Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Calon Suami
Bab 22
...Geng Pria Terkutuk...
Anji nggak pake ng : Si vampire gagal buka puasa 🫣. Padahal peluang sudah terbuka lebar
Rendi oye : Buka puasa apaan nih?
Anji nggak pake ng : Macul sawah
Asoka Harsa : Maksudnya gagal nikah? Kurang jelas ah
Rendi Oye : sama Cahaya? Wah, jangan di depe in duluan Ward, anak gadis orang
Anji nggak pake ng : Justru itu cara biar mudah dapat restu, eh malah pilih yang susah. Emang rada keblinger teman kita itu
Dokter vampir : Situ yang keblinger, kasih ide kok nggak beres. Awas si Bela di depe in duluan, bilangin bapak kost tau rasa kamu
Anji nggak pake ng : 😁
Asoka Harsa : Jadi, maksudnya gimana ini? Apa ada hubungannya, sama Bang Darma?
Dokter vampir : Iya, saya minta dia urus masalah Cahaya sama mantannya yang bangs4t
Anji nggak pake ng : Tenang guys. Senin, kita ngumpul di cafe nanti gue cerita lengkap
Dokter vampir : yang punya masalah siapa, yang heboh siapa
Anji nggak pake ng : Gue ‘kan juru bicara lo. Kapan ke kampungnya Cahaya, nanti gue dampingi ngomong sama keluarganya
Rendi oye : Yang ada malah diusir
Dokter vampir : Kalau bawa Oka masih oke, bawa si Anji 😔
Edward meletakan ponselnya meninggalkan obrolan yang pasti masih berlanjut, Aya dan Andin sudah ikut masuk ke mobil. Adik kakak itu duduk di kabin tengah. Sempat berdebat karena Andin menyuruh Aya duduk di depan, di samping Edward. Namun, ditolak.
“Nggak enak Aya, beliau bukan supir kita. Ndak sopan.”
“Nggak mau, mbak aja.”
Edward menengahi mengizinkan kedua perempuan beda usia itu duduk di belakangnya. Sejak terbangun pagi ini, Aya tidak banyak cakap dan selalu menghindar adu tatap dengan Edward. Bahkan bibi sudah menyiapkan sarapan, tapi ditolak olehnya. Hanya ingin cepat pulang.
Aya duduk tepat di belakang kursi pengemudi. Sesekali Edward menatap lewat center mirror. Wajah Aya cemberut dan menatap ke luar jendela, memeluk bantal sofa milik Edward. Di balik jaket yang dipakai, hanya mengenakan kaos dan celana training tanpa pakaian dalam. Apalagi ukuran pakaian yang kebesaran, membuat Edward gemas sendiri mengingat kejadian semalam, di mana Aya bersikap li4r.
“Masuk dulu, dok. Tunggu suami saya, kita bicara. Sebentar lagi, dia sampai,” pinta Andin. Edward mengangguk dan menunggu di ruang tamu.
Jangan tanya Aya, dia langsung turun saat mobil sudah berhenti di depan rumah langsung masuk dan belum kelihatan lagi. Edward paham, sepertinya Aya malu.
“Aya, jangan sembunyi. Temani dokter Edward, sampai mas Dani datang,” titah Andin.
“Mbak aja atau suruh aja Om Edward pulang.”
Andin kesal, menarik selimut Aya. Bisa-bisanya malah rebahan dan sembunyi begini. Sudah berhutang budi, masa memperlakukan tamu seperti itu.
“Sana temui, ganti dulu baju kamu.”
Aya berdecak, meski enggan ia tetap beranjak. Berganti pakaian, masih memeluk bantal menuju ruang tamu. Edward sedang menelpon saat ia ikut duduk di sofa panjang.
“Iya, setelah ini aku ke sana,” ujar Edward lalu mengakhiri pembicaraan. Pandangannya tertuju pada Aya dengan setelan rumahan, kaos dan celana pendek. Ia pun berpindah ke sofa di mana Aya duduk, tepat di samping gadis itu. Malah Aya menggeser duduknya membuat mereka berjarak. “Kenapa? Menyesal karena aku selamatkan. Harusnya aku tinggalkan kamu dengan Adit. Gitu?”
Aya melirik sinis lalu memukuli Edward dengan bantal yang tadi ia peluk. “Om Edward jangan nyebelin deh. Aku malu, om. Semalam … ck.”
“Semalam kenapa?” tanya Edward lirih setengah berbisik di telinga Aya.
“Ih, geser sana.” Aya mendorong dad4 Edward menjauh. “Pastinya masih ngebayangin yang semalam ‘kan? Kalau bukan karena pengaruh obat, aku nggak akan kayak gitu.”
“Percaya Ay, aku percaya kamu.” Edward menahan Aya yang akan menjauh dengan merangkul bahunya. “Sejak semalam, aku sudah putuskan semakin yakin dengan hubungan kita. Aku ingin menikahimu, Ay.”
“Om se-rius?” tanya Aya menatap wajah Edward. Tatapan mata pria itu bening dan teduh, ia seakan tenggelam di dalamnya.
“Hm. Tentu saja. Aku akan bicara dengan kakak dan iparmu sebelum temui orang tuamu.”
“Tapi … kalau Romo tidak setuju. Gimana?”
Tangan Edward yang merangkul bahu, berpindah mengusap kepala lalu mengelus pipi Aya.
“Biar itu jadi urusanku. Setelah apa yang Adit lakukan, apa Romo kamu masih yakin menjodohkan kalian. Semoga niat kita dimudahkan. Aku tidak bisa untuk sabar menunggu semakin lama, setelah kamu … you know what you did last night.”
“Ish. Nggak usah dibahas.” Aya kembali mendorong dad4 Edward yang tergelak.
Menyentuh dahi dan leher Aya, Edward memastikan kondisi baik-baik saja. Khawatir kalau Aya sampai demam karena semalam diguyur air demi menurunkan suhu tubuh.
“Aku oke, om. Aman,” seru Aya.
“Ada keluhan segera hubungi aku. Ingat, aku bukan dokter pribadi kamu lagi.”
“Tapi ….”
“Calon suami kamu, sayang."
“Iya, kang mas dokter. Aku yo mau jadi istrimu."
Tatapan kedua insan itu semakin intens, membuat wajah mereka perlahan mendekat dan ....
"Ehem."
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣