NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Pagi ini, matahari Jakarta bersinar terlalu terik, seolah ingin menguji kesabaran siapa pun yang beraktivitas di bawahnya. Di dalam mansion Widjaja, Aurora sudah rapi dengan setelan blazer berwarna fanta yang mencolok, dipadukan dengan celana kulot senada. Penampilannya sangat berani, namun raut wajahnya sulit ditebak. Efek hormon hari kedua menstruasi benar-benar seperti bom waktu yang siap meledak hanya karena percikan kecil.

Langkahnya mantap menuruni anak tangga, namun jemarinya masih sesekali menekan perut bagian bawah yang masih terasa sedikit berdenyut. Begitu ia mendorong pintu depan, pemandangan yang ia nantikan sudah ada di sana.

Langit Ardiansyah berdiri tegak di samping pintu penumpang belakang SUV hitam. Ia tampak sangat rapi dengan kemeja taktis berwarna abu-abu gelap, kacamata hitam bertengger di pangkal hidungnya, dan tangan yang tertaut di depan tubuh.

Aurora menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali energi "cegil"-nya. Ia memaksakan sebuah senyum lebar muncul di wajah pucatnya.

"Pagi, Mas Langit!" sapa Aurora, mencoba terdengar seceria mungkin.

Langit sedikit menundukkan kepala, gestur hormat yang selalu konsisten. "Pagi, Non. Mobil sudah siap sejak sepuluh menit lalu."

Senyum Aurora sedikit menyusut. "Nan non nan non terus. Panggil aja Aurora kali, Mas. Biar lebih akrab, biar nggak kayak lagi di depan markas militer."

Langit membukakan pintu mobil untuknya, gerakannya sangat efisien namun kaku. "Mohon maaf, itu tidak sesuai dengan etika kerja saya. Status saya di sini adalah untuk mengabdi dan menjaga Anda sebagai putri dari Bapak Anggara."

Langkah Aurora yang hendak masuk ke mobil mendadak terhenti. Ia berbalik, menatap Langit dengan mata yang tiba-tiba memerah bukan karena ingin menangis, tapi karena amarah yang tersulut instan.

"Status lagi? Status mulu yang dibahas dari kemarin! Nggak ada pembahasan yang lain apa!" sahut Aurora dengan nada tinggi, tidak terima. "Aku ini manusia, Mas! Bukan sekadar 'anak majikan' atau 'objek pengamanan'. Capek aku dengernya!"

Langit tertegun sejenak. Ia tidak menyangka respons Aurora akan sekeras itu pagi ini. "Maksud saya bukan begitu, Non. Saya hanya ingin menjaga batasan agar—"

"Batasan apa? Batasan kalau aku ini kasta tinggi dan Mas kasta bawah? Gitu?" potong Aurora ketus. Emosinya benar-benar tidak stabil. Rasa sakit di perutnya membuat egonya tersinggung berkali-kali lipat. "Mas itu pinter, tapi kok ya nggak peka-peka banget jadi orang."

Tanpa menunggu balasan Langit, Aurora segera masuk ke dalam mobil dengan gerakan kasar. Ia membanting tubuhnya ke kursi belakang dan tidak lagi menoleh sedikit pun kepada Langit yang masih berdiri mematung di samping pintu. Ia merasa usahanya memberikan perhatian semalam dan botol air panas itu seperti tidak ada artinya jika Langit tetap membangun tembok setinggi langit di antara mereka.

"Pak Bambang!" teriak Aurora dari dalam mobil, suaranya menggelegar hingga ke area pos penjagaan.

Pak Bambang yang sedang menyeruput kopi paginya langsung tersedak. Ia bergegas lari menghampiri mobil dengan wajah panik. "Iya, Non? Ada apa? Ada yang ketinggalan?"

"Pak Bambang, Bapak yang anter aku sekarang. Ayo masuk!" perintah Aurora mutlak.

Pak Bambang melirik Langit yang masih berdiri diam di samping pintu, lalu melirik ke arah Aurora yang wajahnya sudah merah padam. "Loh... Non, kan katanya hari ini jadwalnya sama Mas Langit? Mas Langit sudah siap, mobil juga sudah dipanaskan sama dia."

"Gak jadi! Udah nggak mood! Pak Bambang mau anter aku atau aku bawa mobil sendiri sekarang juga?" ancam Aurora sambil meraih kunci cadangan di tasnya.

"Eh, eh, jangan Non! Jangan bawa mobil sendiri, bahaya!" Pak Bambang makin panik. Ia tahu kalau Aurora sudah dalam mode "badai" begini, tidak ada yang bisa membantah. "Iya, iya, Bapak yang anter. Mas Langit, biar saya yang pegang kemudi sekarang."

Langit terdiam. Ia menatap ke arah kaca jendela mobil yang gelap. Ia bisa merasakan aura kemarahan Aurora menembus lapisan kaca itu. Ada rasa sesal yang sedikit mencubit hatinya, namun wajahnya tetap berusaha tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Siap, Pak. Silakan," ucap Langit singkat. Ia menyerahkan kunci mobil kepada Pak Bambang dengan gerakan mekanis.

Aurora sengaja membuang muka saat Pak Bambang masuk ke kursi pengemudi. Sementara itu, Mayang baru saja keluar dari rumah dengan terburu-buru, membawa beberapa berkas dan terlihat bingung melihat posisi orang-orang di depan mobil.

"Lho, kok Pak Bambang yang nyetir? Mas Langit mana?" tanya Mayang saat masuk ke kursi depan.

"Udah, jalan aja!" ketus Aurora dari kursi belakang.

Mayang melihat wajah Aurora melalui spion. "Oalah... hormon hari kedua ya? Oke, gue diem. Pak Bambang, mending kita jalan sekarang sebelum naga ini beneran nyemburin api."

Pak Bambang mengangguk maklum. Mobil pun perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah.

Langit berdiri di teras depan, memperhatikan mobil SUV itu bergerak menjauh hingga hilang di balik gerbang besar. Di sampingnya, Bintang yang sedari tadi hanya menonton dari kejauhan, memberanikan diri mendekat.

"Bang... abis ngapain? Kok Non Aurora kelihatannya ngamuk banget?" tanya Bintang hati-hati.

Langit melepaskan kacamata hitamnya, mengusap wajahnya kasar. "Saya hanya mengatakan yang sebenarnya tentang status kami. Ternyata dia sedang tidak ingin mendengar itu."

"Aduh, Bang Langit... Abang sih kaku banget," Bintang menggeleng-gelengkan kepala. "Cewek kalau lagi 'dapet' itu nggak butuh kebenaran logis atau protokol. Mereka cuma butuh dimengerti. Apalagi Non Aurora, dia itu tipe yang mau dihargai sebagai perempuan, bukan cuma sebagai bos."

Langit tidak menjawab. Ia masuk ke dalam rumah untuk melaporkan perubahan jadwal kepada Bapak Anggara. Namun, pikirannya tidak tenang. Ia teringat bagaimana Aurora membanting pintu mobil tadi. Ada bagian dari dirinya yang merasa kehilangan keceriaan "cegil" itu pagi ini, meskipun biasanya ia sangat terganggu olehnya.

Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin. Mayang mencoba membuka percakapan, tapi Aurora langsung memutusnya dengan memasang earphone besar di telinganya.

"Ra, jangan gitu lah sama Langit. Dia kan cuma berusaha sopan," bisik Mayang pelan, berharap Aurora masih bisa mendengar.

Aurora melepas sebelah earphone-nya. "Sopan sama nggak punya perasaan itu beda tipis, Kak. Dia itu kayak robot. Aku udah coba baik, aku udah coba perhatian, tapi dia malah terus-menerus ingetin aku kalau aku ini 'anak majikan'. Dia pikir aku ini nggak punya hati apa?"

"Ya tapi kan memang bener, Ra. Status lo itu..."

"Bodo amat sama status! Kalau dia emang nggak suka, bilang nggak suka. Jangan pakai alasan etika kerja atau aturan Papa terus. Males banget!" Aurora kembali memasang earphone-nya, memutar lagu dengan volume keras.

Pak Bambang yang menyetir hanya bisa menghela napas. "Sabar ya, Non. Mas Langit itu orangnya lurus. Dia belum pernah menghadapi perempuan sehebat Non Aurora. Dia cuma takut salah langkah."

Aurora tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela. Hatinya yang tadi menggebu-gebu ingin menggoda Langit kini terasa hambar. Ia merasa lelah harus selalu menjadi pihak yang mengejar dan mencairkan suasana, sementara yang dikejar justru terus-menerus membangun tembok setinggi gunung.

"Liat aja nanti. Kalau emang dia mau tetep jadi robot, ya udah. Aku cari robot lain yang lebih asyik," gumam Aurora sangat pelan, meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu tidak ada yang bisa menggantikan posisi "Mas Ajudan kaku" itu di hatinya.

Hari ini, pemotretan berjalan dengan aura yang sangat berbeda. Aurora profesional, namun auranya sangat dingin. Tidak ada lagi senyum lebar untuk para kru, tidak ada lagi candaan di ruang makeup. Ia bekerja seperti mesin yang sangat efisien, membuat semua orang di studio bertanya-tanya: ke mana perginya Aurora yang ceria?

Dan di mansion Widjaja, Langit Ardiansyah untuk pertama kalinya merasa bahwa menjalankan tugas pengamanan rumah terasa jauh lebih sulit daripada menjaga Aurora di lapangan. Ia merindukan gangguan "cegil" itu, sesuatu yang tidak pernah ia sangka akan ia akui dalam hidupnya.

1
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣
aurora gitu dechhhh
Lulukdicka Dicka
🤣🤣🤣🤣🤣
penyelamatttt
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!