Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.
Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Cinta
Pelarian mereka adalah simfoni teriakan, tangisan, dan tembakan yang semakin jarang. Setiap gedung, setiap mobil, menjadi ancaman potensial. Mereka kehilangan satu orang. Jiwoo yang selalu fashionable, yang pede, yang kemarin masih mengeluh tentang hukuman kelas. Kini dia hanya menjadi santapan di lobi gedung kantor yang gelap.
Dan mereka harus terus berlari, karena bunyi jlep... jlep... yang masih bergema di telinga Stella dan Yuha adalah pengingat yang paling kejam: berhenti berarti menerima undangan untuk menjadi makanan berikutnya. Mereka lari, dengan hati hancur, dengan rasa bersalah yang menggerogoti, dan dengan satu tujuan yang sekarang terasa sangat hampa: bertahan hidup, meski untuk melakukannya, mereka harus meninggalkan seorang teman menjadi makanan monster.
...
Mereka berlari tanpa arah, digerakkan oleh insting liar untuk menjauhi sumber horor. Jiwoo sudah tidak ada. Kenyataan itu seperti pukulan telak di tengah dada mereka yang sudah sesak oleh ketakutan. Tapi mereka tidak punya waktu untuk berduka. Setiap detik, bayangan kematian mengintai lebih dekat.
"KE MANA SEKARANG?! KE MANA?!" teriak A-na, histeris, sambil menarik rambutnya sendiri.
"KITA NYASAR! KITA BAKAL MATI SEMUA DI SINI!" TERIAK JUUN
"SUNGCHAN, RUTE! KITA HARUS KE MANA?!" Jimin berteriak, matanya panik menyapu jalanan yang asing dan penuh ancaman.
Sungchan, sambil berlari dengan rifle kosong di genggaman, melihat sekeliling dengan liar. "SEBELAH KIRI! ADA GANG! ITU MUNGKIN NGUBUNGIN KE JALAN BESAR YANG KE PUSAT KOTA!"
"'MUNGKIN'? GAK BISA YAKIN?!" sergap Hina, napasnya tersengal.
"GAK ADA YANG YAKIN DI DUNIA INI LAGI, HINA! IKUT ATAU MATI!" balas Minjeong dengan keras, masih menyeret Sunkyung.
Mereka belok ke kiri, menyusup ke gang sempit yang dipenuhi sampah dan bau pesing. Suara kepakan sayap masih terdengar dari atas, tapi lebih redup. Mungkin mereka kehilangan jejak untuk sementara.
Tiba-tiba, di ujung gang, cahaya. Bukan cahaya matahari, tapi cahaya neon yang berkedip-kedip. Sebuah convenience store kecil dengan pintu kaca yang hanya retak, belum pecah total. Lampu daruratnya masih menyala, memancarkan cahaya hijau menyeramkan.
"TOKO! MASIH ADA LISTRIK!" teriak Shotaro.
"BAHAYA! CAHAYA ITU BISA NARIK MEREKA!" ingat Jaemin.
"TAPI MUNGKIN ADA MAKANAN! ATAU OBAT BUAT EUNSEOK!" bantah Jeno, melihat lengan Eunseok yang masih basah darah. Eunseok sendiri terlihat pucat dan mulai melangkah dengan goyah.
"GUE BUTUH OBAT... atau... atau apa aja..." gumam Eunseok, suaranya lemah.
"Oke, cepet. Kita masuk, ambil apa yang bisa, lalu matiin lampunya. Cepetan!" putus Jimin.
Mereka menyelinap masuk. Toko itu berantakan, tapi tidak sehancur yang lain. Rak-rak masih ada yang utuh. Dan yang paling penting- ada sebuah lemari pendingin kecil yang masih berfungsi, penuh dengan botol-botol air minum dan beberapa minuman energi.
"AIR! BANYAK!" seru Renjun, langsung mengambil beberapa botol.
"Ambil semuanya! Jangan tinggalin!" perintah Jaemin.
Mereka seperti perampok yang panik. Memasukkan air, beberapa bungkus mi instan, cokelat, dan- sebuah kotak P3K yang masih lengkap-ke dalam tas mereka. Giselle menemukan beberapa powerbank yang masih terisi penuh di balik kasir.
"Baringin dia di sini!" perintah Minjeong, membersihkan area di belakang kasir dengan cepat. Eunseok mengerang kesakitan saat dibaringkan.
"Kotak P3K! Cari kotak P3K!" teriak Jaemin sambil matanya menyapu rak-rak.
"Di sini!" Stella menemukannya di rak dekat kasir, masih tersegel.
Giselle dan Sohee, yang paling tenang secara medis, langsung mengambil alih. Dengan tangan gemetar tapi terlatih (berkat pelajaran PMR), mereka membuka kotaknya.
"Gunting... antiseptik... perban... ini cukup," gumam Giselle.
"Ini... ini bakal sakit, seok," bisik Sohee sebelum menuangkan cairan antiseptik ke luka robek di lengan Eunseok yang ternyata cukup dalam.
"SSSSS- AAAH!" Eunseok mengatupkan gigi, tubuhnya melengkung menahan sakit. Keringat dingin membasahi dahinya.
"Tahan, Seok! Tahan!" Jeno berjongkok di sebelah kepalanya, memegangi bahunya.
Sementara itu, yang lain bergerak cepat seperti mesin. Haechan, Renjun, dan Shotaro mengosongkan lemari pendingin, memasukkan puluhan botol air ke dalam tas-tas mereka. Mark dan Yeri merampok rak makanan kering. Ningning menemukan sebungkus permen dan cokelat yang langsung dia masukkan.
"OBAT NYERI! ADA YANG LIAT OBAT NYERI?" teriak Jimin.
"Di sini, ada obat-obatan dasar!" balas A-na dari lorong belakang, melemparkan beberapa bungkus paracetamol.
Di luar, Haechan dan Sungchan yang berjaga di dekat pintu kaca yang retak, tegang.
"Gue denger sesuatu... kayak gesekan di atap toko sebelah," bisik Haechan.
Giselle sedang membalut lengan Eunseok dengan perban ketat. "Ini cuma sementara. Buat hentiin darah. Kita butuh jahitan nanti."
"tapi Gak papa... yang penting... gak keluar lagi," napas Eunseok, terlihat sedikit lebih lega meski masih kesakitan.
"Oke, udah! Sekarang lampunya! Matiin lampunya sebelum mereka dateng!" instruksi Jaemin.
"LAMPUNYA! MATIIN LAMPUNYA SEBELUM MEREKA DATENG!" teriak Haechan yang berjaga di dekat pintu.
Saat Jaemin mencari saklar, sebuah bayangan besar melintas di depan pintu kaca toko, menghalangi cahaya hijau itu sejenak.
"DI SANA!" bisik Shotaro, suaranya bergetar.
Semua membeku. Bayangan itu berlalu. Tapi itu pertanda mereka tidak punya banyak waktu.
"GUE GAK TAU SAKLARNYA DI MANA!" Jaemin berteriak frustasi.
"TEMBAK AJA LAMPUNYA!" usul Sungchan.
BANG!
Sungchan menembak lampu neon di langit-langit. Kaca dan plastik berhamburan. Toko kembali gelap, hanya disinari sisa cahaya dari luar gang.
"MEREKA TAU KITA DI SINI!" pekik Jimin.
"KELUAR! KELUAR SEKARANG!" Ucap Jaemin
Mereak keluar dengan membawa 'harta karun', kembali ke kegelapan gang. Tapi suasana sudah berubah. Suara kepakan sayap yang tadi redup, sekarang terdengar lebih dekat, lebih banyak. Cahaya toko tadi mungkin sudah menarik perhatian.
"LARI !!" Pekik Minjeong
Mereka berhamburan keluar. Jeno dan Jaemin membantu Eunseok berdiri. Tas-tas mereka sekarang berat oleh air dan makanan. Tapi mereka juga membawa sesuatu yang lebih berharga: sedikit harapan bahwa mereka bisa merawat luka, bahwa mereka tidak akan mati perlahan karena infeksi atau dehidrasi.
Namun, saat mereka melangkah keluar ke kegelapan gang, suara yang mereka takuti sudah menunggu. Kepakan sayap yang berdesir, dan dari ujung gang yang mereka tuju, sepasang titik cahaya biru tiba-tiba muncul, berkedip-kedip di kegelapan, diikuti oleh siluet ramping yang merayap di dinding.
Cahaya toko tadi mungkin sudah menarik perhatian. Atau suara tembakan. Atau mungkin, keberadaan mereka sudah tercium.
"JALAN LAIN! BALIK! BALIK!" teriak Jimin
Mereka berbalik arah, kembali menyusuri gang yang gelap, sekarang dengan seorang yang terluka, tas yang berat, dan makhluk pemangsa yang baru saja memblokir satu-satunya jalan keluar yang mereka tahu. Perhentian singkat mereka di 'surga' mini market itu telah berakhir, dan neraka yang mengejar mereka kini memiliki wajah yang lebih jelas-dan lebih dekat.
jantung berdebar kencang menabrak tulang rusuk. Gang gelap yang tadi menjadi jalan keluar, kini berubah menjadi pipa pembuangan yang tanpa ujung. Di belakang, suara kepakan sayap dan desis yang semakin jelas dari arah Klepek-Klepek yang menghadang di ujung gang tadi.
"Mati... kita mati di gang ini..." isak Chenle, nyaris menyerah.
"Diem lo! Cari jalan keluar! pintu, jendela, celah, apa kek!" geram Minjeong, matanya menyapu dinding bata yang tinggi di kedua sisi.
Mereka berlari lebih dalam. Gang ini buntu. Di ujungnya hanya ada tumpukan sampah besar dan sebuah pagar besi tinggi yang menutupi jalan keluar. Pagar itu terlalu tinggi untuk didaki, apalagi dengan kondisi Eunseok yang terluka.
"BUNTU! GILA, BUNTU!" teriak Haechan, panik.
"PAGARNYA! Coba dorong atau cari celah!" perintah Jimin.
Beberapa orang-Sungchan, Jeno, Shotaro-langsung menerjang ke arah pagar. Mereka mengguncang-guncangnya. Kuat. Terkunci dari sisi lain. Tidak ada celah.
"Gak bisa! Kuat banget!" lapor Jeno, putus asa.
Suara dari belakang semakin dekat. Mereka bisa melihat siluet dengan titik cahaya biru memasuki mulut gang, merayap pelan di sepanjang dinding, seperti kucing yang sedang mengendus mangsanya yang terjebak.
Kepanikan mencapai puncaknya.
"KITA HARUS NAIK PAGAR! HARUS!" teriak A-na histeris.
"GIMANA CARANYA? AKU GAK BISA MANJAT!" tangis Sunkyung.
"Eunseok juga gak bisa manjat dalam kondisi gini!" tambah Jeno.
Wajah Jaemin pucat pasi. Matanya melihat sekeliling dengan cepat. Sampah... pagar... sebuah kontainer sampah besar yang terbalik di dekat pagar. Ide liar muncul.
"Kontainer! Itu! Dorong kontainer itu ke dekat pagar! Kita pake jadi pijakan buat loncat!" usul sohee
Itu adalah ide gila, tapi satu-satunya. Tanpa pikir panjang, mereka yang masih kuat-Mark, Sungchan, Jaemin, Renjun, Haechan-mendorong kontainer logam berat itu. Graaak... Suaranya berisik, memekik di gang sempit.
"Cepetan! Mereka dateng!" teriak Stella, yang berdiri paling belakang melihat Klepek-Klepek itu semakin dekat. Sudah ada dua sekarang yang memasuki gang.
Kontainer akhirnya berhasil didorong menempel pagar. Tingginya hampir setengah pagar.
"Yang bisa, naik duluan! terus bantu yang lain dari atas!" pekik Jimin.
"Cepet! Shotaro, lo yang pertama!" lanjut jimin
Shotaro, dengan kelincahan parkour-nya, memanjat kontainer dan dengan mudah melompat, meraih puncak pagar, lalu menarik tubuhnya naik. "Sini! Cepat!"
"Yang cewek dan yang terluka duluan!" teriak Minjeong, mendorong Sunkyung ke depan. "Ayo, Lam! Shotaro di atas!"
Dengan bantuan Jeno dari bawah dan Shotaro dari atas, Sunkyung berhasil naik dengan susah payah, "Ayo, Lam! Pegang tangan Shotaro!"
Tangisan lami tidak putus-putus.
Diikuti oleh Yeri, Stella, A-na, Hina-semua didorong, ditarik, dalam proses yang kacau dan penuh teriakan.
Sementara itu, Klepek-Klepek pertama sudah berada dalam jarak sepuluh meter.
Sungchan, yang memutuskan menjadi penjaga belakang, mengambil ancang-ancang dengan rifle kosongnya seperti pentungan.
"Jeno, Jaemin! Bawa Eunseok naik! GUE TAHAN MEREKA!"
"Lo gak bisa sendirian, Sung!" protes Jeno.
"SEKARANG! ITU PERINTAH!" Sungchan membentak, matanya tak lepas dari makhluk yang mendekat.
Jeno dan Jaemin menarik Eunseok yang pucat ke kontainer. Mereka mendorongnya naik. Eunseok menjerit kesakitan saat luka lengannya terbentur, tapi tetap berusaha memanjat dengan satu tangan. Shotaro dan Mark (yang sudah di atas) menariknya sekuat tenaga.
Jeno dan Jaemin, dengan hati berat, menarik Eunseok ke kontainer.
Eunseok mengerang kesakitan saat lengannya yang terlumat terbentur.
"Aduh... sial..." desisnya, berkeringat dingin.
"Maaf, seok, tahan bentar!" ucap Jaemin, mendorongnya naik sekuat tenaga. Shotaro dan Mark menarik dari atas.
Klepek-Klepek itu mendekat dengan langkah cepat.
Sungchan mengambil bongkahan batu bata dari tumpukan sampah. "HEY! SINI!" teriaknya, melemparkan batu ke arah makhluk itu untuk mengalihkan perhatian. Batu itu mengenai dada makhluk itu dengan suara 'blup', membuatnya terhenti dan mendesis marah.
"SUNGCHAN, NAIK! SEKARANG GILIRAN LO!" teriak Jimin yang sudah berada di atas kontainer.
Tapi Klepek-Klepek kedua, yang lebih kecil dan gesit, tiba-tiba melompat dari dinding, melewati Sungchan, dan langsung mengincar Chenle dan Ningning yang sedang bersiap naik.
"NING! LE! AWAS!" teriak Jaemin.
Klepek-Klepek itu menyambar. Cakarnya mengaitkan tas belakang Chenle dan menariknya mundur dengan kasar.
"AAAAH! NING, TOLONG GUE!" Chenle berteriak, tubuhnya terlempar ke tanah.
"CHENLE!" Ningning berbalik.
Dan tanpa pikir panjang, bukan karena keberanian tapi karena ikatan yang lebih dalam dari sekadar pertengkaran sehari-hari, dia melompat turun dari kontainer. Dia mengambil sebatang pipa besi dari tumpukan sampah dan berlari sambil berteriak, "LEPASIN DIA, MONSTER!"
Pukulan itu tidak melukai serius, tapi mengejutkan. Klepek-Klepek itu melepaskan cengkeramannya pada Chenle.
Sungchan mengambil kesempatan, menerjang dan menarik Chenle yang tergeletak, mendorongnya ke arah kontainer. "NAIK! CEPET!"
"NING, IKUT!" teriak Jaemin dari atas pagar.
Tapi Klepek-Klepek yang kesakitan tadi sudah mengalihkan amarahnya pada Ningning. Makhluk itu membalik, dan dengan gerakan cepat, cakarnya yang lain mengayun ke arah Ningning.
"NINGNING, AWAS-" teriak Wonbin dari atas pagar, tapi suaranya tercekat.
Semua terjadi begitu cepat. Cakar itu menyambar. Ningning berusaha menghindar, tapi cakar tajam itu menggores dalam di bahu dan punggungnya. Jaketnya robek, darah langsung mengucur.
"AAGH!" Ningning terjatuh, menjerit kesakitan.
"GAK! NING!" Chenle menjerit histeris, mencoba turun lagi tapi ditahan oleh Jeno.
"GUE JEMPUT DIA!" teriak Sungchan.
Tapi Klepek-Klepek pertama yang tadi dihadangnya sudah sampai. Sekarang mereka terjepit. Dua Klepek-Klepek, dan Ningning yang terluka di antara mereka.
Di atas pagar, kekacauan. Semua berteriak histeris, tidak ada yang tahu harus berbuat apa. Minjeong mencoba turun tapi ditahan Jimin.
"TURUN! KITA TURUN BANTU!" teriak Minjeong.
"GAK BISA! KALO KITA TURUN, YANG LAIN BAKAL IKUT TERJEBAK!" bantah Jimin, wajahnya penuh konflik.
"TAPI DIA NINGNING! DIA TEMEN KITA!" tangis Yeri.
"KITA UDAH KEHILANGAN JIWOO! GAK BISA LAGI!" pekik Hina, meski air matanya juga mengalir.
Lalu, gerakan yang menghentikan semua teriakan. Wonbin, yang dari tadi diam di atas pagar, memandangi Ningning yang pingsan, lalu melihat ke dua Klepek-Klepek. Wajahnya yang biasanya kalem, penuh dengan ketakutan dan rasa bersalah karena insiden daun kering tadi. Tiba-tiba, ekspresinya berubah. Menjadi sesuatu yang aneh: penerimaan.
Wonbin melompat turun dari pagar. Bukan dengan heroik, tapi dengan gemetaran yang jelas terlihat.
"Wonbin, JANGAN!" teriak Giselle.
Wonbin mendarat di samping Ningning. Dia menatap gadis itu, yang matanya penuh rasa sakit dan tanya. "Maafin gue, Ning," bisiknya, hampir tak terdengar. Lalu, dia berdiri.
Wonbin mengambil tas besar berisi botol-botol air yang terjatuh di dekatnya-sumber daya berharga mereka-dan dengan tenaga penuh, melemparkannya ke arah Klepek-Klepek yang paling dekat. Botol-botol plastik berhamburan, air tumpah.
"HEY! KALIAN LAPAR?!" teriak Wonbin, suaranya keras dan berani, meski tubuhnya gemetar. "GUE DI SINI! MAKAN GUE AJA! BIARIN MEREKA PERGI!"
wonbin mulai berlari MENJAUH dari pagar, menuju tumpukan sampah di ujung gang yang buntu, sambil menendang kaleng-kaleng, membanting puing, membuat keributan sebanyak-banyaknya.
Dua Klepek-Klepek itu, insting predatornya tertarik pada gerakan, suara, dan target yang tampak 'mudah'. Mereka melirik Ningning yang sudah tak bergerak banyak, lalu ke Wonbin yang sedang berlari dan berisik. Keputusan mereka cepat. Mereka berbalik, meninggalkan Ningning, dan mulai mengejar Wonbin.
"WONBIN, KEMBALI! JANGAN!" teriak Jaemin, tapi dia tahu itu tidak mungkin.
Wonbin mencapai tumpukan sampah. Tidak ada jalan lagi. Dia berbalik, menghadapi dua makhluk yang mendekat dengan langkah pasti. Di kegelapan gang, di bawah cahaya remang-remang dari langit, mereka melihat Wonbin menarik napas dalam-dalam. Dia menoleh ke arah mereka di pagar, untuk terakhir kalinya. Di wajahnya, mereka melihatnya: bukan lagi ketakutan, tapi kelegaan. Sebuah penebusan.
"LARI..." bisik Wonbin, mungkin hanya udara. "CEPAT..."
Lalu, kedua Klepek-Klepek itu menerjang bersamaan. Tubuh Wonbin tersembunyikan oleh bentuk-bentuk gelap mereka. Suara yang keluar bukan jeritan, melainkan hentakan nafas yang terpotong, dan suara robekan yang mengerikan.
"TIDAAAAAAAAAK!" teriak Chenle, suaranya parau dan hancur.
"WONBIN! WONBIN!" Giselle menangis histeris, memegangi kepala.
Tapi mereka tidak punya hak untuk berlama-lama berduka. "AMBIL NINGNING! SEKARANG!" Sungchan berteriak, memecah stupor mengerikan itu.
Jeno dan Jaemin melompat turun, menghindari pandangan ke arah ujung gang di mana suara-suara mengerikan masih terdengar. Mereka mengangkat tubuh Ningning yang pingsan. Dia masih bernapas, pendek dan tersengal, tapi lukanya mengerikan. Darah membasahi tangan mereka.
Dengan susah payah mereka mendorongnya ke atas kontainer, di mana puluhan tangan menariknya naik ke atas pagar.
Saat mereka sendiri akhirnya berhasil naik dan melompat ke sisi lain pagar, suara dari ujung gang tiba-tiba berhenti. Hening. Lalu, suara jlep... jlep... yang familier mulai terdengar, pelan tapi jelas.
Mereka tidak melihat. Mereka tidak berani. Tapi mereka semua tahu apa arti suara itu.
Dengan Ningning yang pingsan di antara mereka, Eunseok yang lemah, dan jiwa yang hancur oleh kehilangan kedua kalinya hari itu, mereka melanjutkan pelarian mereka. Tidak ada lagi air mata yang keluar. Hanya kehampaan dan rasa bersalah yang membatu. Wonbin, si jenius pendiam yang mengambil kesalahan daun kering sebagai tanggungan hidupnya, telah membayarnya dengan cara yang paling final. Dan mereka, yang hidup, harus terus membawa beban itu, sambil berlari lebih jauh ke dalam ketidakpastian yang mungkin hanya menawarkan lebih banyak pengorbanan.
Dua korban dalam satu hari. Jiwoo dan sekarang Wonbin. Dan Ningning terlumat parah. Kemenangan mereka lolos dari gang buntu itu terasa seperti kekalahan yang paling pahit. Mereka terus berlari, dengan beban nyawa yang semakin berat di pundak mereka, menuju fasilitas karantina yang semakin terasa seperti fatamorgana di padang pasir kematian ini.
...