NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Silsilah Keluarga Fiktif demi Satu Kopi

“Dan aku butuh kamu menghapus semua jejak bahwa aku adalah Ekantika Asna. Besok, aku adalah Nana. Dan Nana harus sempurna,” perintah Ekantika, nadanya kini melunak, tetapi penuh ancaman. “Aku butuh kamu mengubah semua metadata foto lama di Instagram-ku. Pastikan tidak ada tanggal atau lokasi yang menunjukkan bahwa foto ‘liburan’ Nana di Bromo itu diambil delapan tahun lalu saat aku masih menikah dengan Arsa. Aku butuh kamu spoof semua tanggalnya, membuatnya terlihat seperti baru diunggah kemarin. Dan Dimas, buatkan sebuah dinding api digital. Kalau Riton mencari ‘Ekantika Asna, CEO, 35’, dia harus mendapatkan hasil yang sangat umum, tidak ada kaitannya dengan Nana. Dan aku butuh kamu membuatkan profil palsu untuk mantan pacarku yang brengsek itu, Toni. Dan aku butuh anting palsu, dan aku butuh alibi cepat tentang anting mahal ini. Aku akan bilang itu hadiah dari… dari… Tanteku yang kaya! Aku akan melibatkan seluruh silsilah keluarga fiktifku untuk kencan ini!”

Dimas menghela napas, frustrasi. “Sialan. Logikamu terlalu sempurna untuk kebohongan yang mengerikan. Aku akan melakukannya. Tapi kalau kamu ketahuan, aku akan bilang kamu menyandera aku. Aku akan membuatkanmu kos-kosan virtual dengan cahaya remang-remang dan tumpukan baju kotor. Tapi Tik, dengarkan aku baik-baik. Riton itu mencari kejujuran setelah dikhianati wanita yang usianya jauh di atasnya. Kamu sedang menipu dia dengan dua hal yang paling dia takuti: usia dan kebohongan. Ini bom waktu, Ekantika. Ketika ini meledak, bukan hanya hubunganmu yang hancur, karier profesionalmu juga bisa kena imbas. Kamu adalah Ekantika Asna. Kamu harus memikirkan risikonya.”

Ekantika hanya tersenyum tipis, senyum yang sama yang ia gunakan saat menandatangani kontrak miliaran.

“Risiko adalah bahan bakar terbaik, Dimas. Dan aku tidak akan mundur sampai aku tahu batas kemampuanku untuk dicintai,” jawab Ekantika. “Sekarang, mari kita mulai Project Nana.”

Ia mematikan telepon. Ia melihat kembali ke pesan Riton di aplikasi kencan: Aku penasaran sama kamu.

Ekantika menyeringai, ia menyentuh layar ponselnya, dan ia membuka kolom balasan.

Ia harus menjawab Riton sekarang, mengunci rencana untuk lusa. Ia harus tampil sebagai Nana yang antusias.

Nana: WAW! Traktiran! Asiiik! Lusa sore aku bisa banget! Aku lagi di luar kota, nih, besok baru balik! 🚗💨 Nanti aku kabarin ya kalau udah di Jakarta! Pokoknya, aku mau cerita banyak! 🤩

Ia menekan tombol kirim. Ia telah berhasil.

Sambil menunggu balasan Riton, Ekantika menyadari bahwa ia belum menghapus satu detail penting di profilnya. Di bagian minat, ia menulis: Suka mendengarkan lagu pop-punk era 2000-an.

Itu adalah musik kesukaan Riton saat ia masih menjadi junior di kantor dulu, sesuatu yang hanya Ekantika Asna yang tahu.

Ia buru-buru menekan tombol Edit, panik. Ia harus menghapus detail itu sebelum Riton menyadarinya.

Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, notifikasi lain muncul. Kali ini bukan dari Riton, melainkan dari Dimas, yang baru saja menerima semua perintah gila Ekantika.

Dimas: Tik, aku baru cek. Riton itu mantan kekasih cewek manipulatif yang lebih tua darinya. Hati-hati. Dia punya trauma.

Ekantika menghela napas, mengabaikan peringatan trauma.

Ia membuka profil Nana lagi. Ia harus menghapus detail pop-punk itu.

Ekantika membuka profil Nana lagi, tetapi ia terlambat.

Riton telah mengirim pesan baru.

Riton: Na, aku baru sadar kamu suka pop-punk 2000-an! Itu favoritku banget! Kita punya banyak kesamaan, ya!

Ekantika menatap layar. Riton sudah melihatnya. Ia sudah melihat sebuah detail yang hanya bisa ia ketahui jika ia adalah dirinya yang sebenarnya, Ekantika Asna, boss yang ia kenal lima tahun lalu.

Ia panik, mencari cara untuk menjelaskan kesamaan selera musik yang terlalu spesifik ini. Ia harus menemukan alibi yang sangat konyol, sangat Gen Z, dan sangat tidak mungkin.

Ekantika mulai mengetik, jarinya gemetar.

Nana: Oh, iya! Aku dapet rekomendasi lagu-lagu lama itu dari… mantan pacarku yang super brengsek! 🤣Aku sering dengerin itu kalau lagi galau! Tapi aku udah move on, kok! Gimana kalau lusa kita dengerin lagu-lagu itu bareng?

Kirim.

Ia baru saja menciptakan mantan pacar fiktif, hanya untuk menutupi kecerobohan detail musik.

Ia tersenyum puas. Ia berhasil lolos.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Riton.

Riton: Oke, lusa kita dengerin pop-punk bareng. Aku akan bawakan kamu kopi terbaik. Sampai ketemu, Na.

Ekantika meletakkan ponselnya, adrenalinnya memuncak. Ia telah memenangkan pertempuran pertama.

Ia sudah tahu bahwa ia akan menghadapi Riton di Proyek Garuda, dan ia sudah tahu bahwa Riton trauma dengan wanita yang lebih tua.

Ia harus mempersiapkan dirinya. Ia harus menjadi Nana yang sempurna.

Ia berdiri, mengambil kunci mobilnya, dan bergegas keluar ruangan. Ia harus segera bertemu Dimas untuk menyusun protokol sandiwara ini. Ia harus membeli pakaian yang tepat, dan ia harus memastikan bahwa virtual background sawah untuk rapat besok adalah yang paling meyakinkan.

Ketika ia berjalan menuju lift, ponselnya bergetar lagi.

Satu pesan baru, bukan dari Dimas, bukan dari Riton. Tetapi dari akun anonim yang membenci dirinya.

Anonim: CEO yang jadi janda itu harusnya sadar diri. Coba cek arsip kantor lama. Ada foto-foto lucu yang melibatkan dia dan junior yang dia sukai. Sayang sekali, dia sudah terlalu tua untuk itu.

Ekantika merasa perutnya bergejolak. Seseorang sudah tahu. Seseorang di kantornya, yang membenci status jandanya, sedang menggali masa lalunya.

Ia segera membuka laptopnya, tangannya gemetar. Ia harus segera menghapus foto itu.

Namun, belum sempat ia menekan Enter, sebuah pesan pop-up muncul lagi dari aplikasi kencan itu. Riton tidak sabar.

Riton: Hey, Nana? Kenapa diam? Aku penasaran banget sama kamu. Aku baru aja lihat foto profilmu lagi. Kamu pakai anting yang lucu banget. Itu anting yang kamu beli di mana, Na?

Ekantika menelan ludah. Ia tidak bisa mengabaikannya. Ini adalah tantangan pertamanya. Ia harus menjawab, tetapi ia harus melakukannya sebagai Nana.

Ia memaksakan senyum ceria di wajahnya, lalu mengetik cepat dengan gaya bahasa yang penuh emotikon dan keriangan palsu.

Nana: OMG! Riton, maaf! Lagi sibuk nge-scroll foto kucing lucu! 😻Tentu saja mau ngopi! Kapan?

Ia menekan kirim. Segera, notifikasi baru muncul.

Riton: Besok sore. Aku jemput?

Ekantika panik. Dijemput berarti Riton akan melihat mobil mewahnya, apartemennya, dan seluruh kehidupan 35 tahunnya yang kaya.

Ia harus menolak. Ia harus menciptakan alibi logistik.

Ia menarik napas dalam-dalam, menatap layar dengan mata yang kini dipenuhi kengerian dan kenikmatan yang sama besarnya.

Ia mengetik, memutar otak untuk menciptakan kebohongan pertama yang meyakinkan, padahal di kepalanya, daftar pekerjaan kantor mendesak yang harus ia kerjakan besok sore sudah menumpuk setinggi langit.

Nana: Aduh, jangan, Riton. Aku besok lagi sibuk banget di luar kota, ada urusan keluarga. Gimana kalau lusa saja? Aku janji akan telepon kamu besok malam ya, mau cerita banyak! 😉

Ia menutup laptop, menjauhi ponselnya seolah itu adalah bom waktu. Kepalanya pusing. Ia baru saja menandatangani surat cerai, dan kini, ia baru saja menandatangani kontrak sandiwara yang jauh lebih rumit, berisiko tinggi, dan...

Ddrrttt!

Ponselnya bergetar lagi. Riton.

Riton: Oke, lusa. Tapi kamu janji cerita, ya. Aku penasaran sama kamu.

Ekantika tersenyum getir.

"Tentu, Riton," bisiknya pada dirinya sendiri, menatap pantulan dirinya di jendela. "Aku juga penasaran. Seberapa jauh aku bisa menjalankan kebohongan ini sebelum kehancuranku datang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!