Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PESAN BUNDA
Suasana di dalam kediaman keluarga Pak Dadang perlahan mulai beralih rupa seiring dengan semakin tingginya posisi matahari di ufuk timur. Aroma sisa nasi goreng kampung masih tertinggal samar di udara, bercampur dengan bau minyak pelumas dan debu tipis yang berasal dari sebuah kotak kayu berukuran besar di sudut ruang tengah.
Di depan televisi tabung 21 inci yang sedang menampilkan siaran berita pagi tanpa suara, Pak Dadang dan Aldi tampak sibuk duduk bersila di atas lantai keramik. Di hadapan mereka berdua, sebuah pengeras suara (speaker) aktif berukuran jumbo milik inventaris RT 04 sedang dibongkar total. Kabel-kabel tembaga berwarna merah dan hitam tampak menjulur keluar dari bagian panel belakang yang sudah dilepas sekrupnya.
"Mas, ambilkan tang potong di kotak perkakas hitam itu," perintah Pak Dadang sambil memicingkan sebelah matanya, fokus memeriksa jalur solderan pada papan sirkuit yang tampak agak longgar.
Aldi yang pagi itu sudah berganti pakaian santai—hanya mengenakan celana jins pendek sebatas lutut dan kaos dalam singlet putih—segera meraba ke dalam kotak besi di samping paha kanannya. "Ini, Yah."
"Nah, jepit bagian yang ini, Mas. Pegang yang kuat, jangan sampai meleset," lanjut Pak Dadang menuntun tangan anak sulungnya.
Pagi ini, sebelum seluruh warga kompleks bergerak menuju lahan untuk melaksanakan kerja bakti massal, Pak RW mendadak memberikan instruksi tambahan melalui pesan singkat. Katanya, agar para warga—terutama ibu-ibu kompleks—lebih bersemangat dan tidak malas bangun pagi, kegiatan gotong royong harus diawali dengan sesi senam kesegaran jasmani bersama selama tiga puluh menit di lapangan tengah. Masalahnya, satu-satunya speaker aktif andalan RT 04 justru mendadak bungkam semalam suntuk karena kabel bagian dalamnya digerogoti tikus gudang pos ronda. Alhasil, sebagai mantan teknisi serbabisa di lingkungan perumahan, Pak Dadang langsung turun tangan dibantu oleh Aldi yang kini menyandang status sebagai pelaksana lapangan.
Sementara bapak dan anak itu sibuk berkutat dengan bau timah bakar dan obeng, Bu Baren tampak duduk santai di atas sofa ruang tengah, tepat di belakang posisi Aldi bersila. Tangannya bergerak melipat lembar demi lembar pakaian bersih yang baru diangkat dari jemuran kemarin sore. Namun, tidak seperti biasanya di mana Bu Baren akan ikut mengoceh atau mengomentari cara kerja Aldi yang dinilainya lambat, pagi ini wanita paruh baya itu lebih banyak terdiam.
Pandangan mata Bu Baren tampak kosong menatap ke arah layar televisi, meskipun tangannya tetap rapi menyusun daster-daster miliknya ke dalam keranjang plastik di samping sofa. Pikirannya rupanya masih tertinggal pada raut wajah tulus Kenan saat menjawab pertanyaannya tentang kondisi kesehatan sang ibunda di teras luar beberapa puluh menit yang lalu.
Bu Baren mengembuskan napas panjang, sebuah helaan yang terdengar cukup berat hingga membuat Aldi spontan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memutar obeng.
"Mas..." panggil Bu Baren dengan suara yang mendadak melunak, memecah kesunyian ruang tengah yang sejak tadi hanya diisi oleh suara gesekan obeng dan derit kabel.
Aldi menolehkan kepalanya ke belakang, menatap wajah ibunya dengan dahi berkerut halus. "Iya, Bun? Kenapa?"
Bu Baren meletakkan selembar kaos oblong milik Mikha yang baru setengah dilipatnya ke atas pangkuan. Ia memajukan posisi duduknya ke pinggiran sofa, mendekat ke arah punggung Aldi. "Kenan... beneran baik-baik aja kan, Mas?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut ibunya seketika membuat atmosfer di ruang tengah itu berubah menjadi sedikit lebih serius. Pak Dadang yang semula sedang fokus menyolder jalur kabel pun perlahan menurunkan alat solder pemanasnya, memilih untuk ikut menyimak pembicaraan tanpa berniat memotong.
Aldi terdiam selama beberapa detik. Ia meletakkan obengnya di atas lantai keramik, lalu membetulkan posisi duduk bersilanya agar lebih nyaman menghadap sang ibu. Wajah jenaka dan penuh banyolan yang biasanya melekat erat pada diri Aldi Bedul seketika luntur, digantikan oleh ekspresi seorang sahabat yang tahu betul bagaimana rupa borok kehidupan di luar sana. Aldi tampak berpikir sejenak, menimbang-nimbang kalimat yang paling pas untuk menggambarkan kondisi karibnya tanpa harus mengumbar seluruh aib domestik keluarga orang lain.
"Mungkin kalau dari luarnya... keliatannya iya, Bun," buka Aldi dengan nada suara yang sengaja direndahkan, mengalir lambat. "Kalau di tongkrongan atau pas makan bareng kita tadi, Kenan emang keliatan aman-aman aja. Dia masih bisa ketawa keras, masih bisa diajak bercanda gesrek sama si Sendy, bahkan masih pinter nyari celah buat ngebadut di depan mic masjid subuh tadi."
Aldi menarik napas pendek, matanya menatap lurus pada jemari tangannya sendiri yang sedikit kotor terkena noda oli speaker. "Tapi... sejauh yang Aldi liat sendiri sih, enggak ya, Bun. Bocahnya tuh kayak cuma jalanin hidup dan ngelakuin apa yang bisa dia lakuin sekarang. Gak ada pilihan lain buat dia selain tetep berdiri."
Bu Baren mendengarkan dengan saksama, guratan kesedihan perlahan mulai tercetak jelas di sudut-sudut matanya yang mulai menua.
"Dia itu gak pernah punya waktu buat ngeluh atau ngerasa capek, Bun," lanjut Aldi lagi, suaranya terdengar agak getir. "Senin sampai Kamis dia harus buru-buru balik kuliah buat langsung kerja paruh waktu di tempat fotokopi deket terminal sampai tengah malam, demi bisa nambahin biaya kemoterapi sama beli obat Mamanya yang gak dicover seluruhnya. Belum lagi di kampus dia harus taruhan nyawa pertahanin IPK-nya biar gak merosot di bawah tiga setengah, karena kalau sampai turun sedikit aja, beasiswa penuhnya dari yayasan bakal langsung dicabut sepihak. Dan yang paling anjingnya—eh, maksud Aldi, yang paling parahnya... ya Bunda tahu sendiri gimana kelakuan bokapnya di rumah. Gak pernah kerja, sukanya main judi online sama pinjol, kalau pulang mabuk ujung-ujungnya malah ngamuk dan main tangan ke Kenan atau Mamanya. Makanya Kenan lebih sering tidur di pos ronda atau di kamar Aldi kalau malam-malam situasinya lagi panas."
Mendengar penuturan jujur dari anak sulungnya, dada Bu Baren mendadak terasa sesak luar biasa. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dua anak yang tumbuh dengan kecukupan kasih sayang dan ketenangan di dalam rumah, Bu Baren tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya mental seorang anak muda seusia Kenan yang harus memikul beban hidup seberat itu sendirian di pundaknya. Setitik air mata tampak mulai menggenang di sudut kelopak mata Bu Baren, namun dengan cepat ia mengusapnya menggunakan ujung celemek kain yang masih terpasang di lehernya.
Pak Dadang yang sejak tadi diam mendengarkan hanya bisa mengembuskan napas panjang penuh keprihatinan. Ia menepuk lutut Aldi dengan pelan. "Mas... Kenan itu anak yang berbakti. Gak semua pemuda zaman sekarang punya mental sekuat dia buat bertahan di tengah badai keluarga kayak begitu."
Bu Baren menggeser duduknya, mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap rambut Aldi dengan penuh kelembutan seorang ibu. Tatapan matanya yang sayu kini menatap lurus ke dalam manik mata anak bujangnya yang paling ia banggakan itu.
"Mas... kalau misal temen-temen kamu, gak cuma Kenan, siapapun... siapapun di antara mereka yang butuh bantuan, tolong dibantu ya, Nak?" ujar Bu Baren dengan nada suara yang bergetar menahan haru, penuh dengan ketulusan yang mendalam. "Kalau misal kamu gak bisa bantu sendirian karena keterbatasan kamu, atau butuh bantuan yang lebih besar... langsung kasih tahu Bunda sama Ayah ya? Jangan pernah kamu sembunyiin sendirian kalau ada temen dekatmu yang lagi kesusahan."
Aldi mengangguk pelan, mendengarkan setiap petuah ibunya dengan seksama.
"Kita ini hidup bertetangga, hidup berteman, harus bisa jadi orang yang baik ya, Mas?" lanjut Bu Baren lagi, air matanya kini benar-benar luruh satu tetes melewati pipinya yang mulai berkerut. "Hidup di dunia ini cuma sekali, jalannya singkat banget. Jangan sampai kita jadi orang yang jahat, jangan sampai kita jadi orang yang menutup mata dan telinga pas tahu ada orang terdekat kita yang lagi kelaparan atau kesakitan di sebelah rumah. Apalagi sekarang kamu sudah dipilih jadi Ketua Karang Taruna di komplek ini, tanggung jawab kamu bukan cuma masalah bikin acara perlombaan atau kerja bakti aja, Mas. Tapi kamu juga harus bisa jadi payung perlindungan buat anak-anak muda lain di sini yang mungkin hidupnya gak seberuntung kamu."
Pak Dadang ikut mengangguk setuju, menambahi nasihat istrinya dengan wibawa seorang kepala keluarga. "Bener apa kata Bundamu, Mas Aldi. Uang jajan kamu kalau kurang buat bantu-bantu beli obat atau sekadar ngajak Kenan makan di luar, bilang sama Ayah. Selama Ayah masih ada rezeki dari bisnis, pintu rumah ini selalu terbuka dua puluh empat jam buat Kenan atau Sendy. Anggap mereka seperti saudaramu sendiri."
Mendengar rentetan kalimat penuh kebaikan yang meluncur dari kedua orang tuanya, hati Aldi rasanya seperti dihantam oleh kehangatan yang luar biasa. Rasa syukur yang teramat besar membuncah di dalam dadanya karena telah dilahirkan di tengah keluarga yang tidak hanya mementingkan ego sendiri, melainkan selalu mengedarkan pandangan untuk peduli pada sesama.
"Iya, Bun... Iya, Yah... Aldi bakal selalu inget pesen Bunda sama Ayah," jawab Aldi tulus, sebuah senyuman tipis yang penuh tekad kini terukir di wajahnya. "Aldi gak bakal ngebiarin Kenan atau siapapun temen Aldi berjuang sendirian. Selama Aldi masih punya tangan buat bantu, pasti bakal Aldi bantu sampai tuntas."
Dari arah tangga lantai dua, Mikha yang rupanya sejak tadi merapikan buku pelajaran di kamarnya tampak berdiri diam di anak tangga teratas. Gadis SMA itu mendengarkan seluruh pembicaraan serius di ruang tengah dengan tatapan mata yang melunak, kehilangan seluruh sifat jailnya yang biasanya selalu berkobar-kobar. Di dalam hati kecilnya, Mikha merasa sangat bangga memiliki seorang abang seperti Aldi yang meskipun di luar terlihat gesrek dan hobi melucu, namun memiliki jiwa kepedulian yang sangat besar terhadap keselamatan sahabat-sahabatnya.
"Nah, sudah-sudah... jangan pada melow lagi pagi-pagi begini, ntar ibu-ibu komplek keburu kumpul di lapangan senamnya belum mulai," celetuk Pak Dadang mencoba mencairkan kembali suasana yang sempat menegang haru. Ia meraih kembali alat soldernya yang sudah panas. "Ayo, Mas, bantu Ayah pasang sekrup penutup speaker ini. Jalur kabelnya sudah aman, tinggal kita tes suaranya."
"Siap, Yah!" sahut Aldi dengan semangat baru yang kembali menyala.
Dengan cekatan, tangan kekar Aldi membantu ayahnya merapikan kembali komponen panel belakang speaker RT 04 tersebut. Pesan mendalam dari sang ibu tentang esensi menjadi orang baik dan memanfaatkan hidup yang hanya sekali itu seolah tertanam kokoh di dalam sanubarinya, menjadi modal kekuatan utama bagi sang Ketua Karang Taruna baru untuk melangkah keluar rumah menyongsong riuhnya agenda kerja bakti komplek beberapa menit lagi.