Bima cuma anak SMA sekolah sihir biasa yang mager-nya kebangetan. Pas ujian praktek manggil familiar (hewan peliharaan sihir), dia malah kepeleset, lidahnya keseleo, dan nggak sengaja ngebaca mantra terlarang. Bukannya dapet kucing terbang yang lucu, dia malah manggil Lucifer, salah satu petinggi iblis dari kerak neraka. Apesnya, kontrak sihir mereka permanen! Sekarang Bima harus rela kamarnya diacak-acak sama cowok emo bersayap kelelawar yang ternyata cepet banget adaptasi jadi wibu, kecanduan main PS5, dan doyan seblak level 5. Tapi jujur, lumayan sih buat disuruh ngerjain PR Matematika Sihir dan ngusir preman sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Pagi Hari dan Senioritas Iblis yang Nggak Ngotak
Gue kira, ucapan Luci soal "latihan yang lebih menyiksa daripada Pak Bambang" itu cuma gertakan sambel biar gue nggak nambah seblak lagi semalem. Ternyata gue salah besar. Iblis satu ini kalau urusan nyiksa orang emang dedikasinya perlu diacungi jempol—atau kalau bisa, diacungi jari tengah sekalian.
"Bangun, curut! Matahari udah setinggi tanduk gue, lo masih aja molor!"
Suara Luci menggelegar barengan sama bau gosong yang nyengat banget. Gue yang tadinya lagi mimpi indah dapet *limited edition* skin Genshin Impact\, langsung loncat dari bedeng karpet tipis gue. Pas gue melek\, jempol kaki gue rasanya panas banget. Anjir\, Luci beneran ngebakar ujung jempol gue pake api item kecil yang keluar dari telunjuknya.
"Sakit, bego!" teriak gue sambil jingkrak-jingkrak megangin kaki. "Gila ya lo? Kalau jempol gue angus gimana? Gue nggak bisa pake sandal jepit lagi seumur hidup!"
Luci cuma berdiri santai di deket pintu bunker sambil dandan ala-ala karakter anime *shonen* yang mau perang. Jubah itemnya berkibar meski nggak ada angin\, dan mukanya dipasang sedingin es. "Lima menit. Kalau lo belum siap di depan\, gue bakar seluruh kasur lo. Oh\, sama stok mi instan lo juga gue buang ke dimensi lain."
Gue langsung pucet. Mi instan itu harta karun terakhir gue. Gue nggak butuh waktu lima menit, dalam tiga menit gue udah rapi—meski muka masih kucel dan rambut udah kayak sarang burung ketabrak truk.
Di luar bunker, udaranya masih dingin banget. Kabut tipis nyelimutin hutan belakang sekolah yang sebenernya terlarang buat didatengin siswa. Elena udah ada di sana, duduk tenang di atas batu besar sambil baca buku tebel yang gue yakin isinya rumus-rumus sihir yang bisa bikin otak gue konslet. Dia ngelirik gue sekilas, terus geleng-geleng kepala.
"Muka lo kayak orang belum mandi tiga hari, Bim," gumam Elena tanpa ngelepas pandangan dari bukunya.
"Emang belum mandi\, Len! Di bunker mana ada *shower* air panas!" bales gue sewot. "Terus ini kita mau ngapain sih? Pagi-pagi udah diseret ke sini?"
Luci maju selangkah. Dia ngelempar sebuah batu kecil ke arah gue. Spontan gue tangkep, tapi langsung gue lepasin lagi karena itu batu beratnya nggak masuk akal. Masa batu segede kepalan tangan beratnya kayak galon aqua penuh?
"Latihan dasar," kata Luci. "Tubuh lo itu ampas, Bim. Lo punya kontrak sama gue, salah satu penguasa neraka, tapi stamina lo kayak kakek-kakek kena asam urat. Lo lari keliling hutan ini sepuluh putaran sambil bawa tas isi batu-batu itu."
Gue melongo. "Hutan ini luasnya tiga hektar, Luci! Lo mau gue mati muda?"
"Nggak akan mati," Luci nyengir lebar, taringnya keliatan berkilau. "Paling cuma pingsan, terus gue bangunin lagi pake sengatan listrik statis dari ekor gue. Pilih mana?"
Nggak ada pilihan. Gue menghela napas pasrah, masukin batu-batu berat itu ke tas ransel gue yang malang, dan mulai lari.
Baru putaran pertama, paru-paru gue rasanya mau meledak. Kaki gue bergetar setiap kali napak tanah. Tas di punggung gue rasanya kayak lagi gendong gajah yang lagi pundung. Gue bisa denger suara Elena dari kejauhan lagi diskusi sama Luci.
"Apa dia bakal kuat? Aliran mananya masih berantakan," suara Elena kedengeran khawatir, atau mungkin cuma kasihan liat gue yang udah engap-engapan kayak ikan di darat.
"Justru itu," bales Luci. Gue bisa denger nada suaranya berubah jadi serius—sesuatu yang jarang banget terjadi kalau dia nggak lagi bahas soal seblak atau PS5. "Mananya tersumbat karena mentalnya penakut. Dia harus dipaksa ke titik nadir. Iblis nggak milih majikan yang cuma bisa rebahan sambil main HP."
Gue denger itu. Gue denger semuanya. Dan jujur, itu bikin dada gue sesek bukan cuma karena capek fisik, tapi karena gue tau itu bener. Selama ini gue cuma pengen hidup tenang, jadi figuran yang nggak dilirik siapa-siapa. Tapi sekarang, dunia maksa gue jadi pemeran utama di film yang gue sendiri nggak mau tonton.
Pas masuk putaran ketiga, penglihatan gue mulai kabur. Keringat gue udah bercucuran deras sampe baju gue basah kuyup. Tiba-tiba, Luci muncul di samping gue, terbang rendah tanpa kepak sayap yang kedengeran.
"Ayo, Bim! Lebih cepet! Masa gitu doang udah mau nyerah? Malu-maluin kontrak kita aja lo!" Luci ngeledek sambil makan keripik singkong yang entah dia dapet dari mana.
"B-berisik... lo... setan...!" umpat gue terbata-bata.
"Gue emang setan, makasih pujiannya," Luci ketawa. Tapi tiba-tiba mukanya berubah drastis. Dia berhenti terbang dan mendarat dengan suara 'bug' yang cukup keras. Pandangannya langsung tajem ke arah semak-semak gelap di ujung area latihan.
Elena juga langsung berdiri dari batunya. Dia nutup bukunya kenceng-kenceng dan tangannya mulai bercahaya biru pucat. "Luci, lo ngerasain itu?"
"Iya," jawab Luci pelan. Suaranya nggak main-main lagi. "Hawa busuk. Bukan bau kaki Bima, tapi sesuatu yang lebih... lapar."
Gue berhenti lari. Rasa capek gue tiba-tiba ilang diganti sama rasa dingin yang merambat di punggung. Gue nengok ke arah yang mereka liat. Di balik pepohonan yang rimbun, ada bayangan item yang bergerak cepet banget. Bukan manusia, bentuknya lebih kayak anjing tapi ukurannya segede motor gede, dengan mata merah menyala yang natap gue penuh nafsu makan.
" *Shadow Hound*\," gumam Elena. "Peliharaan pemburu bayaran dari klan bayangan. Mereka udah nemuin kita."
Gue gemeteran. "T-terus gimana? Luci, sikat mereka! Lo kan iblis penguasa neraka!"
Luci malah melipat tangan di dada dan nyandar di pohon. "Nggak mau."
"Hah?!" gue kaget setengah mati.
"Ini latihan lo, Bim," kata Luci santai, tapi matanya tetep waspada. "Gue cuma bakal campur tangan kalau lo beneran mau mati. Tapi selama lo masih punya tangan dan kaki, lo yang harus lawan. Panggil kekuatan gue. Alirin mana lo ke tangan lo, terus pukul itu anjing item."
"Lo gila! Gue bahkan nggak tau cara panggil mana!" teriak gue panik pas anjing bayangan itu mulai menggeram dan siap loncat.
"Tutup mata lo, Bim!" Elena teriak. "Jangan liat bentuknya! Rasain kontrak di punggung tangan lo! Itu jembatan antara lo sama Luci!"
Anjing itu meloncat. Suara geramannya bener-bener nyata di kuping gue. Gue reflek nutup mata dan angkat tangan buat ngelindungin muka gue. *Plis\, jangan mati sekarang. Gue belum tamat main Elden Ring!*
Dalam kegelapan di balik kelopak mata gue, gue ngerasain ada sesuatu yang panas banget di punggung tangan kanan gue. Kayak ada api yang maksa masuk ke pembuluh darah gue. Rasanya sakit, panas, tapi anehnya... bikin gue ngerasa kuat.
*BIM! PUKUL!* Suara Luci gema di dalem kepala gue.
Gue nggak mikir lagi. Gue hantemin tangan kanan gue ke arah depan dengan segenap tenaga yang gue punya—tenaga sisa lari tadi plus rasa takut yang udah jadi amarah.
*BOOM!*
Gue ngerasa tangan gue nabrak sesuatu yang empuk tapi padat. Terus ada ledakan energi yang bikin gue terpental ke belakang. Pas gue buka mata, anjing bayangan itu udah terkapar beberapa meter di depan gue, badannya hancur jadi asep item yang perlahan ilang.
Gue napas tersengal-sengal. Tangan kanan gue masih ngeluarin asep kecil dan warnanya agak kemerahan. "G-gue... gue barusan ngelakuin itu?"
Elena lari nyamperin gue\, wajahnya keliatan lega tapi juga takjub. "Lo berhasil\, Bim. Lo barusan gunain *Infernal Strike* dasar. Walaupun tekniknya masih berantakan banget\, tapi volumenya gede."
Luci jalan santai ke arah gue, terus nendang kaki gue pelan. "Lumayan buat pemula. Tapi jangan seneng dulu. Itu cuma satu ekor kroco. Di luar sana, yang nyari lo itu levelnya jauh di atas itu."
Gue duduk di tanah, lemes banget. Tas batu gue udah tergeletak entah di mana. "Gue capek, Luci. Sumpah. Hidup gue kenapa jadi begini sih?"
Luci jongkok di depan gue. Dia ngelepas kacamata item yang nggak tau sejak kapan dia pake, nunjukin mata merahnya yang dalem banget. "Karena lo udah terpilih, Bim. Bukan karena lo hebat, tapi karena nasib itu emang suka bercanda. Tapi dengerin gue: di dunia sihir, kalau lo nggak jadi pemangsa, lo bakal berakhir jadi seblak di piring orang lain. Lo mau jadi seblak?"
"Enggak," jawab gue pelan. "Gue yang makan seblaknya, bukan gue yang dimakan."
"Nah, gitu dong," Luci nepuk bahu gue kenceng sampe gue meringis. "Karena lo udah berhasil bunuh satu anjing, bonus buat hari ini: kita balik ke bunker, gue masakin mi instan spesial pake bumbu rahasia neraka."
"Beneran?" mata gue berbinar dikit.
"Iya, tapi lo tetep harus ngerjain PR Matematika Sihir abis itu. Gue udah liat soalnya tadi di tas lo, gampang banget itu. Masa volume bola api pake integral lo nggak bisa?"
Gue mendesah panjang. Emang bener, punya Luci itu berkah sekaligus musibah. Di satu sisi dia bisa bikin gue punya kekuatan super, di sisi lain dia lebih galak daripada guru bimbel paling killer di Jakarta.
Pas kita jalan balik ke bunker\, gue ngerasa suasana hutan ini makin beda. Rasa aman yang gue rasain semalem udah mulai pudar. Penyerangan *Shadow Hound* tadi itu cuma pembukaan. Siapapun yang ngirim itu anjing\, mereka udah tau lokasi kita.
Gue ngelirik Elena yang lagi jalan di samping gue sambil terus siaga sama tongkat sihir kecilnya. Terus gue liat Luci yang udah mulai sibuk ngomongin soal strategi main PS5 nanti malem. Gue tau, hari-hari tenang gue sebagai murid SMA biasa udah bener-bener tamat.
"Eh, Bim," Luci manggil pas kita udah mau sampe pintu bunker.
"Apa lagi?"
"Tadi pas lo mukul, lo teriak 'Jangan makan gue' ya? Cupu banget, anjir. Harusnya lo teriak 'Mati lo!' atau apa gitu yang kerenan dikit."
"Berisik lo, setan!"
Gue mempercepat langkah, masuk ke bunker yang meskipun sempit dan bau tanah, sekarang berasa kayak satu-satunya tempat paling aman di bumi. Besok mungkin bakal ada lebih banyak anjing bayangan, atau mungkin pemburu yang lebih kuat. Tapi untuk sekarang, bau mi instan yang mulai dimasak Luci lebih penting daripada urusan kiamat dunia.
Tanpa kita sadari, di dahan pohon paling tinggi yang nggak terjangkau mata manusia maupun iblis, sosok berjubah putih yang dari semalem ngawasin cuma senyum tipis. Dia megang sebuah koin emas dengan lambang sekolah sihir pusat, lalu ngelemparnya ke bawah.
"Permainan baru dimulai, Bima," bisiknya yang langsung ilang ketiup angin.
Gue yang lagi sibuk nyari sendok di dalem bunker tiba-tiba merinding. Gue noleh ke belakang, tapi cuma ada pintu bunker yang tertutup rapat.
"Bim! Buruan! Mi-nya udah mateng, jangan sampe lembek!" teriak Luci dari dalem.
"Iya, iya! Sisain gue telornya satu!" bales gue, berusaha ngilangin perasaan nggak enak di hati gue.
Apapun yang bakal terjadi besok, gue harus siap. Kalau nggak, mungkin gue beneran bakal berakhir jadi seblak level 10 yang siap disantap sama takdir. Dan gue, Bima, nggak bakal biarin itu terjadi. Minimal, gue harus namatin Elden Ring dulu sebelum mati.