Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Teratai Di Atas Abu
Bab 1 — Malam Abu dan Darah
Langit malam itu kelabu, diselimuti asap hitam yang mengepul tinggi seolah hendak menelan bulan dan bintang. Angin kencang bertiup kencang, membawa serta bau anyir darah dan bau hangus yang menyengat hidung. Di kawasan Pegunungan Teratai, tempat berdiamnya Klan Teratai Suci—salah satu kelompok persilatan tertua dan paling disegani—kini tak lagi tampak kemegahan dan ketenteraman seperti sedia kala. Api besar menjalar ke mana-mana, melahap bangunan-bangunan kayu yang telah berdiri ratusan tahun, menelan taman-taman yang dulu penuh bunga, dan mengubah seluruh wilayah itu menjadi lautan kobaran api yang mengerikan.
Di antara gemuruh api dan deru angin, terdengar suara benturan senjata, teriakan pertempuran, serta rintihan kematian yang memilukan. Pasukan bertanduk hitam dengan lambang tetesan darah di dada mereka—orang-orang dari Menara Darah Hitam—bergerak laksana gelombang maut, membunuh siapa saja yang bergerak, tanpa memandang tua muda, laki-laki maupun perempuan. Mereka datang bagai badai yang tak terduga, menyerang dengan kekuatan dahsyat dan sihir gelap yang mengerikan, hingga para pendekar Klan Teratai Suci yang tangguh sekalipun tak sanggup menahan serbuan itu.
Di sudut halaman belakang yang hampir runtuh, Lian Hua—seorang anak berumur dua belas tahun, murid termuda di klan itu—bersembunyi di balik tumpukan kayu dan puing-puing, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan dan dingin. Wajahnya penuh debu dan noda hitam, matanya yang bening kini basah oleh air mata yang berusaha ia tahan. Di hadapannya, berdiri sosok tua berjubah putih yang telah roboh bersandar pada dinding yang mulai runtuh—Guru Besar Qing Yuan, orang yang telah mengasuhnya sejak kecil, orang yang dianggapnya seperti ayah sendiri.
Jubah putih Guru Besar Qing Yuan kini penuh dengan luka robek dan noda darah merah tua. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi, namun tatapan matanya masih memancarkan keteguhan yang dalam. Ia menatap Lian Hua dengan pandangan penuh kasih sayang dan kesedihan, lalu perlahan mengulurkan tangan yang gemetar, menggenggam sebilah liontin kecil berukiran bunga teratai yang terbuat dari batu giok berwarna hijau pucat.
"Dengarkan aku baik-baik, Hua'er..." suaranya lemah namun tegas, terdengar jelas di tengah hiruk-pikuk di sekeliling mereka. "Klan kita telah jatuh. Menara Darah Hitam datang dengan niat memusnahkan kita sampai ke akar-akarnya. Kau adalah satu-satunya harapan yang tersisa... Pergilah, lari sejauh mungkin ke arah utara. Jangan menoleh ke belakang, jangan berhenti, dan jangan biarkan siapa pun mengetahui siapa dirimu atau benda yang kau bawa ini."
Lian Hua menahan isak tangisnya, ia ingin sekali menangis dan memohon agar gurunya ikut bersamanya, namun ia tahu betapa parahnya luka yang diderita lelaki tua itu. "Guru... aku tidak mau pergi... aku ingin tetap di sini bersamamu..."
Guru Besar Qing Yuan menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya yang berdarah. Ia meletakkan liontin giok itu ke tangan Lian Hua, lalu menutup jari-jemari anak itu hingga menggenggam benda itu erat. "Liontin ini bukan sekadar pusaka klan, melainkan kunci dari rahasia besar yang telah disimpan leluhur kita turun-temurun. Kelak, bila kau telah cukup kuat dan saat yang tepat tiba... kau akan paham maknanya. Ingatlah, darah dan nama Klan Teratai Suci tidak boleh lenyap begitu saja. Teratai tumbuh dari lumpur namun tetap mekar bersih; begitulah jalan yang harus kau tempuh."
Suara langkah kaki berat mendekat, disertai suara tawa dingin yang mengerikan. "Di mana dia? Aku yakin orang tua itu masih bersembunyi di sini!"
Wajah Guru Besar Qing Yuan berubah tegas. Ia mendorong tubuh Lian Hua masuk ke dalam celah sempit di balik tumpukan puing, lalu menutupnya dengan potongan kayu berat. "Pergilah! Hiduplah... dan bila nasib mengizinkan... balaskanlah dendam ini!"
Sebelum Lian Hua sempat menjawab, sosok berjubah hitam telah muncul di hadapan gurunya. Sebilah pedang panjang berkilau merah terayun ke udara, dan dalam sekejap, tubuh lelaki tua itu terhempas ke tanah, darah segar memancur membasahi tanah yang sudah berwarna merah.
Lian Hua menutup mulutnya dengan kedua tangan sekuat tenaga agar tidak bersuara, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dari celah kecil, ia melihat sosok-sosok itu pergi setelah memastikan tak ada lagi yang hidup di sana, meninggalkan mayat gurunya tergeletak diam di tengah kobaran api yang semakin membesar.
Setelah suara langkah kaki itu hilang sepenuhnya, Lian Hua keluar dari persembunyiannya dengan kaki gemetar. Ia berlutut di samping jasad gurunya, menggenggam liontin giok di dadanya dengan sangat erat hingga jari-jarinya memutih. Di sekelilingnya, seluruh tempat yang dulu menjadi rumahnya kini telah berubah menjadi lautan api dan tumpukan abu. Suara teriakan sudah tak terdengar lagi, digantikan oleh gemuruh api yang melahap segala sesuatu, seolah-olah Klan Teratai Suci tak pernah ada di dunia ini.
Angin malam bertiup lagi, membawa debu dan abu beterbangan di udara, jatuh menimpa rambut dan bahu anak itu. Lian Hua mengangkat wajahnya menatap langit yang kelabu dan penuh asap, matanya yang tadi penuh ketakutan kini berubah menjadi tajam dan dingin, terbakar oleh api dendam yang tak akan pernah padam.
Ia bangkit berdiri, menyeka air mata dan darah dari wajahnya, lalu menunduk memberi penghormatan terakhir kepada gurunya. Suaranya kecil namun penuh ketegaran, bergaung pelan di tengah keheningan yang mengerikan:
"Demi nama Klan Teratai Suci... demi nyawa semua saudara seperguruan... aku, Lian Hua, bersumpah! Aku akan tumbuh kuat, aku akan menapaki jalan persilatan sampai ke puncak tertinggi... dan suatu hari nanti, aku akan kembali ke sini. Saat itu tiba, Menara Darah Hitam akan membayar lunas segala darah dan air mata yang telah mereka tumpahkan hari ini. Akan kubuat mereka merasakan penderitaan yang seratus kali lipat lebih berat dari ini!"
Setelah mengucapkan sumpah itu, Lian Hua berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan lautan api dan abu di belakangnya. Di dadanya tergenggam erat liontin giok peninggalan leluhur, membawa harapan terakhir dan takdir yang berat. Di atas abu kehancuran itu, benih dendam dan tekad telah tertanam—menunggu waktu untuk tumbuh, berkembang, dan kelak mekar kembali menjadi bunga teratai yang paling indah namun juga paling mematikan di seluruh dunia persilatan.