Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan Rhea
Waktu begitu cepat berlalu bagi Rhea ketika mengajar anak anak didiknya. Seperti saat ini. Dia membantu merapikan tas dan pakaian mereka sebelum berjalan beriringan keluar kelas.
Rhea lega karena tidak ada pesan kalo om jomblonya akan menjemput para ponakan ponakannya.
Baguslah. Tensinya bisa melayang jauh kalo bertemu laki laki kurang ajar itu.
Rhea dan teman teman gurunya mengantar para murid di halaman di dekat tempat parkiran.
Yang menjemput rata rata pihak keluarganya, sebagiannya saja para baby sister anak anak itu.
"Opa !"
Rhea menatap laki laki paruh baya yang dipanggil opa oleh Rangga dengan dada berdesir. Laki laki itu seusia dengan papanya. Tapi bukan itu yang membuatnya tertegun. Opa Rangga ternyata memiliki kemiripan dengan laki laki jomblo itu. Di belakangnya juga ada seorang laki laki yang lebih tua, yang juga memiliki kemiripan dengan Opa Rangga dan laki.laki jomblo itu.
Mereka.keluarganya? batin Fhea curiga.
Kedua laki laki beda usia itu tersenyum saat menatapnya.
"Miss Rhea, ya?"Opa Hendy yang bertanya.
"Iya, pak," sahut Rhea rikuh.
"Panggil aja opa," senyum Hendy ramah sambil.mengamati Rhea. Dalam hati dirinya merasa senang kalo memang putranya tertarik dengan Rhea.
Pilihan Puspa memang ngga kaleng kaleng, batinnya antusias.
"Iya, opa." Rhea tersenyum.canggung.
Hendy tersenyum lagi sambil menggandeng.putri kembarnya Jennifer. Xavi menggandeng Rangga dan Samiya.
"Sudah kenal dengan cucu opa, Dave?" todong Hendy tanpa basa basi.
Rhea terkejut, ngga nyangka mendengar pertanyaan Hendy, karena Rhea pikir mereka akan langsung pulang.
"Sudah, dong, opa tua," Briella yang menjawab.
"Kemarin Om Dave, kan, yang jemput," sambung Samiya ikut menjawab.
"Oh iya." Opa Hendy tertawa pelan.
Rhea berusaha tetap tenang, walaupun hatinya jadi kesal mendengar nama laki laki kurang ajar itu diperbincangkan keluarganya.
"Hari ini dia sibuk, jadi ngga.bisa ikut menjemput," tukas Opa Hendy dengan sisa tawanya.
"Iya, opa." Rhea mencoba bersikap profesioanal. Padahal dalam.hati dia bersyukur karena laki laki itu tidak datang menjemput.
"Pamit sama Miss Rhea," titah Opa Hendy pada cicit cicitnya.
"Daah Miss....." Para bocil itu langsung menurut.
Rhea tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dia ngga salah, kan, kalo merasa lega setelah mereka pulang semua.
"Hati hati ditaksir sama.orang kaya," ucap Yana ketika para penjemput anak anak didik mereka sudah pergi meninggalkan gerbang sekolah.
Rhea hanya tersenyum.
"Kelihatannya opa Rangga naksir kamu," canda Wita kemudian tergelak.
"Ngga apa, sih. Biar tua yang penting kaya raya," timpal guru yang lainnya dalam tawa kerasnya. Beberapa yang mendengar juga tergelak.
Rhea juga tertawa agak sinis.
Dia ngga miskin miskin amat, kali, batinnya seakan balas mencela ejekan teman teman barunya.
Lagi pula teman teman gurunya salah sangka. Bukan Opa Rangga yang naksir dirinya. Rhea malah merasa opanya Rangga ingin menyodorkan anaknya yang jomblo itu dengannya
Haaah.... Dia ngga halu, kan?
"Kamu agak diistimewakan, ya," cuit Wita lagi ketika mereka sudah berada di ruang guru. Dia sempat melihat mobil yang menjemput
"Kan, lulusan luar negeri. Gimana, sih, kamu Wit." Yana yang menyahut.
Perasaan sensitif Rhea merasa kedua teman barunya agak nyinyir. Tapi dia mengacuhkannya. Tatapannya tetap ke arah layar ponselnya.
Mam, kenapa belum telpon?
Kak Vidya, telpon, dong.
Sampai hari ini mereka masih belum menelponnya.
"Rhe, Opanya Rangga duda loh," cuit teman gurunya yang tadi, Riri.
"Seumur bapak kitalah," kekeh Wita melanjutkan.
Rhea hanya tersenyum, yang dia yakini senyumnya pasti sudah sangat dipaksakan.
Sabar, Rhe. Sabar, batinnya Rhea mengingatkan kalo dia jangan sampai membuat masalah di kota ini
Kalo aja di Surabaya, pasti ngga akan begini responnya . Ternyata teman teman barunya ngga sebaik yang dia pikir.
Mungkin mereka kaget karena perlakuannya dibedakan banget dengan mereka. Rhea mencoba memaklumi.
Notif dari pak supir muncul di layar ponselnya.
Syukurlah, batin Rhea lega. Dia bisa pergi dari tempat yang lama lama bisa membuat kesabarannya menghilang.
"Duluan, ya," pamitnya berbasa basi.
"Oke."
"Hati hati."
Rhea hanya tersenyum tipis tanpa menyahuti lagi
*
*
*
Di perusahaannya, Nazar yang berada di ruangannya, memijat keras kepalanya. Di depannya sudah ada adiknya Nara.
"Masa Kak Arsati sampai segitu merahasiakan kepergian Rhea, mas?" sungut Nara kesal. Dia barusan tiba dari kotanya karena kakak laki lakinya ngga kunjung datang membawa keponakannya
Acara pertemuan Rhea dengn calon suaminya yang dibaluti dengan acara reuni keluarga mendiang calon suaminya jadi gagal karena Rhea menghilang.
"Mungkin Kak Arsati kesal karena aku waktu itu terlalu keras memarahi Rhea," sesal Nazar. Sampai hari ini istrinya tetap bungkam.
"Vidya ngga tau apa apa tentang ini?" Nara bertanya dengan raut sangsi.
Nazar ngga menyahut. Dia juga yakin kalo Vidya berbohong waktu mengatakan ngga tau apa apa.
Tapi dia sudah memata matai ponsel istri dan putrinya. Juga meminta pengawalnya mengawasi keduanya.
Sejauh ini Nazar tidak mendapati kedua orang terkasihnya menghubungi Rhea, putri bungsunya.
"Baskara juga belum mendapatkn info keberadaan Rhea ," keluh Nara.
"Teman teman Rhea juga ngga tau dimana Rhea." Papa Rhea-Nazar menghembuskan nafas panjang dan lama.
"Tumben Rhea ngga maen sosial medianya." Nara ngga habis pikir, biasanya keponakannya aktif di sosmed. Tapi setelah menghilang beberapa hari, sosial media keponakannya ngga aktif.
"Mungkin dia lupa passwordnya. Ponselnya ada di kamarnya," tukas Nazar. Dia sendiri yang menemukan ponsel putrinya di atas tempat tidur kamar putrinya.
Nara menghela nafas beberapa kali.
"Nara, kamu yakin Baskara menyukai Rhea?" Nazar bertanya setelah beberapa saat mereka tadi terdiam, sibuk dengan pikiran masing masing.
"Iya, Mas. Kata Baskara, dulu dia kakak kelas Rhea di SMA yang sama. Sebelum tau dia dijodohkan dengan Rhea, kata Baskara sudah beberapa kali pernah bertemu Rhea."
"Dia suka dengan Rhea?" tanya Nazar ngga sabar.
Nara menganggukkan kepalanya.
"Baskara tidak menolak perjodohannnya dengan Rhea, mas."
Nazar menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya ngga tenang, berharap Baskara tidak mendapatkan foto foto amoral putrinya.
Dia masih belum tau siapa yang mengirim foto foto itu ke nomor kontaknya. Nazar takut kalo pengirimnya akan menyebar luaskan foto foto tak pantas putrinya ke media sosial.
Tangannya memijat keningnya berulang kali.
"Ada apa, mas?"
Setelah menghela nafas panjang, Nazar memperlihatkan foto foto Rhea yang dikirimkan padanya waktu itu.
Mata Nara terbelalak.
"Kata Rhea, dia dijebak," cuit Nazar pelan.
"Dijebak siapa, mas? Teman temannya?" tanya Nara dengan perasaan shock.
Nazar mengedikkan bahunya.
"Rhea tidak bilang. Tapi siapa lagi, kan?"
Nara menutup mulutnya yang sempat ternganga.
"Teman Rhea, kan, Jani, Moli dan Talisha..... Mereka yang menjebak Rhea?" kaget Nara marah.
Nazar menggelengkan kepalanya.
"Mas juga belum tau siapa yang menjebak Rhea. Mas belum bertemu dengan mereka. Mas sudah telanjur kecewa."
Nara mengerti yang dirasakan masnya. Jani, Moli dan Talisha sudah berteman akrab dengan Rhea sejak SMA. Kemana mana mereka selalu bertiga sampai sekarang.
Jadi dia tidak mengerti, diantara mereka bertiga, siapa yang sudah jahat dengan keponakannya?
Nara menghembuskan nafas perlahan, membuang sesak di dadanya.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk