Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Kafetaria Blue Orchid siang itu sedang ramai-ramainya oleh para pekerja kantoran dan staf medis. Briella duduk di sudut paling pojok, mencoba menelan pasta aglio olio yang tiba-tiba terasa hambar.
Pikirannya masih kacau memikirkan jadwal pernikahan dua minggu lagi, hingga sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya matahari yang masuk dari jendela.
Bukan Lexington. Melainkan seorang wanita cantik dengan riasan tajam dan mata yang merah karena amarah. Flavia.
"Jadi ini caramu, Dokter Zamora?" suara Flavia melengking, membuat beberapa orang di meja sekitar menoleh. "Kau menggunakan kehamilanmu untuk menjerat Lexington? Kau benar-benar perempuan tidak tahu diri!"
Briella membeku. Garpu di tangannya berdenting jatuh ke atas piring. Hamil? Sejak kapan?
"Lexington memutuskanku pagi ini hanya lewat pesan singkat! Dia bilang dia harus bertanggung jawab karena kau mengandung anaknya!" Flavia memukul meja dengan tas mahalnya. "Kau harusnya menggunakan pengaman jika memang ingin tidur dengannya, bukan menjebaknya seperti ini agar kau bisa menikahinya kembali!"
Jantung Briella serasa merosot hingga ke ujung kaki. Si brengsek itu berbohong pada tunangannya agar bisa putus? Namun, melihat wajah Flavia yang meremehkannya, harga diri Briella bangkit. Ia menyandarkan punggungnya, lalu tersenyum setipis silet.
"Ya, aku hamil," ucap Briella dingin, meski hatinya bergetar. "Dan anakku butuh seorang ayah. Ayahnya harus Lexington Valerio. Kenapa kau tidak terima? Bukankah kau sendiri yang bilang dia memang 'dingin' di media kemarin? Mungkin dia hanya hangat... padaku."
Flavia gemetar karena murka. "Kau pikir kau menang? Lexington menceritakan semuanya padaku! Dia bilang kau perempuan ceroboh yang bahkan tidak bisa memasak satu butir telur pun tanpa menghanguskannya! Kau hanya beban bagi pria sehebat dia!"
Setelah Flavia pergi dengan hentakan kaki yang kasar, Briella terdiam. Pasta di depannya benar-benar tidak tersentuh. Kata-kata "ceroboh" dan "tidak bisa memasak" itu menghantamnya lebih dalam dari tuduhan hamil.
Dia menceritakan kekuranganku pada wanita itu? Setetes air mata jatuh ke piringnya. Briella merasa dikhianati oleh pria yang sedang ia coba cintai kembali.
Lima menit kemudian, Lexington masuk ke kafetaria dengan langkah santai, tampak sangat tampan dan tidak merasa berdosa sedikit pun. Ia melihat Briella dan segera menghampirinya.
"Bri, kau sudah selesai? Ayo, Mommy sudah menunggu sore ini di Mansion," ucap Lexington ringan.
Briella mendongak, matanya merah. "Kenapa kau tidak bercerita padanya kalau aku bisa membuatmu tak berkutik saat aku berada di atas, Lex?"
Lexington tersentak, wajahnya langsung menegang. "Bri, ini tempat umum. Jangan gila."
"Kenapa?! Kenapa kau tidak cerita kalau aku suka gaya nungging dan aku bisa semua gaya yang tidak bisa dilakukan tunanganmu itu?!" suara Briella meninggi, membuat seisi kafetaria mendadak hening.
"Bri, hentikan. Kau keterlaluan, semua orang mendengar," bisik Lexington sambil berusaha memegang tangan Briella.
"KAU yang keterlaluan!" Briella menepis tangannya. "Kau menceritakan kecerobohanku padanya? Kau mengejekku tidak bisa memasak di depan wanita itu? Kenapa kau tidak cerita pada semua orang kalau kau itu pria stres yang akan meledak jika tidak 'keluar' dalam dua puluh menit?!"
"Oh astaga, Honey... semua orang benar-benar mendengar sekarang," gumam Lexington, wajahnya yang biasanya putih kini merah padam karena malu.
"Persetan dengan mereka! Lebih baik pernikahan ini kita batalkan! Aku tidak mau menikah dengan pria bermulut besar yang hanya bangga dengan mesin sampahnya!" teriak Briella, lalu ia menyambar tasnya dan berlari keluar meninggalkan Lexington yang berdiri mematung di tengah kafetaria, menjadi tontonan gratis puluhan orang.
Lexington menghela napas panjang, memijat pelipisnya. Nama baiknya sebagai pria sempurna kini benar-benar hancur menjadi debu. Dan apa katanya tadi? Batal?
"Tidak akan kubiarkan," desis Lexington.
Satu Jam Kemudian: Rumah Sakit Kota
Lexington melangkah masuk ke unit gawat darurat dengan wajah dingin. Ia mencegat seorang perawat yang lewat. "Aku sakit. Pasangkan aku infus sekarang juga."
Perawat itu bingung, melihat Lexington yang tampak bugar dan sangat kuat. "Tapi Tuan, Anda tampak sehat—"
"Aku akan membayarmu sepuluh kali lipat dari gajimu bulan ini. Pasangkan saja di tanganku. Apa kau tidak lihat aku sedang sekarat?" ucap Lexington dengan nada menuntut yang tak terbantahkan.
Beberapa menit kemudian, Lexington sudah berbaring di atas brankar dengan selang infus menancap di tangannya (meskipun isinya hanya cairan vitamin). Ia segera menghubungi Hadiyan. “Datang ke Rumah Sakit Kota sekarang. Katakan pada Briella aku pingsan karena stres berat dan tekanan jantung.”
Hadiyan tiba di rumah sakit dalam waktu lima belas menit dan langsung meledak dalam tawa saat melihat bosnya berbaring dengan gaya dramatis.
"Kau melakukan hal gila ini hanya untuk menarik perhatiannya? Hahaha, kau sudah benar-benar gila, Lex!"
"Ya, aku gila! Dia ingin membatalkan pernikahan yang persiapannya sudah 60 persen!" sahut Lexington, lalu ia kembali berakting lemah. "Cepat foto aku. Ambil sudut yang paling menyedihkan. Kirimkan padanya sekarang. Katakan aku kritis."
Briella sedang menangis di ruangannya saat ponselnya bergetar. Foto dari Hadiyan masuk: Lexington terbaring pucat dengan infus dan monitor jantung yang menyala.
"Oh tidak, Belle! Dia kecelakaan?! Atau dia pingsan karena ucapanku tadi?" Briella berteriak panik, langsung menyambar kunci mobilnya.
"Apa?!" Belle ikut panik dan mereka berdua melesat ke rumah sakit.
Begitu sampai di lobi rumah sakit, Briella berlari seperti orang kesurupan.
Wajah cantiknya pucat pasi, air mata menghapus riasannya.
"Perawat! Di mana pasien atas nama Lexington Valerio?! Dia baru saja kritis!"
"Oh tidak, Belle... apa aku akan benar-benar menjadi janda sebelum menikah?" isak Briella sambil meremas tangan sahabatnya.
"Tenanglah, Bri. Dia kuat, dia tidak mungkin mati semudah itu," Belle berusaha menenangkan meski ia sendiri bingung.
Suster mengantar mereka ke sebuah kamar VIP. Briella membuka pintu dengan keras, siap untuk memberikan napas buatan atau menangis di atas tubuh Lexington. Namun, pemandangan di depannya justru luar biasa lain.
Lexington sedang duduk tegak di atas ranjang, memegang tablet, dan sedang memarahi Hadiyan karena salah memesan menu makanan. "Aku bilang steak medium rare, bukan well done, bodoh! Aku sedang sakit!"
Briella berhenti di ambang pintu. Napasnya terengah-engah, matanya yang sembab menatap Lexington yang tampak sangat... segar bugar.
Hadiyan menoleh dan langsung pucat. "Oh, gawat..."
Briella menatap selang infus di tangan Lexington, lalu menatap wajah pria itu.
"Sekarat? Kritis?" suaranya rendah dan bergetar, bukan karena sedih, tapi karena amarah yang baru saja mencapai titik didih paling tinggi.
"Bri... kau sudah datang?" Lexington mencoba kembali berbaring lemah, namun terlambat. "Aduh, dadaku... sakit sekali..."
"Lanjutkan aktingmu, Lexington Valerio!" teriak Briella sambil melemparkan tas tangannya tepat ke arah perut Lexington. "Kau pikir ini lucu?! Kau membohongiku lagi?!"
Lexington meringis kesakitan karena hantaman tas itu. "Aku hanya tidak ingin kau membatalkan pernikahannya, Bri! Kau bilang aku egois, jadi aku harus melakukan cara egois agar kau kemari!"
"BAJINGAN!" teriak Briella, sementara Belle hanya bisa menepuk dahinya di belakang. "Aku hampir mati ketakutan, dan kau di sini hanya ingin makan steak?! Pernikahan ini... BENAR-BENAR BATAL!"