NovelToon NovelToon
Terimakasih Cinta

Terimakasih Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / CEO Amnesia
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.

Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.

Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.

"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Setelah pemakaman usai Dian duduk termenung dengan tetes air mata yang terus mengalir deras.

Rasa sakit yang teramat sangat semakin menghimpit dada. Pedih itu lah yang dia rasakan saat ini. Tapi semua yang dia rasakan saat ini tak bisa mengembalikan ayah tercinta nya.

Tangis dalam diam nya Dian membuat seseorang yang sejak tadi berdiri di ambang pintu merasakan sakit yang sama.

Dian meminta agar tidak ada yang mengganggu nya saat ini, tapi Alex tidak mungkin membiarkan gadis itu kesakitan sendirian.

Alex langsung menghampiri Dian yang sedang duduk di tepi ranjangnya sambil mengusap bingkai foto dimana wajah sang ayah yang tengah tersenyum manis ada di sana.

Alex pun langsung berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Dian yang kini mengusap air matanya dengan cepat.

"Ada apa tuan, bukankah sudah saya bilang tolong berikan saya waktu untuk sendiri?"ucap Dian yang kini menatap kearah Alex yang juga tengah menatap kearahnya.

"Saya tidak bisa membiarkan mu terus larut dalam kesedihan Diandra. saya tau ini terlalu menyakitkan, tapi kamu tidak sendirian disini, ada saya ibu dan Nina, kita bisa berbagi kesedihan ini"ucap Alex dengan lembut.

"Apa itu mungkin tuan, anda bahkan tidak tau apa yang terjadi selama ini... Jika mereka memang menganggap aku ada maka semua ini tidak akan pernah terjadi, dan aku akan ada bersama ayah saat dia menghembuskan nafas terakhirnya."ucap Dian yang kini membuat Alex terdiam.

"Saya sudah tau semuanya Diandra, ayah mu sudah bercerita tentang kehidupan kalian selama ini. Ayah mu bilang kamu menolak untuk kuliah dan memilih untuk bekerja karena kamu tidak ingin menjadi beban keluarga. Dan soal Nina mungkin setelah ini kalian bisa lebih dekat setelah duka yang kalian lewati bersama. Lihat ibu yang begitu terpukul saat ini, dan Nina pun berulang kali tidak sadarkan diri karena kehilangan yang teramat sangat"ucap Alex.

Namun Dian hanya tersenyum kecut sebagai balasan, dia bangkit dari duduknya dan meraih sesuatu di bawah ranjang sempit itu.

"Jika semua baik-baik saja, tidak akan ada wanita yang tersingkir karena hadirnya orang ketiga. Dan tidak akan ada Diandra si tukang kuli. Saya tidak perlu menjelaskan semuanya pada orang asing seperti anda yang bahkan dengan teganya menipu orang yang telah berbaik hati menolongnya. selain ayah dan teman-teman ku tak ada lagi orang yang bisa ku percaya di dunia yang sangat kejam ini"ucap Dian dengan tatapan kosong.

"Diandra saya minta maaf, saya melakukan semua ini demi untuk mencari kebenaran tentang siapa saja orang-orang yang telah berkhianat dalam hidup saya selama ini. tapi saya bersumpah saya telah berkata jujur pada ayah mu satu bulan lalu, dan pak Hasan bilang dia tidak pernah menyalahkan saya, dia bilang dia sudah tau dan itulah kenapa saya masih berada disini semua itu karena izin darinya."ucap Alex.

"Ayah sudah tidak ada, dan mungkin sebentar lagi saya akan terusir dari rumah yang penuh kenangan ini, karena rumah ini diam-diam telah digadaikan oleh mereka. Dan saya yang selama ini diam-diam membayar cicilannya karena saya tidak ingin ayah mengalami serangan jantung saat dia tau istrinya telah berkhianat di belakang nya."ucap Dian yang kini kembali mengusap air matanya.

"Biar saya yang tebus rumah ini, dan juga kalung yang kamu jual untuk biaya pengobatan saya saat itu. Sekarang tolong katakan berapa semuanya?"ujar Alex.

"Tidak tuan, biarlah saya pergi jika itu bisa membuat ayah saya tenang dialam sana, saya tidak ingin ada keributan apapun yang akan membuat ayah tidak tenang dialam sana. Masalah tempat tinggal kolong jembatan pun masih bisa ditempati atau jalanan yang terbentang panjang itu mungkin, dan soal kalung itu, anda tidak perlu menggantinya karena itu akan membuat kebaikan ayah terhapus. Saya sudah mengikhlaskan semua itu dan saya sedang bekerja dan menabung untuk membeli rumah yang baru yang mungkin akan memberikan kedamaian, soal mereka biar mereka yang tentukan setelah ini kami sudah tidak punya hubungan apapun lagi"ucap Dian dengan lirih.

"Kalau begitu ikutlah dengan saya ke kota, kamu bisa menjadi asisten pribadi saya dan tidak perlu lagi bekerja berat seperti selama ini... Kamu perempuan dan masa depan mu masih panjang"ucap Alex.

"Tidak terimakasih tuan, saya tidak akan pergi dari tempat kelahiran saya meskipun nantinya saya sudah tidak tinggal lagi di rumah ini. Terlalu banyak kenangan indah yang berat untuk ditinggalkan setelah perjuangan panjang yang sangat melelahkan bersama ayah di desa ini"ucap Dian yang kini kembali mengusap air matanya dengan kasar.

"Diandra kamu bisa menangis sepuasnya agar bisa sedikit merasa lega dan kamu bisa bersandar disini"ucap Alex yang kini menepuk bahunya pelan.

"Ternyata tuan, saya hanya ingin sendirian saja. Jika anda ingin membantu ini ambilah ada sedikit uang untuk acara tahlilan hari ini. Anda bisa minta tolong Afandi untuk menyiapkan semuanya. Maaf merepotkan Anda"ucap Dian lirih.

"Tidak pegang uang itu, jangan pikirkan biaya apapun. Semua saya yang tanggung... Tolong jangan salah faham saya hanya ingin membalas kebaikan almarhum dan juga kalian semua"ucap Alex yang kini berbalik pergi tanpa peduli pada respon Dian.

Alex pun keluar dari dalam kamar yang ada di belakang, sampai saat dia tiba di depan pintu kamar Nina, langkahnya terhenti saat dia mendengar pembicaraan Nina yang entah dengan siapa.

"Pria tua itu mati karena sudah waktunya. Dan kini kebebasan bagi ibu sudah dimulai. Ibu tidak perlu lagi menangisi pria yang memang sudah seharusnya bersikap baik terhadap kita karena kita telah menyelamatkan nyawa anaknya dengan mendonorkan darah, meskipun itu bukan darah kita berdua. Yang terpenting si tukang kuli itu selamat dari maut karena kita sudah bersusah payah mencari donor darah sialan itu."ujar Nina.

"Tidak nak, itu semua salah ibu sudah terlalu banyak berbuat kesalahan terhadap ayah mu. Dia begitu tulus mencintai dan menyayangi kita hingga dia pun harus kehilangan istrinya karena mempertahankan kita"ucap wanita paruh baya yang kini membuat Alex semakin penasaran.

"Tapi ibu tidak boleh lupa, wanita itu hampir mencelakai kita jika saja kita tidak mendorong nya ke jurang waktu itu"ucap Nina lagi.

Mata Alex membulat sempurna, Dia kini tau yang selama ini dihadapi oleh Dian adalah dua rubah betina penghisap darah.

Alex pun menyalakan rekaman di ponselnya, dan pengakuan mengejutkan lainya adalah tentang kepergian pak Hasan yang ternyata diracuni oleh ayah Nina saat berada di acara hajatan.

...*****...

Alex sudah menyimpan rekaman percakapan tersebut, dia pun meninggalkan rumah yang kini masih dikunjungi oleh beberapa tetangga dekat untuk sekedar bantu-bantu menyiapkan acara tahlilan yang ternyata sudah di pimpin oleh Afandi dan kelima teman kuli Dian.

Alex terus melanjutkan langkahnya dan meminjam motor milik Afandi yang terparkir di halaman rumah, dia pergi untuk mengambil uang di bank. Beruntunglah dari kartu-kartu yang dia pegang uang tabungan nya yang tidak terhitung jumlahnya itu aman.

Tidak sampai satu jam Alex sudah kembali ke rumah dengan tas ransel yang dia gendong. orang-orang tidak tau bahwa ransel tersebut dipenuhi tumpukan uang berjumlah miliaran.

"Maaf bro, ini uang untuk persiapan tahlilan hari ini. jika kurang kamu bilang sama saya, saya tidak tau apa saja yang harus dipersiapkan"ucap pria tampan yang merupakan non muslim tersebut.

"Wow, tuan Gideon Alexander Tama. Ini terlalu banyak, ini sih bisa sampai saat empat puluh harinya nanti"ucap Afandi saat melihat uang yang disodorkan oleh Alex sebanyak seratus juta.

"Tidak apa-apa atur saja yang terpenting jangan bebani Dian dan keluarga yang saat ini sedang berduka"ucap Alex yang masih mengikuti sandiwara kedua rubah betina tersebut.

"Nak Alex itu apa?"ujar seseorang dibelakang Alex.

Alex pun langsung mengedipkan mata sebagai isyarat agar Afandi ikut bersandiwara.

"Ah ini Bu, ini Afandi memberikan uang pinjaman terhadap Dian untuk acara tahlilan hari pertama dan selanjutnya. Tapi sebagai jaminan rumah ini akan digadaikan pada Afandi"ucap Alex yang kini diangguki oleh Afandi.

"Kita bisa bicara tentang pegadaian nanti, tapi berapa jumlah uang itu nak?"tanya wanita yang kini raut wajahnya seketika berubah menjadi berseri.

"Seratus juta Bu "ucap Afandi yang kini membuat mata wanita itu membulat sempurna.

"Nak bisa kita bicara empat mata?"ucapnya.

Alex pun kembali memberi isyarat, kepada Afandi yang akhirnya mengiyakan permintaan Arini.

Setelah mereka pergi, Alex kembali menyodorkan segepok uang pada Dito untuk membeli segala keperluan untuk tahlilan hari pertama kalinya almarhum pak Hasan.

Sementara Alex diam-diam mengikuti dan kembali merekam percakapan mereka berdua, tidak hanya rekaman suara tapi video untuk membuktikan kelicikan wanita itu jika sesuatu terjadi pada Dian nanti setelah acara tahlilan usai.

Alex pun melirik kearah foto Dian dan pak Hasan dengan pakaian lusuh ciri khas Dian saat sedang bekerja, dan foto itu diambil di sebuah kebun yang ada di perbukitan saat keduanya bekerja sama mengangkut hasil panen orang lain.

Semakin diperhatikan Dian semakin terlihat sangat cantik, dibalik wajah berdebu dan tidak jarang tanah becek sawah menghiasi wajahnya setiap pulang bekerja tapi tidak mengurangi kecantikan alami gadis itu.

Kulit putih dan mulus, meskipun tangan nya sedikit kasar, gadis yang tidak pernah menggunakan make-up atau skincare seperti gadis lainnya itu terlihat glow up , dian selama ini selalu menggunakan masker madu alami setiap kali setelah berpanas-panasan, bukan untuk memutihkan wajah tapi untuk mengompres kulit wajah yang terbakar matahari di siang hari meskipun keesokan harinya akan seperti itu lagi.

Kembali pada Dian yang kini sedang bersitegang dengan Nina karena Nina menerobos masuk kedalam kamar nya, dan bilang bahwa Dian harus pergi meninggalkan rumah yang sudah diwariskan kepada ibunya saat pak Hasan masih hidup.

"Seharusnya yang pergi itu bukan aku tapi kamu dan ibu mu . Kalian menumpang di rumah milik almarhum ibuku!"ujar Dian dengan tegas.

Keributan pun akhirnya mengundang beberapa orang yang ada disana hingga Arini ikut berteriak memaki Dian yang kini terlihat tidak seperti biasanya.

"Dasar anak tidak tahu diri, jika bukan karena kami kau sudah mati lebih dulu menyusul ibu mu. Seharusnya rumah ini pun tidak cukup untuk membalas jasa kami selama ini yang telah mengurus ayah mu yang tidak pernah bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kami. Saya bertahan disini karena dia sudah menjanjikan rumah dan mobil tua itu untuk kami dan sebagai gantinya saya menjadi ibu mu"ucap wanita paruh baya yang kini memperlihatkan sifat aslinya.

"Benarkah? Tapi ayah tidak pernah mengatakan soal itu dan lagi mana buktinya bahwa ayahku memberikan semua itu pada kalian"balas Dian.

"Tentu saja tidak karena itu adalah perjanjian rahasia agar kau tidak tahu"ucap Arini.

"Tidak bisa, saya ahli waris dari ayah saya. Mungkin jika hanya rumah ini saya akan relakan tapi tidak dengan mobil, itu satu-satunya peninggalan kakek saya"ucap Dian dengan tegas.

"Ah terserah yang jelas hari ini juga kau harus angkat kaki dari rumah ini"ucap Nina.

"Baiklah"ucap Dian yang mengalah begitu saja karena tidak ingin almarhum sedih karena dia memperebutkan harta peninggalan nya. Meskipun sebagian besar itu adalah harta peninggalan ibu kandung nya.

"Bu apa tidak sebaiknya tunggu sampai proses tahlilan itu berakhir, setidaknya anda harus menghargai almarhum yang telah memberikan rumah ini"ucap Alex yang kini merasa tidak tega pada Dian.

"Tidak nak Alex, semua sudah menjadi kesepakatan kami berdua sejak lama. Diandra juga sudah dewasa dan sudah bisa mencari uang sendiri"ucap Arini dengan tegas.

"Dan satu lagi nak Alex sebagai balas budi atas pertolongan almarhum suami saya, saya ingin nak Alex menikahi Nina secepatnya"ucap Arini yang kini membuat Dian naik pitam.

"Anda jangan keterlaluan ya, tuan Alex sudah memiliki istri yang kini sedang hamil muda, dan asal kalian tau dia tidak sepadan dengan kalian berdua!"ujar Dian yang kini membuat semua orang yang ada disana kaget. Termasuk Alex yang saat ini belum tahu bahwa Anggun tengah hamil muda.

"Oh jadi kamu sudah tahu bahwa mas Alex adalah pria kaya, dan ingin menguasai dia sendirian?!"ujar Nina.

"Tutup mulut mu! Dia bukan barang yang bisa dikuasai oleh siapapun, aku sudah menyelidiki nya selama ini dan kau yang lebih dulu tahu pun telah menyembunyikan kebenaran itu untuk memanfaatkan nya!"ucap Dian dengan tegas.

"Aku, aku hanya tidak ingin salah orang... itu saja."balas Nina membela diri.

"Kau pikir aku bodoh?! Jika selama ini aku selalu diam dan tidak pernah membalas atas perbuatan kalian karena saya lemah. Tidak, saya mengalah demi kebahagiaan ayah saya yang selama ini tidak pernah kalian hargai dan hanya kalian manfaatkan!"ujar Dian yang kini sudah tidak lagi bisa menahan emosi nya.

"Dasar kurang ajar!"teriak Arini yang hendak melayangkan tamparan, namun seketika itu tangan Arini tertahan di udara.

Plak!!.....

1
Wati Anja
semoga Dian dan Alek bisa bersatu❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!