My Baby Mafia

My Baby Mafia

MBM — BAB 01

AWAL LUKA

ITALIA, MILAN

Aroma roti yang baru matang memenuhi ruangan kecil itu, hangat dan menenangkan, seperti pelukan yang tak terlihat. Aria berdiri di balik meja kayu yang sudah mulai usang, tangannya lincah menyusun roti-roti ke dalam etalase kaca.

Toko itu tidak besar. Sederhana. Namun setiap sudutnya menyimpan cerita—tentang neneknya, tentang ibunya, dan kini tentang dirinya.

“Aria, kau akan menghabiskan masa muda mu di sini terus?” suara seorang wanita terdengar dari sudut ruangan.

Aria Vance (27th) mengangkat kepala, menatap sahabatnya, Nara, yang tengah bersandar santai di kursi, sementara Evan duduk di sampingnya, menggoyangkan kaki dengan malas.

“Aku tidak menghabiskan apa pun,” jawab Aria ringan. “Aku menjaga sesuatu.”

“Menjaga roti?” Evan menyeringai. “Itu bukan alasan untuk menolak ajakan bersenang-senang.”

Aria terkekeh kecil. “Aku lelah. Lagi pula, toko belum tutup.”

Nara mendecih pelan, lalu bangkit mendekat. “Kami tidak menerima penolakan malam ini. Kau ikut. Selesai.”

“Aku bilang tidak.”

“Dan aku bilang iya.”

Evan ikut berdiri, menepuk meja pelan. “Kami sudah memilih tempatnya. Kau hanya perlu datang dan menikmati.”

Aria menghela napas panjang, menatap dua orang di depannya yang jelas tidak akan menyerah. Untuk sesaat, ia ingin tetap bertahan. Dunia kecilnya di toko ini terasa jauh lebih aman. Apalagi setelah kematian ibunya 8 bulan yang lalu.

Namun tawa mereka, kehangatan yang mereka bawa… membuatnya goyah.

“Baiklah,” gumamnya akhirnya.

Nara bersorak pelan. “Itu baru Aria yang kami kenal!”

Mereka tertawa bersama—ringan, tanpa beban.

Hingga pintu toko terbuka.

Suara lonceng kecil berbunyi pelan, namun entah mengapa… suasana berubah saat seorang pria masuk.

Pria yang mengenakan Kemeja hitam membungkus tubuhnya dengan rapi, mantel panjang menjuntai di bahunya, dan kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya—meski ini masih sangat pagi untuk ikut fashion.

Langkahnya tenang. Terukur.

Namun auranya… membuat udara terasa lebih berat.

Tawa Nara terhenti. Evan ikut terdiam.

Aria merasakan sesuatu yang aneh, tapi ia tetap tersenyum seperti biasa. Itu pekerjaannya. Dan mereka akui kalau pria itu sangat tampan dan gagah.

“Selamat pagi, Tuan,” ucapnya ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”

Pria itu berhenti di depan etalase, menatap deretan roti tanpa benar-benar melihatnya.

Lalu, perlahan, ia berbicara. “Satu saja.”

Aria mengernyit. “Maaf?”

“Satu roti,” ulangnya, suaranya rendah, datar, namun entah kenapa terasa… berbeda. “Yang paling sederhana.”

Aria menatapnya sejenak, lalu mengambil satu roti dari etalase. Namun tatapan pria itu memperhatikan detail gerakan Aria tanpa berpaling, seolah tengah memperhatikan sesuatu yang menarik.

Saat Aria menyerahkan roti itu, jari mereka hampir bersentuhan. Hanya sepersekian detik—namun cukup untuk membuat Aria menarik napas tanpa sadar.

“Rasanya… terlalu tenang di sini.” kata pria itu membuat Nara, Evan terutama Aria, terdiam menatap aneh.

Aria tidak langsung menjawab. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara yang membuatnya tidak nyaman.

“Totalnya—”

Ia terdiam saat pria itu meletakkan uang di meja. Lebih dari cukup tanpa mendengar totalnya.

“Kembalian Anda—”

“Simpan saja.”

Pria itu sudah berbalik sebelum Aria selesai bicara.

Langkahnya santai hingga menghilang bersama suara lonceng pintu.

Sunyi.

Nara menghembuskan napas panjang. “Aku tidak suka dia dan aku akui dia tampan.”

“Ya,” Evan menimpali. “Aura pria itu… tidak normal.”

Aria hanya diam, menatap uang di tangannya.

Entah kenapa, ada perasaan yang sulit ia jelaskan. Seperti… sesuatu baru saja dimulai. Padahal ia tidak tahu— pria itu telah memperhatikannya selama seminggu terakhir.

Dan pagi ini… bukan kebetulan.

...***...

Pria itu menggigit roti yang baru saja dia beli. Gigitan besar yang membuat rasa roti semakin jelas. Ada sesuatu yang menarik lidahnya, Rasa roti itu sederhana—tidak mewah, namun entah mengapa meninggalkan kesan yang sulit diabaikan.

“Kau datang terlambat hanya untuk membeli roti itu, Loren?” tegas pria tua yang duduk di kursi santai dekat kolam mewah. Ada dua penjaga yang senantiasa menjaga.

“Ya.” jawab singkat pria bernama Lorenzo de Santis (29th) itu yang mulai duduk berhadapan dengan ayahnya, Emilio de Santos.

Pria itu melepas kacamata hitamnya dan memperhatikan sekelilingnya. “Ayah memilih tempat ini untuk pertemuan itu?”

“Ya. Monica yang memberi saran ini. Karena membuat nyaman para tamu wanita itu lebih baik untuk menjaga mulut mereka.”

Mendengar itu Loren menyeringai kecil. “Aku harap ini bukan salah satu rencananya. Sampai kapan kau akan patuh pada, Monica?”

“Panggil dia Ibu, Loren. Dia sudah seperti ibumu.” tegas Emilio yang hanya ditatap oleh pria bermata perak itu.

Ia hanya menoleh ke kanan tanpa membalas perkataan ayahnya tadi. Sedangkan Emilio sendiri juga tak ingin debat dengan putranya.

“Kau akan menjadi seperti ku. Mengelola semuanya, dan mematuhinya.” perkataan itu semakin membuat Loren malas karena dia tak setuju, jika bukan karena ayahnya.

“Aku tidak bisa menjamin hal itu.” balas Loren menatap tegas ayahnya lalu berdiri dari duduknya. “Sebaiknya wanita itu dan ayah urus Matteo. Dia semakin dewasa tapi bodoh dalam kehidupan.” kata Loren sebelum akhirnya pergi begitu saja.

Emilio tak bisa menghentikan putra sulungnya itu yang memang angkuh. Namun dia lebih yakin dengannya daripada putra bungsunya, Matteo.

.

.

.

Menjelang malam yang terasa lebih dingin dari biasanya. Aria berdiri di belakang gedung klub, ponselnya menempel di telinga. Namun tak ada jawaban dari kedua temannya itu.

Tentu saja, keduanya sudah bersenang-senang sampai lupa akan temannya yang ketinggalan di luar karena harus menutup toko lebih dulu.

Ddrrrttt!! Drrtt!

“Ck, di mana mereka? Dan jangan salahkan aku jika tidak pernah ikut kalian.” kesal Aria yang masih berusaha menelepon Nara dan Evan.

Sementara dari dalam klub. Musik berdentum keras dari dalam, bercampur dengan suara tawa dan hiruk-pikuk.

“Nara! Di mana Aria? Dia belum datang?” kata Evan.

“ENTAHLAH...” balas Nara yang meninggikan suaranya karena musik terlalu keras di sana.

Lagi dan lagi, Aria mengernyit, menurunkan ponselnya. Sinyal buruk dan tidak ada balasan dari telepon maupun pesan.

Ia menghela napas, lalu mulai melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu ia berhenti.

Ada sesuatu yang membuat perasaan itu kembali. Perasaan waspada dan merinding, seperti… seseorang sedang memperhatikannya.

Aria menoleh perlahan.

Kosong.

Namun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia mempercepat langkah. Dan benar saja, seorang pria mengikutinya dari belakang dengan langkah panjang.

Lalu lebih cepat lagi.

Ponselnya kembali ia angkat. “Nara, cepat—aku—” setidaknya dia sudah berusaha menelepon seseorang.

Langkah lain terdengar di belakangnya.

Lebih cepat dan lebih dekat.

Aria membeku sejenak, lalu berbalik dan—

berlari.

Napasnya memburu. Langkahnya tak beraturan. Ia tidak tahu harus ke mana, hanya ingin menjauh.

Namun langkah di belakangnya semakin cepat. Hingga— sebuah tangan membungkam mulutnya dari belakang. Memeluknya cukup erat.

“Mm—!” Aria meronta, panik, tubuhnya ditarik paksa.

Dunia di sekelilingnya seperti runtuh dalam sekejap. Suara, cahaya, semuanya menghilang.

Yang tersisa hanya ketakutan. Dan kegelapan.

.

.

.

Bak tak bisa bernafas seperti engap dalam ruangan. Aria bernafas memburu hingga sebuah kain dilepas dari kepalanya, ia hanya bisa melihat kegelapan saja, namun dia yakin berada didalam sebuah ruangan yang tertutup rapat.

“CHI SEI?? (SIAPA KAMU)??” teriak Aria dengan dada naik turun dan takut yang luar biasa. Ia tak bisa membuka pintu maupun jendela, hanya bisa berteriak dan menangis histeris sampai sosok yang menculiknya itu muncul.

Tentu Aria langsung waspada dan berdiri menjaga jarak saat ia bisa melihat siluet pria bertubuh tinggi dan besar, aroma yang khas dan memabukkan.

“Siapa? Aku tidak takut denganmu. Jika berani mendekat, aku bersumpah kau akan dihukum!” tegas Aria yang semakin berkeringat saat pria itu terus melangkah maju.

Keadaan nya sangat gelap, wanita itu tak tahu dan tak bisa melihat sesuatu untuk dijadikan senjata.

“JANGAN MENDEKAT!!” tegasnya namun tak ada gunanya ketika pria itu terus maju hingga Aria mencoba menghindar dengan cara berlari.

Namun pria itu langsung menangkapnya dan membantingnya di atas kasur.

Tentu, Aira semakin gemetar saat kedua tangannya diikat oleh sesuatu seperti kain.

“Lepaskan aku, sialan! FUCK YOU!!” teriak Aria tak peduli, namun saat itu juga pria itu langsung menutup kedua mata Aria dengan telapak tangannya sebelum mencium bibirnya.

Terpopuler

Comments

Tiara Bella

Tiara Bella

wow aku ketinggalan lg udh sehari br nongol notifnya.....tp gpp blm banyak hehhehe aku mampir Thor.../Kiss/

2026-04-08

2

vnablu

vnablu

malangg nasib mu Aria othor nihh tapi yang buat nasib mu kayak gitu 😄😄

2026-04-08

1

sleepyhead

sleepyhead

Hadiiiiiir 😁

2026-04-08

1

lihat semua
Episodes
1 MBM — BAB 01
2 MBM — BAB 02
3 MBM — BAB 03
4 MBM — BAB 04
5 MBM — BAB 05
6 MBM — BAB 06
7 MBM — BAB 07
8 MBM — BAB 08
9 MBM — BAB 09
10 MBM — BAB 10
11 MBM — BAB 11
12 MBM — BAB 12
13 MBM — BAB 13
14 MBM — BAB 14
15 MBM — BAB 15
16 MBM — BAB 16
17 MBM — BAB 17
18 MBM — BAB 18
19 MBM — BAB 19
20 MBM — BAB 20
21 MBM — BAB 21
22 MBM — BAB 22
23 MBM — BAB 23
24 MBM — BAB 24
25 MBM — BAB 25
26 MBM — BAB 26
27 MBM — BAB 27
28 MBM — BAB 28
29 MBM — BAB 29
30 MBM — BAB 30
31 MBM — BAB 31
32 MBM — BAB 32
33 MBM — BAB 33
34 MBM — BAB 34
35 MBM — BAB 35
36 MBM — BAB 36
37 MBM — BAB 37
38 MBM — BAB 38
39 MBM — BAB 39
40 MBM — BAB 40
41 MBM — BAB 41
42 MBM — BAB 42
43 MBM — BAB 43
44 MBM — BAB 44
45 MBM — BAB 45
46 MBM — BAB 46
47 MBM — BAB 47
48 MBM — BAB 48
49 MBM — BAB 49
50 MBM — BAB 50
51 MBM — BAB 51
52 MBM — BAB 52
53 MBM — BAB 53
54 MBM — BAB 54
55 MBM — BAB 55
56 MBM — BAB 56
57 MBM — BAB 57
58 MBM — BAB 58
59 MBM — BAB 59
60 MBM — BAB 60
61 MBM — BAB 61
62 MBM — BAB 62
63 MBM — BAB 63
64 MBM — BAB 64
65 MBM — BAB 65
66 MBM — BAB 66
67 MBM — BAB 67
68 MBM — BAB 68
69 MBM — BAB 69
70 MBM — BAB 70
71 MBM — BAB 71
72 MBM — BAB 72
73 MBM — BAB 73
74 MBM — BAB 74
75 MBM — BAB 75
76 MBM — BAB 76
77 MBM — BAB 77
78 MBM — BAB 78
79 MBM — BAB 79
80 MBM — BAB 80
81 MBM — BAB 81
82 MBM — BAB 82
83 MBM — BAB 83
84 MBM — BAB 84
85 MBM — BAB 85
86 MBM — BAB 86
Episodes

Updated 86 Episodes

1
MBM — BAB 01
2
MBM — BAB 02
3
MBM — BAB 03
4
MBM — BAB 04
5
MBM — BAB 05
6
MBM — BAB 06
7
MBM — BAB 07
8
MBM — BAB 08
9
MBM — BAB 09
10
MBM — BAB 10
11
MBM — BAB 11
12
MBM — BAB 12
13
MBM — BAB 13
14
MBM — BAB 14
15
MBM — BAB 15
16
MBM — BAB 16
17
MBM — BAB 17
18
MBM — BAB 18
19
MBM — BAB 19
20
MBM — BAB 20
21
MBM — BAB 21
22
MBM — BAB 22
23
MBM — BAB 23
24
MBM — BAB 24
25
MBM — BAB 25
26
MBM — BAB 26
27
MBM — BAB 27
28
MBM — BAB 28
29
MBM — BAB 29
30
MBM — BAB 30
31
MBM — BAB 31
32
MBM — BAB 32
33
MBM — BAB 33
34
MBM — BAB 34
35
MBM — BAB 35
36
MBM — BAB 36
37
MBM — BAB 37
38
MBM — BAB 38
39
MBM — BAB 39
40
MBM — BAB 40
41
MBM — BAB 41
42
MBM — BAB 42
43
MBM — BAB 43
44
MBM — BAB 44
45
MBM — BAB 45
46
MBM — BAB 46
47
MBM — BAB 47
48
MBM — BAB 48
49
MBM — BAB 49
50
MBM — BAB 50
51
MBM — BAB 51
52
MBM — BAB 52
53
MBM — BAB 53
54
MBM — BAB 54
55
MBM — BAB 55
56
MBM — BAB 56
57
MBM — BAB 57
58
MBM — BAB 58
59
MBM — BAB 59
60
MBM — BAB 60
61
MBM — BAB 61
62
MBM — BAB 62
63
MBM — BAB 63
64
MBM — BAB 64
65
MBM — BAB 65
66
MBM — BAB 66
67
MBM — BAB 67
68
MBM — BAB 68
69
MBM — BAB 69
70
MBM — BAB 70
71
MBM — BAB 71
72
MBM — BAB 72
73
MBM — BAB 73
74
MBM — BAB 74
75
MBM — BAB 75
76
MBM — BAB 76
77
MBM — BAB 77
78
MBM — BAB 78
79
MBM — BAB 79
80
MBM — BAB 80
81
MBM — BAB 81
82
MBM — BAB 82
83
MBM — BAB 83
84
MBM — BAB 84
85
MBM — BAB 85
86
MBM — BAB 86

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!