Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Sang Ratu & Pandangan Pertama
Melihat tubuh Zio yang tergeletak tak berdaya di lantai dingin, darah yang menetes dari sudut bibirnya, dan wajah yang memar, sesuatu di dalam diri Ziva seakan pecah.
Kesabaran yang selama ini ia jaga dengan ketat, topeng "gadis manis" yang ia pakai, hancur berkeping-kepingan dalam sekejap. Api kemarahan membara di dadanya. Bagaimana mereka berani menyakiti saudara kandungnya? Bagaimana mereka berani meremehkan keluarga Sterling?
Brak!
Dengan satu gerakan cepat, Ziva melompati pagar pembatas ring tinju dan mendarat dengan anggun namun tegas tepat di tengah arena.
"Berani-beraninya kalian menyentuhnya..." suara Ziva terdengar pelan, namun cukup jelas terdengar di seluruh penjuru ruangan yang kini hening seketika. "Kalian harus membayarnya."
Pria besar yang tadi menginjak dada Zio menoleh, dan saat melihat siapa yang datang, ia malah tertawa terbahak-bahak disusul oleh anak buahnya yang lain.
"Wah, ada cewek cantik mau ikut main? Hahaha!" ejek pria itu sambil menunjuk hidungnya. "Lihat tuh badanmu kecil dan kurus begini, Neng. Mau jadi bubur kalau lawan gue? Mending lo pulang sana, masak dan cuci baju lebih baik!"
Semua orang mengira Ziva akan menangis atau mundur ketakutan. Tapi mereka salah besar.
Ziva tidak bergeming. Wajahnya datar, matanya tajam memancarkan aura mematikan yang membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
"Aku kasih kesempatan sekali lagi. Minta maaf dan pergi dari sini, atau kubuat kalian menyesal pernah lahir ke dunia," ancam Ziva dengan nada dingin yang menusuk tulang.
Pria itu tertawa semakin keras. "Oke kalau lo mau dipukul, gue layani!"
Tanpa aba-aba, pria itu melayangkan pukulan keras yang cukup mematikan ke arah wajah Ziva. Kecepatannya memang cepat untuk ukuran orang biasa, tapi bagi Ziva... itu bergerak seperti keong.
Srett!
Dalam sepersekian detik, Ziva menggeser tubuhnya dengan sangat lincah. Pukulan itu meleset hanya beberapa milimeter dari pipinya.
Sebelum pria itu sempat menarik tangannya kembali, Ziva sudah bertindak.
Bugh!
Satu tendangan kilat menghantam tepat di ulu hati pria itu.
"Ughhh!" Pria itu tercekik napasnya, tubuhnya membungkuk kesakitan. Belum sempat ia bangun, Ziva sudah memutar lengannya dengan teknik kuncian yang sangat cepat.
Krak!
Suara patah tulang terdengar jelas diiringi jeritan kesakitan yang memekakkan telinga.
"Tidak mungkin... cewek sekecil ini punya kekuatan sebesar ini?" batin orang-orang yang menyaksikan terkejut setengah mati.
Teman-teman pria itu mencoba maju membantu, tapi Ziva tidak memberi mereka kesempatan. Gerakannya indah namun mematikan. Kombinasi antara kecepatan, teknik bela diri tingkat tinggi, dan kekuatan yang luar biasa.
Satu per satu pria-pria bertubuh kekar itu tumbang hanya dengan satu atau dua serangan dari Ziva. Tidak ada yang bisa menandinginya. Bagi Ziva, melawan orang-orang ini sama saja seperti melawan anak kecil. Mereka bukan level yang sama.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit, seluruh gerombolan preman itu sudah berteriak kesakitan dan berguling-guling di lantai, tak berdaya.
Ziva berdiri tegap di tengah ring, napasnya masih teratur, rambutnya sedikit berantakan tapi tetap terlihat sangat gagah dan cantik. Aura kemenangan yang luar biasa terpancar dari tubuh mungilnya.
"Gila...!"
"Siapa cewek itu sebenarnya?!"
"Keren banget! Dewa bela diri!"
Seketika seluruh arena bersorak sorai dengan sangat heboh. Tepuk tangan gemuruh memuji kehebatan Ziva. Mereka tidak menyangka bahwa di balik wajah cantik dan tubuh mungil itu tersimpan kekuatan monster.
Di pinggir ring, Zio yang baru saja bisa duduk dengan bantuan pengawal, menatap adik kembarnya itu dengan mulut ternganga. Matanya membelalak tak percaya.
"Ya Tuhan... itu Ziva? Adik kembarku?" gumam Zio takjub. "Gila... dia jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan. Tadi gerakannya begitu cepat dan presisi. Bukan gerakan orang biasa belajar!"
Ziva berjalan mendekati Zio, aura ganasnya perlahan menghilang dan digantikan kembali oleh wajah lembut yang penuh kekhawatiran.
"Zio, kamu gak apa-apa?" tanya Ziva sambil berjongkok memeriksa luka di wajah kembarannya.
"Zi... Ziva..." Zio masih terbata-bata. "Kamu... kamu hebat banget! Sejak kapan kamu bisa bertarung sehebat itu? Di mana kamu belajar? Itu bukan teknik biasa lho!"
Ziva tersenyum tipis, otaknya bekerja cepat mencari alibi yang masuk akal. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia belajar di tengah pertempuran berdarah dan dunia bawah tanah.
"Oh itu... waktu aku tinggal di luar negeri dulu," jawab Ziva berbohong dengan santai. "Lingkungan di sana keras, Zio. Aku belajar bela diri supaya bisa menjaga diri sendiri supaya tidak diganggu orang. Ternyata berguna juga ya hari ini."
"Wah, keren! Ternyata kita sama-sama jago tinju ya! Tapi kamu jauh lebih jago dariku!" seru Zio dengan kekaguman yang tulus, tanpa curiga sedikitpun.
"Sudah jangan banyak bicara, ayo aku obati lukamu dulu," kata Ziva lembut. Ia mengeluarkan kotak P3K yang selalu ia bawa (kebiasaan lama saat memimpin pasukan). Dengan sangat hati-hati dan telaten, Ziva membersihkan luka Zio, menempelkan plester, dan memberikan obat. Sentuhannya lembut, sangat berbeda dengan saat ia menghajar musuh tadi.
Setelah dirasa cukup aman, mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk menghindari kerumunan dan masalah lebih lanjut dengan polisi.
Di sudut gelap tempat parkir yang agak jauh, tersembunyi di balik tiang besar, berdiri seorang pria tampan dengan setelan jas hitam yang rapi.
Pria itu adalah Arsen.
Ia sebenarnya sedang ada urusan bisnis di gedung sebelah, namun suara keributan dan sorak-sorai membuatnya penasaran dan mendekat. Dan sejak pertama kali Ziva melangkah masuk ke dalam ring, mata Arsen tidak bisa lepas darinya.
Ia menyaksikan seluruh pertarungan itu dari awal sampai akhir.
Wajahnya yang biasanya datar dan dingin kini menampakkan kekaguman. Matanya tak berkedip menatap sosok wanita itu.
"Cantik... tapi juga mematikan," gumam Arsen pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang ia tampilkan. "Aura yang dipancarkannya... kuat. Sangat kuat. Bukan wanita biasa."
Ada perasaan aneh yang menjalar di dada Arsen. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia tidak tahu siapa nama wanita itu, ia tidak tahu dari mana asalnya, tapi saat melihat Ziva menatap sekeliling dengan tatapan tajam namun elegan itu...
Arsen sadar, ia sudah jatuh cinta.
Jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Siapapun kamu... kita pasti akan bertemu lagi," bisik Arsen penuh keyakinan, matanya terus mengikuti mobil hitam yang membawa Ziva dan Zio pergi menjauh.
Di dalam mobil, Ziva tersenyum kecil menikmati angin yang masuk dari jendela. Ia tidak sadar bahwa hari ini, ia tidak hanya menyelamatkan saudaranya, tapi juga telah berhasil merebut hati seorang pria misterius yang kelak akan menjadi takdirnya.