NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Suasana di ruang tamu mendadak berubah menjadi sangat dingin, seolah-olah seluruh kehangatan yang dibawa Bapak dari perantauan menguap begitu saja. Bapak duduk terdiam di kursi jati, menatap kosong ke arah bungkusan oleh-oleh yang baru saja ia letakkan. Di hadapannya, Mbah Neni duduk dengan wajah yang sangat serius, sementara Ibu hanya bisa terisak pelan di sudut ruangan. Aku dan Mas Dika hanya bisa tertunduk, membiarkan keheningan yang mencekam ini mencabik-cabik keberanian kami yang tersisa.

Mbah Neni menghela napas panjang, suaranya terdengar sangat berat saat ia akhirnya memutuskan untuk memecah keheningan. "Man... ada hal yang nggak bisa lagi ditutup-tutupi. Kamu harus tahu kenapa pernikahan ini harus dilakukan secepatnya," ucap Mbah Neni dengan nada yang sangat hati-hati. Beliau menatap Bapak dengan tatapan iba, seolah sedang bersiap menjatuhkan vonis yang sangat berat.

Bapak masih terdiam, namun aku bisa melihat rahangnya mengeras. "Maksud Bulek apa?" tanya Bapak singkat, suaranya rendah namun bergetar.

"Aira... anakmu sedang mengandung, Man. Sudah jalan enam bulan," lanjut Mbah Neni.

Kalimat itu seperti petir yang menyambar tepat di tengah ruangan. Aku bisa merasakan dunia seolah berhenti berputar. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menunggu ledakan amarah, makian, atau bahkan pukulan yang mungkin akan mendarat di tubuhku. Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku. Bapak tidak berteriak. Bapak tidak memukul meja. Bapak hanya diam mematung, seolah-olah seluruh jiwanya baru saja dicabut paksa dari raganya.

Keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian manapun. Aku memberanikan diri melirik ke arah Bapak. Beliau menatapku, tapi bukan dengan tatapan amarah yang biasa kulihat saat beliau marah, melainkan dengan tatapan hancur yang paling dalam. Bapak menatap perutku yang tersembunyi di balik jaket, lalu kembali menatap wajahku seolah sedang mencari sosok anak perempuan kecilnya yang dulu selalu ia banggakan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bapak bangkit dari duduknya. Langkah kakinya terasa sangat berat dan gontai saat ia berjalan menuju arah kamar mandi di belakang. Mas Dika mencoba berdiri untuk mengejar, namun Mbah Neni memberi isyarat agar kami tetap di tempat. Kami semua hanya bisa terpaku mendengarkan suara pintu kamar mandi yang tertutup pelan.

Dari balik dinding kayu yang tipis, aku tidak mendengar suara amarah atau barang pecah. Yang terdengar hanyalah suara gemericik air yang dinyalakan dengan deras, seolah Bapak sedang berusaha menyamarkan sesuatu. Namun, isak tangis yang tertahan tetap sampai ke telingaku. Bapak menangis. Pria yang selama ini kukenal sangat keras, pria yang rela membanting tulang di kota orang demi kuliahku, kini sedang meratapi kehancurannya sendirian di balik pintu kamar mandi yang lembap.

Setiap isakan kecil yang bocor di sela suara air terasa seperti sembilu yang menyayat jantungku. Aku telah membunuh kebanggaan Bapak. Aku telah menghancurkan satu-satunya alasan beliau tetap bertahan di perantauan. Rasa bersalah ini begitu menyesakkan hingga aku merasa tidak pantas untuk tetap bernapas di rumah ini. Bapak tidak marah dengan suara keras, tapi diamnya Bapak dan tangisannya yang sunyi adalah hukuman yang paling kejam yang pernah kuterima sepanjang hidupku.

Suara gemericik air di kamar mandi mendadak berhenti, menyisakan kesunyian yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Tak lama kemudian, pintu kayu itu berderit terbuka. Bapak melangkah keluar dengan bahu yang tampak merosot, seolah beban seluruh dunia baru saja diletakkan di atas pundaknya. Wajahnya yang legam kini tampak basah, entah karena air wudu atau sisa air mata yang berusaha ia basuh. Namun, matanya yang merah dan sembap tidak bisa berbohong,Bapak baru saja hancur di dalam sana.

Beliau kembali ke ruang tamu, namun tidak langsung duduk. Bapak berdiri mematung, menatap lurus ke arah Mas Dika dan aku yang masih bersimpuh di lantai tegel. Suaranya yang biasanya lantang kini terdengar serak dan sangat lelah.

"Kapan pernikahannya dimulai? Sudah sampai mana persiapannya, Bulek?" tanya Bapak tanpa menoleh ke arahku. Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah formalitas yang dipaksakan hanya agar ia tidak ambruk di tempat.

"Rencananya minggu ini, Man. Urusan surat-surat sudah mulai diurus Dika," jawab Mbah Neni dengan suara lirih.

Bapak akhirnya mengalihkan pandangannya padaku. Tatapan itu... aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku. Bukan amarah yang kulihat, melainkan luka yang sangat dalam. "Aira... kenapa, Nduk? Kenapa kamu sampai begini?" Bapak menggelengkan kepala perlahan, air mata kembali menggenang di sudut matanya yang mulai keriput. "Kalau kamu memang mau menikah dengan Dika, Bapak bisa nikahkan kalian dulu. Bapak nggak akan larang kalau itu memang pilihanmu. Bapak bisa pulang lebih awal untuk wali kamu, nggak akan kejadian seperti ini kalau kamu jujur..."

Aku hanya bisa terisak, menekan wajahku ke lantai. Kata-kata Bapak jauh lebih menyakitkan daripada tamparan. Beliau tidak menyalahkanku karena ingin menikah, beliau menyalahkanku karena tidak percaya padanya sampai harus memilih jalan yang sesat ini.

Bapak kemudian beralih ke arah Mas Dika. Sorot matanya berubah menjadi tajam dan dingin. "Dan kamu, Dika. Bapak tahu orang tuamu tidak pernah merestui hubungan kalian selama tiga tahun ini. Lalu apa yang kamu lakukan? Kamu pikir dengan 'merusak' anakku, orang tuamu akan luluh? Kamu pikir ini cara laki-laki untuk mendapatkan restu?"

Mas Dika bersujud di depan kaki Bapak, tubuhnya bergetar hebat karena rasa bersalah yang tak terhingga. "Maafkan Dika, Pak... Dika benar-benar minta maaf. Harusnya Dika berjuang dengan cara yang benar, bukan dengan cara pengecut seperti ini. Dika yang salah, Pak... Dika yang sepenuhnya salah."

"Kesalahanmu tidak bisa dibayar dengan kata maaf, Dika," sahut Bapak dingin. "Kamu sudah mencuri harga diri anak perempuanku. Kamu sudah membunuh harapan yang aku bangun belasan tahun di perantauan."

Bapak terduduk kembali di kursi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar. Kesunyian kembali menelan ruangan itu. Di antara isak tangisku dan permohonan maaf Dika, aku menyadari satu hal: meskipun kami akan menikah, pecahan kepercayaan Bapak tidak akan pernah bisa direkatkan kembali seperti semula. Pernikahan ini bukan lagi tentang kebahagiaan, melainkan tentang menebus dosa di atas air mata orang tua.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!