati aku sekarang fokus sepenuhnya buat kamu. Buat rumah tangga kita. Buat masa depan kita. Aku gak mau lagi mikirin masa lalu yang udah jelas-jelas nyakitin dan bikin rusuh. Jadi kamu jangan sedih lagi ya, jangan ngerasa kurang, dan jangan takut lagi. Kamu itu istri aku, sah secara agama dan negara, dan aku akan selalu lindungi kamu dari siapapun yang berani jahatin kamu."

Meskipun belum ada panggilan sayang manja yang berlebihan seperti "sayangku", "cintaku", atau "babe" yang keluar secara terus menerus, tapi nada bicara Elvano yang begitu lembut, tatapan matanya yang begitu teduh dan penuh kasih sayang, serta janji perlindungan yang ia ucapkan dengan begitu tegas, sudah lebih dari cukup untuk membuat hati Aira terasa hangat, tenang, dan aman luar biasa.

Rasanya seperti mendapat suntikan semangat dan keyakinan yang sangat besar. Dinding keraguan yang dibangun Natasha tadi sore runtuh seketika digantikan oleh rasa percaya diri yang baru.

"Te... terus Natasha gimana mas?" tanya Aira pelan sekali, masih sedikit was-was. "Kira-kira dia bakal datang lagi gak ya mas? Aira takut dia bikin rusuh lagi."

"Biarkan aku yang urus semua ini. Kamu gak usah pusing dan gak usah takut lagi." Elvano menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Aku janji, aku gak akan biarin dia berani datang lagi, berani ganggu ketenangan kamu, atau berani injak kaki dia di rumah ini sekali lagi. Aku akan kasih peringatan keras sama dia sampai dia ngerti dan sadar diri."

Malam itu juga, tanpa membuang waktu lagi, Elvano langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celana jasnya. Jari-jarinya yang panjang dan kekar menekan tombol layar dengan gerakan yang cepat dan tegas, menunjukkan betapa seriusnya ia saat ini.

Aira hanya diam memperhatikan suaminya itu dengan perasaan yang haru dan takjub. Melihat betapa tangguhnya dan bertanggung jawabnya suaminya ini membela dan melindunginya, membuat rasa cinta di hati Aira semakin bertambah besar dan dalam.

Elvano menelpon kepala satpam kompleks perumahan mewah itu terlebih dahulu. Sambungan telepon tersambung dengan cepat.

"Halo pak Broto? Saya Elvano Praditya." suara Elvano berubah menjadi sangat dingin, tegas, dan formal, sangat berbeda saat ia bicara dengan Aira tadi. "Ada laporan penting dari saya. Mulai detik ini juga, tolong blokir akses masuk untuk mobil merk dan tipe tertentu dengan plat nomor... dan juga untuk orang bernama Natasha Kirana. Jangan biarkan dia masuk ke dalam kompleks ini dengan alasan apapun. Kalau dia memaksa atau membuat masalah, langsung tangani dan laporkan ke saya segera. Jelas Pak?!"

Suara di seberang sana terdengar menjawab dengan hormat dan patuh, "Siap tuan! Dimengerti tuan! Akan kami jalankan segera!"

"Bagus. Terima kasih."

Telepon pun ditutup dengan cepat.

Elvano tidak berhenti di situ. Ia kembali menekan nomor lain, kali ini nomor asisten pribadinya dan juga staf keamanan pribadinya.

"Halo Rio? Dengerin instruksi saya. Mulai sekarang, tingkatkan pengamanan di rumah utama. Siapa saja yang bukan keluarga atau tamu undangan yang datang tanpa pemberitahuan, tolak dengan tegas. khusus untuk wanita bernama Natasha Kirana, masukkan ke daftar hitam. Jangan pernah izinkan dia bertemu saya atau menghubungi saya lewat saluran manapun. Blokir semua akses dia. Jelas?!"

"Siap bos! Dimengerti bos!"

"Laksanakan sekarang."

Setelah menyelesaikan semua panggilan telepon penting itu, Elvano pun meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan santai namun terlihat sangat gagah dan berwibawa. Wajahnya kembali berubah menjadi lembut saat menoleh ke arah Aira yang masih duduk diam memperhatikannya.

"Sudah. Sekarang kamu bisa tenang dan tidur nyenyak ya." ucap Elvano lembut. "Semuanya sudah aku atur. Dia gak akan bisa ganggu kamu lagi. Gak akan ada yang berani jahatin kamu di sini selagi ada aku."

Aira tersenyum tipis, senyum yang sangat tulus, manis, dan lega. Wajahnya yang tadi pucat kini mulai kembali merona merah muda cantik karena rasa malu, haru, dan bahagia yang bercampur menjadi satu.

"Makasih ya mas..." ucap Aira pelan penuh rasa syukur. "Makasih udah percaya sama Aira, makasih udah bela Aira, makasih udah jadi suami yang baik banget buat Aira."

"Sama-sama Ra. Itu memang kewajiban aku sebagai suami kamu." jawab Elvano singkat namun penuh makna. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sedikit karena merasa risih dan malu dipuji begitu manis oleh istrinya sendiri.

"Yuk. Yuk kita makan malam dulu. Perut kamu pasti lapar kan? Dari tadi nangis terus pasti lemes banget kan?" ajak Elvano cepat mengalihkan pembicaraan untuk menutupi rasa malunya. "Kamu harus makan yang banyak biar ada tenaga, biar gak sakit, dan biar gak lemes terus gini."

"Iya mas." Aira menganggukkan kepalanya patuh. "Aira juga lapar sebenernya, tapi tadi kan lagi sedih jadi gak nafsu makan. Sekarang udah enakan kok perasaan Aira."

"Alhamdulillah. Yuk ayo jalan."

Mereka pun akhirnya berdiri bersamaan dari sofa itu.

Makan malam pun berjalan dengan suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Meskipun masih ada sedikit rasa canggung yang tersisa di antara mereka, meskipun mereka masih menjaga jarak aman dan sopan santun saat berjalan berdampingan menuju ruang makan, tapi ada perbedaan yang sangat terasa jelas sekali.

Hati mereka berdua sekarang terasa jauh lebih dekat, jauh lebih hangat, dan jauh lebih tenang dari sebelumnya. Bayang-bayang ketakutan dan keraguan yang tadi sore menghantui Aira sudah hilang terbawa angin malam, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa karena tahu bahwa suaminya benar-benar memihak, benar-benar mencintainya, dan siap membela dia mati-matian.

Aira sadar betul malam ini.

Bahwa hidup berumah tangga itu tidak akan selalu mulus dan berjalan di atas bunga mawar saja. Pasti akan ada badai, pasti akan ada tantangan, pasti akan ada orang-orang yang tidak suka dan berusaha menjatuhkan.

Tapi selama ia dan Elvano saling percaya, saling memegang janji, dan saling melindungi, ia yakin mereka bisa melewati semua rintangan itu dengan kuat dan bahagia.

Cinta dalam diam yang selama ini ia simpan rapi di dalam dada, kini terasa semakin nyata dan semakin kuat adanya. Rindu dalam sentuhan yang selama ini hanya bisa ia impikan, kini perlahan mulai terwujud dalam bentuk perhatian dan kasih sayang yang tulus.

Malam itu pun berlalu dengan damai.

Badai sore tadi akhirnya reda, digantikan oleh pelangi kebahagiaan dan kedamaian yang indah di dalam hati mereka berdua.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!