Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjamuan rahasia dan naskah yang tertukar
Sore itu, Violet sedang asyik menata meja kerja barunya di depan ruangan Arden. Ia sibuk menaruh tanaman kaktus kecil dan foto candid Arden yang diam-diam ia ambil kemarin. Namun, sebuah panggilan dari ayahnya, Tuan Aolani, memaksanya pulang lebih awal ke mansion.
"Vi, malam ini dandan yang cantik. Kita ada jamuan makan malam penting dengan kolega lama Papa," ucap sang Ayah di telepon dengan nada yang terdengar... mencurigakan.
Violet menghela napas. "Pa, aku sibuk ngejar masa depan aku di Bayu Group. Jangan jodohin aku sama anak kolega Papa yang cupu ya!"
"Datang saja dulu, Sayang."
Kediaman Keluarga Aolani
Violet turun dari mobil sport-nya dengan gaun ungu sutra yang memukau. Di ruang makan mewah itu, ia melihat punggung seorang pria yang sangat familiar. Pria itu sedang duduk kaku sambil memegang gelas wine.
"Tuan Bos?!" pekik Violet tertahan.
Arden berbalik. Ia tampak sama terkejutnya dengan Violet. Ia mengenakan kemeja formal tanpa jas, terlihat lebih santai tapi tetap mengintimidasi.
Di kepala meja, Tuan Aolani tertawa lebar bersama seorang pria paruh baya yang sangat mirip dengan Arden. "Ah, Violet! Sini duduk. Kamu sudah kenal kan dengan Arden? Dia putra dari sahabat karib Papa, Tuan Bayu."
Violet mematung. Otaknya mendadak hang. "Sahabat... karib?"
Tuan Bayu (Ayah Arden) tersenyum penuh arti. "Sebenarnya, Arden kembali dari London bukan cuma untuk urusan kantor, tapi karena kami sudah merencanakan pertemuan ini. Tapi sepertinya kalian sudah curi start di kantor, ya?"
Arden meletakkan gelasnya dengan perlahan. Matanya menatap ayahnya, lalu beralih ke Violet. "Jadi... Papa tahu kalau Violet ada di kantor saya?"
"Tentu saja tahu!" sahut Tuan Aolani sambil menepuk bahu Arden. "Kami yang mengatur agar Violet bisa magang di sana lewat jalur khusus tanpa kamu curigai awalnya. Papa ingin kamu melihat sendiri kegigihan putri Papa ini."
Violet yang selama ini merasa dirinya adalah "detektif cegil" yang hebat, ternyata hanya pion dalam rencana perjodohan kedua orang tua mereka.
Violet merasa wajahnya panas. Bukan karena malu, tapi karena ia merasa "usaha gilanya" selama ini ternyata sudah mendapat restu di balik layar. Sementara Arden, rahangnya mengeras. Pria itu paling benci diatur, terutama soal perasaan.
"Jadi, penyamaran saya selama ini... Papa tahu?" tanya Violet pelan.
"Tahu, Sayang. Bahkan Papa yang kasih tahu Danantya untuk 'menjaga' kamu kalau kamu mulai bertingkah terlalu ajaib," jawab Tuan Aolani santai.
Arden berdiri dari kursinya. Suasana yang tadi hangat mendadak mendingin. "Saya menghargai persahabatan Papa dan Tuan Aolani. Tapi saya tidak suka dijadikan objek eksperimen perjodohan seperti ini."
Arden menatap Violet dengan tajam. "Dan kamu, Violet... saya pikir kamu hanya gadis yang nekat. Ternyata kamu juga bagian dari rencana kolusi orang tua ini?"
"Tunggu, Tuan! Aku beneran nggak tahu kalau Papa ikut campur!" seru Violet panik.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arden pamit dengan kaku dan melangkah keluar dari mansion.
Di Luar Mansion
Violet mengejar Arden hingga ke parkiran. "Tuan! Dengerin dulu! Aku beneran cinta sama Tuan bukan karena disuruh Papa!"
Arden berhenti tepat di depan mobilnya. Ia berbalik, menatap Violet dengan pandangan yang sulit dibaca. "Kamu tahu apa yang paling saya benci, Violet? Kebohongan dan paksaan. Sekarang saya tidak tahu mana yang benar-benar sifatmu, dan mana yang sudah diatur oleh orang tua kita."
"Aku beneran cegil, Tuan! Sumpah! Nggak ada yang nyuruh aku jadi tengil!" Violet mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace.
Arden hanya mendengus. "Mulai besok, kembali ke posisi magang biasamu. Saya tidak butuh asisten pribadi yang statusnya adalah 'calon tunangan' yang dipaksakan."
Arden masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan aroma parfum kayu cendana yang bercampur dengan rasa sesak di dada Violet.
Di saat yang sama, di balik pagar mansion, sebuah kamera lensa jarak jauh mengambil foto kebersamaan mereka. Arjuna melihat hasil fotonya di layar kamera dengan seringai gila.
"Oh, jadi ini perjodohan antar raksasa? Menarik. Mari kita lihat apa yang terjadi kalau skandal ini sampai ke telinga publik," gumam Arjuna.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...