NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15. Gara-gara undangan

Nala merasa jantungnya baru saja melakukan terjun payung tanpa parasut. Ia berhasil menggiring Maya, Riri, dan Dika turun dari lantai atas dengan keringat dingin yang membanjiri punggungnya.

Di bawah kasur tadi, ia yakin Saga sedang menyusun rencana pembunuhan berencana untuknya.

Namun, masalah di depan mata jauh lebih mendesak: tiga sahabatnya ini memiliki insting detektif yang lebih tajam daripada silet cukur.

"Ayo makan! Piza kalau dingin itu rasanya kayak makan kardus lembap," seru Nala dengan nada ceria yang dipaksakan. Ia meletakkan kotak piza di atas meja makan marmer Saga, berusaha menutupi area kerja pria itu dengan tubuhnya.

"Sabar, Nal. Gue masih penasaran sama unit ini," ujar Maya sambil berkeliling.

"Gue baru tahu lo suka gaya mid-century modern begini. Sangat bukan lo yang biasanya suka pernak-pernik warna pink stroberi."

Nala tertawa garing.

"Ya... lingkungan kan mempengaruhi selera, May. Gue sekarang kan wanita karier... eh, calon wanita karier Jakarta."

Dika baru saja mau menarik kursi untuk duduk, ketika ujung matanya menangkap sesuatu yang terselip di bawah tumpukan majalah Architectural Digest yang ada di rak bawah meja makan. Sebuah amplop tebal berwarna krem dengan tekstur embossed yang sangat mewah.

"Eh, apa nih? Undangan?" Dika menarik amplop itu sebelum Nala sempat bereaksi.

Wajah Nala seketika berubah dari pucat menjadi seputih kertas HVS. Itu adalah draf undangan yang dibawa Tante Sofia tadi pagi untuk diperlihatkan pada mereka. Nala lupa menyembunyikannya!

"Dika, jangan! Itu... itu brosur perumahan!" seru Nala, mencoba menyambar amplop itu.

Dika menghindar dengan tangkas. Sebagai mantan atlet basket sekolah, refleksnya jauh di atas Nala.

"Brosur perumahan kok ada tulisan 'Save the Date' pakai tinta emas begini? Wah, gila! Ini undangan pernikahan!"

Maya dan Riri langsung mengerumuni Dika seperti semut menemukan gula.

"Apa?! Siapa yang nikah?!"

"Nala?!" Riri memekik setelah membaca sekilas tulisan di dalamnya.

"Di sini tertulis... Pernikahan Nala Rizki dan... lho, nama cowoknya dikosongin? Tapi tanggalnya sudah ada! Bulan depan?!"

Keheningan menyelimuti Unit 402 selama beberapa detik yang terasa seperti satu milenium.

Di lantai atas, di kolong tempat tidur yang gelap dan berdebu, Saga memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa mendengar teriakan itu dengan sangat jelas.

Habis sudah, batinnya. Reputasi saya sebagai arsitek terhormat akan berakhir sebagai skandal 'cowok di bawah kasur'.

"Nal... jelasin ke kita," suara Maya terdengar serius, tipe suara sahabat yang merasa dikhianati.

"Lo ke Jakarta bukan buat cari kerja, tapi buat nikah diam-diam? Dan siapa cowoknya? Kenapa namanya dikosongin di draf ini?"

Nala berdiri mematung di samping meja makan. Otaknya berputar seperti baling-baling helikopter yang sedang mengalami kerusakan mesin. Ia harus memilih: jujur dan mempertaruhkan harga dirinya, atau lanjut berbohong dan mempertaruhkan kewarasannya.

"Itu... itu bukan punya gue!" seru Nala tiba-tiba.

"Bukan punya lo? Namanya jelas-jelas Nala Rizki, Nal. Nama lo nggak pasaran-pasaran amat," sanggah Riri sambil menyilangkan tangan di depan dada.

"Maksud gue... itu... itu project!" Nala menemukan sebuah ide gila.

"Iya! Itu tugas wawancara kerja gue! Kan gue ngelamar jadi Wedding Consultant di salah satu event organizer besar. Nah, gue disuruh bikin draf konsep pernikahan sendiri sebagai tes kreativitas! Nama cowoknya sengaja gue kosongin karena... karena gue belum punya calonnya! Gue cuma berandai-andai!"

Dika menatap undangan itu, lalu menatap Nala dengan penuh keraguan.

"Tes kreativitas sampai pakai kertas semahal ini? Ini mah biaya cetaknya aja bisa buat bayar kosan gue sebulan."

"Makanya itu namanya tes untuk perusahaan kelas atas, Dika!" Nala mulai percaya pada bohongnya sendiri, suaranya makin lantang.

"Mereka mau lihat sejauh mana gue bisa tampil mewah dengan budget imajiner!"

"Tapi kenapa ada nama 'Sofia' di bagian catatan kecil di belakang sini sebagai penanggung jawab katering?" tanya Maya sambil membalik kartu itu.

Nala hampir saja pingsan. Tante Sofia memang benar-benar detail dalam mempersiapkan kehancuran hidupnya.

"Sofia itu... itu nama bos gue! Iya, Ibu Sofia, pemilik EO-nya! Dia yang ngasih draf kateringnya!" Nala menghapus keringat di dahinya dengan punggung tangan.

"Dah ah, balikin! Kalian ini ke sini mau makan piza atau mau jadi detektif swasta sih?"

Nala merebut undangan itu dengan kasar dan memasukkannya ke dalam laci meja makan, lalu menguncinya—sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak tadi.

Sementara itu, di bawah kasur, Saga merasa dadanya sesak. Bukan hanya karena debu, tapi karena ia merasa harga dirinya sebagai pemilik rumah sedang diinjak-injak oleh sandiwara konyol Nala.

Ia mulai merasa kesemutan di sekujur tubuh. Jika ia tidak keluar sekarang, ia yakin otot-ototnya akan membeku secara permanen.

Tiba-tiba, suara ponsel berbunyi. Bukan ponsel Nala. Bukan ponsel Maya, Riri, atau Dika.

Suaranya berasal dari... lantai atas. Di dalam kamar.

Bzzzttt... Bzzzttt... Bzzzttt...

Saga tersentak. Ia lupa mematikan suara ponselnya yang tadi diletakkan di atas nakas, tepat di atas kepalanya. Dan sialnya, yang menelepon adalah Ibu Sofia—ibunya sendiri yang mungkin ingin memastikan dia sudah memberikan "perhatian hidup" pada Nala.

"Suara HP siapa tuh?" Dika mendongak lagi.

"Nal, HP lo di meja. Itu HP siapa yang di atas?"

Nala mematung. "Itu... itu alarm! Iya, alarm jam beker gue! Gue emang sering pasang alarm buat jam makan vitamin!"

"Suaranya beda, Nal. Itu nada dering standar ponsel mahal," sahut Riri. Ia mulai curiga lagi. "Gue mulai merasa ada yang nggak beres di sini. Lo nggak lagi nyembunyiin cowok di atas, kan?"

Riri mulai melangkah menuju tangga. Nala mencoba menghalangi, tapi Maya dan Dika ikut bergerak. Mereka merasa ada sesuatu yang Nala sembunyikan, dan sebagai sahabat, mereka merasa harus "menyelamatkan" Nala dari apa pun itu.

"Guys, jangan! Di atas beneran berantakan!" Nala berteriak, tapi ia kalah jumlah.

Ketiga temannya merangsek naik ke lantai atas.

Nala mengikuti dari belakang dengan wajah yang sudah seperti orang mau dieksekusi mati. Mereka masuk ke kamar utama. Kamar itu kosong, rapi, dan sangat elegan.

Ponsel di atas nakas masih bergetar. Dika mendekat dan membaca nama yang tertera di layar.

"Saga Mahardika?" gumam Dika. "Siapa Saga Mahardika? Dan kenapa HP-nya ada di kamar lo, Nal?"

Nala berdiri di ambang pintu, tangannya gemetar. "Saga itu... Saga itu nama kucing gue! Iya, kucing pintar yang bisa pakai HP!"

"Nala, jangan bercanda!" bentak Maya. "Ini ponsel pria!"

Saga tahu ini adalah akhir dari persembunyiannya. Ia tidak punya pilihan lain. Daripada ditarik keluar seperti tikus got, lebih baik ia keluar dengan sedikit sisa martabat yang ia miliki.

Perlahan, Saga merayap keluar dari bawah kasur. Ia berdiri dengan susah payah, merapikan kaus hitamnya yang penuh debu, lalu menatap ketiga teman Nala dengan tatapan dingin dan tajam—tatapan khas seorang arsitek yang sedang mempresentasikan kegagalan struktur bangunan.

Maya, Riri, dan Dika mundur serentak, mulut mereka menganga lebar.

"Ada siapa sayang," suara Saga berat dan datar. " Oh ada tamu, halo, saya Saga Mahardika. Pemilik rumah ini. Dan... 'kucing' yang Nala maksud tadi."

Nala menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.

"Jadi..." Riri menunjuk Saga dengan telunjuk yang bergetar. "Lo... lo tinggal bareng cowok ganteng ini, Nal?"

"Bukan cuma tinggal bareng," sahut Saga sambil menoleh ke arah Nala dengan senyum miring yang penuh ancaman. "Bukannya kamu tadi bilang ke teman-temanmu kalau kita sedang dalam 'tes kreativitas' pernikahan, Sayang?"

Nala mendongak, matanya melotot ke arah Saga. Apa-apaan dia?! Kenapa malah makin memperkeruh suasana?! batin Nala.

"O-oh, jadi ini calonnya?!" Maya memekik kegirangan, kecurigaannya berubah menjadi antusiasme luar biasa dalam sekejap.

"Gila, Nal! Lo dapet arsitek secakep ini dan lo diem-diem aja?! Pantesan lo bilang undangannya itu tes kreativitas, ternyata emang beneran mau nikah!"

"Nggak! Bukan begitu!" Nala mencoba menjelaskan, tapi Saga segera merangkul bahunya dengan erat—begitu erat hingga Nala kesulitan bernapas.

"Maaf ya, kami tadinya mau kasih kejutan bulan depan," ujar Saga dengan nada suara yang sangat meyakinkan, tipe suara yang biasa ia gunakan untuk meyakinkan klien agar mau mengeluarkan dana miliaran rupiah.

"Tapi karena kalian sudah di sini, ya sudah. Selamat datang di rumah calon istri saya."

Nala mencubit pinggang Saga dengan sekuat tenaga, tapi pria itu hanya tersenyum makin lebar, meski urat di lehernya menegang menahan sakit.

"Aaaa! Selamat ya Nala!" Riri memeluk Nala dengan heboh.

"Kita nggak nyangka lo secepat ini dapet jodoh di Jakarta!"

Dika mendekati Saga dan menjabat tangannya dengan kaku.

"Keren lo, Mas. Bisa tahan tinggal sama Nala yang berisik begini. Tapi tadi ngapain Mas di bawah kasur?"

Saga berdeham.

"Oh, itu... saya sedang memeriksa struktur lantai. Ada sedikit keretakan yang mengganggu estetika kamar."

"Wah, arsitek banget ya! Sampai kolong kasur aja dicek!" puji Dika polos.

Nala hanya bisa tersenyum kecut. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya akan jauh lebih rumit.

Teman-temannya sekarang tahu tentang Saga, dan Tante Sofia sudah menyiapkan gedung pernikahan. Ia benar-benar terjebak dalam jaring laba-laba yang ia buat sendiri.

"Nah, karena sudah kenalan, gimana kalau kita makan pizanya di bawah?" ajak Saga dengan sopan, namun matanya memberikan isyarat pada Nala: 'Kita bicara setelah ini.'

Saat teman-temannya turun dengan penuh keceriaan, Nala menahan lengan Saga di tangga.

"Mas, kenapa Mas ngaku-ngaku begitu?!" bisik Nala emosi.

"Daripada saya dibilang maling atau simpanan kamu? Lebih baik saya jadi 'calon pengantin' semalam saja," jawab Saga dingin.

"Sekarang, beresin kekacauan ini, Nala. Dan pastikan teman-temanmu itu pulang sebelum saya benar-benar kehilangan kesabaran dan melempar mereka semua dari balkon."

Saga melepaskan tangan Nala dan berjalan turun dengan gaya yang sangat berwibawa, meninggalkan Nala yang masih terpaku.

Di Unit 402, garis batas selotip mungkin sudah hilang, tapi batas antara kebohongan dan kenyataan kini benar-benar telah lenyap.

Dan Nala tahu, tiga puluh hari ke depan akan menjadi neraka paling manis yang pernah ia alami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!