Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.
Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.
mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggrebekan
...Anda Tahu kasih sayang yang tidak akan pernah sirna....
...Kasih sayang ibu kepada anaknya....
Darsih baru saja menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas kursi kayu ruang tamu. Karung berisi arit dan sisa potongan kangkung masih tergeletak di dekat pintu. Keringat dingin sisa seharian memeras keringat di sawah masih menempel di tengkuknya. Namun, belum sempat ia meneguk habis air putih yang dibawakan Kirana sebelumnya, deru langkah kaki yang berat dan teratur mengepung rumah panggungnya.
Pintu anyaman bambu yang sudah lapuk itu diketuk dengan ketukan yang lambat namun penuh penekanan.
Darsih bangkit dengan kening berkerut. Saat ia membuka pintu, hawa dingin yang asing seketika menusuk pori-pori kulitnya. Di hadapannya berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan bekas luka melintang di pipi kirinya, dikawal oleh beberapa pria berjaket hitam yang menutup rapat akses keluar rumahnya.
"Benar ini dengan Ibu Darsih? Istri dari almarhum Joko?" pria itu bertanya. Suaranya terdengar halus, namun ada nada mengancam yang tertahan di balik pita suaranya. Pria itu adalah Reno.
Darsih menelan ludah, mencoba mengendalikan debar jantungnya yang mendadak menggila. "I-iya, benar, Pak. Ada keperluan apa ya, sore-sore begini?"
Reno tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. Tanpa dipersilakan, ia melangkah masuk ke dalam rumah panggung yang sempit itu, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan teliti. "Kami tidak punya banyak waktu, Bu. Kami hanya ingin menjemput anak Ibu. Anak perempuan yang lahir tepat sepuluh tahun lalu, saat banjir bandang meruntuhkan desa ini."
Mendengar kata 'anak', seolah ada pemantik api yang menyulut sesuatu di dalam dada Darsih. Insting seorang ibu seketika menyala hebat. Pikirannya langsung melayang pada potongan mimpi buruk yang kerap menghantuinya selama sepuluh tahun ini—sebuah mimpi di mana langit terbelah dan pusaran angin hitam mencoba merebut Kirana dari pelukannya. Sesepuh desa pernah berpesan bahwa Kirana bukan anak sembarangan, dan hari ini, ramalan itu terbukti. Orang-orang kota berpakaian hitam ini datang untuk mengambil anaknya.
Darsih mengepalkan tangannya di balik kain jarik. Ia harus melindungi Kirana, apa pun taruhannya.
"M-maaf, Pak. Kalian salah alamat," ucap Darsih dengan suara yang dipaksakan tegap, meskipun bibirnya sedikit bergetar. "Anak saya... sudah tidak ada. Dia meninggal dua tahun yang lalu, sakit demam berdarah. Dia sudah menyusul bapaknya ke liang kubur."
Reno menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan perlahan, menatap Darsih dengan tatapan yang seolah bisa menguliti isi kepala wanita paruh baya itu. Seringai jijik kembali muncul di wajahnya.
"Meninggal?" Reno terkekeh, suara tawanya terdengar parau dan kering. "Jangan bercanda, Bu. Di dunia ini, tidak ada yang bisa bersembunyi dari Mata Malaikat. Kasih tahu di mana anak itu sekarang, atau perjalanan kami yang jauh dari Jakarta ini akan membuat kami melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan."
"Saya tidak bohong! Anak saya sudah tiada!" Darsih berteriak, air matanya mulai menetes. Di dalam hatinya, ia menjeritkan doa yang paling tulus kepada Yang Maha Kuasa. Gusti... lindungi Kirana. Jangan biarkan dia pulang dulu. Tahan langkah kaki anakku, Gusti..."
Reno menghela napas pendek, lalu memberikan isyarat kecil dengan jentikan jarinya kepada anak buahnya. "Hancurkan!"
Tanpa menunggu perintah dua kali, tiga orang anak buah Reno langsung bergerak beringas. Mereka menendang meja kayu hingga jomplang, membanting gelas kaca ke lantai hingga hancur berkeping-keping, dan merobek gorden pembatas kamar dengan kasar. Suara kelontang perabot yang dihancurkan memenuhi rumah kecil itu.
Darsih menjerit, menutup telinganya, namun ia tetap berdiri kokoh di depan pintu kamar utama. "Demi Allah, anak saya sudah meninggal! Tidak ada anak kecil di rumah ini!"
Reno melangkah maju dengan cepat. Tangannya yang besar dan kasar seketika mencengkeram rambut Darsih, menjambaknya ke belakang hingga kepala wanita itu mendongak paksa. Darsih meringis kesakitan, air matanya mengalir semakin deras.
"Dengar, Perempuan Tua," bisik Reno tepat di depan wajah Darsih, hawa napasnya berbau anyir dan pekat. "Kesabaranku ada batasnya. Kalau kau tidak menyerahkan anak itu sekarang, aku tidak keberatan bersenang-senang sedikit denganmu sebelum membakar rumah ini. Anak-anak buahku juga sudah lama tidak menyentuh wanita desa."
Di luar rumah, di balik rimbunnya kebun jati, Kirana yang baru saja berlari memotong jalan berniat langsung menghambur ke arah pintu rumah panggungnya. Langkah kakinya yang kecil terhenti seketika saat mendengar suara jeritan ibunya dari dalam.
"Ibuuu—"
HMPFF!
Belum sempat jeritan itu keluar seutuhnya dari tenggorokan Kirana, sebuah tangan hangat yang gemetar langsung membekap mulutnya dengan erat. Tubuh kecil Kirana ditarik ke belakang, disembunyikan di balik batang pohon jati yang besar.
Kirana meronta panik, namun saat ia menoleh, ia melihat wajah Miranti yang pucat pasi dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Miranti menggelengkan kepala dengan cepat, menaruh satu jarinya di depan bibir.
"Sstt... Kirana, diam. Jangan bersuara," bisik Miranti dengan nada yang sangat tertekan.
Miranti sebenarnya berniat bertamu untuk memberikan lauk pauk yang ia masak tadi siang, namun langkahnya terhenti saat melihat mobil-mobil mewah terparkir dan mendengar suara perabot dihancurkan dari rumah kakak iparnya. Dari celah dinding bambu yang renggang, Miranti bisa melihat dengan jelas bagaimana Darsih sedang disiksa dan diancam oleh rombongan pria bertubuh kekar itu.
Melihat keponakannya hampir saja menyerahkan diri, Miranti langsung bergerak cepat. Sambil terus membekap mulut Kirana yang mulai menangis tanpa suara, Miranti menyeret tubuh anak itu mundur, menjauh dari area rumah panggung secepat mungkin sebelum mereka terlihat.
Di dalam rumah, Reno melepaskan jambakannya hingga Darsih tersungkur ke lantai yang penuh pecahan kaca. Saat Reno hendak melangkah ke dapur untuk memeriksa, pandangan matanya tiba-tiba terpaku pada sebuah bingkai foto kusam yang tergeletak miring di atas meja kecil di sudut kamar—satu-satunya barang yang belum hancur.
Reno memungut foto itu. Di dalamnya, tampak foto Darsih, almarhum suaminya, dan sebuah foto terpisah anak perempuan dengan kuncir kepala.
Mata Reno membelalak. Gurat luka di pipinya menegang. Ia teringat dengan anak perempuan berbaju seragam sekolah yang baru saja berpapasan dengannya di jalan setapak tadi. Anak yang membawa ranting jati kering.
"Sialan!" Reno mendesis, giginya bergemertuk rapat. "Anak yang tadi!"
Ia melemparkan bingkai foto itu hingga kacanya hancur berantakan di depan wajah Darsih. "Kau menipuku, hah?!" PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Darsih, membuat wanita itu terkapar dengan sudut bibir yang pecah dan berdarah.
"Reno! Pencar pasukan! Anak itu baru saja berpapasan dengan kita di jalan! Dia belum jauh!" teriak Reno berang. "Kejar sampai dapat! Jangan biarkan lolos!"
Anak buah Reno langsung berhamburan keluar rumah, berlari ke segala arah menyusuri jalanan desa. Mereka mulai menghentikan beberapa warga yang sedang berjalan pulang dari ladang.
"Heh! Lihat anak kecil yang lewat sini? Anak perempuan berbaju seragam!" bentak salah satu anak buah Reno sambil mencengkeram pundak seorang pemuda desa.
Warga desa yang ketakutan melihat perawakan orang-orang kota itu hanya bisa menggeleng. Namun, di sudut jalan lain, beberapa warga yang selama ini menaruh dendam atas banjir bandang sepuluh tahun lalu justru berbisik-bisik dengan wajah dingin.
"Saya tidak punya urusan dengan anak terkutuk itu. Cari saja di sekitar kebun utara, biasanya anak pembawa sial itu bersembunyi di sana," ucap seorang warga dengan nada ketus, sama sekali tidak peduli dengan keselamatan Kirana.
Sementara itu, Miranti berhasil membawa Kirana ke sebuah gubuk bambu kecil di sisi kebun jati yang paling ujung, tempat penyimpanan pupuk dan alat tani yang sudah jarang dikunjungi warga.
Kirana menangis sesenggukan, tubuhnya gemetar hebat di dalam pelukan tantenya. "Mbak Ranti... Ibu... Ibu dipukul orang jahat. Kirana mau bantu Ibu..."
Miranti memegang kedua bahu Kirana, menatap mata anak itu dengan tatapan yang dalam dan serius. Ia teringat akan cerita rahasia yang pernah disampaikan oleh almarhum Mas Joko dan Darsih pada suatu malam sebelum banjir besar itu terjadi.
"Kirana, dengarkan Mbak," ucap Miranti, suaranya bergetar namun berusaha menanamkan ketegasan. "Kamu bukan anak biasa. Di punggungmu ada tanda yang dicari oleh orang-orang jahat itu. Ibumu sedang berkorban di sana agar kamu bisa selamat. Jangan sia-siakan pengorbanan ibumu dengan menyerahkan dirimu sekarang!"
Kirana menunduk, air matanya membasahi seragam sekolahnya. "Tapi Ibu, Mbak..."
"Ibumu akan baik-baik saja kalau kamu selamat, Kirana! Kita harus pergi dari sini, sekarang!"
Di luar gubuk, beberapa puluh meter di dekat area perladangan, dua orang anak buah Reno sedang mengintimidasi seorang petani yang sedang membersihkan tanah dengan paculnya.
"Jawab yang jujur, atau pacul ini yang membelah kepalamu!" ancam anak buah Reno setelah menendang gagang pacul sang petani.
Petani yang ketakutan itu langsung mengangkat tangannya, wajahnya pucat pasi. Ia menunjuk dengan jarinya yang gemetar ke arah utara, melintasi rimbunnya kebun jati. "T-tadi... tadi saya lihat Mbak Miranti lari ke arah utara sambil seret Kirana! Ke arah gubuk ujung!"
Anak buah Reno saling berpandangan, lalu seringai kemenangan muncul di wajah mereka. Salah satu dari mereka langsung mengambil ponselnya. "Bos, posisi target sudah terkunci. Mereka bergerak ke arah utara, menuju gubuk di ujung kebun."
"Bagus. Kepung tempat itu. Aku akan menyusul setelah memastikan perempuan tua ini tidak bisa bicara lagi," jawab Reno di seberang telepon dengan suara sedingin es.
Waktu seolah berjalan semakin cepat di Desa Kragan. Di saat yang sama, bus yang dinaiki Jalal berhenti di terminal Tuban, ia turun sambil menggerakkan tongkatnya. Dedaunan tiba-tiba berjatuhan diterpa angin kencang. Sebuah bisikan terdengar di telinga Jalal, "Anak itu dalam bahaya, segera pergi ke desa Kragan!" Langkah Jalal semakin cepat, ia menghampiri tukang ojek yang sedang berkumpul di trotoar.
"Mas, ke desa Kragan."
Salah satu ojek mengangguk, langsung melakukan motornya dengan Jalal di boncengannya.