Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.
Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...
Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.
Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : RAYHAN KEMBALI DATANG
Pintu kaca otomatis ruang lobi PT Harsono Group terbuka dengan suara pelan. Seorang pria dengan setelan jas biru navy dan sepatu kulit mengkilap melangkah masuk dengan percaya diri. Langkahnya tegap. Senyumnya ramah tapi tidak berlebihan. Di tangannya ada koper dokumen hitam yang terlihat mahal. Ya pagi itu Rayhan datang kembali ke Kantor Harsono Group untuk meeting lanjutan tentang kontrak kerjasama.
“Selamat pagi. Saya Rayhan Adi Pratama dari PT Cahaya Mandiri. Saya ada janji meeting jam sembilan dengan Nona Kirana Harsono,” ujar pria itu pada resepsionis.
Resepsionis itu langsung berdiri tegap. “Selamat pagi, Pak Rayhan. Silakan tunggu sebentar. Saya akan menginformasikan ke Nona Kirana.”
Rayhan mengangguk sopan. Matanya menyapu seluruh ruangan lobi yang megah dengan marmer putih dan logo Harsono Group yang berkilau di dinding. “Perusahaan yang besar,” gumam Rayhan pelan seraya tersenyum smirk.
Lima menit kemudian, lift di sudut lobi berbunyi. Pintu lift terbuka dan keluarlah seorang wanita dengan setelan jas hitam dan rok selutut. Rambutnya ditata rapi dalam sanggul rendah. Wajahnya tenang. Profesional. Tapi ada aura dingin yang membuat orang di sekitarnya sedikit menunduk.
Kirana.
“Selamat pagi, Pak Rayhan. Maaf membuat Anda menunggu,” sapa Kirana dengan senyum profesional.
Rayhan berbalik. Saat melihat Kirana, senyumnya sedikit melebar. Ada kilatan aneh di matanya. Kilatan yang hanya bisa dilihat oleh orang yang mengenalnya dengan baik.
“Selamat pagi Nona Kirana...” sapa Rayhan seraya
tersenyum ramah.
Kirana mengulurkan tangan. “Senang bertemu kembali Pak Rayhan. Silakan ikut saya ke ruang meeting lantai dua puluh. Papa saya berhalangan hadir hari ini, jadi saya yang akan mewakili perusahaan.”
Rayhan menjabat tangan Kirana sebentar. Sentuhannya halus tapi cukup lama untuk membuat Kirana menarik tangannya cepat. “Tidak apa-apa, Nona Kirana. Senang bisa bertemu Anda kembali.” masih dengan senyuman ramahnya.
Kirana mengernyit. " saya juga senang bisa bekerjasama dengan pak Rayhan" balas Kirana sambil berjalan menuju lift.
Rayhan tertawa kecil. “ Ngomong ngomong kita pernah satu kampus, Nona Kirana. Tapi sepertinya Anda sudah lupa.”
Kirana hanya tersenyum singkat. “Rayhan Adi Pratama...” pikir Kirana. “siapa yang tidak kenal nama itu di kampus dulu...”
sebenarnya Kirana ingat. Hanya saja tak ingin membahasnya.
Lift naik dengan cepat menuju lantai dua puluh. Suasana di dalam lift hening. Hanya terdengar suara AC dan deru mesin lift. Kirana menatap lurus ke depan. Rayhan menatap profil Kirana dari samping.
“Anda masih sama seperti dulu, Kirana. Dingin. Berwibawa. Tidak mudah tersenyum.” ujar Rayhan pelan.
Kirana tidak menjawab. Dia hanya menatap angka lantai yang terus bertambah di layar lift.
Pintu lift terbuka. Ruang meeting lantai dua puluh sudah disiapkan. Meja panjang dari kayu mahoni tersusun rapi. Laptop, map dokumen, dan beberapa botol air mineral tertata sempurna. Beberapa staf sudah duduk menunggu.
Di ujung meja, Arga sudah duduk dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Ekspresinya datar. Profesional. Tapi saat melihat Rayhan berjalan di belakang Kirana, tatapannya sedikit berubah.
“Selamat pagi Arga, senang bertemu Anda kembali.” Rayhan tersenyum
ramah sambil mengulurkan tangan ke arah Arga .
Arga berdiri dan menjabat tangan itu singkat. “Selamat pagi Pak Rayhan.”
"Tuan Arga tidak perlu
terlalu formal, sepertinya kita seumuran, lagi pula saya dan nona Kirana juga kenalan lama. Jadi kita bisa lebih santai bahas kerjasama ini" ucap Rayhan seraya
tersenyum
ke arah Kirana.
Arga yang melihat itu langsung menoleh tajam. “Sepertinya kalian sudah cukup akrab” tanyanya datar.
Rayhan tersenyum tipis. “Tenang saja Pak Arga, saya hanya kenalan lama nona Kirana.”
Kirana terdiam." kenapa suasananya jadi tegang begini , apa Arga marah karena aku tak cerita soal Rayhan." pikir Kirana tapi segera ia tepis. Sekarang dia harus fokus dengan Kerjasama
perusahaan.
“Silakan duduk, Pak Rayhan. Mari kita mulai meetingnya,” ujar Kirana cepat untuk mengalihkan suasana.
FLASHBACK
Empat tahun lalu. Kampus Universitas Jaya.
Hari itu langit mendung. Awan kelabu menggantung di atas gedung fakultas ekonomi seperti pertanda buruk. Kirana berjalan cepat menyusuri koridor sambil memeluk tumpukan buku skripsi. Semester akhir. Deadline satu minggu lagi. Tidak ada waktu untuk hal lain selain penelitian dan data.
“Kirana! Tunggu!”
Suara itu. Kirana mengenalinya, Suara yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi selama satu semester terakhir. Kirana berhenti tetapi tidak menoleh.
Rayhan Adi Pratama.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Pria paling populer di fakultas ekonomi. Ganteng, kaya, karismatik, dan... playboy. Hampir setiap minggu ada wajah berbeda yang berjalan di sampingnya. Tapi Rayhan selalu punya satu kalimat yang sama. "Cuma teman, kok."
Rayhan berlari kecil menghampiri Kirana. Napasnya sedikit terengah. Dia mengenakan kemeja putih yang rapi dan jas almamater yang tersampir di bahunya. Di tangannya ada setangkai mawar putih dan secangkir kopi susu.
“Kamu kenapa selalu buru-buru sih, Kirana? Aku cuma mau ngasih ini.” Rayhan menyodorkan mawar dan kopi itu ke depan Kirana.
Kirana menatap barang di tangan Rayhan sekilas lalu menggeleng. “Maaf, Rayhan. Aku sibuk, tidak punya waktu untuk hal seperti ini. ”
Rayhan tersenyum. Senyum yang biasanya membuat puluhan mahasiswi di kampus itu pingsan. “Kamu sibuk terus, Kirana. Kapan kita bisa ngobrol santai? Aku suka sama kamu Kirana. Aku serius.”Ucap Rayhan dengan suara lembutnya.
Kalimat itu. Kalimat yang sama yang sudah Rayhan ucapkan tiga kali dalam sebulan terakhir.
Kirana menghela napas panjang. Dia menatap lurus ke mata Rayhan. Mata yang biasanya dipenuhi ketertarikan dan kepercayaan diri kini dipenuhi harapan.
“Rayhan, Kamu harus tau aku tidak tertarik dengan pria yang berganti pasangan setiap minggu,” ujar Kirana datar. Suaranya tenang tapi tegas. “Aku mau fokus kuliah. Aku gak butuh drama cinta.”
Wajah Rayhan berubah. Senyumnya tidak hilang tapi matanya menjadi gelap. Untuk pertama kalinya sejak Kirana mengenalnya, dia melihat Rayhan tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.
“Jadi begitu,” gumam Rayhan pelan. “Kamu pikir aku main-main?”
Kirana mengangguk kecil. “Kampus ini kecil, Rayhan. Semua orang tahu reputasi kamu. Aku tidak mau jadi salah satu nama dalam daftar kamu.”
Rayhan terdiam. Tangannya yang memegang mawar perlahan mengepal sampai tangkainya hampir patah. “Kamu berbeda, Kirana. Kamu dingin. Kamu tidak pernah melirik aku sama sekali. Itu yang membuat aku semakin penasaran.” batin Rayhan.
Kirana mengangkat dagunya. “sebaiknya kamu cari cewek lain Rayhan. Aku tidak tertarik jadi salah satu selirmu.”
Rayhan tertawa kecil. Tawanya terdengar getir. “Kamu akan menyesal, Kirana.” bisiknya. “Suatu hari nanti... kamu akan datang sendiri ke aku. Dan saat itu... aku belum tentu masih mau menerima kamu.”
Kirana tidak menjawab. Dia hanya berjalan melewati Rayhan tanpa menoleh. Meninggalkan Rayhan berdiri di tengah koridor dengan mawar putih yang layu di tangannya dan kopi susu yang sudah dingin.
Sejak hari itu, Rayhan tidak pernah lagi mendekati Kirana. Tapi setiap kali mereka bertemu di koridor atau di aula, tatapan Rayhan selalu berubah. Tidak lagi ramah. Tidak lagi hangat. Tatapannya menjadi tajam. Seperti pria yang sedang menantang.
“Kamu lihat itu?” bisik salah satu teman Kirana waktu itu. “Rayhan belum pernah ditolak cewek. Apalagi ditolak dengan cara seperti itu.”
Kirana hanya tersenyum tipis. “Bagus. Jadi dia belajar.”
Tapi Kirana salah. Rayhan tidak belajar. Rayhan justru semakin terobsesi.
[ KEMBALI KE MASA SEKARANG ]
Kirana menghela napas panjang. Dia menatap Rayhan yang sekarang berdiri di depan meja meeting dengan senyum ramah yang sama seperti empat tahun lalu. Tatapan matanya... masih sama.
“Tatapan itu,” pikir Kirana sambil menggenggam map dokumen erat-erat. “Tatapan yang sama saat dia bilang aku akan menyesal.”
Entah kenapa ada rasa takut yang menyelinap di hati Kirana.
Meeting pagi itu berjalan tanpa masalah, semuanya berjalan lancar.
Seperti biasa Rayhan mempresentasikan proposalnya dengan sangat profesional. Suaranya tenang. Penuh keyakinan. Data yang dia bawa lengkap. Analisanya tajam. Tidak ada celah.
Rayhan memberikan berkas kerjasama ke Kirana.
Tangannya seperti sengaja menyenggol tangan Kirana. Sentuhan itu sengaja. Sangat sengaja.
Kirana menarik tangannya cepat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. “Kenapa dia masih sama seperti dulu?” pikir Kirana sambil menunduk. “Kenapa dia masih menatapku seperti itu?” Kirana merasa sedikit tak nyaman.
Arga yang duduk di sebelah Kirana melihat semuanya. Dari sudut matanya, Arga melihat bagaimana tangan Rayhan menyentuh tangan Kirana lebih lama dari yang seharusnya. Wajah Arga tetap datar. Profesional. Tapi rahangnya sedikit mengeras.
“Rayhan ini... dia sepertinya memang ada maksud lain, selain kerjasama
perusahaan. Aku baru dua kali bertemu dengannya tapi kenapa feeling ku tak enak dengan orang ini. Kirana siapa sebenarnya orang ini..? seperti apa hubungan kalian dulu..?" pikiran
Arga terus bertanya tanya. Ada perasaan yang tak bisa Arga ucapkan. Perasaan Takut.
[BERSAMBUNG.. ]
jadi orang kaya gak perlu sombong.
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"