Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang 19 dan Orang yang Menulis Takdirku
📖 BAB 24: Gudang 19 dan Orang yang Menulis Takdirku
Alarm keamanan masih meraung ketika lift privat turun menuju parkiran bawah tanah.
Qingyan berdiri di dalam lift bersama Gu Beichen dan Han. Lampu merah darurat memantul di dinding baja, membuat wajah mereka tampak lebih keras dari biasanya.
Han memegang tablet sambil bicara cepat.
“Van putih tanpa plat. Mesin masih hidup. Sopir tidak terlihat. Kamera luar mati tiga puluh detik sebelum kendaraan masuk.”
“Profesional,” kata Beichen.
“Murahan,” balas Qingyan. “Kalau profesional, mereka tak salah panggil hubungan keluarga.”
Han mengangguk.
“Itu poin bagus.”
Pintu lift terbuka.
Van putih itu masih di tengah area parkir, lampu hazard berkedip pelan seperti mengejek.
Beichen mengangkat tangan menghentikan semua orang.
“Jangan dekat dulu.”
Qingyan menatap layar monitor portable.
Madam Qin terlihat di dalam, tangan terikat, kepala tertunduk.
“Aku benci wanita itu,” katanya datar. “Tapi aku lebih benci dipaksa memilih.”
---
Han mengirim drone mini dari koper hitam kecil.
“Kadang saya merasa terlalu berbakat untuk pekerjaan ini.”
Drone melayang mendekat, masuk melalui celah pintu belakang van.
Layar menampilkan interior kendaraan.
Madam Qin benar-benar di sana.
Mulut tersumpal.
Mata terbuka penuh amarah.
Di samping kursinya ada kotak logam kecil dengan lampu hijau berkedip.
Han memucat.
“Bom tekanan.”
Qingyan menoleh cepat.
“Artinya?”
“Kalau kursinya bergerak sembarangan atau kabel diputus salah... kita semua dapat masalah besar.”
Madam Qin menatap kamera drone dan seolah sadar mereka melihatnya. Ia menggeleng keras, memberi tanda agar mereka menjauh.
Beichen justru melangkah maju.
“Han, waktu?”
“Kalau itu timer, mungkin sepuluh menit. Kalau jebakan sensor, bisa kapan saja.”
“Optimis sekali.”
“Saya dibayar untuk panik dengan rapi.”
---
Qingyan menyambar alat komunikasi dari tangan Han.
“Madam Qin!”
Wanita itu menatap kamera dingin, lalu perlahan menunjuk ke bawah kursinya.
Han memperbesar gambar.
Ada ponsel yang direkatkan ke kaki kursi.
Layar menyala.
Panggilan masuk video.
Nama tak dikenal.
Beichen menerima sambungan lewat tablet.
Layar menampilkan ruangan gelap. Seorang pria duduk membelakangi kamera. Hanya siluet dan suara yang terdengar.
“Selamat malam.”
Suara yang sama dari koridor semalam.
Pria bertopeng.
Qingyan mengepalkan tangan.
“Kau pengecut.”
“Dan kau selalu langsung ke inti masalah.”
“Apa maumu?”
Pria itu tertawa pelan.
“Kau.”
---
“Datang ke Gudang 19 sendirian,” lanjutnya. “Dalam dua puluh menit.”
“Kalau tidak?”
Pria itu menekan sesuatu.
Lampu hijau di kotak bom berubah kuning.
Han menelan ludah.
“Dia punya akses jarak jauh.”
“Kalau tidak,” kata pria itu santai, “wanita itu akan menjadi contoh bahwa keluarga selalu mahal.”
Madam Qin menatap kamera penuh kebencian. Bahkan saat diculik, ia masih tampak seperti ingin memecat semua orang.
Qingyan maju satu langkah.
“Kenapa aku?”
“Karena kau milikku sejak sebelum lahir.”
Beichen mengambil tablet dari tangan Qingyan.
“Salah jawab.”
Suara Beichen berubah sedingin baja.
“Sekarang dengar aku. Kalau rambutnya saja terluka, aku akan memburu semua nama yang pernah kau pakai.”
Pria itu diam sesaat.
Lalu tertawa lebih keras.
“Sekarang aku mengerti kenapa ayahmu gagal menjaga jarak.”
Layar mati.
---
Ruangan membeku.
Han menatap Beichen.
“Tuan... dia menyebut ayah Anda.”
“Aku dengar.”
Qingyan menatap pria di sampingnya.
“Kau tahu siapa dia.”
“Belum.”
“Kau bohong.”
Beichen menatap van.
“Belum pasti.”
“Nama.”
Ia diam beberapa detik.
“Adrian Vale.”
Jantung Qingyan berdegup keras.
“Ilmuwan itu?”
“Kalau benar dia, maka dia tidak hilang.”
Han mengangkat tangan kecil.
“Dan kalau salah?”
“Maka kita hanya punya psikopat baru.”
---
“Buka bomnya,” kata Qingyan.
Han langsung jongkok dekat van sambil menghubungkan alat scanner.
“Bisa, tapi butuh waktu.”
“Berapa?”
“Dua puluh menit kalau beruntung. Tiga menit kalau saya jenius.”
“Dan kalau sial?”
“Kita viral.”
Madam Qin memutar mata bahkan dalam keadaan terikat.
Qingyan hampir tertawa.
Beichen menoleh padanya.
“Kau ikut denganku.”
“Aku pikir aku harus datang sendiri.”
“Kau akan turun sendiri.”
“Apa?”
“Aku tetap datang. Dia hanya tak perlu tahu.”
Menyebalkan.
Masuk akal.
Berbahaya.
Sangat Beichen.
---
🌧️ Dua Puluh Menit Kemudian – Pelabuhan Timur
Hujan turun tipis.
Gudang 19 berdiri di ujung dermaga seperti bangkai kapal raksasa. Besi berkarat, jendela pecah, lampu kuning redup.
Mobil berhenti jauh dari lokasi.
Beichen memeriksa senjata.
Han masih di parkiran membongkar bom bersama tim.
Qingyan mengenakan jaket hitam dan earpiece kecil.
“Aku bisa masuk sendiri.”
“Ya.”
“Berhenti bilang ya kalau lalu mengatur semuanya.”
“Tidak.”
Ia menatapnya tajam.
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Beichen merapikan kerah jaketnya tanpa izin.
Gerakan kecil. Singkat.
Namun membuat napas Qingyan kacau.
“Masuk. Bicara seperlunya. Cari waktu. Aku di dalam sebelum kau butuh.”
“Aku tak butuh.”
“Bohong.”
Ia membungkuk sedikit, suara rendah dekat telinganya.
“Dan kalau takut, panggil namaku.”
Qingyan menelan ludah.
“Aku benci saat kau seperti ini.”
“Efektif?”
“Sombong.”
---
Pintu gudang terbuka sendiri saat ia mendekat.
Di dalam gelap, hanya satu lampu menggantung di tengah ruangan.
Pria bertopeng berdiri di sana.
Sendirian.
Atau pura-pura sendirian.
Qingyan masuk tanpa menunjukkan gentar.
“Aku datang.”
“Lebih cepat dari ibumu.”
“Aku tak punya ibu.”
“Semua anak punya ibu.”
“Sebagian punya monster.”
Pria itu tertawa pelan.
“Kau benar-benar seperti Elena.”
Nama itu membuat Qingyan menegang.
“Lepas topengmu.”
“Belum.”
“Pengecut.”
“Sabarlah. Banyak hidupmu dibentuk orang bertopeng.”
Ia mengangkat remote kecil.
Di belakang gudang, tirai besi terbuka.
Sebuah ruangan laboratorium lama muncul.
Tabung kaca.
Mesin mati.
Meja operasi logam.
Bau bahan kimia tua masih tersisa.
Qingyan merasa mual.
---
“Tempat apa ini?”
“Tempat kau dimulai.”
“Aku muak dengan kalimat dramatis.”
“Sayang sekali. Ini fakta.”
Ia berjalan mengitari meja operasi.
“Dulu aku percaya ilmu pengetahuan bisa memperbaiki manusia. Menghapus kelemahan. Menciptakan generasi baru.”
“Dan kau gagal.”
“Tidak.”
Ia menatap Qingyan.
“Aku berhasil.”
Jari Qingyan menegang.
“Jadi kau Adrian Vale.”
Pria itu perlahan melepas topeng.
Wajah di baliknya tampan dalam cara yang rusak. Usia sekitar lima puluh lebih, garis lelah di mata, bekas luka di pipi kiri.
Namun yang membuat Qingyan sulit bernapas adalah matanya.
Warna yang sama dengannya.
“Selamat malam, putriku.”
---
Qingyan mundur setengah langkah.
“Jangan panggil aku begitu.”
“Aku menciptakanmu.”
“Itu bukan ayah.”
“Ayah biologis cukup bagi hukum.”
“Aku tak peduli hukum.”
Adrian tersenyum tipis.
“Aku tahu. Itu yang kusuka.”
Ia mengeluarkan map tebal dari meja.
“Semua data aslimu. Tahap perkembangan, modifikasi gen, alasan kau dipilih.”
Qingyan tak bergerak.
“Kenapa sekarang?”
“Karena waktunya mengambil kembali milikku.”
“Milikmu?”
“Kau.”
---
Suara logam kecil terdengar dari atas.
Qingyan tak menoleh.
Ia tahu Beichen sudah masuk.
Adrian juga tahu.
Ia tertawa.
“Gu Beichen, keluarlah. Kau selalu terlalu protektif.”
Bayangan di balkon baja bergerak.
Beichen muncul dengan pistol terarah lurus ke kepala Adrian.
“Lepaskan map itu dan menjauh darinya.”
Adrian tak tampak takut.
“Persis seperti ayahmu saat muda.”
“Jangan bawa dia ke sini.”
“Kenapa? Karena dia tahu ibumu tidur dengan pria lain?”
Ruangan mendadak membeku.
Tatapan Beichen berubah mematikan.
Qingyan menoleh cepat.
“Apa maksudnya?”
Adrian menatap mereka berdua, puas.
“Ah. Jadi dia belum bilang.”
“Bilang apa?” suara Qingyan tajam.
Adrian membuka map, mengeluarkan satu foto lama, lalu melemparkannya ke lantai.
Foto Elena Qin.
Bersama Gu Zhengyuan.
Dan seorang pria ketiga: Adrian Vale.
Ia tersenyum.
“Selamat datang di keluarga yang jauh lebih kacau dari dugaanmu.”
Lalu alarm berbunyi keras di seluruh gudang.
Han berteriak lewat earpiece:
“Keluar sekarang! Tempat itu dipasang bahan peledak!”
BERSAMBUNG