Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: DALAM RETAKAN SEGEL DAN BAYANGAN JAHAT
Mulut retakan hitam itu terbuka lebar bagai gerbang neraka yang menelan segala cahaya. Dari dalam sana, bukan hawa panas yang keluar, melainkan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum, berbau busuk campuran antara belerang dan darah kering. Kontras yang sangat tajam dengan suhu ruangan kawah yang mendidih itu.
Raga berdiri di bibir retakan itu, menatap kegelapan pekat yang bergerak-gerak seolah bernapas dan hidup. Di telinganya, bisikan-bisikan samar mulai terdengar, suara-suara yang tidak jelas namun berusaha mengganggu pikiran, membisikkan rasa takut, keraguan, dan keputusasaan.
"Kau tidak akan sanggup... Kau hanya anak kecil... Serahkan saja... Semuanya akan hancur... Lari saja..."
Namun Raga menggeleng pelan, membuang jauh-jauh bisikan itu. Ia merasakan genggaman kuat di bahunya. Kanjeng Raden dan Nyi Blorong berdiri kokoh di samping kanan dan kirinya.
"Kami di belakangmu, Raga. Ke mana pun kau melangkah, kami ikut. Jangan pernah merasa sendirian," bisik Kanjeng Raden tegas. Matanya yang merah menyala itu menatap tajam ke dalam kegelapan, siap menyambar bahaya apa pun yang keluar.
Nyi Blorong mengangguk, tangannya berubah menjadi ekor ular raksasa yang melilit erat di batuan pinggir retakan sebagai penopang. "Energi jahat ini kuat sekali, Mas Raga. Ini bukan sekadar sihir, ini adalah sisa kekuatan murni Sang Adipati Kala yang ia tanamkan di sini untuk meracuni sumber api dunia. Kita harus hati-hati, karena di dalam sana, aturan alam biasa tidak berlaku lagi."
Dari singgasana batu raksasa, Raja Api Purba mengamati mereka dengan tatapan serius dan penuh harap. Tubuh raksasanya bersinar semakin terang, memancarkan aliran energi api murni yang mengalir mengelilingi tubuh ketiga sahabat itu, seperti bekal dan perlindungan terakhir sebelum mereka masuk.
"Ingat, Penjaga Muda..." suara Raja itu bergema pelan namun jelas. "Di dalam sana, kau tidak bertarung melawan pedang atau senjata tajam. Kau bertarung melawan ketakutanmu sendiri, melawan keraguanmu sendiri, dan melawan bayangan gelap yang diambil dari sisi terburuk dirimu sendiri. Hanya kebenaran dan ketulusan hatimu yang bisa memadamkan api kebencian di sana. Pergilah... Semoga api suci leluhur selalu menyertaimu."
Raga menarik napas panjang dan dalam, mengisi paru-parunya dengan udara panas namun berenergi itu. Ia menggenggam erat gagang Keris Berluk 9 di pinggangnya, merasakan denyutan hangat dari dalam bilah senjata itu. Di dadanya, Kitab Lontar Eyang Noto berdenyut kencang, seolah memberi isyarat siap memancarkan ilmunya kapan saja diperlukan.
"Kita masuk!" perintah Raga mantap.
Bersamaan, ketiganya melangkah melewati batas cahaya dan kegelapan. Sekejap mata, mereka lenyap dari pandangan di ruang singgasana Raja Api Purba, tersedot masuk ke dalam jurang gelap yang tak berdasar itu.
JLEBBB!!!
Rasa berputar hebat menyerang kepala mereka. Rasanya seperti jatuh dari ketinggian ribuan meter namun tanpa rasa sakit atau benturan. Suara angin menderu kencang di telinga, dan pandangan mata mereka hanya dipenuhi warna hitam pekat yang sesekali disambar kilatan ungu mengerikan.
Hanya beberapa detik rasanya, namun terasa seperti berjam-jam lamanya, sampai akhirnya kaki mereka menyentuh tanah kembali.
Seketika rasa berputar itu hilang. Mereka berdiri tegak di atas permukaan tanah yang aneh. Tanah di sini berwarna abu-abu gelap, keras, dan dingin. Tidak ada rumput, tidak ada batu, tidak ada lava. Hanya hamparan dataran luas yang rata dan kosong sejauh mata memandang. Di atas kepala mereka, langit bukan berwarna biru atau hitam, melainkan berwarna ungu pucat yang suram, tanpa matahari, tanpa bulan, tanpa bintang.
Suasana hening total. Sunyi senyap yang mencekam. Tidak ada suara hewan, tidak ada suara angin. Hanya ada suara detak jantung mereka sendiri yang terdengar jelas di telinga.
"Di mana kita ini?" bisik Raga, suaranya terdengar bergema aneh di udara yang berat itu.
"Kita berada di ruang antar dimensi, Mas Raga," jawab Nyi Blorong sambil mengamati sekeliling dengan waspada. Matanya menyala dalam kegelapan, menangkap energi-energi halus yang tidak terlihat mata biasa. "Ini adalah ruang buatan, ruang yang tercipta dari konsentrasi energi jahat Sang Adipati Kala. Dia mengubah bagian dalam Segel ini menjadi wilayah kekuasaannya sendiri supaya tidak ada yang bisa mengganggu rencananya."
Kanjeng Raden menghentakkan kakinya ke tanah abu-abu itu. "Energinya kental sekali. Rasanya seperti tenggelam di lumpur racun. Hati-hati, teman-teman... Musuh tidak akan datang dari depan saja. Mereka bisa muncul dari mana saja, bahkan dari bayangan kita sendiri."
Belum sempat Kanjeng Raden menyelesaikan ucapannya...
TRANGGG!!!
Tanah di depan mereka bergetar hebat. Dari bawah permukaan tanah abu-abu itu, ratusan tangan kurus pucat tiba-tiba menyembur keluar, meraih-raih ke atas sambil memekikkan suara tangisan dan jeritan pilu.
"BERIKAN KAMI... BERIKAN KAMI CAHAYA... DINGIN SEKALI... HITAM SEKALI..."
Raga mundur selangkah kaget, lalu dengan sigap mencabut kerisnya. Ia tidak langsung menebas, tapi memutar gagang senjata itu ke arah atas, memancarkan cahaya putih keemasan yang menyilaukan. Begitu cahaya itu menyentuh tangan-tangan itu, mereka langsung berteriak kesakitan dan menarik diri kembali ke dalam tanah seolah disiram air mendidih.
"Itu adalah sisa-sisa energi makhluk yang terperangkap di sini, diracuni dan dikendalikan oleh Adipati Kala," jelas Raga cepat, mengerti apa yang dilihatnya berkat ilmu dari kitab lontar. "Mereka bukan musuh sesungguhnya. Mereka hanya korban."
Tiba-tiba, di kejauhan, tepat di tengah hamparan dataran kosong itu, muncul sosok tinggi besar yang perlahan terbentuk dari kabut ungu tebal. Sosok itu perlahan menjadi jelas, berjalan mendekat dengan langkah berat dan penuh ancaman.
Semakin dekat, semakin jelas wujudnya. Dan saat sosok itu berhenti sekitar sepuluh langkah di hadapan mereka... Raga, Kanjeng Raden, dan Nyi Blorong sama-sama menahan napas kaget.
Sosok itu tingginya sama dengan Raga. Wajahnya persis sama dengan Raga. Pakaiannya sama. Senjata di tangannya sama persis. Bahkan sorot matanya... sama persis.
Satu-satunya perbedaan adalah: warna kulit sosok itu abu-abu pucat, rambut dan bajanya hitam legam, dan dari seluruh tubuhnya memancarkan kabut ungu gelap yang sama persis dengan aura Sang Adipati Kala.
"Selamat datang... Penjaga Sejati..." suara sosok itu terdengar, persis seperti suara Raga, tapi lebih parau, lebih dingin, dan penuh ejekan. "Sudah lama aku menunggumu di sini... Aku adalah kamu... tapi versi yang lebih jujur, lebih bebas, dan lebih kuat."
"Siapa kau?!" bentak Raga, tangannya mencengkeram gagang keris makin erat.
Sosok bayangan itu tertawa renyah, suara tawanya bergaung mengerikan di udara sunyi itu.