Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Kira tidak memperhatikan apa yang di katakan Wulan. Dia sedang berusaha keras untuk mencari ingatan pemilik tubuh sebelum nya.
Teknologi dl kerajaan Nayara mirip dengan Dinasti Negara Avalon.
Kira yang mempunyai gelar doktor di bidang teknik mesin dan teknik material pasti bisa menciptakan sesuatu yang baru. Namun, desa kecil ini bahkan tidak mempunyai toko besi. Orang yang sangat berbakat sekali pun tidak akan bisa maju di desa iní.
"Tapi ini benar benar yang terakhir kali, ya. Kelak, Kakak pasti nggak bakal bantu kita lagi"
Wulan menyeka air matanya, lalu mendongak.
“Kalau kamu pinjam uang dari luar lagi, aku benar-benar sudah nggak bisa bantu! Kalau kamu jadi gelandangan, aku bakal temani kamu jadi gelandangan."
"Eh, ketemu cara!"
Mata Kira langsung berbinar. Dia mengambil sebungkus tepung kedelai, lesung batu dan cangkul, lalu keluar dari rumah dengan menjinjing keranjang bambu.
"Suamiku? Kamu mau kemana?"
Wulan sangat heran.
Biasa nya, Wulan yang selalu bercocok tanam. Suami nya tidak pernah melakukan hal itu.
Lagi pula, musim panen sudah berakhir, Untuk apa suami nya mengambil alat bertani?
Dusun Samadi mempunyai tanah yang datar, Di luar desa, ada Sungai Jinggo yang jauh nya 400 meter dan gunung yang jauh nya 13 kilometer,
Di dusun ini, ada lima puluh keluarga yang semua nya bermarga Samadi, Mereka semua berasal dari leluhur yang sama.
Setelah musim panen berakhir, penduduk harus membayar pajak penghasilan dan pajak tanah. Para bandit juga akan datang untuk meminta hasil panen mereka. Bahan pangan yang di simpan para penduduk biasa nya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, apalagi harus bertahan sampai musim panen berikutnya.
Jadi, tidak ada penduduk yang menganggur. Jika tidak pergi bekerja, mereka akan menjahit di rumah atau mengumpulkan sayuran liar.
Begitu sampai di tanah kosong di luar dusun, Kira pun mulai mencangkul. Dia mengambil sehelai demi sehelai rumput, mencuci nya di air dalam ember, lalu mulai menumbuk nya.
"Bukan nya itu Kira? Kenapa dia numbuk rumput?"
"Pasti rumah nya sudah kehabisan makanan. Dengar dengar, dia berutang 40 ribu rupiah sama Pak Budi. Kalau dia tidak bisa bayar tiga hari lagi, rumah, istri dan tanah nya bakal jadi milik Pak Budi!"
"Dasar Pemboros! Padahal ayah nya sudah tinggalkan begitu banyak harta buat dia, tapi semua nya sudah habis difoya foya. Sekarang dia sampai harus makan rumput lantaran kelaparan. Mampus!"
Saat melihat Kira yang menumbuk rumput, beberapa wanita yang keluar untuk memetik sayuran liar pun menghujat nya.
Pemilik tubuh sebelum nya tidak bekerja dan jarang berolahraga. Jadi, stamina nya sangat buruk.
Setelah menggali sesaat, Kira pun bersandar pada cangkul nya sambil terengah engah.
"Kira, rumah mu sudah nggak ada makanan, ya? Kok mencangkul rumput? Rumput ini nggak bisa dimakan Iho. Ngemis saja sama warga dusun! Kamu toh seorang pelajar, orang orang pasti bakal kasih kamu makan kok."
Seorang pemuda yang terlihat seperti preman berjalan mendekati Kira.
Pakaian nya terlihat kotor, sepatu kain nya juga sudah robek. Dia menatap Kira sambil melipat tangan nya di depan dada.
"Tony, bantu aku gali rumput ini dulu. Nanti aku pasti bagi hasil nya ke kamu!"
Kira memohon dengan terengah engah.
Tony Samadi adalah gelandangan di dusun mereka. Dia tidak bekerja dan hanya suka berkeliaran.
Dulu, asalkan bertemu dengan pemilik tubuh sebelum nya, Tony selalu menyanjung nya. Bagaimanapun juga, pemilik tubuh sebelum nya adalah seorang pelajar yang mungkin akan menjadi pejabat.
Sejak pemilik tubuh sebelum nya jatuh miskin, Tony bukan hanya tidak menyanjung nya lagi, tetapi malah mengejek nya.
Setelah mendengar permintaan Kira, Tony langsung memelototi nya.
“Asal kamu tahu, aku nggak bakal kelaparan ke mana pun aku pergi. Memang nya aku perlu dikasihani oleh mu?"
"Yang mau ku bagi ke kamu itu bukan rumputnya!"
Jika bukan karena badan nya terlalu lelah, kira juga tidak ingin menghiraukan Tony.
Tony memang tidak akan kelaparan karena dia sangat tidak tahu malu.
"Kamu nggak perlu jelasin lagi! Aku tahu situasi mu, kok. Jangan gali lagi, pergi saja ke rumah mertuamu dan minta maaf. Sebenarnya, harga diri itu bukan apa apa. Kalau sudah jadi gelandangan, kamu bakal nyesal!"
Tony yang sudah berpengalaman memberi nasihat kepada Kira.
Melihat Tony yang tidak mau membantu nya, Kira pun tidak menghiraukan nya lagi dan terus menggali.
Berhubung Kira tidak mau mendengar nasihatnya, Tony juga langsung pergi. Sebelum pergi, dia berkata,
"Kalau nggak mau dengar nasihat orang, yang rugi juga kamu sendiri!"
Berselang satu jam kemudian,
"Kira, rumput itu nggak bisa dimakan. Ayo ikut aku! Aku kasih kamu sedikit makanan dulu!"
Saat menjelang siang, seorang pria paruh baya menghampiri Kira.
Pria ini berperawakan tinggi dan kurus. Dia mengenakan baju lengan pendek dan bertelanjang kaki. Mata nya memancarkan keramahan.
kira menggeleng sambil tersenyum.
"Paman Basan, aku gali rumput ini bukan untuk di makan!"
Basan Samadi dulunya bernama Hasan Samadi. Dia mengubah nama nya setelah masuk militer.
Lima tahun yang lalu, dia sudah kembali dari militer. Basan juga merupakan kerabat Kira.
Sebelum masuk militer, Basan sudah mempunyai dua putra.
Sepulang dari militer, mereka dikaruniai dua putri lagi.
Berhubung tanah rumah mereka tidak cukup besar, Basan menyewa satu hektar tanah lagi untuk bertani. Keuangan mereka juga tidak terlalu bagus.
Jika Kira menerima pemberian Basan, keluarga Basan juga akan jadi kekurangan.
"Memang nya kenapa kalau makan rumput! Semua senior di dusun juga pernah hidup susah!" ujar Basan.
Basan mengira Kira malu untuk mengakui bahwa keluarga mereka sudah kehabisan makanan karena dia adalah seorang pelajar.
kira pun menjawab sambil tersenyum,
“Paman Basan, tenagaku sudah habis, Boleh bantu aku gali sebentar nggak?"
"Kamu lemah banget! Cuman gali rumput ini saja sudah begitu capek. Kamu harus banyak olahraga!" ucap Basan sambil menggeleng.
Kemudian, dia meraih cangkul Kira dan mulai menggali.
Satu jam kemudian, sebidang besar tanah sudah kosong karena digali. Ember dan keranjang bambu milik Kira juga sudah terisi penuh dengan rumput itu.
Kira langsung kegirangan.
'Dulu, anak ini cuman tahu foya foya. Sekarang sudah miskin, rumput pun jadi kayak harta!'
Basan menatap Kira dengan kasihan, lalu meletakkan cangkul nya dan pergi.
Pekerjaan yang tersisa sudah tidak terlalu sulit. kira hanya perlu membersihkan rumput nya, lalu menghaluskan nya dalam lesung batu.
Setelah bekerja hingga seluruh badan nya sakit, Kira baru mengumpulkan seember rumput yang sudah di haluskan.
Dia pun menjinjing ember itu sampai ke Sungai Jinggo sambil sesekali beristirahat selama perjalanan.
Kira memilih tempat yang sekiranya ada banyak ikan, lalu menabur tepung kedelai ke dalam sungai.
Setelah ada umpan, ikan nya menjadi semakin banyak. Kira pun menuangkan serpihan rumput ke dalam sungai dengan hati-hati.
Seiring dengan serpihan rumput yang menyebar, satu demi satu ikan pun mulai mengapung.