Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Pintu ruangan kerja Lexington terbuka dengan sentuhan yang hampir menyerupai tarian.
Briella melangkah masuk dengan binar mata yang begitu terang, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre nasional atau menemukan rumus fisika yang selama ini dicari suaminya.
Senyum di bibirnya sangat lebar, jenis senyum kepuasan yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa sedikit... curiga.
Lexington, yang masih duduk di depan laptopnya, menghentikan ketikannya. Ia menurunkan kacamata bacanya sedikit ke ujung hidung, menatap istrinya dari atas ke bawah.
Apa lagi ini? batin Lexington was-was.
Ia mengenal Briella. Ekspresi seperti itu biasanya menandakan bahwa istrinya baru saja melakukan sesuatu yang ajaib, ceroboh, atau gabungan dari keduanya.
Mengingat Briella baru saja "berkeliling", jantung Lexington berdegup sedikit lebih kencang karena alasan yang tidak ilmiah.
Namun, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir Briella. Ia mengabaikan tatapan penuh selidik suaminya.
Dengan gerakan santai, ia berjalan menuju cermin besar yang tergantung di sisi ruangan. Briella merapikan gaun pastelnya, memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, lalu mulai mengamati pantulan dirinya dengan sangat intens.
Lexington terus memperhatikan. Briella kemudian menyentuh bagian dadanya, menyesuaikan kerah gaunnya, dan tiba-tiba... ia terkekeh. Sebuah kekehan kecil yang penuh kemenangan.
"Sayang?" panggil Lexington lembut. Ia bangkit dari kursi kerjanya, melepas kacamata, dan berjalan menghampiri istrinya. Ia berdiri di belakang Briella, melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan menyandarkan dagunya di bahu Briella.
"Hmm?" Briella menyahut, masih asyik menatap cermin.
"Apa hatimu sedang sangat bahagia? Kau masuk ke sini seperti baru saja menaklukkan sebuah kerajaan kecil," tanya Lexington sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh sang istri.
Briella berbalik dalam dekapan Lexington, menatap mata kelabu suaminya dengan binar nakal. "Aku sedang sangat bahagia, Lex. Sangat, sangat bahagia."
"Boleh aku tahu alasannya? Atau ini rahasia negara antara kau dan dinding kampus?"
Briella tidak langsung menjawab. Ia justru menarik napas panjang, membusungkan dadanya sedikit, lalu bertanya dengan wajah paling serius yang pernah dilihat Lexington.
"Lex, jawab jujur. Apa payudara ini membesar hanya karena aku hamil? Atau... memang karena dasarnya sudah bagus?"
Lexington mematung. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memproses pertanyaan yang menurut logikanya berada di luar jalur diskusi akademis maupun bisnis otomotif. Ia menatap bagian yang dimaksud Briella, lalu kembali menatap mata istrinya.
"Pertanyaan gila apa itu, Honey?" Lexington bertanya balik, suaranya mengandung tawa yang tertahan.
"Jawab saja!" tuntut Briella. "Tadi ada yang meragukan keaslian asetku."
Lexington tertawa rendah, suara beratnya bergetar di dada yang bersentuhan dengan punggung Briella. Ia mempererat pelukannya, tangannya naik sedikit untuk memberikan penekanan yang posesif.
"Dengar, Briella Zamora," bisik Lexington tepat di telinganya. "Aku merem*snya hampir setiap hari, apalagi sejak kau hamil. Jika ada sesuatu yang palsu di sana, tangan dan instingku pasti sudah menyadarinya sejak lama. Aku adalah pria yang sangat detail terhadap tekstur dan material, kau tahu itu kan?"
Wajah Briella memerah, namun ia merasa sangat puas dengan jawaban suaminya.
"Jadi... ini asli dan hebat?" tanya Briella memastikan sekali lagi.
"Sangat asli, sangat hebat, dan hanya milikku," tegas Lexington. "Sekarang, bisakah kau memberitahuku siapa yang berani meragukan hal itu? Agar aku bisa mengirimkan jurnal medis tentang anatomi tubuhmu kepadanya."
Briella terkekeh, membayangkan Lexington benar-benar mengirimkan jurnal ilmiah tentang tubuhnya kepada Late Vera. Itu akan menjadi akhir dari karier Vera sebagai wanita perfeksionis.
"Tidak perlu, Lex. Aku sudah membereskan urusanku dengan 'si kaku' itu dengan caraku sendiri," ucap Briella misterius. Ia kemudian melepaskan diri dari pelukan Lexington dan menyambar tas tangannya yang diletakkan di atas meja.
"Ayo antar aku pulang. Aku tiba-tiba merasa bosan di kampus ini. Hawanya terlalu penuh dengan buku-buku berdebu dan ego yang terlalu tinggi," ucap Briella sambil menarik tangan suaminya.
Lexington melihat jam di tangannya. Masih ada satu jam sebelum pertemuan dengan tim teknis otomotif, namun melihat wajah istrinya yang tampak mulai kelelahan meskipun bahagia, ia tidak bisa menolak.
"Baiklah, Ratu Valerio. Kita pulang sekarang," ucap Lexington. Ia menyambar jasnya, mematikan laptop, dan menggandeng tangan Briella keluar dari ruangan.
Hadiyan yang sedang menunggu di depan pintu dengan segelas susu hamil di tangannya hanya bisa melongo melihat pasangan itu keluar dengan terburu-buru.
"Tuan? Susunya?" tanya Hadiyan bingung.
"Bawa ke mobil, Yan. Kita pulang. Istriku ingin beristirahat," jawab Lexington tanpa menoleh.
Briella memberikan kedipan nakal pada Hadiyan saat mereka melewati asisten itu.
Hadiyan hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa hidupnya akan selalu penuh kejutan selama ia bekerja untuk "Duo Valerio" yang tidak terduga ini.
Di dalam lift, Briella kembali berbisik, "Lex, nanti di rumah... kau harus mengecek keasliannya lagi ya?"
Lexington hanya bisa memutar bola matanya, meski senyum di bibirnya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak keberatan dengan tugas "penelitian" tersebut.