NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:32.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08 Sepiring Berdua

Santaka menggoyangkan rahangnya. Kepalanya menggeleng perlahan. Nandini ini perempuan bodoh, tak tahu diri atau bagaimana?

Wanita itu jelas-jelas tak mau ada rekonstruksi ulang adegan di mobil Santaka—yang membuat mereka nikah paksa—dalam waktu dekat, tapi malah memancing di syahwat—eh, air keruh. 

Lihatlah bagaimana wanita itu tidur. Posisinya telentang dengan kaki melebar. Tungkai jenjangnya hingga setengah paha terpampang nyata. 

Kulit kuning langsatnya yang cerah bersinar terekspos sempurna, bahkan dalam kamar remang-remang. Profesi boleh montir, penampilan membuat pria ketar-ketir.

Yang paling bombastis dan membuat Santaka kurang tidur adalah dengan kaus tipis yang istrinya pakai, ia malah melepas pakaian dalam atasnya. Santaka paham itu atas dasar kenyamanan dan kesehatan.

Tapi seharusnya Nandini melihat-lihat situasi. Sekarang ia tidur sekamar—koreksi—sekasur dengan pria dewasa, normal dan berstatus suaminya. Kaus tipis itu memberikan kesan yang malah membuat penasaran. Ada lekuk tersamar dan parahnya... putik tercetak. Gadis edan!

“Mbak Dini... Mbak...” Santaka menggoyangkan bahu istrinya. Ingin hati, tangannya diperbolehkan bergeser sedikit ke arah yang tercetak tapi Santaka yakin Nandini akan mereog. 

Masih jauh dari Subuh, masa mau disidang lagi karena bertengkar di malam pertama. Bertengkar dalam arti sebenarnya.

“Mbak, kita solat tahajud dulu yuk.” Santaka kembali mengguncang pundak istrinya. “Mbak, ayo. Nanti keburu Subuh.”

Nandini bergumam. “Apa sih? Ganggu pol!” Nandini memiringkan tubuh ke arah Santaka. Tangan kirinya menimpa paha lelaki itu.

Santaka menutup matanya. Lama-lama ia serang juga Nandini. Bukankah kata orang-orang serangan fajar itu mantap?

“Mbak, tangan Mbak di atas paha saya. Saya bales ya,” bisik Santaka.

Perlahan mata Nandini terbuka, ia terdiam, mengumpulkan nyawa. Wanita itu bangkit, duduk, dalam gerakan cepat.

Tersadar sesuatu, Nandini menyilangkan tangan di depan dadanya. Matanya menyorot tajam pada Santaka.

“Gus, liat ndak?”

Santaka tersenyum simpul. “Ya liat, saya punya mata, Mbak.”

Mata Nandini menyipit. Rahangnya bergoyang. Mau marah tapi itu kesalahannya sendiri. Ia berlari terbirit-birit ke kamar mandi.

Santaka terkekeh. Pintu kamar mandi kembali terbuka. Nandini berjalan cepat ke arah kasur. Masih menyilangkan tangan kiri di dada, tangan kanannya menyambar cepat bra di pinggir kasur.

“Apa liat-liat?!” Mata Nandini mendelik kepada Santaka. Lelaki itu tergelak. Kepalanya menggeleng.

*

*

Nandini menusukkan jarum pentulnya ke kain kerudung segiempat berwarna khaki. Ia mematut diri di cermin. 

Santaka menatap aksi istrinya dari kasur. Ia bangkit dan berdiri di samping Nandini. Ikut memastikan kerapian penampilannya melalui cermin. 

Nandini memiringkan bibirnya. Ia bergeser. Santaka tak mengindahkannya. Ia mengantuk gara-gara istrinya tak sadar diri. Inginnya tidur sekejap, tapi kini saatnya mereka sarapan.

“Mbak, biar orang-orang ndak curiga nanti Mbak jangan terlalu dingin sama saya. Agak mepet-mepet. Kayak pengantin baru saja. Terus kalau bisa mesra. Umi sama Abi itu mesra, jadi mereka suka kalau anak-anaknya juga mesra.”

“Harus ya?”

“Pilih mana, pura-pura mesra di depan orang atau saya mesra beneran di atas kasur?” Santaka mengangkat alisnya.

Nandini merengut. “Tapi jangan modus, Gus, pura-puranya!”

“Ya... tipis-tipis bolehlah.” Santaka terkekeh. Nandini menatap geram. Tangannya gatal ingin menonjok sang suami.

Sepasang pengantin baru itu berjalan ke arah ruang dalam Ndalem, sebuah ruangan tempat keluarga Mansur bercengkerama. Abdi ndalem yang mereka lewati, mengangguk takzim, yang dibalas hormat serupa oleh Santaka. 

Nandini lebih banyak meringis. Tak terbiasa orang menganggapnya setinggi itu.

Santaka menggenggam tangan Nandini. Wanita itu terkesiap, dahinya mengernyit. Ia menahan langkah suaminya. 

“Sebentar lagi kita masuk ruang dalam. Kita senangkan hati Abi Umi,” bisik Santaka. Nandini menahan napasnya.

“Assalamu’alaikum.” Suara bariton Santaka mengalun ketika mereka memasuki ruang dalam. Semua menoleh dan menjawab serempak. “Wa’alaikumsalam.”

Seluruh keluarga sudah berkumpul termasuk Ahsan, sepupu dan Syifa, anak sahabat Lastri, yang merupakan mantan calon dijodohkan. Belum sempat dijodohkan sudah disalip Nandini. Berkat campur tangan kecoa.

“Wah, akhirnya... Pengantin baru kita datang. Capek tenan mukanya, joss Taka?” Semua tertawa karena gurauan Danendra. Husna memukul lengan suaminya.

“Masuk, Le, Nduk. Sini duduk dekat Abi sama Umi.” Lastri menepuk permukaan karpet merah tebal di sampingnya.

Syifa tercekat melihat kedatangan Santaka, yang sayangnya bersama istri barunya. Hatinya perih melihat raut wajah Santaka yang cerah walau matanya terlihat mengantuk.

Apa sebegitu dahsyatnya malam pertama gus yang terkenal paling kalem di antara saudaranya itu?

Kalbu Syifa makin teriris ketika menyaksikan sendiri Santaka menggenggam erat tangan Nandini. Jemari mereka saling tertaut. Tangan kokoh Santaka yang terjaga dari lawan jenis, kini dikuasai Nandini. 

Beruntung sekali wanita itu. Amalan apa yang Nandini miliki hingga bisa semujur itu?

Ahsan menatap Nandini sebelum akhirnya menunduk. Setelah kemarin tersihir melihat penampilan Nandini dalam cadar. Gaya wanita itu dalam mode Ning kembali menghanyutkan Ahsan.

Ada rahasia dalam hati Ahsan. Sebenarnya ia telah menaruh hati dari sekitar tiga bulan lalu pada Nandini. Pembawaannya yang hangat dan unik—serta tak munafik—karena kecantikannya, memikat Ahsan.

Gus muda itu tak berani melanjutkan perasaannya karena ia meyakini perasaannya akan tertolak oleh keluarganya. Tak mungkin pondok Al Fatih atau pondok ayahnya di Magelang akan merestui wanita dengan latar belakang seperti Nandini.

Bagaikan komet di langit malam, Santaka—sepupunya—menikahi pujaan hati Ahsan secara tiba-tiba, dengan mudahnya. Tanpa kendala. 

Ahsan tak terima. Seandainya ia seberani Santaka. Sepupunya yang tampak klemer-klemer itu ternyata berani memperjuangkan cintanya.

Nandini duduk di samping Lastri. Santaka berposisi di sebelah sang istri. Duduk merapat. Lutut mereka menempel. Yang melekatkan tentu saja, Santaka. Ia tersenyum simpul pada Nandini, yang hanya mampu tersenyum kaku.

“Ahlan wa sahlan, Mbak Dini,” Lastri tersenyum.

“Itu artinya selamat datang. Jawab ahlan biki Umi. Cara jawabnya begitu,” bisik Santaka di telinga sang istri. Nandini menjawab sesuai instruksi sang suami. Lastri mengelus lengan menantunya. Syifa menunduk, iri.

“Mbak Dini, kita sekarang mau sarapan. Sesuai sunah rasul, untuk menambah keberkahan dan rasa cinta di antara suami istri, yang sudah menikah di sini, makan sepiring berdua, kembulan istilahnya.” Lastri menunjuk piring yang sudah tersaji di depan Nandini.

Nandini mengedarkan pandangan. Setiap pasangan—Abi-Umi; Abyasa-Sarah; Danendra-Husna—juga memiliki piring sejenis di depan mereka.

Walah, bener-bener suka kemesraan ternyata Abi sama Umi. Pantes Gus Roti modusnya kenceng. Mendarah daging.

“Silakan semua, kita mulai makan.” Lastri sebagai nyonya rumah mempersilakan semuanya untuk makan.

Terdengar ucapan basmallah dari tiap orang. “Kita makan pakai tangan, biasa disebut muluk, sunah Rosul,” bisik Santaka. Nandini mengangguk.

Nasi liwet itu menggoyang lidah Nandini. Dengan lahap ia menyuap makanan bercita rasa gurih itu. Tiba-tiba tangan besar Santaka yang berisi makanan, muncul di depan mulut Nandini. 

“Aaa, Mbak, biar kita berkah, saling nyuapin.” Mata Santaka mengerling.

Mata Nandini membulat, bibirnya menipis. Tangan Santaka malah menempel di bibir tebal Nandini. Mau tak mau, ia membuka mulutnya.

Dengan perlahan, nasi dan kawan-kawan, masuk ke dalam mulut Nandini. Santaka mengelus bibir istrinya. Wanita itu makin melotot. 

“Alhamdulillah...” Suara Lastri terdengar.

Aduh, ibu mertua, jangan terlalu ikut campur. Anak Umi modus ini. Caper tenan!

Santaka tersenyum menggoda pada Nandini. “Sekarang suapin saya, kita ganti-gantian.”

Nandini menahan napas. Tangan kanannya menyuapi Santaka, tangan kirinya mengepal. 

Santaka kembali menyuapi Nandini, berulang, bergantian dengan suapan Nandini kepada dirinya. Setiap suapan Santaka akhiri dengan membelai lembut bibir istrinya. 

Nandini merapatkan rahangnya. Ia menelusupkan tangannya ke lipatan sarung Santaka, ia cubit paha suaminya itu. Cubitan memutar, pedas. Santaka mendelikkan matanya. Nandini tersenyum tipis.

Aksi Nandini terpindai Syifa. Makanannya terasa tersangkut di kerongkongan. Ia buru-buru minum. Pasangan baru itu sungguh mesra, panas, bahkan di depan keluarga.

Ahsan memelankan kunyahannya. Inilah sisi menarik dari wanita di luar pondok, menurut Ahsan, mereka lebih ekspresif. Lebih membakar kelaki-lakiannya.

Seperti yang dilakukan oleh Nandini, menggoda suami, kapan pun, di mana pun. Api gairah yang membara, sangat menarik. Sial, ia iri pada Santaka.

Akhirnya makanan di piring mereka berdua habis. Nandini mengembuskan napas panjang. Mereka mencuci tangan dengan air kobokan yang dilengkapi jeruk nipis.

“Enak makanannya, Nduk? Cocok sama masakan di sini?” tanya Lastri. Nandini tersenyum, terenyuh dengan perhatian sang ibu mertua.

Nandini menggangukkan kepala. “Alhamdulillah, cocok Umi. Takut tapi Umi.” 

“Takut apa?” Lastri mengerutkan dahi.

“Takut Dini nanti gendut,” seloroh Nandini. Lastri terkekeh dengan anggun. Nandini tersipu.

Jauh tenan sama diriku, aku kalau ketawa kayak Umi, pasti ndak anggun.

“Saya tetep cinta kok sama Mbak Dini, walau gendut.” Santaka tersenyum manis. Lidahnya ternyata lihai juga menebar kemesraan palsu. Tak apa, memang sunnah juga mengucap kata cinta.

Lastri semakin tertawa mendengar perkataan putranya. Nandini tersenyum kaku.

Dhuh, buat seneng Umi yo ndak berarti bablas modus tho, Gus Rotiii!

Santaka menatap istrinya. Lucu juga wajahnya tadi saat disuapi. Ia bertekad akan sering-sering menyuapi Nandini. Sunnah Rasul sekaligus menggoda istrinya. Santaka suka wajah mendelik gadis itu.

Setelah berbincang-bincang sejenak, keluarga Mansur membubarkan diri. Danendra dan Husna mendekati pasangan baru itu.

“Taka, ini hadiah dari Mas. Paket bulan madu. Supaya makin rapet, makin hangat.” Danendra tersenyum menggoda lalu menyodorkan amplop putih pada adiknya.

"Matur nuwun, Mas." Santaka melirik penuh arti pada Nandini.

Nandini terperangah. Bulan madu? Gusti Allah, cobaan apa lagi ini??

1
Nanik Arifin
Gus gila, makin gila aj cari sekutu
Aisyah Virendra
ooohhh si kelekkkk balik lagiii 🤨🤨🤨 napa sih ga lgsg balik ke laut ajaaa lexxx ya ampunnn kelekk bikin ribet aja deh 🙄
Inna Kurnia: heheheh😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Obsesi yg menggila ntar jatuhnya gila beneran loh ahsan 🤨 ga takut nih masuk RSJ gegara cinta gila 🤏
Inna Kurnia: hahaha, kasian juga yaa klo gila 🤭
total 3 replies
Nanik Arifin
kelakuanmu, Gus gendeng...
Gus gendeng...
cocok bener jd anaknya kyai Sableng
Inna Kurnia: si Wiro jadi apa Kak Nanik? 🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Makanya Syifa kamu itu jangan ikut²an beleng ky Ahsanulpret 😏 dia itu punya obsesi gila ke Dini, btw gimana reaksi dia pas tau Dini Hamil 🤪 duhhh Santaka junior bakalan hadir ❤️
Inna Kurnia: next yaa
total 1 replies
Aisyah Virendra
duhhh puas banget mbokkk 🤨
Inna Kurnia: heheheh
total 1 replies
Aisyah Virendra
dasar yaa lambe turah 😏😏😏
seenakny aja klo ngmg hamil sm yg bukan suaminya 🙄 emang dini serendah itukah dimata kalian yg tidak tahu inti fitnah.. 🤨
Inna Kurnia: realitanya gitu yaa
total 1 replies
Aisyah Virendra
dimaafkan kak inna, dikit tapi hehee 🤏
Inna Kurnia: siippp
total 5 replies
Aisyah Virendra
baik
smg kak Inna sehat selalu dan dipermudah urusannya di RL biar bisa kasih crazy up terus disini 🤏
Aisyah Virendra: alhamdulillah ❤️❤️
total 2 replies
Aisyah Virendra
Begitu memang orang tua tuh, ngelihat sesuatu dlm video gabisa menerka² kejadian yg sesungguhnya, padahal mantu baru lagi mengandung ahli waris Al Fatih.
kamuuu Ahsan jgn kmu senang duluu yaaa, galama ntar bagianmu yg akan ditusuk duri kebenaran, tunggu saatnya tiba.. 😏😏😏
Inna Kurnia: aduh, ditusuk, aww🤣🤣🤣
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Othooor... nungguuu niih.... sehat selalu.... penasaran yg dilakuin Boy deeh
Inna Kurnia: sudah up ya, masih review NT.

Boy besok. Hari ini kita liat POV Sarah sama Abyasa dulu...dan pastinya Umi ❤️❤️
total 1 replies
Fatia An-nafi'
semakin kesini semakin seru
Inna Kurnia: terima kasih Kak Fatia untuk reviewnya ❤️❤️
total 1 replies
Nanik Arifin
dasar Gus sableng. g takut dosa. malah cari sekutu buat fitnah lagi...putra siapa nih.... ??
Inna Kurnia: Bapaknya lagi sakit, Kak Nanik... Kasian 🥲🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Diihhh dasar Kadal yg sedang terobsesi sm Nandini dan perceraian Takadini 🙄🙄
Syifa baiknya kamu bertaubat deh drpd kmu yg udah tersesat malah makin sesat dan jadi setan macam siKadal AhsanuLPreet 😏😏😏
Inna Kurnia: 🤭🤭🤭🤭 🤭
total 3 replies
Mimi Samsung
alur menarik pengen baca terus
Inna Kurnia: Terima kasih Kak Mimi untuk ulasannyq ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
bagus deh klo boy ikut ke ndalem.. biar ntar syifa naksir lagi sm boy terus dihempaskan lagi deh 🫠🤣

btw, syafahallah (anakny kak Inna) 😇
Inna Kurnia: hahaha... kasian cipa...

aamiin, jazaakillaahu khoyr, Kak Aisyah 🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
sella
si Ahsan bukannya sukanya yg barbar yak gak mau cewe yg kalem lurus nah si Shifa kan barbar aslinya dah jodoh🤭🤣
Inna Kurnia: barbarnya ketutup jaim, Kak Sella 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Harusnya sih ada yaa salah 1 dari Fiona, Nandini Santaka dan Boy yg ahli IT, jadi bisa melacak siapa pemilik no pengirim Video, retas sekalian ponselnya ala agen rahasia 🤔
Inna Kurnia: hihihi...tenang yaa Kak Aisyah
total 1 replies
Aisyah Virendra
Duhh ujian bumil baruuu, Ahsanulllllll awas yaa kamuuu... 🙄😏
Aisyah Virendra: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Sri Jumiati
gara gara kecoa
Inna Kurnia: jalan takdir Kak ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!