Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Jauh di Utara Yang Tenang dan Aman.
Jauh dari konflik di Alabas, suasana di wilayah utara sangatlah kontras. Angin dingin yang membawa aroma daun pinus dan salju menyapu pemukiman bangsa Viking yang kokoh. Di sini, salju tipis mulai turun, menghiasi atap-atap kayu besar yang penuh ukiran naga. Khiya sedang duduk di dekat perapian besar di dalam aula utama.
Di sampingnya, Ube sedang mengasah belati kecil dengan tenang, sementara Kakeknya, Raja Hrolf, duduk di singgasananya. "Alabas sedang bergejolak, Khiya," suara berat Raja Hrolf memecah kesunyian. "Tapi di sini, selama Ube masih ada dan dinding kita masih kokoh, kau akan aman." lanjut Raja Hrolf.
Ube hanya terkekeh pelan tanpa mengalihkan pandangan dari senjatanya. "Jangan takut, Khiya. Jika ada iblis atau musuh lainya yang berani menginjakkan kaki di tanah ini, mereka akan tahu bahwa darah Viking jauh lebih panas dari api manapun." Ucap Ube yang masih mengasah belatinya.
Khiya merasa tenang, namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa ada sesuatu yang menariknya. Hidupnya yang damai di bawah perlindungan dua pria terkuat di utara itu terasa seperti ketenangan sebelum badai besar datang. khiya mencemaskan kurza yang sedang berjuang melawan Zhit dan merebut tahta ayahnya.
Meskipun dikelilingi oleh kehangatan api unggun dan perlindungan bangsa Viking yang tangguh, pikiran Khiya melayang jauh melintasi lautan dan pegunungan menuju Alabas. Rasa cemas itu seperti duri kecil yang menusuk hatinya setiap kali ia teringat pada Kurza.
"Paman," suara Khiya memecah kesunyian, matanya menatap api yang menari - nari di perapian. "Apakah menurutmu Kurza bisa melakukannya? Mengalahakan Zhit dan para iblis?" Lanjut Khiya bertanya kepada Ube.
Ube berhenti mengasah belatinya. Ia menatap Khiya dengan tatapan yang dalam. "Kurza adalah pria yang kuat, Khiya. Tapi dia bukan hanya bertarung melawan musuh, dia bertarung melawan takdirnya sendiri. Ia tidak ingin mengulangi kegagalanya sebelumnya." Ucap Ube dengan tenang.
Raja Hrolf yang sedari tadi terdiam, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat seperti guntur yang jauh. "Seorang yang bertanggung jawab dengan ucapanya, hidupnya ditempa dalam perjuangan dan tekad kesetiaan. Jika Kurza ingin melindungimu, dia harus menjadi lebih dingin dari es utara ini dan lebih tajam dari pedang manapun." Ujar Raja Hrolf.
Khiya meremas jemarinya. Dia tahu Kurza tidak hanya menghadapi tentara Zhit, tetapi juga para iblis yang mulai merasuki Alabas. "Aku merasakannya, Kek. Ada sesuatu yang sangat gelap di sana. Bau darah... aromanya sampai ke sini melalui mimpi - mimpiku."ucap Khiya. Pernyataan Khiya membuat suasana aula mendadak hening.
Raja Hrolf dan Ube saling pandang. Raja Hrolf terkekeh melihat wajah melamun cucunya, lalu ia berdiri dengan gagah, membuat jubah kulit beruangnya menyapu lantai kayu. Dengan bantuan pelayannya ia mendekati Khiya dan menepuk bahunya dengan tangan yang kasar namun penuh kasih.
"Apa kau tidak ingin berlatih bertarung, cucuku?" tanya sang Raja, mengalihkan pembicaraan dari kegelapan di Alabas. "Ingat, di tanah utara ini, wanita setara dengan laki-laki. Mereka pergi ke medan perang, mereka pergi menjarah, dan mereka pulang dengan kemuliaan sebagai Shield-maiden." Jelas Raja Hrolf.
Ube ikut berbicara, "Benar kata kakekmu. Mencemaskan orang lain memang baik, tapi mampu melindungi diri sendiri saat bahaya datang itu jauh lebih baik." Ucap Ube mencoba meyakinkan Khiya. Khiya terdiam sebentar, memikirkan ucapan kakeknya dan pamanya.
Perasaan cemasnya perlahan berubah menjadi tekad yang membara. Ia sadar bahwa jika ia ingin membantu Kurza, ia tidak bisa tetap menjadi gadis lemah yang hanya bersembunyi di balik dinding benteng.
"Baiklah," jawab Khiya tegas, jemarinya menggenggam penuh semangat. "Aku ingin bisa bertarung setidaknya aku bisa melindungi diriku sendiri." Lanjutnya, Raja Horld tertawa bangga hingga suaranya memenuhi seluruh aula. "Itu baru cucuku!" Seru Raja Hrolf dengan bangga.
"Kita akan lihat apakah darah Bjorn dalam dirinya bisa membantu!" Ucap Ube. Raja Hrolf kemudian memberi isyarat kepada seorang pelayan. "Panggil Astrid ke sini sekarang juga!" Perintah Raja Hrolf. Tak lama kemudian, pintu aula yang besar terbuka dengan dentuman keras. Masuklah seorang wanita dengan rambut pirang yang dikepang rumit, mengenakan pelindung dada dari kulit yang penuh dengan goresan senjata tajam.
Dialah Astrid, petarung wanita (Shield-maiden) terbaik yang dimiliki bangsa Viking, yang konon kekuatannya setara dengan sepuluh prajurit laki-laki. "Kau memanggilku, Rajaku?" suara Astrid tenang namun penuh otoritas. Raja Horld menunjuk ke arah Khiya, dan memberikan perintah kepada Astrid. "Latih cucuku! Jangan beri dia kemudahan hanya karena dia putri Bjorn. Jadikan dia setangguh baja utara."
"Dengan senang hatu Tuanku." Jawav Astrid sambil menatap Khiya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan mata biru tajamnya. Ia berjalan mengambik sebuah perisai kayu dab mendekati Khiya, lalu melemparkan perisai kayu bundar itu ke arah Khiya yang hampir saja membuatnya terjungkal.
"Langkah pertama untuk menjadi petarung bukan cara menyerang, tapi cara bertahan agar tidak mati," ujar Astrid dingin. "Besok pagi, temui aku di pinggir tebing saat angin paling kencang. Kita akan lihat seberapa kuat kau memegang perisaimu sebelum angin menjatuhkanmu."
Khiya merasakan tekanan yang luar biasa, namun ia membalas tatapan Astrid dengan penuh keberanian. Di dalam pikirannya, ia membayangkan Kurza; jika Kurza bisa menghadapi iblis, maka ia harus bisa menghadapi latihan ini.
Fajar baru saja menyingsing di ufuk utara, angin kencang yang membeku menusuk hingga ke tulang. Di atas tebing yang menghadap langsung ke samudera luas, Astrid sudah berdiri tegak tanpa merasa kedinginan sedikit pun. Di depannya, Khiya terengah - engah, mencoba menyeimbangkan tubuhnya dengan perisai kayu yang terasa seberat batu.
"Angkat perisaimu lebih tinggi, Putri! Musuhmu tidak akan mengincar kakimu jika lehermu terbuka lebar!" Seru Astrid. "Ini... jauh lebih berat dari yang terlihat, Astrid. Lenganku rasanya mau copot." Ucap Khiya Sambil meringis menahan beban. "Berat itu hanya di pikiranmu. Di medan perang, jika perisaimu jatuh, nyawamu juga jatuh. Kau bilang ingin menjadi tangguh? Ingat, bangsa Viking tidak bertarung dengan otot saja, tapi dengan keras kepala!" Seru Astrid sambil Berjalan memutari Khiya, sesekali memukul perisai Khiya dengan tongkat kayu besar, hingga terdengar bunyi dentuman keras.
"Aku tidak akan membiarkannya jatuh! Aku harus melakukan ini... demi seseorang yang sedang berjuang di selatan." Balas Khiya, "Untuk seseorang? Itu motivasi yang bagus, tapi juga bisa jadi kelemahanmu. Jika kau memikirkan dia saat pedang lawan mengayun ke arahmu, kau akan mati sebelum bisa bertemu dengannya lagi. Fokus pada senjataku!" Perintah Astrid yang berhenti sejenak, menatap tajam.
"Aku fokus! Serang aku lagi!" Ucap Khiya. "Kau terlalu kaku. Kau mengandalkan kekuatan lenganmu, bukan pijakan kakimu. Bumi adalah sekutumu, Khiya. Rasakan tanah di bawah sepatumu, jangan hanya melayang seperti debu!" Seru Astrid Tersenyum tipis, lalu tiba - tiba menendang perisai Khiya hingga Khiya terjatuh ke salju. Khiya bangkit kembali, menyeka salju dari wajahnya dengan tatapan yang lebih berani.
"Lagi. Aku tidak akan jatuh untuk kedua kalinya dengan cara yang sama." Seru Khiya dengan tatapan lebih fokus, "Bagus. Matamu mulai berubah. Sekarang, lupakan kau seorang putri Bjorn atau putri bansawan kerajaan Alabas. Di sini, kau hanya seorang prajurit yang ingin bertahan hidup. Jika kau bisa menangkis serangan berikutnya tanpa bergeser satu inci pun, aku akan mengajarimu cara memegang pedang." Tantang Astrid kepada Khiya.
"Simpan pedang itu untukku, Astrid. Karena aku tidak akan bergeser." Ucap Khiya menerima tantangan dari Astrid. Latihan berlanjut dengan suara benturan kayu yang bergema di sepanjang tebing. Astrid terus memberikan tekanan, namun setiap kali Khiya terjatuh, ia bangkit lebih cepat dari sebelumnya.
Bersambung. . .