NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tabrakan Dua Kosmos dan Dialog Para Bintang Maut

​"Aku akan membakar labirin itu hingga ke akarnya."

​Kata-kata Aiz tidak diucapkan dengan nada marah atau berapi-api. Nada suaranya sangat datar, seringan hembusan angin, namun membawa kepastian absolut yang membuat ruang dimensi di kamar itu seolah tercekik.

​Mata merah Loki menatap nanar ke arah percikan api hitam-keemasan yang baru saja dipadamkan Aiz. Sebagai Dewi yang telah hidup ribuan tahun, insting Loki menjeritkan satu fakta mutlak: api itu tidak mematuhi hukum sihir dunia ini. Itu adalah anomali murni.

​Dan sebelum Loki bisa membuka mulutnya untuk meneriakkan nama Aiz, sebuah ledakan rasa sakit yang tidak masuk akal menghantam inti keilahiannya.

​BZZZTTT!

​Rasanya seolah-olah seseorang baru saja memasukkan miliaran volt petir ke dalam pembuluh darah spiritualnya. Jaringan Falna Loki—koneksi jiwanya dengan anak-anaknya—mengalami malfungsi parah. Di satu sisi jaringannya (Finn), mengalir energi cyan yang sedingin nol mutlak dari The Hunt. Di sisi lain (Aiz), mengalir magma keemasan yang membakar segalanya dari The Destruction.

​Tubuh fana Loki, yang hanya dirancang untuk menampung Arcanum kelas Dewa Orario, tidak sanggup menjadi konduktor bagi persimpangan dua Path kosmis.

​"Loki!"

​Teriakan Finn dan Riveria terdengar seperti di bawah air. Pandangan Loki mengabur. Warna dunia memudar menjadi putih, lalu abu-abu, dan akhirnya tersapu oleh kegelapan pekat. Tungkainya kehilangan tenaga, dan sang Dewi Penipu pun ambruk membentur lantai kayu yang hangus.

​Kesadarannya tenggelam.

​Tidak ada mimpi bagi seorang Dewa. Saat kesadaran mereka terputus, mereka biasanya hanya kembali merasakan resonansi statis dari Tenkai. Namun kali ini, apa yang menyambut Loki bukanlah padang rumput abadi para Dewa, melainkan sebuah ruang hampa yang maha luas.

​Loki membuka matanya. Ia menyadari dirinya sedang melayang—atau lebih tepatnya, terpaku—di tengah-tengah kehampaan luar angkasa. Tidak ada udara, tapi anehnya ia bisa bernapas. Tidak ada pijakan, tapi ia tidak jatuh.

​Saat ia menoleh ke kanan, napasnya tercekat.

​Setengah dari ruang kosmis itu dipenuhi oleh warna cyan yang menyilaukan. Di sana, bertahta sesosok penunggang kuda raksasa yang terbuat dari rasi bintang, menarik busur cahaya raksasa. Lan, Sang Aeon The Hunt. Entitas yang sama yang dilihatnya melalui jiwa Finn. Kehadirannya sedingin es, setajam ujung anak panah yang siap membelah galaksi.

​Loki memutar kepalanya ke kiri, dan teror yang lebih pekat mencekiknya.

​Setengah ruang lainnya adalah neraka yang mendidih. Lautan magma keemasan dan bintang-bintang yang retak menjadi latar belakang bagi sesosok pria raksasa berambut putih, berkulit abu-abu arang dengan luka-luka yang menyala. Nanook, Sang Aeon The Destruction. Auranya terasa sangat berat, seolah ingin meremas nalar Loki hingga menjadi debu.

​Dua entitas yang seharusnya berada di luar nalar dunia Orario, kini berdiri mengapit jiwa kecil seorang Dewi fana.

​"A-apa... apa yang kalian lakukan padaku?!" teriak Loki, suaranya terdengar sangat kecil dan menyedihkan di hamparan kosmis itu. Ia memaksakan dirinya untuk menantang mereka, didorong oleh insting seorang ibu yang anak-anaknya direbut. "Kembalikan jiwa anak-anakku! Lepaskan kutukan kalian dari Finn dan Aiz!"

​Lan, sang sentaur cahaya, sama sekali tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke depan, fokus pada buruannya yang entah berada di mana. Namun, sebuah resonansi pikiran mengiris langsung ke dalam otak Loki, berbicara tanpa menggunakan kata-kata fana.

​"Anak panah telah ditarik. Target telah dikunci. Kanker dari dunia ini—Stellaron—berada di dasar labirin itu. Mereka yang mencari kelimpahan kotor harus dibasmi. Pemburuku tidak akan berhenti hingga buruannya musnah."

​"Pemburumu?! Finn itu kaptenku, bajingan!" Loki menggeram, mencoba meronta di udara hampa. "Dia tidak peduli dengan perang bintang kalian!"

​Tiba-tiba, tawa yang terdengar seperti ribuan gunung berapi meletus bergema dari sisi kiri.

​Nanook menundukkan kepalanya yang seukuran tata surya, menatap Loki dengan mata keemasannya yang kosong namun membakar.

​"Dewa fana yang malang," suara Nanook menggetarkan realitas di sekitar Loki, membuat kulit jiwanya serasa melepuh. "Kau membanggakan dirimu sebagai pelindung mereka, namun kau tidak menyadari betapa rapuhnya sangkar yang kau sebut Falna itu. Dunia kalian adalah sebuah kesalahan. Labirin yang terus melahirkan penderitaan itu adalah bukti dari penciptaan yang cacat."

​Loki memelototi Nanook, air mata kemarahan menggenang di matanya. "Jangan sentuh Aiz... Dia sudah cukup menderita! Kau hanya memanfaatkannya!"

​"Memanfaatkan?" Nanook tidak tersenyum, ekspresinya murni dari segala emosi manusia. "Aku mengabulkan doanya. Hatinya menjerit meminta akhir dari segala monster. Aku hanya memberinya percikan api untuk membakar panggungnya. Gadis itu akan menjadi obor terindah yang pernah dilihat alam semesta ini."

​Loki merasakan keputusasaan merayap naik ke kerongkongannya. Dewa-dewi Orario bermain dengan fana untuk hiburan. Tapi eksistensi di hadapannya ini... mereka tidak bermain. Mereka adalah hukum alam yang tidak bisa dinegosiasi.

​Tiba-tiba, ruang hampa itu bergetar hebat. Cahaya cyan dari Lan dan magma emas dari Nanook mulai bergesekan di tengah-tengah dimensi, tepat di mana Loki melayang.

​"Kehancuran tidak pandang bulu," resonansi Lan kembali memotong pikiran Loki, namun kali ini ditujukan kepada Nanook. "Buruanku adalah Kanker Semua Dunia dan para pemujanya. Jika apimu menghalangi lintasan anak panahku, aku akan membelah cahayamu."

​Nanook mendongak, menatap sang sentaur cahaya. Lautan magma di sekelilingnya mendidih semakin ganas.

​"Segala yang ada di dunia ini pada akhirnya akan kembali menjadi ketiadaan, Lan. Panahmu hanya menunda akhir yang tak terelakkan. Biarkan gadisku membakar segalanya... atau kau bisa mencoba menghentikannya."

​Loki menjerit saat tekanan dari dua Path itu mulai mengimpit jiwanya. Ia akhirnya menyadari kengerian sejati dari situasi ini.

​Orario tidak hanya sedang disusupi oleh kekuatan asing. Orario baru saja menjadi medan perang proxy antara dua Aeon. Finn, yang mewarisi kemauan The Hunt untuk mencari target secara spesifik, dan Aiz, yang mewarisi keinginan The Destruction untuk membakar segalanya hingga rata dengan tanah.

​Tujuan mereka mungkin sama—menghancurkan ancaman di dalam Dungeon—tapi cara mereka akan saling berbenturan. Dan jika kekuatan dua anak kesayangannya itu bertabrakan... seluruh Orario akan lenyap.

​"HENTIKAN!" teriak Loki sekuat tenaga, air mata membasahi pipinya. "Jangan jadikan anak-anakku bidak kalian! Keluar dari duniaku!"

​Nanook menatap Loki untuk terakhir kalinya sebelum visi kosmis itu mulai retak dan hancur.

​"Kami tidak memaksa masuk ke duniamu, Dewa Fana. Seseorang... mengundang kami dengan kata-kata. Cari sang Penulis. Karena dialah yang memegang pena dari takdir ini."

​CRASH!

​Dimensi kosmis itu pecah berkeping-keping seperti cermin kaca.

​Loki tersentak bangun.

​Matanya terbuka lebar, meraup oksigen dengan rakus. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya. Ia merasakan sepasang tangan menahan bahunya.

​"Loki! Syukurlah!" suara Riveria terdengar bergetar di dekat telinganya. "Bernapaslah pelan-pelan. Kami ada di sini."

​Loki menyadari ia sedang dibaringkan di sofa di lorong, tak jauh dari kamar Aiz yang setengah hancur. Finn berdiri di sampingnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. Di sudut lorong, Aiz berdiri diam, menatap kedua tangannya sendiri dengan pandangan kosong, pendar magma di kulitnya telah mereda dan kembali normal, setidaknya untuk saat ini.

​Loki memegang lengan baju Riveria dengan cengkeraman sekuat besi. Mata sang Dewi Penipu itu membelalak liar, masih dihantui oleh bayangan entitas luar angkasa yang baru saja dilihatnya.

​"Finn... Riveria..." suara Loki bergetar, lebih serak dari sebelumnya. Ia menelan ludah, menatap kapten dan wakil kaptennya bergantian.

​"Ada apa, Loki? Apa yang terjadi padamu saat kau pingsan?" tanya Finn cepat.

​Loki menarik napas panjang, menekan rasa takutnya dalam-dalam, dan memaksa matanya memancarkan otoritas mutlak yang tersisa.

​"Kumpulkan seluruh eksekutif utama di ruang rapat rahasia sekarang juga," desis Loki tajam. "Persiapkan ekspedisi skala penuh, libatkan setiap aliansi yang kita miliki. Kita akan turun ke lantai terdalam Dungeon."

​Riveria mengerutkan dahi. "Sekarang? Tapi Finn dan Aiz baru saja... ada anomali pada mereka. Kita belum tahu efek sampingnya—"

​"TIDAK ADA WAKTU!" bentak Loki, suaranya menggema di lorong yang sepi. Ia menatap Aiz, lalu menatap Finn. "Suka atau tidak, kekuatan yang bersemayam di dalam diri kalian berdua sekarang... adalah bom waktu yang dipegang oleh entitas sinting."

​Loki berusaha bangkit duduk, dibantu oleh Riveria.

​"Penulis itu... si brengsek bernama Anonym itu... dia tidak hanya menulis cerita. Dia menulis ramalan," ucap Loki dengan nada gelap. "Dan apa pun yang dia sembunyikan di dasar labirin itu—sesuatu yang disebut Stellaron—jika kita tidak menemukannya lebih dulu sebelum penulis itu selesai merajut naskahnya..."

​Loki memejamkan mata, mengingat tabrakan antara magma dan galaksi di mimpinya.

​"...maka tidak akan ada lagi Orario yang tersisa besok pagi."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!