Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Rahasia dan Jaring Ikan
Beberapa minggu telah berlalu sejak petualangan pertama mereka ke pasar, dan Aurelia tidak bisa berhenti memikirkannya. Ia sudah berjanji pada Lucas untuk bertemu lagi karena Lucas bilang ia akan mengajarinya cara menangkap ikan di sungai pinggiran kota. Namun, masalah besar menghadang: hari ini adalah jadwal perjamuan teh bersama Pangeran Theo.
Di kamar rias yang luas, Princess Elara sedang membantu merapikan pita di rambut pirang Aurelia. Elara, dengan rambut pirangnya yang tersisir sempurna dan kulit putih porselen, tampak sangat kontras dengan Aurelia yang hari ini terlihat sangat gelisah.
"Aurelia, berhentilah bergerak. Pita ini akan miring kalau kamu terus menoleh ke jendela," tegur Elara dengan suara lembut namun kaku.
Aurelia berbalik dan memegang tangan kakaknya. "Elara, tolong aku. Sekali ini saja. Aku harus pergi sebentar... ke belakang gudang. Temanku sudah menunggu."
Elara membelalakkan matanya. "Teman? Maksudmu anak laki-laki dari logistik itu? Aurelia, Pangeran Theo akan sampai sebentar lagi! Ayah akan murka kalau kamu tidak ada di sana."
"Hanya sebentar, Elara! Dia mau mengajariku cara menangkap ikan. Aku bosan hanya duduk dan melihat Theo pamer kehebatan pedangnya. Tolonglah, kamu kan baik. Katakan saja aku sedang... sedang sakit perut atau tertidur di perpustakaan!" desak Aurelia dengan tatapan memohon khas anak sepuluh tahun.
Elara menggigit bibirnya. Sebagai putri yang selalu patuh pada aturan, ide Aurelia sangat menakutkan. Namun, melihat adik sepupunya yang selama ini selalu murung karena diabaikan Ayahnya, hati Elara luluh. "Baiklah. Tapi hanya satu jam! Aku akan bilang pada pelayan dan Theo kalau kamu sedang di toilet karena perutmu sakit akibat salah makan buah kemarin. Tapi cepatlah kembali!"
"Terima kasih, Elara! Kamu kakak terbaik!" Aurelia memeluk Elara singkat, lalu segera mengangkat rok indahnya dan menyelinap lewat pintu belakang.
Di dekat gudang, Lucas sudah menunggu. Penampilan Lucas hari ini tampak sedikit lebih berantakan dari biasanya; rambut cokelatnya yang agak pirang di ujungnya terlihat acak-adakan, dan kulitnya yang putih kini dihiasi bercak hitam debu dan tanah. Ia membawa sebuah jaring kecil dari nilon.
"Ayo cepat! Kita tidak punya banyak waktu!" bisik Lucas.
Mereka kembali menyelinap ke kereta logistik. Sesampainya di sungai, matahari sedang terik-teriknya. Lucas langsung menggulung celana kainnya dan masuk ke air yang jernih.
"Sini, Aurelia! Lepas sepatumu! Kamu harus tenang, jangan membuat riak air kalau mau ikannya mendekat," instruksi Lucas dengan serius, seolah ini adalah misi militer.
Aurelia melepaskan sepatu kulitnya yang mahal dan ikut masuk ke air. "Dingin sekali, Lucas! Wah, lihat! Ada ikan perak kecil di sana!"
"Ssttt! Jangan teriak!" Lucas perlahan mengarahkan jaringnya. "Tangkap ikan itu butuh kesabaran, bukan cuma perintah seperti di istana."
Aurelia belajar dengan sungguh-sungguh. Ia mencoba memegang jaring itu bersama Lucas. Saat seekor ikan kecil akhirnya terjaring, Aurelia hampir saja melompat kegirangan. "Kita dapat! Lucas, lihat! Dia cantik sekali!"
Lucas tertawa melihat wajah Aurelia yang terciprat air sungai. "Nah, ini namanya perjuangan. Lebih seru daripada cuma disuapi dayang, kan?"
Sementara itu, di taman istana, suasana menjadi sangat tegang. Pangeran Theo sudah duduk di meja teh dengan pakaian kebesarannya yang kaku. Ia berulang kali melihat ke arah kursi kosong Aurelia.
"Di mana Aurelia? Sudah hampir tiga puluh menit kita menunggu," tanya Theo dengan nada bosan.
Elara, yang duduk di sampingnya, mencoba tetap tenang meski tangannya gemetar saat memegang cangkir. "Ah, Pangeran Theo... Aurelia sedang... dia sedang sangat lama di dalam. Perutnya benar-benar sakit. Mungkin efek teh herbal yang ia minum tadi pagi. Mohon maafkan dia, dia akan segera kembali."
Theo menyipitkan mata. "Sakit perut? Lama sekali. Apakah perlu aku panggilkan tabib kerajaan untuk memeriksanya ke dalam?"
"Eh! Tidak perlu!" sahut Elara cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik. "Dia hanya butuh istirahat tenang. Lebih baik Pangeran ceritakan lagi soal taktik perang yang Pangeran pelajari kemarin. Aku sangat tertarik mendengarnya."
Strategi Elara berhasil. Theo yang suka pamer langsung mulai bercerita panjang lebar, sementara Elara terus berdoa dalam hati agar Aurelia segera muncul sebelum Ayah mereka datang mengecek.
Di sungai, Lucas menyadari matahari sudah terlalu tinggi. "Aurelia, kamu harus balik. Kalau Elara ketahuan berbohong, dia bisa kena masalah."
Aurelia mendesah kecewa, tapi ia tahu Lucas benar. "Terima kasih untuk hari ini, Lucas. Menangkap ikan ternyata lebih susah daripada belajar sejarah."
"Tentu saja! Makanya jangan sombong jadi putri," canda Lucas sambil membantunya naik ke kereta.
Aurelia sampai di belakang istana dengan kaki yang sedikit kotor dan napas tersengal. Ia buru-buru memakai sepatunya dan mencuci kakinya di pancuran taman kecil sebelum masuk ke area perjamuan teh lewat pintu samping.
Saat ia muncul di meja teh, Theo langsung menoleh. "Akhirnya. Kamu terlihat... sedikit berkeringat untuk seseorang yang baru dari toilet, Aurelia."
Aurelia tersenyum manis, mencoba tetap tenang. "Ah, iya, Theo. Berlari dari kamar ke sini ternyata cukup melelahkan. Maaf membuatmu menunggu."
Elara menghela napas lega yang sangat panjang, memberikan kode lewat kedipan mata pada Aurelia. Meski mereka masih kecil, hari itu mereka belajar tentang persaudaraan dan rahasia.
Aurelia duduk di kursinya, menyeruput teh yang sudah mendingin, namun dalam hatinya ia masih merasakan sensasi air sungai yang dingin dan tawa Lucas yang jujur.
Dunia kaku istana ini terasa sedikit lebih mudah dijalani selama ia punya rahasia di balik saku gaunnya.